Kalah Muka
EKONOMI China meroket. Industrinya mengguncang bumi. Apa saja bisa dibuat di sana. Dari jarum pentul sampai roket. Semua serba raksasa. Uangnya tidak berseri.
Penggemar sepak bolanya juga fanatik. Riset global memperkirakan pasarnya menembus ratusan juta manusia. Angka yang bikin merinding para pelaku bisnis. Hak siar TV laris manis. Sponsor antre. Industri digitalnya bergerak cepat.
Ditambah lagi satu hal: harga diri sejarah.
China sangat bangga. Leluhur mereka luar biasa. FIFA Museum bahkan menempatkan cuju sebagai bagian penting dari prasejarah sepak bola. Lahir di Linzi, Provinsi Shandong, lebih dari dua ribu tahun lalu. Konsep dasarnya mirip: memainkan bola dengan kaki tanpa mengandalkan tangan.
Bagi orang China, cuju adalah bukti tingginya peradaban mereka. Warisan budaya yang agung. Lambang kejayaan masa lalu.
Lalu muncullah Inggris. Pada tahun 1863, The Football Association di London membakukan aturan bersama. Aturan permainan mulai diseragamkan. Lahirlah fondasi sepak bola modern. Dari pembakuan itulah sepak bola modern berkembang menjadi industri olahraga global paling bernilai.
China punya sejarahnya. Inggris punya sistemnya.
Tapi lihatlah lapangan hijau China sekarang. Kontras sekali. Ironis.
Kebanggaan sejarah itu runtuh digilas realitas sepak bola modern. Ekonomi nomor dua di dunia, tetapi prestasi sepak bolanya mengenaskan. Dalam peringkat resmi FIFA Juni 2026, China tertahan di posisi 91 dunia. Berada di bawah negara-negara kecil yang ekonominya tidak ada apa-apanya dibanding Beijing.
Setiap kali tim nasional putra mereka kalah, dada publik China sesak. Mianzi—harga diri mereka—seperti diinjak-injak. China benar-benar kalah muka. Bagaimana mungkin bangsa pewaris cuju justru menjadi bulan-bulanan?
Yang keropos ternyata bukan hanya lini pertahanan. Sifat sistemnya juga.
Dulu, ada era gila-gilaan. Era Chinese Super League (CSL). Bom investasi. Konglomerat properti ikut turun tangan, menyambut ambisi Presiden Xi Jinping menjadikan China sebagai kekuatan sepak bola dunia. Uang triliunan rupiah dibakar. Pemain bintang dunia dibeli dengan gaji selangit. Oscar, Hulk, Tevez. Semua datang demi dolar.
Klub Guangzhou Evergrande pun berjaya menjuarai Liga Champions Asia dua kali, pada 2013 dan 2015. China merasa di atas angin. Dunia sepak bola pun menoleh. Dikira kejayaan sepak bola bisa dibeli secara instan dengan uang.
Ternyata zonk. Gelembung itu pecah.
Krisis properti melanda. Sponsor utama bertumbangan. Evergrande Group terlilit utang raksasa. Pendanaan macet total. Guangzhou FC akhirnya terlempar dari kompetisi profesional akibat utang historis.
Ditambah lagi korupsi yang menggurita. Pengaturan skor merajalela. Mantan Ketua Asosiasi Sepak Bola China, Chen Xuyuan, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Mantan pelatih tim nasional Li Tie menyusul dengan hukuman 20 tahun penjara dalam perkara suap. Uang dan energi bocor ke dalam pusaran korupsi, sementara kompetisi usia muda gagal tumbuh sehat.
Akibatnya, tim nasional putra mereka babak belur dalam kualifikasi Piala Dunia 2026.
Indonesia ikut menjadi cermin ironi tersebut.
Indonesia juga raksasa pencinta bola. Dalam survei Ipsos 2022 terhadap 34 negara, 69 persen responden Indonesia mengaku mengikuti sepak bola. Negeri ini pun punya sejarah panjang. Hindia Belanda menjadi peserta Asia pertama di Piala Dunia 1938 di Prancis, meski langsung gugur setelah kalah 0-6 dari Hungaria.
Setelah kemerdekaan, Indonesia setali tiga uang dengan China. Sama-sama gagal kembali ke panggung dunia akibat carut-marut tata kelola domestik.
Namun, benturan itu terjadi pada putaran ketiga kualifikasi. Indonesia mengalahkan China 1-0 di Jakarta pada 5 Juni 2025. Gol penalti dingin Ole Romeny di menit ke-45 memastikan kemenangan tersebut sekaligus mengubur peluang tim nasional China. Sejumlah media dan pendukung China meradang. Kekalahan dari Indonesia dianggap sebagai titik terendah.
Namun, kegembiraan Indonesia tidak bertahan lama. Langkah Garuda menuju Piala Dunia 2026 ikut kandas setelah kalah dari Arab Saudi dan Irak.
Pada akhirnya, China dan Indonesia harus berdiri di depan cermin yang sama. Menatap negara-negara lain berlaga di Piala Dunia 2026 dari balik layar televisi.
Sepak bola kembali menunjukkan tabiat aslinya. Ia adalah olahraga yang angkuh sekaligus jujur. Ia tidak menghormati jumlah populasi penduduk, tidak silau oleh kekayaan ekonomi, tidak peduli pada kegaduhan suporter, dan tidak sudi tunduk pada romantisme sejarah leluhur dua ribu tahun silam.
Sepak bola hanya tunduk pada kerja panjang: menumbuhkan kultur dan membangun tata kelola yang benar. Tanpa itu, negara sekaya apa pun akan tetap kalah muka. (*)
Menot Sukadana