Saksi Gol
RENON dingin sekali malam itu. Dingin yang menusuk.
Tapi tidak di kedai kopi itu. Di sana suasananya mendidih.
Ratusan orang berjejal. Menatap satu titik: layar proyektor. Padat. Kursi habis. Banyak yang terpaksa berdiri. Gelas kopi berserakan. Asap rokok mengepul tebal.
Mereka tidak saling kenal. Pekerjaan berbeda. Umur tidak sama. Urusan pun bermacam-macam. Mereka berkumpul untuk satu hal: menjadi saksi.
Lalu. Bola masuk gawang.
"Gol!"
Kedai itu pecah. Meledak begitu saja.
Dua orang yang tadinya asing mendadak berpelukan. Erat sekali. Anak muda melompat ke atas kursi. Meja dipukul keras. Gelas-gelas bergoyang. Semua berteriak histeris. Mereka saling bersaksi atas kegembiraan itu.
Hanya beberapa meter dari kehebohan itu. Di jalan raya. Seorang pemuda terjebak macet di dalam mobilnya.
Dia menonton pertandingan yang sama. Lewat layar HP. Gambarnya luar biasa tajam. Suaranya jernih. Tanpa gangguan asap rokok. Tanpa pelayan yang mondar-mandir.
Gol terjadi. Pemuda itu tahu. Tapi dia cuma mengangkat alis.
Jempolnya bergerak cepat. Mengetik di kolom komentar: "Goolll!"
Pertandingannya sama. Golnya sama. Rasanya? Jelas beda.
Di kedai kopi, kegembiraan itu memantul. Dari tubuh ke tubuh. Menular. Di dalam mobil, kegembiraan itu mandek. Berhenti di layar sekepalan tangan.
Pemuda itu terhubung dengan jutaan orang lewat internet. Tapi dia menjadi saksi sendirian. Sepi.
Itulah anehnya hidup modern sekarang ini. Teknologi sudah sangat hebat. Kita bisa menonton apa saja. Kapan saja. Dari mana saja. Laga sepak bola yang jauhnya ribuan kilometer bisa pindah ke telapak tangan. Praktis. Tanpa antre. Tanpa perlu keluar rumah.
Tapi, kenapa orang masih mencari tempat nobar? Kenapa mereka rela datang lebih cepat? Memesan tempat? Berdesakan? Hingga pulang subuh? Kenapa layar lebar di kedai kopi, lapangan desa, atau kantor tetap saja penuh?
Jawabannya sederhana. Sepak bola bukan cuma soal mata. Tapi soal rasa. Soal kehadiran orang lain.
Gol yang disaksikan sendiri itu cuma informasi. Gol yang disaksikan bersama-sama itu baru peristiwa.
Manusia suka kenyamanan. Itu pasti. Tapi manusia punya kebutuhan yang jauh lebih tua dari internet: berkumpul. Bersama orang lain.
Kita butuh suara orang lain untuk melipatgandakan kegembiraan. Kita butuh wajah lain untuk meyakinkan diri: momen gol ini luar biasa!
Tim menang? Ingin memeluk seseorang. Tim kalah? Ingin mengumpat bersama. Wasit curang? Marah pun terasa lebih ringan kalau ada saksinya.
HP tidak bisa melakukan itu semua. HP cuma bisa mengirim gambar, suara, atau emoji api. HP tidak bisa menggantikan tepukan di bahu. HP tidak bisa menjadi saksi atas tatapan tegang saat penalti. Tidak bisa menggantikan pelukan spontan di menit akhir.
Mungkin itu sebabnya nobar sangat cocok dengan orang Indonesia. Kita sudah lama punya tradisi ini. Jauh sebelum ada proyektor kedai kopi.
Dulu, TV itu barang mewah. Satu TV milik sekampung. Warga akan berkumpul di rumah tetangga yang punya TV. Menjadi saksi bersama. Anak-anak di barisan depan. Orang tua di belakang.
Gambar mulai bersemut? Satu orang akan keluar rumah. Memutar-mutar antena di atas atap.
"Bagus?" teriak yang di bawah.
"Belum. Putar lagi!"
Gambar kabur. Suara mendesis. Tapi mereka tetap bertahan. Mereka membawa kopi. Membawa kacang rebus. Membawa cerita.
Bagi mereka, TV bukan cuma hiburan. TV itu alasan untuk berkumpul.
Di Bali, bale banjar punya cerita serupa. Tempat itu bukan cuma untuk rapat adat atau latihan gamelan. Saat ada tontonan, bale banjar otomatis jadi ruang bersama. Menghadirkan ratusan saksi mata. Duduk bersila. Bercanda. Berdebat. Pulang membawa cerita yang sama.
Satu layar buruk, melahirkan pengalaman yang sangat kaya.
