Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Jiplak TikToker

Oleh Nyoman Sukadana • 27 April 2026 • 01:23:00 WITA

Jiplak TikToker

TIGA detik. Hanya itu waktu yang Anda berikan kepada saya sebelum jempol Anda bergerak lincah menyapu layar ke atas. Jika dalam tiga detik ini saya gagal membuat Anda penasaran, saya mati. Tulisan ini akan terkubur di tumpukan sampah digital yang tak pernah dibaca.

Begitulah hukum rimba konten hari ini: Sadis. Kayak judul lagunya Afgan

Selama setahun terakhir mengasuh kolom JEDA, saya merasa seperti sedang melakukan eksperimen laboratorium yang melelahkan. Mencari formula agar aksara tidak kalah oleh visual. Saya mulai sadar, menjadi kolumnis di era algoritma liar ini tidak cukup hanya dengan modal gelar jurnalis puluhan tahun.

Saya harus rela "menjiplak" cara kerja TikToker.

Tengoklah cara mereka. Mereka tidak mulai dengan salam pembuka yang sopan atau teori yang bertele-tele. Mereka langsung menghantam wajah Anda dengan hook yang tajam. "Tahukah Anda kenapa bupati ini takut?" atau "Tiga cara cepat kaya tapi tetap masuk surga."

Judul dan paragraf pertama adalah pertaruhan nyawa.

Di JEDA, saya mencoba hal serupa. Saya mulai memangkas lemak kata. Menulis untuk pembaca media daring yang gampang terdistraksi adalah menulis untuk orang yang sedang terburu-buru. Orang yang membaca sambil menunggu pesanan ojek atau di sela-sela rapat yang membosankan.

Maka, kalimat harus ekonomis. Tidak boleh ada kalimat yang obesitas.

Daya tahan pembaca hari ini hanya bertahan dua sampai tiga menit. Lewat dari itu, fokus mereka akan terbang ke notifikasi WhatsApp atau iklan diskon belanja. Untuk menjaga mereka tetap di sini, saya harus menaruh "ranjau" di tengah tulisan.

Kalimat pendek yang tiba-tiba.

Kejutan.

Itu seperti transisi video di TikTok agar mata tidak lelah. Saya menyisipkan daya kejut di tengah paragraf yang mulai terasa serius. Agar nurani Anda terbangun kembali. Agar Anda ingat bahwa tulisan ini belum selesai.

Tapi, apakah ini berarti merendahkan martabat literasi?

Saya rasa tidak. Menjadi populer tidak harus menjadi murahan. Menjiplak strategi TikToker hanyalah soal cara bungkus, bukan soal isi. Esensinya tetap sama: menawarkan makna di tengah kegaduhan.

Logikanya sederhana: Apa gunanya menulis filosofi setebal langit jika hanya dibaca oleh angin?

Saya ingin tulisan saya sampai ke otak Anda, mengendap di sana, dan syukur-syukur mengubah cara Anda melihat dunia. Dan itu hanya bisa terjadi jika Anda mau membaca sampai titik terakhir.

Eksperimen setahun ini mengajarkan saya satu hal: di dunia yang serba cair ini, penulis yang kaku akan menjadi fosil. Kita harus lincah. Harus berani bergoyang mengikuti irama algoritma, tanpa harus kehilangan jiwa jurnalisme kita.

Jadi, kalau Anda masih membaca sampai kalimat ini, berarti eksperimen saya hari ini berhasil. Saya menang melawan jempol Anda.

Bukan begitu? (*)

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.