Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Bekas Berkelas

Oleh Nyoman Sukadana • 14 Agustus 2026 • 16:56:00 WITA

Bekas Berkelas
Menot Sukadana (AI/Vector)

Dulu sederhana saja. Baju robek, ya dijahit. Celana kepanjangan, bawa ke tukang permak. Ritsleting macet, ganti kepala ritsletingnya.

Beres.

Kemeja mulai sempit? Berikan ke adik. Ada sisa potongan kain? Lipat rapi. Simpan di laci. Suatu saat pasti kepakai.

Zaman itu tidak ada istilah keren. Tidak ada yang kenal kata repair. Tidak ada reuse, upcycling, apalagi circular economy.

Orang tua kita tidak serumit itu. Alasannya cuma satu: barangnya masih bisa dipakai.

Hemat. Titik.

Di Bali, laku hidup seperti itu mengalir alami. Bertahun-tahun jadi napas rumah tangga. Kain bekas upacara disimpan baik-baik. Kebaya lawas dipermak biar pas di badan. Kursi kayu reyot dipaku lagi. Botol sirup dan kaleng biskuit beralih fungsi jadi wadah bumbu atau pot bunga. Sebelum benar-benar hancur, pantang masuk tempat sampah.

Tukang jahit panen rezeki. Tukang permak keliling laris manis. Mereka hidup dari kebiasaan orang merawat barang.

Lalu zaman berganti. Barang baru membanjiri pasar. Harganya murah luar biasa.

Belanja daring datang. Baju bisa dibeli sambil rebahan di kasur. Klik, bayar, besoknya sampai. Model berganti tiap pekan. Diskon bertebaran tiap hari.

Orang mulai berhitung. Ongkos permak celana dua puluh ribu. Beli baru di toko daring cuma tiga puluh lima ribu.

Pilihan pun berubah.

Celana robek sedikit, buang. Baju mulai bosan, tumpuk di sudut lemari. Beli baru jauh lebih praktis daripada repot-repot memperbaiki.

Barang lama pun divonis: kuno. Ketinggalan zaman.

Tapi roda berputar.

Beberapa tahun belakangan, arah angin berbalik. Aneh bin ajaib.

Toko pakaian bekas mendadak ramai diserbu. Anak-anak muda berjejal di pasar loak. Mereka berburu jaket kusam, celana jin belel, dan kaus pudar.

Namanya berganti mentereng: thrifting.

Baju tambalan kini dianggap seni. Jahitan kasar sengaja dipamerkan. Kain perca sisa konveksi dirangkai jadi tas modis, lalu nangkring di butik mahal. Istilahnya naik kelas: upcycling.

Barang bekas mendadak dicari lagi.

Dulu orang pakai baju bekas karena terpaksa berhemat. Sekarang orang berburu baju bekas biar kelihatan keren.

Jaket jadul dianggap punya karakter. Jin belel malah berharga mahal. Baju lungsuran dari kakak ke adik yang dulu bikin malu, sekarang masuk etalase berlabel preloved.

Putarannya luar biasa menarik.

Kebiasaan yang dulu lahir dari keterbatasan, sempat dibuang karena dianggap murahan, kini dipungut lagi dengan bungkus baru. Diberi panggung. Diberi harga tinggi.

Padahal, tukang permak di pinggir jalan sudah puluhan tahun melakukan itu. Mereka sudah lama memperpanjang umur pakaian. Ibu-ibu di dapur sudah khatam soal daur ulang. Kakek kita yang rajin mengelem kursi kayu reyot sudah mempraktikkan ekonomi sirkular jauh sebelum istilah itu masuk seminar kampus.

Hanya saja, orang tua kita dulu tidak pandai bikin istilah bahasa Inggris.

Generasi sekarang punya alasan baru. Ada yang demi lingkungan. Takut bumi makin penuh sampah tekstil. Ada yang ingin tampil beda, ogah bajunya kembaran di jalan. Ada pula yang murni berburu merek mahal dengan modal cekak.

Semua bermuara di titik yang sama: barang lama kembali punya wibawa.

Ini kabar baik. Produksi tekstil dunia sudah kelewat gila. Bumi megap-megap menampung limbah baju sekali pakai. Makin panjang umur selembar pakaian, makin berkurang beban bumi.

Tapi ada satu hal yang menggelitik pikiran.

Modernitas ternyata kerap kali cuma soal kepiawaian memberi nama.

Bawa botol minum sendiri dari rumah? Dulu itu tanda anak hemat, sekarang gaya hidup zero waste.

Beli baju rombeng di emperan? Dulu karena dompet tipis, sekarang pilihan gaya hidup vintage.

Memperbaiki pakaian sobek? Dulu biar tidak keluar uang, sekarang masuk gerakan moral bernama slow fashion.

Tindakannya persis sama. Yang berubah cuma bungkusnya.

Pasar memang pintar membaca peluang. Ketika publik mulai sadar lingkungan, industri langsung pasang kuda-kuda. Baju bekas disortir, dicuci wangi, dipotret estetik, lalu dikasih narasi puitis. Harganya pun melonjak berkali lipat.

Salah? Tentu tidak.

Bagus malah. Barang berumur lebih panjang. Lapangan kerja baru tercipta. Tukang jahit dan perajin lokal yang sempat megap-megap kini kembali punya ruang bernapas.

Hanya saja, kita jadi tersenyum sendiri melihat siklus ini. Betapa sebuah laku hidup bersahaja harus menempuh perjalanan memutar puluhan tahun, terlempar ke sudut zaman, sebelum akhirnya diagung-agungkan kembali.

Dulu orang merawat barang karena sadar diri belum tentu mampu beli penggantinya. Sekarang orang memburu barang tua karena jenuh dengan kepalsuan barang baru yang serba instan.

Kita hari ini menyebutnya thrifting, upcycling, atau slow fashion.

Orang tua kita dulu cukup berpesan ringkas: kalau masih bisa dipakai, jangan dibuang.

Kadang, yang kita anggap tren paling baru di dunia ini sejatinya bukan hal baru.

Ia hanya kearifan lama. Yang baru saja pulang kampung setelah berganti pakaian. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.