Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Boleh Gagal

Oleh Nyoman Sukadana • 11 Agustus 2026 • 17:51:00 WITA

Boleh Gagal
Menot Sukadana (AI/Vector)

KALAU ditanya apakah saya yakin Podium Ecosystem akan berhasil, jawabannya mungkin tidak seratus persen. Saya melihat peluangnya, tetapi juga melihat banyak kemungkinan gagal. Anehnya, keraguan itu tidak membuat saya berhenti. Pekerjaan tetap berjalan seperti biasa.

Ada hari ketika saya melihat prospeknya cukup terang. PodiumNews sudah berjalan, Kopi Redaksi mulai saya pikirkan lebih serius, Podium Kreatif tetap bisa hidup lewat proyek, sementara UrbanBali saya bayangkan berkembang bersama partner dan pemodal yang tepat. Kalau semuanya bertemu pada waktunya, model ini kelihatannya masuk akal.

Tapi ada juga hari ketika saya melihatnya dengan cara berbeda.

Jangan-jangan saya sedang membuat sesuatu yang terlalu rumit. Jangan-jangan media lokal memang tidak punya ruang sebesar yang saya bayangkan. Jangan-jangan beberapa tahun lagi semua rencana itu tinggal menjadi folder di laptop.

Saya tidak punya jawaban pasti.

Besoknya saya tetap memikirkan PodiumNews. Masih mencatat ide untuk Kopi Redaksi. Masih membayangkan hubungan antara media, ruang berkumpul, komunitas, dan bisnis kreatif. Kadang saya sendiri heran, kalau tidak begitu yakin, kenapa masih dikerjakan?

Mungkin karena saya mulai menerima satu kemungkinan yang dulu terasa agak menakutkan.

Usaha ini boleh gagal.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup lama saya sampai pada kesimpulan tersebut. Kita terbiasa mendengar cerita orang membangun usaha dengan keyakinan besar. Pendiri perusahaan digambarkan seperti orang yang sejak awal tahu ke mana bisnisnya akan dibawa. Mereka punya visi lima tahun, sepuluh tahun, angka pertumbuhan, ekspansi, dan segala macam target.

Saya tidak seperti itu.

Saya tahu apa yang ingin saya bangun. Tetapi bagaimana caranya sampai ke sana, saya sendiri belum sepenuhnya tahu.

Beberapa tahun lalu mungkin saya membayangkan semua unit dalam Podium Ecosystem tumbuh bersamaan. Sekarang saya justru semakin melihat bahwa tidak semuanya harus dibesarkan. Podium Kreatif, misalnya, cukup berjalan ketika ada proyek. UrbanBali juga tidak harus saya paksa bangun seorang diri. Kalau ada partner yang lebih tepat untuk mengelolanya, kenapa harus ngotot?

Sebaliknya, PodiumNews dan Kopi Redaksi terasa semakin layak mendapat perhatian lebih besar.

Perubahan seperti itu dulu mungkin saya anggap sebagai tanda rencana tidak berjalan. Sekarang saya melihatnya biasa saja. Bisnis rupanya tidak selalu tumbuh mengikuti bagan yang dibuat di awal.

Kadang yang berubah bukan apa yang ingin kita bangun, melainkan cara untuk mencapainya.

Masalahnya, kita sering terlanjur menganggap setiap rencana yang berubah sebagai kegagalan. Usaha tutup disebut gagal. Proyek berhenti dianggap gagal. Target tidak tercapai juga gagal.

Padahal saya mulai bertanya, gagal yang bagaimana?

Anggap saja lima tahun lagi Podium Ecosystem ternyata tidak menjadi seperti yang saya bayangkan hari ini. Apakah berarti seluruh pekerjaan ini sia-sia?

Belum tentu.

PodiumNews mungkin masih ada. Ribuan berita dan tulisan yang pernah diterbitkan tetap menjadi arsip. Jaringan yang terbentuk tidak mendadak hilang. Orang-orang yang saya kenal selama membangun media tetap menjadi bagian dari perjalanan. Begitu pula pengalaman mengurus perusahaan, mencari pendapatan, membayar orang, menghadapi klien, membuat produk, sampai melihat sendiri gagasan mana yang ternyata tidak laku.

