Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Politik Jenaka

Oleh Nyoman Sukadana • 12 Agustus 2026 • 09:38:00 WITA

 Politik Jenaka
Menot Sukadana (vector/ai)

BANGSA ini memang pintar tertawa.

Apalagi saat getir. Di Jerman, ada istilah schadenfreude. Menertawakan kemalangan. Di sini, tak perlu istilah rumit. Sebut saja: kebiasaan.

Dulu, rakyat yang melucu.

Saat Orde Baru tumbang pada 1998, rakyat bikin hiburan sendiri. Ada pemuda yang demo di kebun binatang. Berdialog dengan simpanse membicarakan Soeharto. Simpanse manggut-manggut, mereka berteriak merdeka. Lucu. Tapi itu kritik.

Lalu di Solo lahir Partai Sendal. Singkatannya: Seni dan Dagelan. Ketuanya wanita buta huruf. Alasan mereka masuk akal: ketua yang tak bisa membaca tak akan gampang dihasut berita koran. Partainya tak akan plin-plan.

Di Jakarta, warga Tionghoa yang cemas menyentil keadaan lewat gagasan Partai Cino. Nama kerennya: Parno. Singkatan dari paranoid. Mereka protes wacana penyederhanaan shio menjadi tiga saja: shio Sapi Perah, Ayam Potong, dan Kambing Hitam. Semua simbol penderitaan rakyat kecil.

Rakyat tertawa untuk bertahan hidup. Humor adalah perisai.

Kini zaman berubah.

Subjeknya berganti. Bukan rakyat lagi yang melucu. Tapi pejabat.

Wartawan dikirim paket kepala babi busuk. Pejabat menjawab: masak saja. Timnas bola kalah. Katanya karena gizi anak kampung. Gas elpiji langka. Solusinya: begitu masakan matang, langsung matikan kompor.

Luar biasa.

Rakyat diposisikan seperti anak SD kelas dua. Logika dibolak-balik. Rasionalitas dibuang ke tong sampah.

Apakah itu humor? Bukan.

Itu kegagalan komunikasi. Komunikasi persuasif butuh data. Komunikasi agitatif butuh niat memaksa. Yang terjadi hari ini adalah gabungan keduanya: omon-omon absurd yang dipaksakan jadi kebenaran.

Pejabat tertawa dengan logikanya sendiri. Rakyat tertawa karena bingung.

Dulu rakyat menghibur penguasa agar situasi tegang mereda. Sekarang penguasa menghibur rakyat agar lupa pada masalah yang sengsara.

Indonesia memang negeri canda. Bedanya, dulu canda lahir dari rasa takut. Sekarang canda lahir dari rasa tak peduli.

Panggung komedi tak lagi laku. Untuk apa beli tiket komika? Cukup buka berita pagi. Kelucuan disajikan gratis. Oleh mereka yang berdasi.

Kita tinggal memilih: ikut tertawa, atau mematikan kompor. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.