Era Chatting Telah Berlalu
MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya anti terhadap perkembangan teknologi. Bukan pula karena merasa dunia digital tidak lagi berguna. Saya hanya sampai pada sebuah kesadaran sederhana bahwa aktivitas itu terlalu banyak menghabiskan energi.
Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa energi jauh lebih berharga daripada waktu. Waktu memang terus berjalan dalam hitungan yang sama bagi setiap orang. Sehari tetap dua puluh empat jam. Namun, energi untuk berpikir, mendengarkan, memahami, lalu menanggapi sesuatu tidak pernah benar-benar sama. Ada masa ketika kita begitu murah hati membaginya kepada siapa saja. Namum, ada pula masa ketika kita mulai memilih, kepada siapa dan untuk apa energi itu diberikan.
Saya merasa sedang berada pada masa yang kedua. Sejak era mIRC, Yahoo Messenger, Facebook, Twitter yang kini berganti nama menjadi X, Instagram, Threads, hingga entah aplikasi apa lagi yang akan lahir beberapa tahun mendatang, kebiasaan manusia sesungguhnya tidak banyak berubah. Platform datang dan pergi. Nama berganti. Tampilan diperbarui. Algoritma disempurnakan. Namun, hasrat manusia untuk berbicara tidak pernah benar-benar berubah.
Semua orang ingin didengar. Semua orang ingin dipahami. Tidak sedikit pula yang ingin memenangkan perdebatan. Di situlah saya mulai merasa lelah. Percakapan di ruang digital sering kali tidak benar-benar menghadirkan percakapan. Yang hadir justru saling membalas pendapat. Saling mengoreksi, menyela, mempertahankan keyakinan masing-masing. Tidak jarang pula saling menyerang.
Padahal, percakapan yang baik mestinya membuat kita pulang dengan pemahaman yang bertambah, bukan dengan kemarahan yang semakin panjang. Dunia maya memiliki satu kelemahan yang hingga hari ini belum mampu diatasi oleh teknologi secanggih apa pun. Kita tidak benar-benar melihat manusia yang sedang berbicara kepada kita.
Kita hanya melihat huruf, namun kita tidak mendengar nada suaranya, atau tidak melihat sorot matanya. Kita tidak mengetahui apakah ia sedang tersenyum, bercanda, gugup, atau sebenarnya menyesali kalimat yang baru saja ditulisnya.
Yang kita baca hanyalah teks. Dari situlah kesalahpahaman lahir dengan sangat mudah. Ironisnya, kesalahpahaman sering terjadi bukan di antara orang asing, melainkan justru di antara mereka yang telah saling mengenal. Pertemanan yang telah berlangsung bertahun-tahun bisa menjadi renggang hanya karena sebuah kalimat yang dibaca dengan intonasi yang keliru.
Media sosial membuat kita merasa sedang berbicara dengan seseorang. Padahal sering kali kita sedang berbicara dengan bayangan yang kita ciptakan sendiri tentang orang tersebut. Saya tidak mengatakan bahwa chatting adalah sesuatu yang buruk. Ia menjadi buruk ketika menggantikan pertemuan.
Di Indonesia, kita mengenal istilah "kopi darat". Saya selalu menyukai istilah itu. Percakapan yang semula berlangsung di udara akhirnya dipindahkan ke daratan. Orang-orang duduk di meja yang sama. Secangkir kopi menjadi saksi bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui papan ketik. Banyak kesalahpahaman yang ternyata selesai hanya dengan saling memandang wajah. Barangkali sejak awal manusia memang diciptakan untuk bertemu.
Jauh sebelum internet memasuki rumah-rumah, masyarakat Indonesia telah mengenal radio amatir. Di kampung saya, orang-orang menyebutnya "brik". Mereka bercakap melalui gelombang radio hingga larut malam. Ada yang sekadar bertukar kabar, berteman, bahkan pula yang akhirnya saling jatuh cinta.
