Tamat SMA/SMK, Mau Kerja Apa?
BUKAN lagu yang pertama kali mencuri perhatian saya ketika menonton video musik lagu Bapak karya Iksan Skuter. Justru percakapan singkat di awal videonya.
Seorang bapak tua dan seorang ibu tua berbincang dalam bahasa Jawa. Mereka tidak sedang membicarakan politik, harga beras, atau cuaca. Mereka sedang membicarakan anak mereka.
Sang bapak, dengan suara pelan dan wajah yang tampak lelah, mengatakan bahwa berdasarkan pengalamannya bekerja selama bertahun-tahun, pengalaman saja tidak menjamin seseorang memperoleh pekerjaan. Apalagi kalau bekalnya hanya ijazah SMA.
Percakapan itu berlangsung sebentar. Nyaris seperti obrolan biasa di ruang tamu. Tidak ada musik yang meledak-ledak, atau kalimat yang sengaja dibuat puitis. Namun justru karena kesederhanaannya, dialog itu terasa begitu jujur.
Saya membayangkan percakapan serupa mungkin sedang terjadi di ribuan rumah di Indonesia. Seorang ayah yang baru pulang bekerja bertanya kepada istrinya, "Sudah ada kabar dari tempat anak melamar?" Istrinya menggeleng pelan. Anaknya masih menunggu.
Sudah belasan lamaran dikirim. Sudah beberapa kali mengikuti wawancara, sudah berkali-kali berharap telepon berdering. Namun yang datang justru keheningan. Ironisnya, anak itu tidak putus sekolah. Ia lulus SMA, atau mungkin SMK. Ia melakukan apa yang sejak kecil diajarkan kepadanya, yakni rajin belajar, naik kelas, lulus, lalu mencari pekerjaan.
Ternyata urusan tidak sesederhana itu. Selama bertahun-tahun kita tumbuh dengan keyakinan bahwa sekolah adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Orang tua bekerja keras agar anaknya bisa menyelesaikan pendidikan. Mereka percaya, semakin tinggi pendidikan, semakin besar peluang memperoleh pekerjaan.
Keyakinan itu pernah benar. Namun Indonesia hari ini sedang memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa tingkat pengangguran terbuka tertinggi justru berasal dari lulusan SMK, disusul lulusan SMA. Di balik angka-angka itu, ada jutaan anak muda yang telah memenuhi janji mereka kepada orang tua; belajar, lulus, memperoleh ijazah, tetapi belum memperoleh balasan yang dijanjikan oleh kehidupan: kesempatan untuk bekerja.
Mungkin karena itulah dialog sederhana dalam video musik Bapak terasa begitu relevan. Lelaki tua itu tidak sedang meramal masa depan. Ia hanya sedang mengucapkan kenyataan yang diam-diam juga dirasakan oleh banyak orang tua di negeri ini.
Lalu, setiap musim kelulusan tiba, pertanyaan yang sama kembali terdengar. Saya tidak tahu siapa yang menulis dialog itu. Namun saya percaya, percakapan seperti itu tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari rumah-rumah yang mulai akrab dengan kata "menunggu". Menunggu panggilan kerja, hasil tes, menungu wawancara berikutnya. Atau sekadar menunggu kabar yang tidak pernah datang.
Menunggu adalah pekerjaan baru bagi banyak lulusan SMA dan SMK di Indonesia. Ironis sekali. Ketika masih bersekolah, mereka diajarkan untuk bergerak maju. Naik kelas, naik tingkat, lulus. Setelah lulus, mereka justru dipaksa berhenti di sebuah ruang tunggu yang tidak jelas pintu keluarnya.
Saya teringat masa ketika masih duduk di bangku sekolah. Hampir semua guru mengatakan hal yang sama, yakni, belajarlah yang rajin agar nanti mudah mencari pekerjaan. Kalimat itu diulang dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi, hingga berubah menjadi semacam keyakinan bersama.
