Podiumnews.com / Kolom / Editorial

Bukan Mainan

Oleh Nyoman Sukadana • 17 Juni 2026 • 20:57:00 WITA

Bukan Mainan
Editorial. (podiumnews)

MENJADIKAN Bali sebagai pusat wisata kesehatan (wellness tourism) dunia adalah perkara serius. Ini adalah proyek masa depan yang mempertaruhkan reputasi negara, bukan panggung mainan bagi para petualang bisnis ilegal.

Sayangnya, terungkapnya praktik PRIME Skin Clinic di Badung baru-baru ini menjadi tamparan keras. Fasilitas estetika medis tersebut tidak hanya beroperasi tanpa izin resmi, tetapi juga nekat mempekerjakan tenaga medis asing asal Rusia dan Armenia secara ilegal.

Langkah taktis Kementerian Kesehatan bersama instansi lintas sektoral, termasuk keimigrasian dan intelijen, dalam menutup klinik tersebut patut diapresiasi.

Tindakan tegas ini mengirimkan sinyal bahwa Indonesia tidak akan menoleransi pengabaian hukum.

Namun, di balik keberhasilan penindakan ini, tersimpan pertanyaan mendasar yang mengusik nalar publik: bagaimana mungkin sebuah klinik kecantikan dengan tenaga kerja asing (WNA) bodong bisa beroperasi sedemikian rupa sebelum akhirnya ditindak?

Kehadiran tenaga medis asing tanpa Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktik (SIP) yang sah bukan sekadar pelanggaran administrasi. Ini adalah ancaman langsung terhadap keselamatan publik sekaligus bentuk pelecehan terhadap kedaulatan hukum kita.

Regulasi ketat yang dibebankan kepada tenaga medis domestik seolah tidak berarti ketika ada celah di tingkat pengawasan lokal yang berhasil dimanfaatkan oleh oknum asing untuk membuka praktik "kucing-kucingan".

Jika dibiarkan, Bali yang seharusnya menjadi destinasi medis tepercaya justru akan berubah citra menjadi lahan liar malapraktik. Dampak dari pembiaran ini sangat mahal.

Bali sedang berjuang membangun ekosistem wisata medis yang aman, berkualitas, dan tepercaya untuk bersaing di kancah internasional. Kepercayaan global (international trust) adalah komoditas yang rapuh.

Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangunnya, namun hanya butuh satu atau dua kasus malapraktik dari klinik ilegal untuk meruntuhkannya dalam semalam.

Industri wellness bukanlah sekadar tren gaya hidup kosmetik, melainkan sektor berbasis kesehatan yang wajib tunduk pada standar mutu tertinggi. Kasus ini harus menjadi momentum evaluasi total.

Pengawasan di tingkat bawah, khususnya oleh Dinas Kesehatan Daerah dan aparat penegak perda, tidak boleh lagi bersifat reaktif atau sekadar menunggu laporan viral.

Diperlukan sistem pengawasan digital yang terintegrasi dan preventif agar potensi pelanggaran dapat dideteksi sejak dini.

Kolaborasi lintas instansi yang solid seperti dalam penindakan kemarin harus diubah menjadi sistem pengawasan rutin yang konsisten, bukan sekadar respons kepanikan sesaat. Di sisi lain, masyarakat juga dituntut untuk lebih kritis.

Konsumen jangan lagi mudah silau oleh kemasan visual klinik yang estetik atau sekadar klaim "ditangani dokter asing".

Kemudahan verifikasi mandiri terhadap legalitas fasilitas dan tenaga medis yang telah disediakan pemerintah harus dioptimalkan. Mari tempatkan industri wisata kesehatan Bali pada tempatnya yang terhormat.

Mengelola reputasi pulau ini membutuhkan ketegasan yang konsisten dan pengawasan yang tanpa kompromi. Menganggap remeh pelanggaran estetika medis sama saja dengan mempertaruhkan masa depan pariwisata kita.

Sekali lagi, ini urusan marwah dan keselamatan manusia, jelas bukan mainan. (*)



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.