Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Mulut Blong

Oleh Nyoman Sukadana • 14 Mei 2026 • 01:59:00 WITA

Mulut Blong

CABLAK.

Itu dia. I Kadek Saputra. Alias Dek Putra. Alias Dek Janda. Orangnya ceplas-ceplos. Pedas. Lebih pedas dari sambal sate kambing di Bundaran Dalung.Tengok saja omongannya ke saya. Selasa malam lalu. 

“Bro itu bodo, polos, atau bebal?” katanya.

Tiga kata sifat. Dilempar sekaligus. Dua negatif. Satu positif: polos. Itu pun kalau tidak mau disebut lugu yang menjurus bodo.Siapa tak kesal? Saya diam saja. Malas membalas.

Dek Putra ini sahabat karib saya. Sudah 22 tahun jadi wartawan. Pernah di TV. Pernah di koran. Kini punya portal sendiri: OborDewataDulu kami satu kantor. Di sebuah harian lokal. Saya redakturnya. Dia pemburu beritanya. Beritanya? Setali tiga uang dengan mulutnya. Mulut blong. Langsung labrak. Tanpa rem. Tanpa gigi mundur.

Saya sering deg-degan sebagai redakturnya. Takut somasi. Dia? Hanya cengas-cenges. Untungnya semua lancar.

Malam itu dia muncul. Naik motor. Yamaha Mio hitam. Butut. “Saya mau ke rumah Pak Astra, sekalian mampir,” katanya. Sebelum ke sana, saya ajak dia cari makan. Sate kambing di dekat Bundaran Dalung Permai. Usai makan, baru kami ke rumah Pak Astra. Beliau senior. Mantan wartawan Radar Bali.

Rumahnya dekat kantor saya. Tapi saya ini "aneh bin ajaib". Saya tidak tahu persis lokasinya. Terpaksa buka Google Map.Mulut blong-nya kumat lagi. “Bro tidak bisa baca Google Map?” tanya dia heran. Saya memang punya penyakit aneh. Gampang lupa nama orang. Lupa wajah. Sulit ingat tempat. Satu lagi: buta peta digital. Kali ini dia tidak mencela. 

Pamit dari rumah Pak Astra, kami melimpir. Ke Jalan Buluh Indah. Ke RM Padang Simpang Ampek. Tempat favorit saya ngopi tengah malam. Kami di sana sampai subuh. Gelas es teh dan kopi tubruk bertumpuk. Suasananya persis lagu Iksan Skuter: Rindu Sahabat.

"Menghisap rokok nikmati kopi bicara cinta dan mati".

Tumben kami bicara serius. Dari hati ke hati. Biasanya kami hanya saling ledek. Dia mulai mempertanyakan kenapa saya sering menghilang tanpa kabar. Persis seperti pasangan duetnya: Surnataka. Dia tanya kenapa saya sering absen diajak liputan bareng. Susah diajak ketemu. Dia merasa saya mengabaikan banyak kesempatan baik.

“Bro sudah banyak menjadikan orang. Tapi bagaimana?” tohoknya. Kalimat sakti itu keluar lagi. Meluncur tanpa rem. “Bro itu bodo, polos, atau bebal?”

Jleb.

Itu teguran seorang sahabat. Dek Putra dan Surnataka adalah kawan yang merangkul saat saya terpuruk. Saat tidak punya uang. Tanpa pekerjaan.

Malam itu saya tidak butuh Google Map untuk pulang. Saya butuh cermin. Untuk melihat: apakah saya memang bodo, polos, atau memang sudah terlalu bebal untuk dinasihati?

Subuh itu, di Simpang Ampek, kopi saya terasa jauh lebih pahit.

Bukan karena kurang gula. Tapi karena kebenaran yang meluncur dari mulut blong seorang sahabat memang rasanya begitu. (*)

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.