Gagal Puas
HIDUP manusia itu aneh. Kita seolah dikutuk untuk selalu gagal puas.
Sudah diberi satu, ingin dua. Sudah dapat dua, mulai melirik tiga. Seperti orang makan kerupuk. Bunyi krenyesnya baru hilang sebentar di lidah, tangan sudah gerilya mencari toples lagi. Begitulah manusia. Makhluk yang paling susah kenyang. Gampang haus oleh belaian sensasi baru yang lebih menantang.
Kepuasan itu memang tidak punya garis finis. Ia cuma mampir sebentar. Duduk manja di teras batin, mengantar kehangatan sekejap, lalu kabur tanpa pamit. Yang tersisa justru rasa gatal untuk memburu sesuatu yang lebih tinggi. Lebih enak. Lebih sempurna. Lebih menggoda iman.
Barangkali memang begitu setelan pabriknya sejak awal.
Karena itulah manusia lalu menciptakan semacam rem darurat untuk jiwanya sendiri. Namanya rasa cukup. Ada yang menyebutnya syukur. Ada pula yang menyebutnya menerima hidup apa adanya.
Masalah selesai? Belum tentu, Lur.
Kalau semua urusan beres hanya dengan bersyukur, dunia ini mungkin sudah penuh manusia santai. Yang tiap sore cuma duduk manis manggut-manggut memandang langit sambil menyeruput kopi tanpa ambisi apa-apa. Nyatanya tidak begitu.
Hari ini saya justru sedang baku hantam dengan rasa gagal puas itu. Bukan soal isi dompet yang tipis. Bukan pula soal jabatan. Yang bikin gelisah, gatal, dan menuntut servis lebih justru tulisan sendiri.
Setahun terakhir, esai-esai di rubrik kolom JEDA sudah menumpuk. Sudah jadi buku. Bahkan sudah nangkring gagah di rak perpustakaan keren di Leiden sana. Kedengarannya mentereng. Mestinya saya bangga setengah mati. Tapi nyatanya, prestasi sehebat itu pun tetap gagal memuaskan nalar nakal di kepala ini yang memang paling haram diajak damai.
Begitu file tulisan lama saya buka lagi, rasanya kok mulai hambar. Kurang liar. Ada kalimat yang terasa kurang menonjok. Ada paragraf yang tampak terlalu alim dan jinak. Ada logika yang dulu saya pikir sudah sangat cerdas dan seksi, sekarang malah kelihatan biasa-biasa saja. Saya sampai geleng-geleng sendiri: kok bisa dulu saya merasa tulisan ini sudah sangat aduhai?
Di titik seperti itu, rasa syukur mendadak seperti rem blong di turunan Bedugul. Nyungsep. Tidak mempan sama sekali.
Padahal urusan gagal puas itu bikin stamina rontok. Di dunia kreatif, ia membuat otak emoh diajak tidur. Malam terasa lebih panjang, dingin, dan penuh hasrat yang tertahan. Pikiran terus muter seperti kipas angin tua; bunyinya berdecit berisik tapi tak mau mati.
Jemari jadi gatal ingin meraba, menelanjangi, dan membongkar ulang semua teks lama. Menahbiskan diri jadi montir kesurupan yang belum rela menutup kap mobil karena merasa masih ada baut yang kurang sreg.
Tapi ketidakpuasan di dunia kreatif itu masih masuk kategori aman. Paling-paling bikin kepala pusing sebelah. Yang bahaya kalau virus tidak puas itu mulai menyeberang ke wilayah domestik. Masuk ke area paling privat.
Nah, ini baru horor yang sesungguhnya.
Kalau penulis tidak puas pada esainya, paling banter pembaca hanya menguap bosan lalu pindah ke aplikasi sebelah. Dunia tetap berputar. Tidak ada pertumpahan darah.
Tapi kalau urusan tidak puas ini sudah mulai mengetuk pintu kamar tidur, urusannya bisa bikin senewen.