Orang tua mempercayainya, guru mempercayainya, dan anak-anak juga mempercayainya. Maka sekolah menjadi semacam perjanjian. Anak berjanji belajar dengan sungguh-sungguh. Orang tua berjanji membiayai sekolah sekuat tenaga. Sebagai imbalannya, masa depan diyakini akan lebih baik.
Namun, pada masa sekarang, perjanjian itu mulai dipertanyakan. Bukan karena sekolah tidak penting. Justru karena sekolah tetap penting, kita perlu berani mengakui bahwa ijazah tidak lagi memiliki daya tawar sebesar yang dibayangkan generasi sebelumnya.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa lulusan SMK masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran terbuka tertinggi di Indonesia, disusul lulusan SMA. Fakta ini berulang dari tahun ke tahun dengan angka yang berubah, tetapi pola besarnya tetap sama. Ironinya, dua jenjang pendidikan yang selama ini dipandang sebagai pintu masuk ke dunia kerja justru menjadi kelompok yang paling sulit memperoleh pekerjaan.
Angka-angka memang tidak bisa menangis. Tetapi setiap angka sesungguhnya mewakili seseorang; anak yang diam-diam menghapus riwayat pencarian lowongan kerja di telepon genggamnya. Seorang ibu yang setiap pagi bertanya, "Hari ini mau ke mana melamar?". Seorang ayah yang pura-pura tidak khawatir ketika melihat anaknya lebih sering berada di rumah. Mereka semua tersembunyi di balik statistik.
Barangkali itulah kelemahan data. Ia mampu menjelaskan seberapa besar masalah, tetapi tidak pernah benar-benar mampu memperlihatkan bagaimana rasanya hidup di dalam masalah itu.
Sebagai wartawan, saya beberapa kali bertemu anak-anak muda yang baru lulus sekolah. Cerita mereka hampir serupa. Ada yang sudah mengirim puluhan lamaran, mengikuti belasan wawancara. Ada yang bersedia menerima pekerjaan apa saja, asalkan tidak terus menjadi beban keluarga.
Kalimat terakhir itu selalu membuat saya berhenti sejenak. "Takut jadi beban keluarga." Bukan takut bekerja, bukan takut memulai dari bawah. Yang mereka takutkan adalah melihat orang tua terus berharap, sementara mereka belum juga bisa membawa pulang kabar baik.
Mungkin karena itu saya kembali teringat pada wajah bapak tua dalam video musik Bapak. Di wajahnya tidak tampak kemarahan. Yang terlihat justru sesuatu yang lebih sunyi, yaitu, kegelisahan seorang ayah yang mulai menyadari bahwa nasihat yang dahulu ia terima dari orang tuanya tidak lagi sepenuhnya berlaku bagi anaknya.
Ia pernah hidup pada masa ketika pengalaman kerja dihargai. Anaknya hidup pada masa ketika pengalaman pun sering kali dianggap belum cukup.
Dua generasi dipisahkan bukan oleh usia, melainkan oleh perubahan zaman yang bergerak terlalu cepat. Dan di antara keduanya, sekolah masih berdiri dengan janji yang sama: belajar yang rajin, luluslah, maka masa depan akan terbuka.
Pertanyaannya, benarkah pintu itu masih terbuka selebar yang kita bayangkan? Anaknya hidup pada masa ketika pengalaman pun sering kali dianggap belum cukup.
Pertanyaannya, benarkah pintu itu masih terbuka selebar yang kita bayangkan? Persoalannya ternyata tidak berhenti pada ada atau tidak adanya lowongan pekerjaan. Yang sedang kita hadapi adalah berubahnya cara dunia memandang kerja.
Dulu, ijazah sering kali menjadi tiket masuk. Hari ini, ia lebih menyerupai kartu antrean. Perusahaan mencari keterampilan yang terus berubah. Kemampuan mengoperasikan perangkat digital, berkomunikasi, memecahkan persoalan, bekerja dalam tim, hingga belajar hal-hal baru dengan cepat sering kali menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting daripada nilai rapor. Sementara itu, banyak sekolah masih disibukkan dengan target menyelesaikan kurikulum, mengejar kelulusan, dan memenuhi standar administrasi.
