Ya, Bagus!
KEPALA saya punya penghuni baru. Setahun ini. Namanya: flat cap. Orang kita menyebutnya topi pet.
Identik dengan seniman. Atau sastrawan tempo dulu.
Teman-teman banyak yang bertanya. Ada juga yang menggoda. "Wah, mirip Pak Tino Sidin," seloroh mereka.
Nama itu melempar ingatan saya ke era 80-an hingga awal 90-an. Siapa tidak kenal beliau? Pahlawan anak-anak di depan layar TVRI. Lewat acara Gemar Menggambar, beliau hadir dengan senyum tulus. Dan topi pet itu.
Kalimat saktinya melegenda: "Ya, bagus!"
Beliau tidak pernah mencela. Garis seberantakan apa pun dipuji. Positif sekali.
Kini, puluhan tahun kemudian, saya "mewarisi" penampilan itu. Bukan karena jago gambar. Tapi karena tuntutan keadaan di balik rambut.
Setiap kali teman bercanda, saya tidak tersinggung. Justru saya buka topi itu. Saya tunjukkan "pemandangannya". Rambut mulai menipis. Hampir botak.
"Ini fungsinya. Menutupi kenyataan," kata saya. Lalu kami tertawa.
Padahal, awalnya tidak semudah itu. Sejak usia 35, saya sadar rambut saya tidak setia. Sering rontok. Jujur saja, waktu itu saya takut. Takut terlihat jelek. Ada rasa minder yang menyelusup. Kepercayaan diri merosot tajam.
Padahal orang tua saya aman-aman saja. Tidak ada sejarah botak di keluarga. Tapi itulah hidup. Genetik tidak selalu linier.
Baru setelah mencoba topi pet ini, saya merasa "klik". Harganya murah. Cukup Rp 150 ribu. Beli di sebuah mal di Denpasar.
Topinya tidak neko-neko. Warnanya abu-abu tua kecokelatan. Motifnya bintik-bintik halus, mirip rajutan benang wol yang rapat. Kalau disentuh, ada tekstur kasarnya. Terasa kokoh. Berkarakter. Pas untuk melindungi kulit kepala yang kian sensitif ini. Rasa percaya diri pun tumbuh lagi.
Bicara topi pet, saya ingat Putu Wijaya. Sastrawan besar asal Bali itu punya 50 buah. Beliau merasa kurang lengkap tanpa topi itu.
Saya pun merasakannya. Sebagai jurnalis dan kolumnis, memakai topi pet memberikan aura beda. Aura "pengrajin kata". Lebih kontemplatif. Sekaligus santai.
Soal uban dan rambut hilang, saya sudah pasrah. Tidak perlu disemir. Tidak perlu diobati. Cukup dirapikan model cepak. Sebulan sekali. Lalu tutup dengan pet favorit.
Dulu Pak Tino Sidin menggunakan topinya untuk mengapresiasi anak-anak. Sekarang, saya menggunakannya untuk mengapresiasi perjalanan usia sendiri.
Menjadi tua, rambut menipis, tapi tetap produktif menulis?
Ya, bagus! (*)
Menot Sukadana