Semua itu tetap tinggal.

Mungkin justru dari sesuatu yang gagal muncul pekerjaan lain yang hari ini belum terpikirkan.

Saya pernah cukup lama bekerja sebagai wartawan. Kalau melihat perjalanan itu dari sekarang, banyak bagian hidup yang ternyata tidak pernah saya rencanakan sejak awal. Satu pekerjaan membawa saya bertemu orang tertentu. Pertemuan lain membuka pekerjaan berikutnya. Ada hal yang dulu terasa penting, sekarang bahkan jarang saya ingat.

Hidup rupanya memang agak berantakan kalau dilihat dari dekat.

Baru setelah berjalan cukup jauh, kita kadang melihat ada hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.

Karena itu saya semakin tidak tertarik membuat ramalan terlalu jauh tentang Podium Ecosystem. Saya tetap punya target, tetapi tidak ingin menjadi tawanan target tersebut.

Kalau sesuatu ternyata tidak bekerja, ya diperbaiki.

Kalau tetap tidak bekerja, mungkin dihentikan.

Ada perbedaan antara menyerah terlalu cepat dengan memaksakan sesuatu yang memang tidak jalan. Saya rasa pengalaman membuat orang sedikit lebih mampu membedakan keduanya, meski tentu saja tidak selalu benar.

Yang sekarang lebih saya khawatirkan justru bukan kegagalan.

Saya lebih takut gagal secara bodoh.

Menaruh terlalu banyak uang hanya karena sedang bersemangat. Membesarkan organisasi sebelum pendapatannya cukup. Mempertahankan bisnis hanya karena malu mengakui bahwa modelnya keliru. Atau terus membakar tenaga untuk sesuatu yang sebenarnya sudah lama kehilangan alasan untuk hidup.

Kalau harus gagal, saya ingin kegagalan itu masih bisa ditanggung.

Rumah tidak hilang. Hidup tidak berantakan. Orang-orang yang bekerja bersama saya tidak ikut tenggelam. Saya masih bisa bangun besok pagi dan memikirkan pekerjaan berikutnya.

Mungkin karena itu cara saya melihat Podium Ecosystem belakangan juga berubah.

Saya tidak lagi merasa semua komponennya harus menjadi besar. Cukup beberapa yang benar-benar bekerja. Yang lain boleh kecil, berubah bentuk, bergabung dengan orang lain, bahkan berhenti kalau memang tidak menemukan jalannya.

Tidak ada kewajiban sebuah gagasan hidup selamanya hanya karena kita yang melahirkannya.

Ini bukan berarti saya mengerjakannya setengah hati.

Justru sebaliknya.

Selama PodiumNews masih punya ruang untuk tumbuh, saya akan mengerjakannya dengan serius. Selama Kopi Redaksi masih terlihat masuk akal, saya akan mencoba mewujudkannya. Kalau suatu hari UrbanBali menemukan partner yang cocok, saya ingin melihat ke mana ia bisa berkembang.

Saya tetap ingin semuanya berhasil.

Siapa yang membangun usaha lalu berharap gagal?

Hanya saja sekarang saya tidak merasa harus meyakinkan diri sendiri setiap pagi bahwa semuanya pasti berhasil. Saya rasa itu melelahkan. Dunia usaha sudah cukup tidak pasti tanpa kita harus berpura-pura tahu masa depan.

Saya tidak tahu apakah Podium Ecosystem akan berhasil. Dan rupanya saya tidak harus tahu jawabannya sekarang.

Untuk sementara, saya cukup mengerjakannya sebaik yang saya bisa.

Sisanya biar waktu yang menjawab.

Kalau berhasil, saya syukuri.

Kalau gagal, saya belajar menerima satu hal yang belakangan terasa semakin masuk akal: ternyata kita memang boleh gagal. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.