Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Senggol Pikir

Oleh Nyoman Sukadana • 18 Mei 2026 • 12:44:00 WITA

Senggol Pikir
Menot Sukadana (vector/ai)

ORANG sekarang gampang sekali marah.

Beda pendapat sedikit, serang. Tersinggung sedikit, bikin status panjang. Marahnya luar biasa. Padahal, belum tentu yang berbeda itu salah. Belum tentu yang kita bela itu benar.

Saya sering merenung: mungkin kita terlalu banyak mendengar suara. Tapi lupa mendengar pikiran.

Lihat saja. Di televisi orang debat sampai urat leher keluar. Di media sosial orang ribut tiap jam. Di grup WhatsApp? Lebih parah lagi. Banyak yang kirim kesimpulan tanpa baca isi beritanya. Pokoknya share. Pokoknya menang. Pokoknya cepat.

Tidak ada lagi yang mau duduk sebentar. Untuk sekadar berpikir pelan.

Padahal pikiran itu seperti anak kecil. Tidak suka dipaksa. Ia lebih suka disentuh. Pelan-pelan.

Itulah alasan mengapa saya mencintai esai.

Esai itu beda. Ia tidak memukul. Ia hanya menyenggol.

Kelihatannya ringan. Seperti obrolan di warung kopi. Tidak meledak-ledak. Tidak pakai tanda seru yang berderet-deret. Tapi, diam-diam ia masuk ke kepala. Menetap di sana. Bahkan sampai mengganggu tidur.

Itulah kekuatan tulisan.

Kekuatannya bukan pada kerasnya kalimat. Tapi pada kemampuannya membuat orang bertanya pada diri sendiri.

Saya sering geli melihat penulis zaman sekarang. Banyak yang sibuk ingin terlihat pintar. Kalimatnya dibuat rumit. Istilah asing dipamerkan. Kutipan filsuf ditumpuk-tumpuk. Biar apa? Biar dianggap hebat?

Hasilnya? Pembaca menyerah di paragraf kedua. Puyeng.

Padahal orang membaca itu ingin ditemani. Bukan ingin diuji.

Tulisan yang baik itu tidak boleh merasa lebih tinggi. Harus sejajar dengan pembaca. Duduk bareng. Ngobrol. Kadang bercanda. Kadang menyindir halus. Sampai pembaca merasa dadanya sesak tanpa tahu sebabnya.

Saya belajar satu hal penting: pembaca tidak peduli seberapa luas ilmu Anda. Mereka hanya peduli satu hal: tulisan itu jujur atau tidak.

Kejujuran itu punya tenaga. Tenaga dalam.

Kalau logika rapi tapi hati kosong, tulisan itu dingin. Hambar. Kalau emosi meluap tapi pikiran berantakan, tulisan itu cuma jadi teriakan yang mengganggu telinga. Esai butuh keduanya: jernih di pikiran, hidup di rasa.

Mungkin itu sebabnya esai mulai ditinggalkan.

Zaman sekarang orang suka yang pasti-pasti saja. Hitam atau putih. Esai? Ia justru menawarkan keraguan. Media sosial minta serba cepat. Esai? Ia minta kita berhenti sebentar.

Tugas esai memang bukan membuat orang langsung setuju. Tidak.

Kalau Anda baca tulisan saya lalu langsung manggut-manggut, saya justru khawatir. Tulisan yang terlalu patuh itu biasanya cepat dilupakan. Tulisan yang baik harus meninggalkan ganjalan.

Seperti ada kerikil di sandal Anda. Tidak melukai. Tapi membuat langkah Anda terasa beda.

Saya makin percaya: hidup ini berubah bukan karena benturan besar. Tapi karena senggolan kecil. Orang jarang berubah karena dimarahi. Orang lebih mungkin berubah karena tersentuh. Diam-diam.

Maka, tulisan tidak perlu galak. Cukup jujur. Cukup tajam seperlunya. Cukup untuk menyenggol pikiran yang sudah mulai mengantuk.

Sisanya? Biarkan pembaca berjalan sendiri.

Kalau setelah baca ini Anda tiba-tiba diam, lalu memikirkan ulang apa yang selama ini Anda anggap benar, berarti "senggolan" saya berhasil.

Begitu saja sudah cukup. (*)


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.