Buku Wartawan
BALI era 80-an. Era 90-an. Sampai awal 2000-an. Ruang redaksinya begitu bergairah.
Wartawan tidak hanya sibuk mengejar tenggat berita harian. Dari tangan mereka, lahir buku-buku bermutu nasional.
Sekarang? Api itu kekurangan oksigen. Hampir padam.
Apalagi sekarang. Zaman sudah berubah total. Ini era media online. Era digital.
Kecepatan adalah tuhan baru. Semua serba cepat. Berita harus tayang detik ini juga. Kalau bisa, mendahului peristiwa.
Dampaknya nyata. Ruang redaksi hari ini dihantui oleh target pageviews. Dikejar setoran klik.
Wartawan online terjebak dalam algoritma. Saban hari memelototi tren. Mengetik berita yang dangkal. Asal cepat. Yang penting viral.
Napas mereka menjadi sangat pendek. Jangankan berpikir menulis buku. Untuk melakukan verifikasi mendalam saja, waktu mereka sudah habis digilas kecepatan.
Padahal, mari kita tengok ke belakang. Dari rahim kewartawanan Bali yang kontemplatif, lahir pula para sastrawan. Lahir para budayawan besar.
Sebut saja Putu Setia. Siapa tidak kenal? Jurnalis kawakan. Salah satu pilar di Majalah Tempo.
Tapi lihat karyanya. Esai-esai kebudayaan dan keagamaan Bali-nya begitu memikat. Dibukukan menjadi seri Menggugat Bali. Tajam. Segar. Penuh humor sekaligus kritik mendalam.
Putu Setia adalah bukti otentik. Bahwa jurnalisme justru menjadi bahan bakar terbaik untuk melahirkan buku bermutu nasional.
Lalu ada Oka Rusmini. Sastrawan perempuan ini meniti karier sebagai jurnalis di Harian Bali Post. Tapi lewat buku, namanya melesat.
Novelnya, Tarian Bumi, meledak. Begitu pula kumpulan cerpennya, Pesta Kerang. Oka meraih penghargaan SEA Write Award di tingkat ASEAN. Menjadi best seller. Diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. Jerman. Inggris.
Jangan lupakan Gde Aryantha Soethama. Wartawan senior yang juga sastrawan mumpuni. Bukunya, Mandi Api, meraih penghargaan prestisius Kusala Sastra Khatulistiwa kategori Prosa pada tahun 2006.
Aryantha sangat produktif. Ia melahirkan berbagai buku kumpulan esai yang memotret Bali secara tajam, seperti Jangan Mati di Bali, Bolak-Balik Bali, hingga Menitip Mayat di Bali. Semua karyanya merekam realitas sosial dan budaya Bali dengan sangat jeli—sebuah pencapaian yang lahir dari ketajaman intuisi seorang jurnalis.
Lihat juga jejak I Made Adnyana. Publik pers mengenal jurnalis senior Bali ini sebagai Adnyana Ole. Dialah pendiri portal literasi Tatkala.co. Karyanya bernapas panjang. Buku terbarunya, novel Membunuh Pengantin, menegaskan posisinya. Ole membuktikan bahwa wartawan tidak boleh kehilangan daya magis kata di luar berita harian.
Lalu, ada I Wayan Juniarta. Jurnalis kawakan The Jakarta Post. Jun dikenal piawai menulis esai yang humanis dan kritis. Jun membukukan pemikirannya dalam Bungklang-Bungkling. Sebuah karya yang memikat. Memotret perilaku jenaka, konyol, sekaligus filosofis dari dinamika kehidupan masyarakat lelaki di Bali.
Mereka semua jurnalis. Mereka pencatat fakta. Tapi mereka juga perawat literasi lewat buku. Buku mereka melanglang buana. Menembus batas pulau. Mendapat pengakuan nasional. Bahkan internasional.
Saya jadi teringat sebuah momen. Awal tahun 2026 lalu. Tempatnya di Pojok Sudirman, Denpasar.
