Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Ganti Nasib

Oleh Nyoman Sukadana • 17 Mei 2026 • 07:31:00 WITA

Ganti Nasib
Menot Sukadana (vector/ai)

DISRUPSI digital membuat banyak wartawan ganti nasib.

Dulu bekerja di koran besar. Punya kartu pers yang cukup membuat pintu terbuka di mana-mana. Tiap bulan menerima gaji tetap. Ada tunjangan. Ada uang liputan.

Lalu internet datang mengubah semuanya.

Orang tidak lagi membeli koran seperti dulu. Berita tersedia gratis di telepon genggam. Iklan pindah ke platform digital. Media cetak, radio, bahkan televisi mulai limbung.

PHK terjadi di mana-mana.

Banyak wartawan tiba-tiba kehilangan pekerjaan.

Ada beralih jadi humas. Buka usaha kecil. Beralih jadi advokat. Atau jadi dosen. Tapi ada yang diam-diam berjuang menutupi rasa malu belum siap menerima perubahan nasib begitu cepat.

Saya pernah ada di titik itu. Merasakannya sendiri jadi korban PHK.

Tanpa pekerjaan. Tanpa uang. Dompet kosong melompong. Pinjam uang sana-sini. Ngutang rokok di warung langganan.

Orang Bali bilang: Sebet amen tuturin. Sedih kalau diceritakan.

Kadang kalau sedang duduk sendiri, saya berpikir: beginikah nasib seorang wartawan ketika industri yang membesarkannya mulai runtuh?

Tapi hidup sering punya cara menyelipkan pertolongan di tengah kesulitan.

Saat di titik nadir itu, pilihannya cuma dua: menyerah atau ganti nasib. Kami memilih bertarung.

Tiga mantan redaktur harian lokal berkumpul. Satu pensiun, dua korban PHK. Kami memeras otak. Bagaimana caranya tetap bisa menulis? Tetap bertahan sebagai jurnalis?

Modal nekat. Dapat modal dari donatur, kami bikin koran mingguan. Gagal. Napasnya pendek. Hanya bertahan beberapa bulan. Uang operasional habis total.

Banting setir. Kami bikin media online. Modalnya apa? Utang lagi. Utang ke webmaster untuk bikin web. Beruntung, dia mau. Sekarang dia jadi tim IT kami: Podiumnews.

Dua tahun pertama, berdarah-darah. Tanpa pemasukan tetap. Tapi kami menolak mati.

Di sinilah hukum alam itu berlaku: dalam kerasnya perjuangan ganti nasib, pria tidak bisa berdiri sendiri. Selalu ada tangan orang lain yang menjaga kita agar tidak roboh.

Di masa sulit itu, ada Kadek Saputra. Ada Surnantaka. Ada Made Suteja. Mereka bukan tim media saya, tapi mereka yang menjaga punggung saya tetap tegak.

Lalu roda hidup bergerak. Orang-orang baik bermunculan. Membantu tanpa diminta. Bahkan oleh orang yang belum kenal saya secara pribadi. Ekonomi membaik. Drastis.

Tapi saya sempat silap. Lupa diri soal finansial. Akibatnya fatal: terlilit utang besar.

Usai pandemi, saya ambil keputusan nekat. Sebagian aset warisan orang tua saya lepas. Dijual. Demi satu hal: melunasi semua utang. Plong.

Roda terus berputar. Kebaikan harus dioper ke depan.

Satu per satu kawan datang. Nasibnya sama: korban PHK yang ingin ganti nasib. Mereka bingung. Lalu bertanya: bagaimana cara bikin media online?

Awalnya satu orang. Lalu dua orang. Akhirnya, ada belasan wartawan yang datang silih berganti.

Saya tidak pelit ilmu. Konsultasi saya buka gratis.

Saya gembleng dari nol. Cara cari domain. Urus perizinan. Cari duit operasional. Sampai cara pelan-pelan membesarkan medianya.

Secara logika bisnis, saya ini aneh. Saya sedang menciptakan kompetitor. Sedang merawat pesaing bisnis sendiri.

Tapi saya ingat satu hal: saya bisa bangkit karena ditolong orang lain. Maka, saat orang lain mau ganti nasib, saya wajib jadi jembatan mereka. Kebaikan itu harus terus berantai.

Kini, takdir mereka bergeser. Media mereka jalan. Bahkan sudah bisa menggaji karyawan. Mereka jadi bos di medianya sendiri.

Saya pun sama. Sekarang punya tujuh karyawan. Walau sebagian paruh waktu.

Kepada mereka, saya selalu cerewet. Saya ingatkan: jangan nafsu membesarkan bisnis kalau modal belum kuat. Jangan cepat gaya. Jangan campur uang pribadi dan uang usaha. Tekan gaya hidup.

Hukum tabur-tuai itu nyata.

Impian belasan tahun lalu akhirnya tembus. Buku pertama saya terbit. Dua lagi sedang disunting. Itu terjadi setelah saya bertemu kembali dengan Angga Wijaya. Setelah empat tahun jarang jumpa.

Lalu, proyek besar itu muncul: Podium Ecosystem. Titik terangnya mulai kelihatan. Setelah saya "diracuni" soal SEO dan algoritma oleh Erik Sera, mantan wartawan Tribun Bali. Semua lewat perantara orang lain.

Inilah paradoks disrupsi digital.

Dulu, internet membuat wartawan kehilangan pekerjaan. Kini, internet pula yang membuat mereka jadi bos. Menghidupi diri sendiri. Bisa menggaji orang lain.

Disrupsi memang kejam. Tapi ia juga memberi peluang bagi yang mau bertarung.

Di balik kerasnya transisi itu, ada satu pelajaran penting: kita ganti nasib karena kerja keras, tapi kita bisa bertahan karena ada orang lain yang mengulurkan tangan.

Mereka semua sedang menjalani proses yang sama: ganti nasib. Dan dalam setiap proses ganti nasib itu, hampir selalu ada bantuan orang lain di belakangnya.

Kadang bantuan itu kecil sekali.

Pinjaman uang. Informasi pekerjaan. Ajakan ngopi. Dukungan moral. Atau sekadar kalimat sederhana: “Tenang, pasti ada jalan.”

Tetapi justru hal-hal kecil itulah yang sering membuat seseorang mampu bertahan.

Saya sampai pada satu kesimpulan sederhana. Tidak ada orang yang benar-benar berhasil sendirian. Di balik setiap orang yang berhasil bangkit setelah jatuh, biasanya ada banyak tangan yang ikut menahan agar ia tidak tenggelam terlalu dalam.

Karena itu saya selalu berusaha mengingat orang-orang yang pernah membantu saya. Sebab hidup ini sebenarnya bukan hanya soal siapa yang paling kuat bertahan. Tetapi juga soal siapa yang masih mau menolong orang lain ketika ia sendiri pernah susah.

Kini saya dan mereka tidak lagi meratapi nasib. Sudah ganti nasib.

Asal sudah ganti nasib, jangan sampai ganti istri. (*)


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.