Bahaya betul kalau urusan ranjang sudah goyah gara-gara pasangan mulai melempar kode tidak puas. Wah, ini serius. Senyum manisnya mendadak hemat. Jawaban pas ditanya mulai pendek-pendek. Tatapan matanya berubah sedingin es, persis petugas pajak yang sedang mengaudit laporan tahunan. Ranjang yang harusnya menjadi tempat paling hangat untuk melepas penat, mendadak berubah fungsi jadi ruang pendingin ikan di pelabuhan. Kaku dan membeku.
Yang lebih menyeramkan lagi: dalam urusan ranjang, pasangan itu sering emoh bicara blak-blakan. Mereka lebih suka main kode, desahan kecil yang ambigu, atau membalikkan punggung menjauh memeluk guling.
Sementara laki-laki, seperti yang kita tahu sama tahu, adalah makhluk yang kadang lebih bego membaca kode di atas kasur dibanding membaca kitab filsafat kuno. Salah membaca kode sedikit saja, taruhannya adalah perang dunia di bawah selimut.
Untunglah, malam ini yang sedang rewel dan menuntut kepuasan lebih hanya nalar kreatif saya. Bukan urusan ranjang yang di sana. Jadi posisi saya malam ini masih relatif aman, hangat, dan terkendali di bawah selimut.
Lantas, haruskah gairah gagal puas ini dibuang jauh-jauh? Jangan dulu. Jangan buru-buru dimatikan. Kegersangan batin seperti ini justru perlu dinikmati pelan-pelan.
Kadang justru dari rasa kurang dan lapar itulah manusia bisa bertumbuh. Ketidakpuasan adalah cambuk kecil yang bikin kita ogah diam. Terus bergerak. Terus belajar. Terus mengasah diri supaya onderdil kepala tidak cepat berkarat dan kehilangan daya pikat.
Orang yang merasa dirinya sudah paling hebat dan sempurna biasanya sudah hampir tamat. Ia berhenti mendengar. Berhenti belajar. Berhenti penasaran. Dan diam-diam mulai loyo sebelum waktunya.
Saya kira itu sebabnya banyak seniman besar tetap gelisah sampai tua. Banyak penulis besar masih tega mencoret-coret naskahnya berkali-kali. Karena mereka tahu: karya yang punya nyawa selalu lahir dari rahim kegelisahan yang memuncak.
Sore tadi, segelas kopi tubruk kembali setia menemani meja kerja saya. Hitam. Pekat. Pahitnya pas di lidah. Sangat menggoda selera. Kopi memang tidak pernah punya bakat untuk pura-pura manis. Ia jujur dengan rasa getirnya yang pekat. Barangkali hidup dan kreativitas juga punya formula yang sama.
Merasa gagal puas itu bukan selalu tanda kita rakus atau serakah. Kadang, itu cuma pertanda otentik bahwa api di dalam diri belum padam. Bahwa kita masih punya hasrat, punya gairah liar untuk menjadi lebih joss dari kemarin.
Yang berbahaya justru ketika kita terlalu cepat merasa selesai. Terlalu cepat merasa paripurna lalu menepuk dada sendiri. Sebab sejak detik itulah, manusia diam-diam mulai berhenti bertumbuh dan pelan-pelan mati kutu.
Tulisan-tulisan lama biarlah menjadi jejak petualangan masa lalu. Tugas saya sekarang cuma satu: membuat coretan berikutnya sedikit lebih hidup. Sedikit lebih nakal. Sedikit lebih genit dan punya tenaga ekstra untuk menggedor hati pembaca. Sisanya, biar waktu yang menghakimi.
Sebab perjalanan mencari bentuk terbaik memang tidak pernah benar-benar menemui titik klimaks. Dan mungkin, justru di situlah letak nikmatnya: menjadi seorang pengrajin kata yang selamanya memilih untuk gagal puas. Terus mengejar, terus merayu, dan terus memburu sesuatu yang entah kapan bisa benar-benar terasa cukup.
Semoga malam ini ranjang Anda tetap hangat, dan pasangan Anda puas!
Menot Sukadana