Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Dua Kiblat

Oleh Nyoman Sukadana • 17 Juli 2026 • 04:14:00 WITA

Dua Kiblat
Menot Sukadana (AI/Vector)

LIONEL Messi menerima bola di luar kotak penalti. Inggris sudah menumpuk pemain di belakang. Waktu normal tinggal beberapa menit. Argentina tertinggal 0-1 dan pintu final Piala Dunia 2026 mulai menutup.

Messi tidak menembak. Ia mengirim bola kepada Enzo Fernández yang berdiri di ruang yang lebih terbuka. Gol.

Tujuh menit kemudian, ketika pertandingan memasuki masa tambahan waktu, Messi kembali menemukan jalan di antara kerumunan pemain Inggris. Bola kirimannya diselesaikan Lautaro Martínez. Argentina berbalik menang 2-1.

Pada usia 39 tahun, ketika sebagian besar pemain sudah menyaksikan Piala Dunia dari sofa atau studio televisi, Messi memberikan dua umpan yang membawa negaranya ke final ketiga dalam empat edisi terakhir. Inggris pulang. Argentina menuju New Jersey.

Lawan yang menunggu bukan Brasil. Bukan pula Jerman atau Prancis. Messi akan menghadapi Spanyol, negeri yang membesarkan sepak bolanya.

Final itu akan berlangsung pada Minggu, 19 Juli 2026, di Stadion New York New Jersey, East Rutherford. Argentina datang sebagai juara bertahan dan kesebelasan paling produktif sepanjang turnamen. Spanyol tiba dengan pertahanan terbaik. Mereka baru kebobolan sekali dalam tujuh pertandingan serta membawa catatan 37 laga tanpa kekalahan.

Angka-angka itu sudah cukup menjual pertandingan sebagai final ideal. Namun, bagi Messi, pertemuan tersebut membawa persoalan yang lebih pribadi.

Ia akan berdiri menghadapi salah satu bagian dari dirinya sendiri.

Messi lahir di Rosario, Argentina. Di sanalah kaki kirinya pertama kali mengenal bola. Ia tumbuh dalam kebudayaan sepak bola yang percaya bahwa pemain besar dapat lahir di mana saja: di halaman rumah, gang sempit, lapangan tanah, atau sebidang lahan kosong yang gawangnya dibuat dari sandal.

Orang Argentina menyebut lapangan semacam itu potrero.

Tidak ada rumput yang dipotong rata. Tidak ada pelatih yang menghentikan permainan untuk menjelaskan posisi. Anak-anak belajar melalui benturan, ejekan, dan bola yang memantul tak terduga. Mereka harus menjaga bola lebih lama karena kehilangan bola berarti menunggu giliran berikutnya. Mereka belajar mengecoh lawan karena ruang selalu sempit dan kaki datang dari segala arah.

Dari sana tumbuh gambeta, seni menggiring bola melewati lawan. Bukan sekadar memindahkan bola, tetapi menipu. Tubuh bergerak ke kanan, bola dibawa ke kiri. Langkah melambat, lalu mendadak meledak. Lawan dibuat percaya kepada sesuatu yang tidak pernah benar-benar terjadi.

Argentina menjadikan kecerdikan itu sebagai bagian dari identitas sepak bolanya. Diego Maradona merupakan wujudnya yang paling sempurna: pendek, keras kepala, sulit dijatuhkan, dan mampu mengubah kekacauan menjadi jalan keluar.

Messi membawa warisan yang sama. Namun, perjalanan hidup memaksanya meninggalkan Argentina ketika masih berusia 13 tahun. Tubuhnya membutuhkan perawatan. Barcelona menawarkan sesuatu yang tidak diperolehnya di kampung halaman: biaya pengobatan dan masa depan.

Ia kemudian masuk La Masia.

