Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Mendadak Kuning

Oleh Nyoman Sukadana • 22 Juni 2026 • 06:38:00 WITA

Mendadak Kuning

WARNA itu ajaib. Bisa mengubah segalanya.

Bukan cuma urusan politik. Bukan sekadar selera mobil. Atau warna baju di lemari. Bahkan, dalam sejarah peradaban manusia, warna kulit pun bisa jadi sumbu diskriminasi yang mengerikan.

Warna punya kekuatan magis. Dia bisa mengotak-kotakkan isi kepala manusia. Bisa memicu konflik. Juga bisa mendatangkan uang.

Sekarang, warna masuk ke urusan bisnis. Serius sekali. Terutama di sektor properti.

Coba perhatikan Bali belakangan ini. Ada fenomena unik. Menarik dianalisis.

Pemasaran tanah kapling di pulau ini punya tren baru. Para makelar mendadak kompak. Agen properti satu suara. Developer perumahan ikut-ikutan.

Mereka tidak lagi melulu jualan akses jalan lebar. Atau dekat fasilitas umum maupun dekat pantai. Mereka sedang sibuk jualan status warna lahan.

Jargonnya seragam. Ada di baliho pinggir jalan. Ada di grup-grup WhatsApp. Berseliweran di iklan media sosial. Bahkan kini merambah ke marketplace besar seperti OLX, Rumah123, hingga Facebook Marketplace.

Bunyinya: Sudah ITR Kuning.

Itu mantra baru yang sakti.

Bagi orang awam, istilah ITR mungkin terdengar asing. Itu singkatan dari Informasi Tata Ruang. Di dalam dokumen dinas, ruang hidup kita dipetakan lewat warna-warna.

Kalau peta tanah itu berwarna hijau, lupakan saja mimpi punya rumah di sana. Itu zona pertanian. Jalur hijau. Dilindungi. Nekat membangun di sana? Siap-siap saja digusur.

Tapi kalau sudah kuning? Nah, ini dia. Kuning artinya zona permukiman. Legal. Boleh didirikan bangunan. Boleh keluar izinnya.

Maka, warna kuning pun mendadak naik kelas. Status kuning menjadi jaminan mutu tertinggi. Membuat sepetak tanah harganya langsung selangit. Naik berlipat-lipat. Konsumen pun berebut.

Pemasar properti di Bali memang cerdik. Mereka adalah pembaca psikologi massa yang ulung. Pintar melihat arah angin. Tahu persis apa yang sedang menjadi kecemasan terbesar di dalam benak konsumen.

Mereka selalu punya cara agar dagangan laku.

Ingat kejadian setahun lalu? Waktu itu musim hujan lebat sekali. Denpasar dikepung air. Banjir di mana-mana. Bahkan, perumahan elite pun ikut terendam setinggi lutut. Mobil mewah tenggelam. Pemiliknya meratap di media sosial.

Konsumen panik. Takut beli rumah yang ternyata jadi kolam dadakan.

Apa yang terjadi kemudian? Gerakan makelar cepat sekali. Luar biasa adaptif. Hanya dalam hitungan hari, narasi iklan di baliho dan marketplace berubah total. Jargon lama dibuang. Mereka serentak memasang kata kunci baru: Kawasan Bebas Banjir.

Itu obat penenang yang manjur. Hasilnya nyata. Jualan mereka tetap laku keras. Properti tetap bergerak. Makelar tetap dapat komisi. Cerdik sekali.

Sekarang, situasinya beda lagi. Ketakutan konsumen sudah bergeser. Bukan lagi takut air, tapi takut hukum.

Musim hujan sudah lewat. Berganti dengan musim penertiban.

Pemerintah daerah di Bali sedang galak-galaknya. Penertiban alih fungsi lahan diperketat habis-habisan. Aturan tata ruang ditegakkan tanpa kompromi. Birokrasi tidak mau lagi kecolongan.

Vila-vila bodong disikat tanpa ampun. Bangunan yang menabrak jalur hijau disegel. Buldoser diturunkan. Pemerintah daerah ingin menyelamatkan subak dan sawah Bali yang tersisa.

Ketegasan itu melahirkan hantu baru. Konsumen kini paranoid. Mereka makin cerewet. Ogah ditipu makelar nakal. Bayangkan: uang miliaran amblas, bangunan rata tanah disikat Satpol PP. Sakitnya dobel.

Konsumen butuh satu hal: keamanan legalitas.

Ketakutan baru inilah yang ditangkap oleh radar para agen properti. Mereka tahu cara menjinakkan kecemasan itu. Pembeli hari ini hanya mau bertransaksi jika asetnya dijamin aman dari kejaran hukum.

Maka, ramailah iklan diubah. Di pinggir sawah, baliho dipaku mencolok. Di marketplace, deskripsi properti ditulis pakai huruf kapital semua: DIJUAL TANAH KAPLING, ITR KUNING!

Itu tameng hukumnya. Itu pembungkam rasa takut konsumen. Begitu melihat kata "kuning", konsumen langsung merasa aman. Dompet pun dibuka. Transaksi terjadi lagi.

Nasib ruang hidup kita hari ini memang aneh. Dia ditentukan oleh selembar kertas yang diberi warna oleh birokrasi.

Tapi di balik riuhnya status kuning yang laris manis itu, ada cermin yang memperlihatkan ironi. Sebuah ironi yang mengiris hati bagi masa depan pulau ini.

Sawah-sawah produktif yang dulunya jadi sumber penghidupan dan akar budaya Bali terus menyusut dengan kecepatan tinggi. Hijau alami dikalahkan oleh kuning regulasi. Atas nama pertumbuhan ekonomi. Atas nama bisnis properti.

Ujung-ujungnya nanti finisnya tetap sama: semuanya berubah menjadi putih abu-abu warna semen. Menjadi hutan beton yang gersang.

Warna memang bisa bikin urusan jadi beda.

Dulu, kuning adalah penanda alami. Warna bulir padi yang merunduk lebat. Simbol bahwa petani siap memanen kesejahteraan dari tanah mereka sendiri.

Sekarang? Kuning adalah simbol kepastian hukum bahwa buldoser sudah boleh masuk. Simbol bahwa beton sudah bisa ditanam di atas tanah subur.

Kita yang menonton ini hanya bisa mengelus dada. Sambil terus memperhatikan papan-papan iklan di pinggir jalan dan layar ponsel kita.

Dan mulai menebak-nebak di dalam hati: warna apa lagi yang besok akan mendikte cara kita bertransaksi, berpikir, dan bertahan hidup di pulau ini?

So, Anda pilih warna apa?

Menot Sukadana

 


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.