Warung Berita
NAMA itu rupanya bisa menjadi beban: PodiumNews.
Saat dipilih, rasanya gagah sekali. Ada kata podium di sana. Bayangan kita langsung ke tempat orang berbicara. Ruang menyampaikan pikiran. Membela pendapat. Sesekali berdebat sampai urat leher menegang.
Lalu ada kata news. Berita. Fakta. Peristiwa.
Dua kata itu tampak sangat berjodoh. Podium dan berita. Suara dan fakta. Pikiran dan kejadian.
Masalahnya: perjalanan media tidak pernah serapi kemauan pemiliknya.
Hari-hari di redaksi berjalan seperti pasar pagi. Ramai. Tergesa-gesa. Berita datang dari mana-mana. Pemerintah menggelar acara. Polisi menangkap orang. DPRD mengadakan rapat. Komunitas membuat kegiatan. Pejabat menyerahkan bantuan.
Semua minta dimuat. Semua merasa paling penting.
Redaksi pun sibuk setengah mati. Menulis. Mengedit. Mengunggah. Membagikan tautan. Besoknya? Mengulang hal yang sama. Begitu terus.
Lama-lama saya bertanya pada diri sendiri: sebenarnya PodiumNews ini media apa?
Pertanyaan itu terasa makin mendesak. Apalagi tahun depan PodiumNews genap berusia sepuluh tahun. Satu dasawarsa.
Sejak mulai berdetak pada Mei 2017, media kecil ini telah melewati banyak hal. Perubahan teknologi. Pandemi. Pergantian pemerintahan. Naik-turunnya bisnis media. Juga kebiasaan pembaca yang berubah lebih cepat daripada model telepon genggam.
Sepuluh tahun cukup panjang untuk membuktikan satu hal: kami bisa bertahan.
Namun, bertahan saja tentu tidak cukup. Setelah bertahan, mau berjalan ke mana?
Kalau disebut media pemerintahan, rasanya terlalu sempit. Memang banyak berita pemerintah yang masuk. Tapi PodiumNews jelas bukan papan pengumuman kantor bupati.
Kalau disebut media budaya, juga tidak tepat. Kami memang menulis budaya, sastra, warisan, dan manusia. Tapi kami bukan rumah sastra seperti Tatkala.
Kalau disebut media umum? Ini jawaban paling aman.
Masalahnya, aman sering kali berarti kabur. Semua dibahas. Semua dimuat. Akhirnya? Tidak ada satu pun yang benar-benar melekat di kepala pembaca.
Seorang kawan pernah berbisik. Media kecil itu jangan bercita-cita menjadi supermarket. Kita tidak punya gudang besar. Tidak punya modal raksasa. Tidak punya pegawai ratusan.
Lebih baik menjadi warung kecil. Tapi dikenal karena punya satu rasa yang khas.
Kalimat itu menempel terus di kepala saya. Dari sana saya sadar: kami ini sebenarnya adalah warung berita.
PodiumNews tidak akan mungkin mengalahkan media besar dalam jumlah berita. Kalah segalanya. Kami juga tidak perlu ikut lomba cepat-cepat mengunggah berita kecelakaan, penangkapan, atau kunjungan pejabat.
Kalau sekadar cepat, media sosial jauh lebih buas. Warga bisa mengunggah peristiwa bahkan sebelum wartawan sempat menyalakan sepeda motor.
Lalu, apa yang bisa kami miliki?
Mungkin jawabannya sudah ada di depan mata: podium.
Tentu bukan podium pejabat. Bukan tempat pidato panjang yang selesai tanpa akibat. Bukan pula panggung seremonial untuk memamerkan baliho dan senyum resmi.
Podium yang saya bayangkan adalah ruang tempat persoalan publik dibawa ke permukaan. Dibicarakan dengan jernih. Diperdebatkan dengan sehat.
Tanah yang makin sulit dimiliki anak muda Bali. Rumah yang harganya berlari lebih cepat daripada gaji. Pariwisata yang makmur, tapi tidak selalu membuat warga lokal merasa sejahtera.
Lalu soal sampah. Air. Kemacetan. Pendidikan. Pekerjaan. Budaya. Media. Serta kehidupan manusia yang terus berubah.
Semua itu bukan sekadar berita. Itu urusan publik. Urusan kita semua.
Di situlah saya mulai melihat arah PodiumNews secara lebih terang.
Rubrik AKTUAL tetap penting. Berita harian adalah denyut nadi. Tanpa itu, media terasa seperti rumah kosong tanpa pintu. Sepi.
Tapi berita tidak boleh berhenti sebagai catatan kegiatan seremonial belaka. Harus ada rubrik HORISON yang menjelaskan mengapa sebuah peristiwa itu penting. Harus ada KHAS yang menunjukkan sisi manusia di balik angka dan kebijakan. Harus ada EDITORIAL yang berani mengambil sikap. Harus ada JEDA yang sesekali menarik napas, lalu bertanya: semua keributan ini sebenarnya membawa kita ke mana?
