Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Pahala Krisis

Oleh Nyoman Sukadana • 30 Juni 2026 • 17:05:00 WITA

 Pahala Krisis
Menot Sukadana (AI/Vector)

KRISIS itu modal. Mahal. Sakit. Tapi perlu.

Manusia benci krisis. Bangsa takut krisis. Padahal, krisis adalah rahim. Tempat sejarah dikandung. Tempat pahlawan dilahirkan. Tanpa krisis, kita hanya segerombolan manusia manja. Yang mengantre kenyamanan.

Lihatlah sejarah. Polanya selalu sama. Berulang sejak ribuan tahun lalu.

Di Yunani kuno, Athena dan Sparta tidak akan melahirkan pemimpin militer terbesar tanpa ancaman kehancuran. Invasi Persia adalah ujian apinya. Krisis eksistensial memaksa keberanian keluar dari batas normal. Tanpa perang, nama-nama besar itu hanya jadi catatan kaki warga biasa. Hidup nyaman, lalu dilupakan.

Tiongkok kuno punya idiom bagus. Luan shi chu ying xiong. Masa kekacauan melahirkan pahlawan. Cao Cao lahir dari sana. Zhuge Liang keluar dari pertapaan karena sana. Dinasti Han runtuh. Berdarah-darah. Tapi dari darah itu, sejarah mencatat para jenius. Emas murni muncul setelah dibakar api. Bukan ditiup angin sepoi-sepoi.

Nusantara kita? Jauh lebih dahsyat.

Sebelum 1945, kita tidak punya nama. Hanya kumpulan suku yang terfragmentasi. Terpisah laut. Bayangkan. Orang Jawa yang feodal. Orang Sumatra yang egaliter. Ambon, Bugis. Bahasanya beda. Karakternya beda. Ego sukunya setinggi langit. Mustahil bersatu.

Namun, krisis penjajahan menjepit mereka di sudut yang sama: sama-sama diinjak. Krisis memaksa ego suku runtuh. Berganti ego nasional. Penjajahan itu terkutuk, tapi dialah bidan yang memaksa Indonesia lahir.

Dari rahim penderitaan itu, lahirlah Soekarno, Hatta, Sjahrir, hingga Tan Malaka. Anak-anak muda yang jengah melihat bangsanya membungkuk di depan meneer Belanda. Krisis ruang gerak dan ancaman pembuangan ke Digul justru mempercepat pendewasaan. Di atas meja penuh tekanan, di bawah bayang-bayang moncong senjata Jepang, mereka merumuskan satu hal: Pancasila dan Proklamasi. Fondasi bangsa diletakkan di tengah badai.

Bayi bernama Indonesia lahir. Rahim Ibu Pertiwi robek. Darah menumpah ke tanah lewat revolusi fisik. Jenderal Soedirman melanjutkan estafet itu. Bergerilya di hutan dengan satu paru-paru. Membuktikan bahwa krisis hanya memberi dua pilihan: jadi pahlawan atau pecundang.

Lalu kita melompat. Tahun 1965 yang kelam menguji ideologi. Tahun 1998 ekonomi hancur, memunculkan martir sipil seperti Elang Mulia dan mahasiswa Trisakti. Darah mereka menetes di aspal demi membuka keran demokrasi yang kita nikmati hari ini. Dihirup gratis oleh orang-orang yang sekarang gemar mencaci.

Mengapa disebut pahala? Karena pahala sejarah tidak selalu berbungkus keindahan. Kadang, ia dibungkus air mata dan kepedihan. Pahalanya adalah kita tidak menjadi bangsa kerdil. Kita membayar mahal di depan, untuk memetik buah kedewasaan di belakang.

Hari ini, aroma krisis itu kembali tercium.

Banyak intelektual mulai cemas. Meramal kita sedang berjalan menuju bibir jurang yang sama dengan 1998. Indikatornya telanjang. Dolar meroket tajam— sebuah guncangan yang mirip awal rontoknya rupiah di akhir Orde Baru.

Gejalanya menjalar. Badai PHK di sektor formal belum mereda. Kelas menengah berbondong-bondong turun kelas. Daya beli rontok. Berganti kecemasan massal di ruang publik. Kita takut sejarah kelam itu berulang.

Tapi, apakah Indonesia akan hancur?

Di sinilah kita perlu mengingat kembali apa yang sering disuarakan budayawan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Sebuah paradoks unik: Indonesia ini negara yang lemah, tetapi memiliki rakyat yang kelewat tangguh.

Rakyat Indonesia adalah manusia paling tahan krisis di dunia. Mengapa? Karena mereka sudah terbiasa hidup tanpa kepastian. Dan celakanya, sering tanpa perlindungan negara.

Saat badai ekonomi menggulung dan dolar melonjak, gelombang usaha mikro, warung-warung kecil, dan solidaritas akar rumput justru bergerak mandiri. Ketika sistem di atas goyah, orang-orang di bawah tidak sibuk bikin seminar. Mereka bertarung dengan caranya sendiri. Ketangguhan komunal inilah yang membuat Indonesia mustahil runtuh. Berapa kali pun dikhianati dan dilanda krisis.

Inilah "pahala" laten yang tertanam di genetika kita. Krisis demi krisis telah membentuk imunitas sosiologis yang luar biasa pada rakyat jelata.

Kita tidak boleh berdoa meminta krisis. Itu bodoh. Tapi kita tidak boleh cengeng saat krisis datang menghampiri. Sejarah kita bukan catatan tentang bangsa yang mati ditekan, melainkan bangsa besi yang makin ditempa, makin tajam.

Krisis masa lalu sudah selesai. Pahalanya berupa kemerdekaan dan kebebasan sudah kita kantongi. Sekarang, saat bayang-bayang krisis baru berupa lonjakan dolar dan rontoknya ekonomi mulai mendekat, pertanyaannya kembali ke cermin:

Apakah kita akan tiarap dan mengutuk keadaan? Atau jangan-jangan, krisis baru inilah yang sedang mengantre untuk melahirkan pahlawan-pahlawan modern selanjutnya?

Krisis itu perih.

Saat badai datang, elite panik bersiasat. Rakyat kecil dibiarkan bertarung sendiri. Tapi untungnya, mereka sudah kebal. Bagi akar rumput, krisis bukan lagi ancaman. Ia sudah jadi sarapan pagi. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.