Di antara dua dunia yang bergerak dengan kecepatan berbeda itulah anak-anak muda berdiri. Mereka tidak sepenuhnya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga tidak bisa terus tinggal di bangku sekolah.
Sejumlah akademisi menyebut keadaan ini sebagai ketidaksesuaian antara hasil pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Istilahnya terdengar rumit, tetapi kenyataannya sangat sederhana. Sekolah merasa telah menghasilkan lulusan yang baik. Dunia usaha merasa belum menemukan tenaga kerja yang sesuai. Di tengah tarik-menarik itu, yang paling sering disalahkan justru para lulusan. Padahal mereka hanya datang paling akhir dalam rantai persoalan.
Saya sering membayangkan bagaimana perasaan seorang anak yang pulang membawa map berisi ijazah. Di rumah, ayah dan ibunya menyambut dengan bangga. Tetangga datang mengucapkan selamat. Beberapa hari kemudian, map yang sama mulai diisi fotokopi ijazah, surat lamaran, daftar riwayat hidup, dan pasfoto.
Map itu kemudian berpindah dari satu kantor ke kantor lain. Dari satu perusahaan ke perusahaan berikutnya. Dari satu harapan ke harapan yang lain. Lama-kelamaan, isi map tidak berubah. Yang berubah hanya ekspresi orang yang membawanya. Semakin sering ditolak, langkahnya semakin pelan. Semakin lama menunggu, senyumnya semakin tipis.
Saya kira banyak orang tua tidak pernah benar-benar siap melihat perubahan itu. Mereka mengenal anaknya sebagai pribadi yang ceria ketika masih sekolah. Lalu beberapa bulan setelah lulus, anak yang sama menjadi lebih banyak diam. Lebih sering berada di kamar. Lebih jarang bercerita.
Bukan karena kehilangan semangat, melainkan karena lelah menjelaskan bahwa mencari pekerjaan hari ini jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan banyak orang.
Ironisnya, setiap musim kelulusan, kita masih mengulang kalimat yang sama. "Selamat datang di dunia kerja." Kalimat itu terdengar optimistis, tetapi dunia kerja yang dimasuki para lulusan sekarang bukanlah dunia yang dimasuki orang tua mereka dua puluh atau tiga puluh tahun lalu.
Persaingannya lebih padat. Teknologinya berubah lebih cepat. Jenis pekerjaannya pun terus berganti. Sebagian pekerjaan menghilang sebelum sempat dikenal oleh generasi yang baru lulus. Di saat yang sama, bermunculan profesi-profesi baru yang bahkan belum tercantum dalam buku pelajaran mereka. Maka, mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya kurikulumnya. Kita juga perlu mengubah cara berpikir.
Sekolah tidak lagi cukup jika hanya mempersiapkan murid untuk menjadi pencari kerja. Sekolah harus mulai menyiapkan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat—orang-orang yang mampu beradaptasi ketika dunia berubah, yang tidak takut mempelajari keterampilan baru, dan yang berani menciptakan peluang ketika kesempatan belum datang.
Tentu saja, tanggung jawab itu tidak bisa dibebankan kepada sekolah semata. Dunia usaha, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya. Sebab, pendidikan yang baik hanya akan menemukan maknanya ketika bertemu dengan kesempatan yang nyata.
Jika tidak, setiap tahun kita hanya akan merayakan kelulusan, lalu membiarkan ribuan anak muda kembali memenuhi ruang tunggu yang sama. Ruang tunggu bernama pengangguran.
Ada satu kebiasaan yang selalu muncul setiap tahun ajaran baru. Spanduk-spanduk sekolah dipasang di pinggir jalan. Wajah para siswa yang diterima di perguruan tinggi dipajang dengan bangga. Angka kelulusan diumumkan nyaris sempurna. Semua orang bergembira.