Saat itu, saya menyerahkan buku pertama saya kepada jurnalis senior Harian Pos Bali, Agustinus Apollonaris Klasa Daton. Apollo memandangi buku tersebut. Lalu ia berucap. Pendek. Tapi menancap dalam.
"Puncak karya seorang wartawan itu adalah menulis buku," katanya.
Kata-kata Apollo itu memantik adrenalin saya. Kini, saya sedang mempersiapkan buku kedua dan ketiga. Harus terbit menjelang akhir tahun ini.
Urusan cetak-mencetak, saya serahkan kembali kepada Angga Wijaya—wartawan yang juga penulis produktif 20 buku. Dari mereka saya belajar tentang napas panjang.
Wartawan memang harus punya daya tahan. Sebab, mari kita jujur. Berita online itu berumur jauh lebih pendek. Jauh lebih tragis dari koran kertas.
Koran kertas mati dalam 24 jam. Menjadi pembungkus cabai. Berita online? Mati dalam hitungan jam. Bahkan menit.
Begitu tenggelam dari beranda depan, berita online Anda langsung lenyap. Masuk ke kuburan digital bernama arsip tautan. Tidak ada lagi yang membaca. Terlupakan.
Banyak wartawan hari ini terjebak di sana. Nyaman di zona rutinitas digital. Merasa hebat karena sudah menulis ribuan berita pendek harian. Merasa sudah sah jadi jurnalis papan atas.
Padahal belum purna. Tanpa kedalaman, kita hanya akan menjadi tukang ketik kutipan. Hanya menjadi buruh algoritma.
Wartawan itu pencatat sejarah. Tapi kalau cuma menulis berita pendek yang menguber klik, sejarahnya sepotong-sepotong. Seperti puzzle yang berserakan di lantai. Publik tidak mendapat gambar yang utuh. Mereka bingung.
Di situlah pentingnya puncak karya.
Tokoh pers legendaris Rosihan Anwar pernah berpetuah tajam: "Menulis buku adalah mahkota seorang wartawan." Bagi Rosihan, menulis berita itu seperti memahat di atas air—begitu diukir, langsung hilang diterpa arus. Cepat lenyap. Berbeda dengan menulis buku. Menulis buku itu seperti memahat di atas batu. Abadi. Teguh.
Pendiri Harian Kompas, Jakob Oetama, juga seirama. Jakob menegaskan bahwa pencapaian tertinggi seorang jurnalis adalah menulis buku.
Dua begawan pers itu tidak sedang membual. Menulis buku itu memang kelasnya lain. Kasta tertinggi.
Di dalam buku, wartawan tidak lagi dibatasi kolom kecil yang sempit. Tidak lagi diteror oleh target traffic menit demi menit.
Di dalam buku, ada ruang lapang. Untuk kontemplasi. Untuk analisis mendalam. Untuk menyatukan serpihan fakta menjadi kebenaran yang utuh. Ratusan tahun lagi, saat tubuh penulisnya sudah menyatu dengan tanah, buku itu masih bicara. Masih memengaruhi peradaban manusia.
Lihat para jurnalis hebat dunia. Mengapa nama mereka tetap wangi? Karena mereka meninggalkan buku. Catatan investigasi mereka dibukukan. Pemikiran mereka dijilid rapi.
Itulah warisan yang sesungguhnya. Itulah legacy.
Buku menunjukkan kelas intelektual seorang wartawan. Di sana akan terlihat dengan telanjang. Apakah dia hanya sekadar tukang ketik rilis humas? Ataukah dia seorang pemikir yang punya kedalaman rasa?
Buku menuntut napas panjang. Stamina mental yang kuat. Riset yang serius.
Air akan terus mengalir. Berita online Anda akan terus hanyut dibasuh arus algoritma.
Mari beralih ke batu. Mari mulai memahat sejarah yang tidak akan bisa dihapus oleh tombol refresh.
Buatlah satu buku. Sederhana pun jadilah.
Biarkan tubuh kita kelak menyatu dengan tanah, namun pikiran kita tetap abadi di atas rak.
Menulislah. Jangan biarkan mahkota Anda berdebu dalam antrean digital. (*)
Menot Sukadana