Sekarang kondisinya terbalik. Semua orang punya layar sendiri. Ada TV di dalam kamar. Ada laga di HP masing-masing. Bisa dihentikan. Bisa diulang sesuka hati. Gambarnya sempurna.
Pengalamannya? Belum tentu.
Kita bebas memilih tontonan. Tapi kita makin jarang menyaksikan sesuatu secara bersama-sama. Satu rumah bisa berisi empat orang. Semua sibuk dengan layarnya sendiri. Di ruangan yang sama, tapi hidup di dunia yang berbeda. Fisik dekat. Kebersamaan jauh.
Maka, nobar adalah perlawanan orang kota. Sebuah usaha merebut kembali ruang komunal yang hilang. Kedai kopi menggantikan bale banjar. Proyektor menggantikan TV tabung. Kursi plastik menggantikan tikar. Kopi susu menggantikan kopi hitam.
Bentuknya berubah. Kebutuhannya sama.
Tentu, pemilik kedai punya hitungan bisnis. Nobar itu cuan besar. Meja penuh. Pesanan banyak. Nama kedai bisa viral.
Tapi bisnis tidak menghapus makna sosiologisnya. Orang tetap datang karena mereka butuh kerumunan. Mereka bukan cuma beli kopi. Mereka beli rasa menjadi bagian dari sebuah peristiwa. Menjadi saksi sejarah kecil yang terjadi di lapangan.
Di luar sana, manusia dipisah-pisahkan. Oleh jabatan. Oleh pendapatan. Oleh gengsi. Direktur di ruang ber-AC. Ojol di pinggir jalan. Mahasiswa kejar tugas. Pedagang hitung untung.
Di ruang nobar, sekat itu mencair. Hilang begitu saja.
Laga dimulai, semua menghadap layar yang sama. Bos besar bisa duduk di sebelah pegawai toko. Turis asing berteriak bareng warga lokal. Setelah bubar, mungkin mereka tidak saling kenal lagi. Tapi selama 90 menit, mereka adalah saksi dengan nasib yang sama.
Émile Durkheim menyebutnya kegembiraan kolektif. Emosi menyebar. Ketegangan menular. Gol terjadi, semua tubuh bergerak serentak. Seperti dikomando.
Itulah kenapa gol di tempat nobar terasa lebih besar. Tayangan ulang cuma memberi tahu apa yang terjadi. Kerumunan membuat kita masuk di dalamnya.
Tapi teknologi tidak mau kalah. Banyak orang ikut nobar, tapi tangan tetap memegang HP.
Gol tercipta. Bukannya memeluk orang sebelah, mereka justru sibuk merekam kerumunan. Kamera dinyalakan. Video diunggah ke Instagram. Atau ke TikTok. Diberi takarir: "Malam luar biasa." Atau: "Pecah!"
Rekam kenangan tidak salah. Masalahnya muncul kalau rekaman itu lebih penting dari pengalamannya sendiri.
Orang datang bukan untuk larut dalam atmosfer. Tapi untuk pamer: saya adalah saksi di sini. Tubuh ada di lokasi. Pikiran ada di layar monitor.
Inilah ironi nobar digital. Keluar kamar untuk cari kebersamaan. Sampai di kerumunan, sembunyi lagi di balik HP. Menonton layar besar, tapi sibuk merekam diri sendiri sebagai saksi di layar kecil. Peristiwa belum selesai, sudah jadi konten. Gembira belum dihayati, sudah sibuk mencari cara mengunggahnya.
Akhirnya, ini bukan soal gawai itu buruk. Teknologi bukan musuh kita. Tanpa teknologi, laga dari benua lain tidak akan pernah sampai ke Renon, Mengwi, atau Gianyar.
Gawai memberi akses. Tapi akses tidak otomatis memberi kedekatan.
Hasil pertandingan bisa kita tahu dalam sedetik. Komentar bisa dibaca hingga ribuan. Gol bisa ditonton dari berbagai sudut. Tapi ada satu yang tidak bisa disalin oleh layar HP mana pun: rasa menahan napas bersama kerumunan saksi di detik yang sama.
Itulah mengapa nobar akan tetap hidup.
Biar layar HP makin besar. Biar gambar makin tajam. Manusia tidak cuma ingin melihat pertandingan. Manusia ingin ada saksi atas kegembiraannya.
Maka saat laga besar tiba, orang akan tetap mencari kursi kedai kopi. Mencari tikar lapangan. Atau sudut bale banjar.
Mereka akan tetap bersorak. Mengumpat. Mengejek. Lalu berpelukan saat gol.
Bola boleh ditendang ribuan kilometer di sana. Layar boleh makin tipis. Teknologi boleh makin gila.
Tapi gol tetap butuh orang lain. Agar kesaksian itu terasa utuh. (*)
Menot Sukadana