Tuan Penonton
GEDUNG megah mulai dirancang. Karpet merah dibentangkan. Angka investasi ratusan triliun dipajang gagah di media.
Pusat finansial internasional datang ke Bali. Family office bermunculan. Uang para triliuner dunia siap berputar.
Lalu anak Bali dapat apa?
Pemerintah sesumbar. Katanya serap lapangan kerja. Katanya angkat ekonomi. Efek berganda, istilah kerennya.
Tapi mari bedah jenis kerjanya.
Industri ini bukan pariwisata. Ini bukan hotel. Ini bukan restoran. Hotel butuh koki dan resepsionis. Puluhan tahun Bali sudah mahir di sana.
Finansial global butuh wealth manager. Butuh analis investasi. Butuh ahli hukum bisnis internasional. Butuh pengacara korporasi.
Gaji mereka fantastis. Nilai ekonominya jumbo.
Pertanyaannya: siapkah otak lokal?
Membangun gedung itu cepat. Bikin kantor cuma butuh hitungan bulan. Punya modal, panggil kontraktor, jadi. Mencetak analis risiko tidak bisa kilat. Butuh jam terbang. Butuh sertifikasi. Butuh ekosistem.
Jika SDM lokal belum siap, industri tidak akan menunggu.
Pilihan paling gampang diambil: boyong tenaga siap pakai. Impor dari Jakarta. Boyong dari Singapura. Rebut dari Hong Kong.
Aturan OJK sudah memberi celah. Tenaga asing boleh masuk untuk posisi khusus. Alasan klasik: transfer pengetahuan.
Praktiknya? Kita sudah sering lihat skenario ini.
Lima atau sepuluh tahun lagi, posisi empuk diisi orang luar. Anak Bali tetap dapat kerja. Tapi di mana? Jadi driver. Jadi security. Jadi teknisi AC. Jadi petugas kebersihan.
Semua kerjaan itu halal. Tidak ada yang salah. Tapi margin nilainya beda jauh.
Gurihnya kue finansial dinikmati tenaga luar. Anak lokal dapat remahnya. Di atas tanah sendiri. Di bawah gedung megah yang sama.
Singapura dan Hong Kong cerdik. Mereka jepit pembuat kebijakan. Mau dapat insentif pajak? Wajib pakai profesional lokal. Uang yang masuk harus mengalir ke otak warga setempat.
Kita masih sibuk jualan mimpi kawasan. Sibuk hitung nilai investasi. Lupa hitung kapasitas SDM.
Pendidikan butuh waktu. Kampus, OJK, dan industri harus melek dari sekarang. Bikin kurikulumnya. Siapkan sertifikasinya.
Jangan sampai Bali cuma jadi panggung. Orang lain yang main peran utama.
Triliuner pasti datang. Uang mereka pasti berputar.
Tinggal pilih: anak Bali mau ikut duduk mengelola uangnya, atau bangga cuma jadi Tuan Penonton yang ramah membukakan pintu? (*)
Menot Sukadana