Mungkin itulah bentuk PodiumNews yang paling masuk akal. AKTUAL memberi kabar. HORISON memberi konteks. KHAS memberi wajah. EDITORIAL memberi sikap. JEDA memberi rasa.
Rumusan itu juga menjadi bagian dari pekerjaan yang lebih besar: membangun Podium Ecosystem. Saya singkat: POST.
Gagasan itu sudah beberapa kali saya tulis. Sebuah proyek ekosistem kecil yang kelak menyambungkan PodiumNews, UrbanBali, Podium Kreatif, serta Kedai Kopi Redaksi sebagai ruang fisik untuk literasi dan komunitas.
Saya menargetkan bangunan itu selesai bertahap dalam lima tahun ke depan. Terdengar nekat? Mungkin.
Tapi cita-cita tanpa tenggat biasanya hanya akan berubah menjadi gambar bangunan. Yang disimpan terus di dalam laci.
Dalam rumah besar POST, PodiumNews tetap menjadi fondasi jurnalistiknya. Kalau fondasinya kabur, bangunan yang lain juga akan kehilangan arah.
Karena itulah, menjelang usia sepuluh tahun, warung berita ini perlu menata kembali dirinya.
Saya juga harus jujur. Fondasinya belum sepenuhnya kokoh. PodiumNews masih terlalu bergantung pada satu figur. Pada saya.
Saya ikut memikirkan arah. Menulis kolom. Menyunting. Menjaga jaringan. Mencari pemasukan. Kadang masih ikut memikirkan judul berita.
Sekilas itu terlihat sebagai kekuatan. Padahal, dalam jangka panjang, bisa menjadi penyakit.
Media yang terlalu bergantung pada pendirinya akan ikut goyah ketika sang pendiri lelah. Sakit. Kehilangan gairah. Atau sekadar ingin menepi dan menikmati kopi lebih lama.
PodiumNews harus mulai hidup sebagai sistem. Bukan sekadar perpanjangan tangan satu orang.
Kelemahan berikutnya tentu saja: modal.
Kami bukan media yang lahir dari peti uang besar. Tidak punya investor yang siap membuka dompet setiap kali redaksi punya gagasan. Banyak rencana harus tumbuh pelan. Menunggu keuntungan usaha dikumpulkan sedikit demi sedikit.
Akibatnya, reporter tambahan harus menunggu. Liputan mendalam sering kalah oleh pekerjaan yang lebih cepat menghasilkan uang.
Idealisme boleh terbang setinggi langit. Tapi gaji, server, listrik, dan bensin wartawan tetap harus dibayar.
Itulah kenyataan warung kecil.
Tentu, merumuskan niche jauh lebih mudah daripada menjalankannya. Tulisan mendalam itu membutuhkan waktu. Tulisan feature membutuhkan kesabaran. Editorial membutuhkan keberanian.
Sementara? Tagihan listrik tidak pernah tertarik pada idealisme.
Namun, media tanpa arah akan lebih cepat lelah. Setiap hari berlari, tapi tidak tahu menuju ke mana. Berita bertambah banyak. Arsip menumpuk tinggi. Tapi nama media tetap tidak tinggal di kepala pembaca.
Karena itu, PodiumNews tidak perlu menjadi media terbesar di Bali. Jauh panggang dari api. Cukup menjadi warung berita yang jelas gunanya. Dan punya satu rasa yang terus dicari pembaca.
Media kecil justru harus berani memilih. Tidak wajib hadir di semua tempat. Tidak harus ikut berteriak pada setiap keramaian.
Kadang ia cukup berdiri di satu sudut. Mengamati lebih lama. Lalu menyampaikan sesuatu yang luput dilihat media lain.
Dari situlah pembaca datang. Dari sana pula kepercayaan tumbuh. Bukan karena medianya paling ramai, melainkan karena selalu menghadirkan sesuatu yang dibutuhkan.
Tempat orang datang bukan hanya untuk mengetahui apa yang terjadi. Tapi juga memahami mengapa hal itu penting.
Tempat fakta tidak dibiarkan telanjang. Fakta harus diberi konteks. Diberi wajah manusia. Diberi ruang untuk diperdebatkan.
Akhirnya saya sadar. Mencari niche bukan sekadar mencari tema yang paling laku di pasar. Ia adalah usaha menemukan alasan: mengapa sebuah media harus terus hidup?
Bagi PodiumNews, alasannya barangkali sudah tertulis sejak awal. Pada namanya sendiri.
Menjadi podium bagi berita.
Bukan podium bagi siapa yang paling berkuasa, melainkan bagi persoalan yang paling perlu didengar.
PodiumNews mungkin tidak akan menjadi media terbesar. Tidak masalah.
Biarlah warung ini tetap kecil.
Tapi berdampak bagi publik pembacanya. (*)
Menot Sukadana