Tumben Serius
SELASA malam itu beda. Di RM Simpang Ampek. Jalan Buluh Indah, Denpasar. Kopi mengalir. Obrolan mengalir. Seperti biasa.
Meja sederhana. Suara kendaraan lewat. Tawa pecah tanpa aba-aba. Saya dan Kadek Saputra sudah lama berteman. Sangat lama. Sampai tidak perlu lagi sopan santun buatan.
Biasanya ia cablak. Mulutnya blong. Jujur sekali. Kadang terlalu jujur. Orang baru bisa salah paham. Bisa tersinggung. Bisa ribut.
Tapi saya paham.
Ia bukan tipe penyimpan kata. Bukan pemakai topeng. Apa di kepala, itu di mulut. Kasar? Kadang. Ceplas-ceplos? Pasti. Tapi di sana ada kejujuran. Ada kesetiaan kawan. Itu yang saya hormati.
Malam itu ia mendadak serius. Saya terdiam.
“Saya ingin jadi orang berguna, Bro,” katanya pelan.
Ini bukan kalimat Dek Putra. Biasanya tidak begitu.
Saya menoleh. Wajahnya beda. Tidak ada canda. Tidak ada senyum usil. Biasanya ia meledek saya tanpa ampun.
Tumben serius.
Padahal kami ahli saling olok. Tanpa sensor. Kadang di depan orang baru. Orang bisa mengira kami bertengkar. Tapi begitulah lelaki menjaga kawan. Keras di luar. Diam-diam saling menjaga.
Saya ini aslinya mudah sensi. Mudah tersinggung. Tapi pada Dek Putra, saya maklum. Saya tahu hatinya lurus.
Belakangan hidupnya tidak mudah. Cobaan besar. Soal kesehatan. Soal kemungkinan yang bisa bikin orang kehilangan keberanian tertawa.
Tapi ia aneh. Tetap tampil biasa. Tetap bercanda. Tetap bicara keras. Seolah hidup baik-baik saja.
Ia hampir tidak pernah mengeluh.
Biasanya, orang yang paling banyak bicara itu paling sulit simpan beban. Ia beda. Ada luka yang ia simpan sendiri. Tanpa diumbar.
Malam itu saya merasa. Ia sedang di lorong perenungan. Fase melihat hidup bukan lagi soal uang. Bukan soal pengakuan. Tapi soal makna.
“Berguna untuk siapa, Dek?” tanya saya.
Ia seruput kopi. Sebentar. Lalu menjawab.
“Untuk keluarga dan orang-orang terdekat kita, Not.”
Sederhana. Tapi berat.
Saya tahu ia pekerja keras. Dulu liputan belasan jam. Hujan diterobos. Panas dihajar. Jarak jauh bukan soal. Kerja adalah tanggung jawab.
Saya bingung.
“Dek, kan selama ini sudah kerja keras. Sudah bertanggung jawab,” kata saya.
Ia tersenyum kecil.
Mungkin ini bukan soal kerjaan. Ini soal panggilan batin. Usia mulai mengajar.
Ia keluarga terpelajar. Besar di Jakarta. Ayahnya pejabat lembaga pengadilan. Tapi ia pilih pulang. Ke Bali. Ke Gianyar.
Ada yang memanggil pulang. Secara batin.
Mungkin juga secara niskala. Garis keturunan menuntutnya. Jadi Jro Mangku. Penglingsir keluarga. Sebuah pengabdian sakral. Butuh keheningan. Butuh kesucian.
Ini kontras. Jiwanya merdeka. Dinamis. Orang lapangan.
Saya mulai meraba. Jangan-jangan, obsesinya menulis opini malam itu adalah kompromi. Sebuah jalan tengah spiritual. Untuk "menunda" atau menjembatani panggilan berat itu.
Ia belum siap pakai busana putih itu. Belum siap jadi pemangku. Maka ia cari jalan lain. Agar utang bakti pada leluhur tetap lunas. Menulis opini adalah cara mengabdi yang ia paham.
Ia tidak lari dari takdir. Ia hanya sedang transisi jiwa. Menjadi penuntun tidak harus di depan pelinggih. Dek Putra memilih memulainya dari balik meja kerja. Lewat kata. Lewat jurnalisme.
“Saya ingin jadi orang berguna,” katanya lagi. Lebih pelan.
Kalimat itu menggantung. Lama.
Di usia tertentu, manusia berubah. Ada yang kejar ketenangan. Ada yang ingin tinggal jejak baik. Sadar hidup terlalu singkat untuk sekadar bertahan.
Lalu ia tanya soal menulis opini. Bagaimana menuang pikir. Bagaimana berbagi pengalaman.
“Saya ingin lewat tulisan bisa berbagi,” katanya.
Saya melihat sisi lain Dek Putra. Yang sembunyi di balik suara keras.
Manusia memang tidak bisa ditebak dari cara bicara. Ada yang lembut, tapi melukai. Ada yang kasar, tapi tulusnya luar biasa.
Saya sarankan ia disiplin. Tak perlu banyak. Dua kali sebulan cukup. Satu juga boleh. Yang penting suara hati tetap hidup.
Kesadaran berbagi itu tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari luka. Dari kegagalan. Dari kehilangan. Dari perjalanan panjang.
Saya memandangnya beda malam itu. Kami sama-sama tidak sempurna. Penuh kurang. Sama-sama keras kepala.
Tapi sahabat sejati bukan yang paling halus bicara. Tapi yang tetap tinggal saat hidup sedang runtuh.
Dek Putra pernah begitu pada saya. Saat saya hilang pekerjaan. Saat keadaan sulit. Ia ulurkan tangan. Tanpa banyak bicara.
Begitulah persahabatan. Tidak perlu kata manis. Tidak perlu pujian. Tapi hadir saat perlu.
Subuh turun di Denpasar. Kopi tinggal ampas. Jalanan sepi.
Kami masih duduk di sana.
Saya sadar satu hal. Kadang, manusia paling ribut justru menyimpan perenungan paling sunyi. (*)
Menot Sukadana