Di akademi Barcelona itu, Messi menemukan cara lain memahami sepak bola. Bola tidak hanya harus dikuasai. Ruang juga harus dibaca. Seorang pemain perlu mengetahui tempat berdiri, kapan bergerak, ke mana bola berikutnya dikirim, serta ruang mana yang akan terbuka dua atau tiga operan kemudian.

Spanyol, terutama melalui tradisi Barcelona, memperlakukan lapangan seperti sebuah peta. Jarak antarpemain dijaga. Posisi tidak ditempati secara kebetulan. Bola digerakkan untuk mengubah susunan lawan, menarik seorang pemain keluar, lalu menyerang ruang yang ditinggalkannya.

Di Rosario, Messi belajar lolos dari kepungan.

Di Barcelona, ia belajar bagaimana kepungan itu diciptakan.

Dua pelajaran tersebut bertemu dalam satu tubuh.

Itulah sebabnya Messi tidak pernah hanya menjadi produk akademi Barcelona. La Masia tidak mengajarinya cara menggiring bola dengan kaki kiri sambil menahan tiga pemain. Bakat itu telah datang bersamanya dari Rosario.

Namun, Argentina juga tidak menyelesaikan Messi seorang diri. Barcelona memberinya tata bahasa. Di sana, kecerdikan jalanannya ditempatkan dalam sistem yang membuat setiap dribel memiliki arah dan setiap pergerakan memiliki akibat.

Pep Guardiola kemudian memindahkannya dari sayap kanan ke posisi penyerang semu. Messi tidak berdiri menunggu di antara bek tengah. Ia turun ke lini tengah, menerima bola, lalu memaksa bek memilih: mengikutinya dan meninggalkan ruang atau bertahan dan membiarkannya berbalik.

Sistem tidak memenjarakan kejeniusan Messi. Sistem justru membukakan pintu agar kejeniusannya dapat masuk ke wilayah yang paling berbahaya.

Bersama Xavi Hernández, Andrés Iniesta, dan Sergio Busquets, Messi mencapai bentuk permainan yang seolah-olah sudah disusun sebelum pertandingan dimulai. Namun, pada saat tertentu, ia selalu melakukan sesuatu yang tidak terdapat dalam rancangan.

Satu sentuhan lebih cepat.

Satu perubahan arah.

Satu bola yang dilewatkan melalui celah yang hanya dilihatnya sendiri.

Itulah Messi: keliaran yang mengetahui tempatnya dalam keteraturan.

Masalah muncul ketika ia mengenakan seragam Argentina.

Selama bertahun-tahun, publik negaranya bertanya mengapa Messi yang begitu bebas bersama Barcelona terlihat terbebani bersama tim nasional. Di Spanyol, ia dikelilingi pemain yang memahami geraknya sejak bola masih berada jauh dari kakinya. Bersama Argentina, ia beberapa kali harus turun terlalu dalam, membangun serangan, menggiring bola, menciptakan peluang, sekaligus menyelesaikannya.

Ia bukan hanya diminta bermain seperti Messi. Ia juga dituntut menjadi Maradona.

Argentina menginginkan pemimpin yang berteriak, melawan, dan memperlihatkan kemarahan. Messi lebih banyak diam. Ia tidak berpidato di depan kamera. Wajahnya jarang memamerkan pembangkangan. Ketika Argentina kalah dalam beberapa final, sikap tenang itu dipakai sebagai bukti bahwa dirinya terlalu Eropa.

Seolah-olah menetap di Barcelona telah mengurangi darah Argentina dalam tubuhnya.

Kecurigaan tersebut mulai luruh setelah Copa América 2021. Kemudian datang Finalissima 2022, Piala Dunia 2022, dan Copa América 2024. Argentina akhirnya menerima Messi bukan sebagai Maradona baru, melainkan sebagai dirinya sendiri.

Ia tidak perlu meniru suara, gaya, atau kemarahan orang lain untuk membuktikan cintanya kepada negara.