Ketika masih kecil, saya pertama kali mendengar kata "selingkuh" bukan dari televisi atau surat kabar, melainkan dari cerita para tetangga. Seorang perempuan dikabarkan menjalin hubungan dengan laki-laki lain yang dikenalnya melalui radio amatir. Sebagai anak kecil, saya belum memahami kerumitan hubungan orang dewasa. Namun, saya mulai mengerti bahwa komunikasi, meskipun hanya melalui suara, ternyata mampu menghadirkan kedekatan yang sangat nyata.
Hari ini, teknologi telah berkembang jauh melampaui masa itu. Dulu kita hanya mendengar suara. Kini kita dapat melihat wajah melalui panggilan video. Bahkan, dengan kecerdasan buatan, wajah dan suara pun dapat dimanipulasi sedemikian rupa sehingga sulit dibedakan dengan kenyataan.
Teknologi memang semakin mendekatkan manusia yang berjauhan. Namun, saya tidak yakin teknologi juga membuat manusia semakin dekat secara batin. Justru pada zaman ketika kita dapat berbicara dengan siapa saja, kapan saja, dari mana saja, kita semakin sering kehilangan kemampuan untuk benar-benar mendengarkan.
Semua orang berbicara, tapi sedikit yang mendengar. Semua orang ingin menjelaskan, hanya sayangnya sedikit yang ingin memahami. Mungkin karena itulah saya mulai mengambil jarak.Bukan dari manusianya, melainkan dari kebiasaan yang membuat saya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk percakapan yang, setelah selesai, tidak meninggalkan apa-apa selain rasa lelah.
Memasuki usia kepala empat, saya merasa ada banyak hal yang berubah. Bukan hanya cara memandang dunia, melainkan juga cara menggunakan waktu. Dulu, telepon genggam seperti memiliki daya tarik yang sulit ditolak. Setiap bunyi notifikasi seolah memanggil untuk segera dibuka. Ada rasa khawatir tertinggal percakapan, kehilangan informasi, atau dianggap tidak peduli.
Sekarang, saya justru menikmati saat-saat ketika telepon genggam dibiarkan diam. Jika ada pesan yang penting, tentu saya balas. Jika menyangkut pekerjaan, keluarga, atau sahabat, saya berusaha menjawab secepat mungkin. Namun, saya tidak lagi merasa berkewajiban menanggapi setiap kiriman video, setiap tautan berita, setiap candaan yang berulang kali beredar di grup WhatsApp, apalagi setiap perdebatan yang tampaknya tidak akan pernah mencapai titik temu.
Saya mulai belajar bahwa tidak semua hal membutuhkan respons. Diam pun kadang merupakan jawaban. Ada hari-hari ketika saya membuka media sosial hanya beberapa menit. Bukan karena tidak ada yang menarik, melainkan karena saya sadar selalu ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan.
Menulis, misalnya, atau membaca buku yang sudah lama menunggu di rak. Atau, duduk di warung kopi sambil memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Mengobrol dengan teman tanpa terganggu bunyi notifikasi. Atau juga, sekadar menikmati sore di Denpasar ketika matahari mulai turun perlahan dan lalu lintas kembali padat oleh orang-orang yang pulang bekerja.
Semakin saya menjauh dari keramaian percakapan digital, semakin saya menemukan kembali kesunyian. Dan saya percaya, kesunyian bukanlah musuh bagi seorang penulis. Sebaliknya, ia adalah ruang kerja. Di dalam kesunyian, kalimat-kalimat mulai berdatangan. Ingatan yang semula tercecer menemukan tempatnya. Pengalaman yang selama ini hanya lewat begitu saja perlahan berubah menjadi bahan renungan.
Barangkali karena itulah saya merasa sayang ketika melihat penulis, penyair, atau sastrawan menghabiskan begitu banyak waktunya untuk berdebat di media sosial. Bukan berarti mereka tidak boleh menyampaikan pendapat. Tentu saja boleh. Dunia literasi juga membutuhkan percakapan.
