Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Diplomasi Rumput

Oleh Nyoman Sukadana • 28 Juni 2026 • 03:47:00 WITA

Diplomasi Rumput

DUA puluh dua pasang kaki. Satu bola. Sebidang rumput.

Bagi Barat, ini industri. Hiburan akhir pekan. Bisnis miliaran dolar. Bagi banyak bangsa bekas jajahan, ini perkara lain. Ini harga diri. Ini proklamasi tanpa mikrofon.

Tengok Amerika Latin.

Brasil dan Argentina pernah menjadi negeri miskin yang bergulat dengan kudeta, inflasi, dan pergantian rezim. Namun sebut nama mereka di Paris, Tokyo, atau Kairo. Orang mungkin lupa nama presidennya. Orang mungkin lupa angka inflasinya.

Yang mereka ingat adalah Samba.

Yang mereka sebut adalah Pele dan Messi.

Tanpa kapal induk. Tanpa hulu ledak nuklir. Dua negara berkembang itu membangun pengaruh dunia lewat lapangan hijau. Inilah soft power dalam bentuk paling sederhana sekaligus paling efektif. Diplomasi yang tidak lahir dari meja perundingan, melainkan dari rumput yang dipijak sebelas orang.

Mundur ke tahun 1986 di Stadion Azteca, Meksiko. Argentina berhadapan dengan Inggris di perempat final Piala Dunia. Empat tahun sebelumnya, Perang Malvinas meninggalkan luka nasional yang dalam bagi Argentina.

Lalu datang Diego Maradona.

Menit ke-51, bola melambung ke udara. Maradona melompat. Tangan kirinya menyentuh bola. Gol. Dunia mengenalnya sebagai The Hand of God. Inggris marah. Argentina berpesta.

Empat menit kemudian, Maradona kembali bergerak. Ia melewati lima pemain Inggris sebelum menaklukkan Peter Shilton. Gol Abad Ini lahir. Argentina menang.

Kemenangan itu tentu tidak mengubah hasil perang. Kepulauan Malvinas tetap berada di bawah Inggris. Namun bagi banyak rakyat Argentina, kemenangan itu menjadi pemulihan simbolik atas martabat yang sempat terluka.

Sepak bola sering bekerja dengan cara seperti itu. Ia tidak mengubah peta politik dunia. Ia tidak menandatangani perjanjian damai. Tetapi ia mampu mengubah cara dunia memandang sebuah bangsa. Lebih penting lagi, ia mampu mengubah cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.

Indonesia memahami bahasa itu sejak lama. Jauh sebelum republik ini berdiri.

Catat baik-baik. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia berdiri pada tahun 1930, sedangkan Indonesia baru merdeka pada tahun 1945. Ada jarak lima belas tahun di antaranya. Dalam arti tertentu, sepak bola Indonesia lebih tua daripada republik ini.

Ir. Soeratin tidak mendirikan PSSI untuk mengejar hak siar atau keuntungan komersial. Ia sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar.

Pasca-Sumpah Pemuda 1928, identitas kebangsaan Indonesia masih rapuh. Organisasi pemuda masih terbelah dalam sekat daerah dan etnis. Sepak bola menawarkan ruang yang berbeda. Mengoper bola tidak membutuhkan kasta. Mengejar bola tidak membutuhkan garis keturunan. Di atas rumput, sekat-sekat itu melebur.

Sebelum paspor Garuda dicetak, sepak bola telah lebih dulu melatih kita menjadi bangsa yang sama.

Puncaknya datang pada Juni 1938 di Reims, Prancis. Piala Dunia ketiga. Indonesia hadir dengan nama Hindia Belanda. Banyak kalangan Eropa memandang tim dari koloni Asia itu sekadar peserta pelengkap. Sebuah tim eksotis dari Timur Jauh yang diperkirakan akan segera pulang.

Lalu muncullah sang kapten.

Pribumi tulen. Kulit sawo matang. Tatapannya lurus ke depan. Ia mengenakan kacamata bulat yang diikat tali ke belakang kepala.

Namanya dr Achmad Nawir.

Ia bukan hanya seorang pesepak bola. Ia adalah dokter muda lulusan Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya.

Di hadapan publik Eropa, Nawir membawa pesan yang jauh lebih besar daripada pertandingan itu sendiri. Bahwa bangsa terjajah ini memiliki pendidikan, mengenal disiplin, dan menjaga kehormatan. Kacamata bulatnya bukan sekadar alat bantu penglihatan. Ia menjadi simbol seorang pribumi modern yang berdiri sejajar dengan dunia yang selama ini memandang rendah bangsanya.

Hari itu, Hindia Belanda kalah enam gol tanpa balas dari Hongaria. Perjalanan selesai hanya dalam satu pertandingan.

Tetapi sejarah tidak hanya mencatat pemenang.

FIFA mencatat nama kita sebagai wakil pertama Asia di Piala Dunia.

Abadi.

Sesungguhnya, itulah salah satu diplomasi pertama Indonesia kepada dunia. Bukan melalui menteri luar negeri. Bukan melalui duta besar. Melainkan melalui seorang dokter muda berkacamata dari tanah jajahan yang berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar di Eropa.

Kini, delapan puluh delapan tahun setelah Reims, gairah yang sama masih hidup. Piala Dunia 2026 kembali membakar layar kaca. Rakyat berkumpul. Lintas suku. Lintas agama. Lintas pilihan politik. Semua menahan napas pada detik yang sama. Semua bersorak pada momen yang sama.

Di negeri kepulauan sebesar Indonesia, hanya sedikit hal yang mampu menyatukan emosi kolektif secepat sepak bola.

Karena itu, diplomasi rumput bukan barang impor. Kita tidak sedang membangun sesuatu dari nol. Kita hanya sedang membangunkan ingatan lama yang tertidur.

Kita memiliki utang sejarah kepada dr Achmad Nawir. Kita memiliki janji kepada para pendiri PSSI tahun 1930.

Sebab bagi bangsa-bangsa bekas jajahan, sepak bola tidak pernah sekadar olahraga.

Ia adalah panggung harga diri.

Dan mungkin memang begitulah sebuah bangsa pertama kali dikenali dunia.

Bukan lewat paspor.

Bukan lewat pidato para menteri.

Melainkan lewat sebelas orang yang mengenakan warna yang sama.

Sebab kadang sebuah negara lahir di atas peta.

Tetapi sebuah bangsa lahir di atas rumput hijau. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.