Lionel Scaloni juga menemukan cara yang tepat untuk mengelilinginya. Argentina tidak dibangun dengan memaksa sepuluh pemain menyerahkan seluruh permainan kepada Messi. Tim itu memberikan perlindungan, tenaga, dan keseimbangan agar Messi dapat memilih saat yang tepat untuk menentukan pertandingan.

Karena itu, menyebut final 2026 sebagai benturan antara sistem Spanyol dan keliaran Argentina terasa terlalu sederhana.

Argentina bukan tim yang bermain tanpa susunan. Mereka mampu bertahan rapat, mengganti bentuk permainan, memenangkan benturan, dan menunggu hingga lawan kehilangan kesabaran. Perjalanan mereka menuju final menunjukkan kesebelasan yang justru sangat terlatih menghadapi tekanan.

Spanyol juga bukan mesin tanpa jiwa.

Di sisi kanan mereka berdiri Lamine Yamal. Ia tumbuh dari akademi Barcelona, tetapi permainannya dipenuhi keberanian individual. Yamal tidak selalu mengoper ketika sistem meminta bola diteruskan. Ia menggiring, menantang bek, memotong ke tengah, lalu mengambil risiko.

Yamal adalah bukti bahwa Spanyol pun membutuhkan pemain yang sanggup merusak keteraturan.

Ia baru berusia 19 tahun. Messi berusia 39 tahun, dua kali usia Yamal ditambah satu tahun. Sebuah foto dari kegiatan amal UNICEF pada 2007 pernah mempertemukan mereka ketika Yamal masih bayi dan Messi baru memulai pendakian bersama Barcelona. Kini, mereka bertemu lagi dalam pertandingan terbesar dunia.

Orang akan menyebutnya penyerahan tongkat estafet. Messi melawan pewarisnya. Masa lalu menghadapi masa depan.

Namun, sepak bola tidak bekerja sesederhana itu. Yamal bukan Messi berikutnya. Messi juga belum tentu datang ke New Jersey untuk menyerahkan apa pun.

Ia datang membawa Argentina untuk mempertahankan gelar dunia.

Spanyol akan berusaha mempersempit ruang di sekelilingnya. Rodri akan mengatur lalu lintas permainan. Para bek mereka akan menjaga jarak agar Messi tidak dapat berbalik. Bola akan dipindahkan dari satu sisi ke sisi lain untuk membuat Argentina berlari dan perlahan kehilangan tenaga.

Argentina akan membalas dengan caranya sendiri. Mereka akan menekan, menabrak, memperlambat permainan, lalu tiba-tiba mempercepatnya. Mereka akan mencoba membuat pertandingan tidak nyaman. Dalam pertandingan yang terlalu rapi, Spanyol memiliki keunggulan. Dalam pertandingan yang retak, Messi dapat menemukan kehidupan.

Final itu mungkin ditentukan oleh sistem yang disusun selama bertahun-tahun. Mungkin pula oleh satu gerakan kecil yang muncul dalam sepersekian detik.

Sepak bola selalu berlangsung di antara dua wilayah: apa yang dapat dilatih dan apa yang tidak mungkin diajarkan.

Messi mengenal keduanya.

Ia belajar memainkan bola di Rosario, lalu belajar membaca ruang di Barcelona. Argentina memberinya keberanian untuk menantang lawan. Spanyol mengajarinya kapan tantangan itu harus dilakukan.

Pada malam final, ia tidak sedang memilih mana yang lebih baik. Ia juga tidak datang untuk membuktikan bahwa sepak bola jalanan lebih luhur daripada akademi atau bahwa kebebasan selalu dapat menundukkan sistem.

Ia datang sebagai hasil pertemuan keduanya.

Kakinya tetap milik Rosario. Cara berpikirnya tumbuh di Barcelona. Seragamnya biru-putih Argentina. Namun, di seberang lapangan berdiri negeri yang membantu menyempurnakan seluruh permainan itu.

Untuk terakhir kalinya di panggung Piala Dunia, dua kiblat dalam diri Messi akan berdiri saling berhadapan. (*)

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.