Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Setahun JEDA

Oleh Nyoman Sukadana • 14 Mei 2026 • 21:00:00 WITA

Setahun JEDA

TIDAK terasa, setahun sudah saya duduk di kursi kecil bernama JEDA.

Kolom itu lahir pada 21 April 2025. Awalnya sederhana saja. Saya hanya ingin punya ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk berita harian. Ruang kecil untuk bernapas. Untuk mendengar suara kepala sendiri di tengah kebisingan media daring yang bergerak tanpa tidur.

Ternyata, JEDA tumbuh lebih jauh dari yang saya bayangkan.

Sampai hari ini, sekitar 170 esai telah lahir. Ditulis dini hari. Ditulis di sela-sela kegelisahan. Ditulis dari meja kerja yang kadang penuh gelas kopi dingin, abu rokok, dan layar komputer yang menyala sampai subuh.

Sebagian tulisan lahir dari peristiwa besar. Sebagian lagi justru lahir dari hal-hal kecil: topi pet, warung kopi, rambut rontok, Google Map, sahabat lama, media kecil yang megap-megap bertahan hidup, sampai rasa takut menghadapi usia.

Saya menulisnya pelan-pelan. Kadang sambil ragu. Kadang sambil melawan mood sendiri. Kadang sambil bertanya: apakah tulisan seperti ini masih punya tempat di era algoritma yang serba cepat?

Ternyata, masih ada yang mau membaca.

Dan mungkin, yang lebih penting: masih ada yang mau merasa.

Belakangan saya baru sadar, tulisan-tulisan esai yang saya buat ternyata pelan-pelan bergerak menjadi semacam memoar fragmentaris seorang jurnalis.

Bukan memoar besar tentang tokoh penting. Bukan pula autobiografi yang runtut dari lahir sampai hari ini.

Hanya serpihan-serpihan hidup.

Tentang ruang redaksi. Tentang kopi tengah malam. Tentang sahabat wartawan. Tentang media kecil yang bertahan hidup. Tentang algoritma. Tentang rambut yang mulai menipis. Tentang rasa lelah. Tentang ketakutan menghadapi usia. Tentang kegelisahan melihat jurnalisme berubah.

Saya menulisnya bukan untuk terlihat bijak. Tapi mungkin agar ingatan-ingatan kecil itu tidak hilang begitu saja.

Sebab hidup seorang jurnalis sering kali tidak tercatat di arsip besar sejarah. Ia hanya tertinggal di warung kopi, di ruang redaksi, di puntung rokok, di layar komputer yang menyala sampai subuh.

Dan mungkin, memang begitulah cara seorang wartawan meninggalkan jejak: lewat cerita-cerita kecil yang jujur.

Dari 170 esai itu, lahirlah satu buku pertama: JEDA: Catatan Renungan Seorang Jurnalis Tentang Kopi, Hidup dan Makna.

Saya tidak pernah membayangkan buku itu akhirnya menjadi bagian dari koleksi arsip Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda. Tempat yang selama ini menyimpan begitu banyak jejak sejarah Nusantara, termasuk arsip tentang Bali dari era kolonial hingga hari ini.

Rasanya aneh juga memikirkannya.

Tulisan-tulisan yang lahir dari meja kecil di Dalung, dari kopi tubruk dan kegelisahan seorang wartawan lokal, kini tersimpan di rak perpustakaan tua di Eropa.

Kadang saya membayangkan: mungkin puluhan tahun lagi, seseorang akan membuka buku itu. Membacanya perlahan. Lalu mencoba memahami seperti apa kegelisahan seorang jurnalis Bali di era disrupsi digital.

Mungkin ia akan menemukan cerita tentang media online yang sibuk mengejar klik. Tentang wartawan yang mulai berdamai dengan algoritma. Tentang manusia-manusia yang tetap mencoba berpikir di tengah dunia yang makin gaduh.

Dan saya sadar, tanpa sengaja, JEDA telah berubah menjadi semacam catatan zaman.

Kini, buku JEDA #2 dan JEDA #3 sedang memasuki proses penyuntingan oleh Angga Wijaya. Kawan lama saya. Wartawan. Penulis. Sastrawan Bali yang diam-diam memiliki ketelitian membaca rasa dalam tulisan.

Saya bersyukur perjalanan ini dipertemukan dengan orang-orang yang mencintai dunia aksara.

Sebab saya sadar, tulisan bukan kerja satu orang. Ia lahir dari percakapan. Dari persahabatan. Dari perdebatan kecil di warung kopi. Dari orang-orang yang saling mengingatkan agar tidak kehilangan arah.

Saya tidak tahu apakah esai-esai ini kelak dianggap penting atau tidak.

Tapi saya berharap, setidaknya ia bisa menjadi serpihan kecil yang melengkapi mozaik panjang dunia pers di Bali. Dari zaman koran cetak era kolonial Belanda, mesin tik, radio transistor, hingga era AI dan algoritma hari ini.

Saya tidak menempatkan diri sebagai tokoh besar dalam sejarah itu.

Saya hanya menempatkan diri sebagai “laboratorium”-nya.

Tempat berbagai kegelisahan diuji. Tempat perubahan zaman dicatat. Tempat seorang jurnalis mencoba memahami dirinya sendiri di tengah dunia yang terus bergerak.

Mungkin itu sebabnya kolom ini diberi nama JEDA.

Karena di dunia yang serba terburu-buru, manusia ternyata tetap membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak. Untuk melihat ke dalam dirinya sendiri.

Dan selama masih ada kopi, malam, dan kegelisahan yang belum selesai, barangkali JEDA akan terus punya cerita. (*)

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.