Namun, ada perbedaan antara percakapan yang melahirkan gagasan dan percakapan yang sekadar menguras tenaga. Ada perdebatan yang membuat kita pulang dengan wawasan baru. Ada pula perdebatan yang berakhir dengan saling memblokir akun.
Saya semakin sering bertanya kepada diri sendiri, apakah waktu yang saya habiskan hari ini menghasilkan sesuatu yang dapat saya baca kembali beberapa tahun mendatang? Komentar di media sosial akan tenggelam oleh komentar berikutnya. Percakapan di grup akan tertutup oleh ratusan pesan baru. Tetapi sebuah esai, puisi, atau sebuah buku mungkin masih akan dibaca ketika percakapan itu telah lama dilupakan. Kesadaran itulah yang perlahan mengubah kebiasaan saya.
Saya tidak lagi ingin menjadi orang yang selalu hadir dalam setiap percakapan. Saya lebih ingin hadir sepenuhnya ketika sedang berbicara dengan seseorang. Saya tidak ingin sekadar mengetahui banyak hal. Saya ingin memahami beberapa hal dengan lebih dalam. Mungkin ini juga bagian dari pertambahan usia. Kita mulai memilih. Memilih pekerjaan, pertemanan, bacaan, percakapan. Dan, yang tidak kalah penting, memilih apa yang tidak perlu lagi diberi perhatian.
Saya teringat seorang teman yang pernah berkata, "Media sosial membuat kita merasa produktif, padahal belum tentu menghasilkan apa-apa." Kalimat itu terus terngiang hingga sekarang. Berapa jam yang kita habiskan untuk menggulir layar setiap hari? Berapa banyak yang benar-benar kita ingat dari semua itu? Sebaliknya, satu jam membaca buku sering kali meninggalkan bekas yang jauh lebih lama daripada berjam-jam membaca linimasa.
Satu jam mengobrol dengan seorang sahabat di warung kopi kadang menghasilkan gagasan yang tidak pernah muncul selama berminggu-minggu berada di media sosial. Mungkin karena percakapan yang sesungguhnya selalu membutuhkan kehadiran. Bukan hanya tubuh, tetapi juga perhatian.
Saya tidak sedang mengajak siapa pun meninggalkan media sosial. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri, dan setiap teknologi membawa manfaat yang tidak sedikit. Saya pun masih menggunakannya untuk bekerja, berkomunikasi, membaca berita, dan membagikan tulisan.
Yang ingin saya tinggalkan adalah kebiasaan menghabiskan energi pada percakapan yang tidak membawa saya bertumbuh. Hidup rasanya terlalu singkat untuk terus-menerus membuktikan bahwa kita benar. Dan, terlalu singkat untuk memenangkan perdebatan dengan orang yang bahkan belum tentu ingin mendengarkan.
Saya lebih memilih menyelesaikan satu esai daripada menulis seratus komentar. Lebih memilih bertemu seorang teman daripada berbalas pesan sepanjang malam. Lebih memilih secangkir kopi dan percakapan yang jujur daripada ribuan kata yang melintas begitu saja di layar telepon. Mungkin memang begitulah akhirnya. Bukan era internet yang telah berakhir, bukan pula era media sosial.
Yang berakhir adalah masa dalam hidup saya ketika chatting menjadi pusat perhatian. Kini, ia hanya pelengkap. Selebihnya, saya ingin kembali pada hal-hal yang lebih nyata; pada buku yang belum selesai dibaca, naskah yang menunggu diselesaikan, atau perjumpaan yang menghadirkan tawa, jeda, dan tatapan mata.
Sebab, pada akhirnya, kehidupan tidak berlangsung di kolom komentar. Kehidupan berlangsung di antara manusia yang saling menyapa, saling mendengar, dan saling mengingat setelah percakapan usai. (*)
Denpasar, 3 Juli 2026
Oleh: Angga Wijaya