Namun beberapa bulan setelah pesta kelulusan usai, tidak banyak yang bertanya bagaimana kabar mereka. Ke mana anak-anak itu pergi? Siapa yang sudah bekerja? Siapa yang masih mengirim lamaran? Siapa yang diam-diam mulai kehilangan kepercayaan diri?
Sekolah seolah selesai ketika ijazah dibagikan. Padahal, bagi sebagian besar lulusan, persoalan justru baru dimulai.
Saya teringat seorang teman yang lulus SMK lebih dari sepuluh tahun lalu. Ketika menerima ijazah, ia begitu yakin akan segera bekerja. Gurunya pernah mengatakan bahwa dunia industri membutuhkan tenaga terampil. Orang tuanya juga percaya demikian. Maka ia membawa map berisi dokumen, berkeliling dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Beberapa bulan berlalu. Lalu setahun.
Pekerjaan yang akhirnya ia peroleh bukanlah pekerjaan yang dulu dibayangkannya ketika memilih jurusan di sekolah. Ia tidak pernah mengeluh. Yang membuat saya terdiam justru kalimatnya, "Ternyata yang paling sulit bukan bekerja, tetapi mendapatkan kesempatan untuk mulai bekerja."
Kalimat itu kembali mengingatkan saya pada bapak tua dalam video musik Bapak. Barangkali lelaki itu sedang menyaksikan kenyataan yang sama. Sebagai orang tua, ia tentu ingin mengatakan kepada anaknya agar tetap semangat. Namun sebagai orang yang telah lama mengenal kerasnya dunia kerja, ia juga tahu bahwa semangat saja tidak selalu cukup. Di situlah letak kegelisahan banyak keluarga Indonesia.
Orang tua tidak kehilangan harapan. Anak-anak juga belum menyerah. Tetapi keduanya sama-sama sedang berhadapan dengan kenyataan yang tidak mudah mereka ubah sendiri.
Karena itu, saya merasa pertanyaan "Tamat SMA atau SMK, mau kerja apa?" sesungguhnya bukan pertanyaan yang ditujukan kepada seorang anak yang baru lulus. Pertanyaan itu adalah cermin. Ia memantulkan wajah sistem pendidikan kita, arah pembangunan ekonomi kita. Ia memantulkan seberapa serius kita mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia yang berubah begitu cepat.
Jika setiap tahun sekolah meluluskan jutaan anak, sementara kesempatan kerja tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama, maka persoalannya tidak lagi bersifat pribadi. Ia telah menjadi persoalan bersama.
Barangkali sudah saatnya ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya dihitung dari angka kelulusan atau nilai ujian. Keberhasilan juga perlu diukur dari seberapa jauh sekolah mampu membekali murid menghadapi kehidupan nyata—kehidupan yang penuh ketidakpastian, persaingan, dan perubahan.
Sebab, pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar menghasilkan selembar ijazah. Pendidikan seharusnya menumbuhkan keberanian untuk belajar lagi ketika keadaan berubah, kerendahan hati untuk memulai dari bawah, dan kepercayaan diri untuk menciptakan jalan ketika jalan yang lama tidak lagi tersedia.
Mungkin itulah pelajaran yang diam-diam disampaikan oleh percakapan sederhana dalam video musik Bapak. Kadang-kadang, kebijaksanaan tidak lahir dari ruang kuliah atau seminar. Ia lahir dari ruang tamu sebuah rumah, dari obrolan suami-istri yang telah lama mengenal pahit-manis kehidupan. Dan justru karena terdengar begitu biasa, percakapan itu terasa luar biasa.
Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap angka pengangguran, selalu ada seorang ayah yang menyimpan cemas, seorang ibu yang terus berdoa, dan seorang anak yang masih percaya bahwa suatu hari nanti akan ada pintu yang akhirnya terbuka. (*)
Angga Wijaya adalah penulis dan wartawan lepas di Denpasar-Bali. Sejak 2018, ia telah menulis 20 buku. Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku, adalah buku terbarunya yang diterbitkan oleh Brilliant Books, penerbit buku alternatif di Yogyakarta, pada Juni 2026.