Menabung Nama
SAYA iseng. Dua hari lalu.
Saya ketik sebuah nama di Google. Nama seorang wartawan senior. Hebat luar biasa. Kariernya panjang. Lebih dari tiga puluh tahun di media raksasa nasional.
Peristiwa besar di negeri ini? Semua pernah dia liput. Wartawan muda hormat. Pejabat segan. Sesama jurnalis kagum.
Tapi saya terdiam. Melihat hasil pencariannya.
Yang muncul bukan namanya. Yang mentereng justru nama medianya. Nama perusahaannya. Nama institusinya.
Nama orang itu? Ada. Tapi di belakang. Kecil sekali. Hampir tidak kelihatan.
Saya merenung. Lama.
Jangan-jangan, inilah takdir jurnalis. Nasib sebagian besar dari kita. Kita habiskan umur untuk apa? Membangun rumah besar milik orang lain. Menyimpan seluruh investasi hidup di celengan milik lembaga perusahaan.
Tiap hari kita bawa bata. Tambah satu bata. Besok tambah satu lagi. Tahun depan? Sudah jadi puluhan ribu tumpukan bata.
Lama-lama rumah itu megah. Lampunya gemerlap. Halamannya riuh. Orang datang berbondong-bondong. Mereka tahu rumah itu. Hafal alamatnya. Hafal logonya. Tahu persis warna dindingnya.
Tapi mereka tidak kenal tukangnya. Tukang yang berkeringat bertahun-tahun di sana.
Siapa yang salah? Manajemennya? Pemilik modalnya?
Tidak ada. Tidak ada yang keliru.
Jurnalisme memang lahir begitu sejak dulu. Berita itu tentang peristiwa. Bukan tentang yang menulis berita. Nama wartawan? Cukup kecil saja. Di bawah judul. Atau tidak ada sama sekali. Yang harus raksasa tetap nama medianya.
Institusi besar memang tempat terbaik untuk menempa diri. Di sanalah kita dipinjami panggung. Untuk mengakses sejarah. Tanpa media raksasa itu, mana bisa jurnalis mengetuk pintu kekuasaan. Mana bisa melihat peristiwa penting dari dekat.
Tapi ingat. Panggung itu pinjaman. Ada batas waktunya.
Saya sering melihatnya. Pada banyak jurnalis senior. Waktu masih aktif? Telepon genggamnya tidak pernah berhenti berdering. Undangan mengalir. Narasumber antre. Pejabat mencari. Grup WhatsApp? Ramai luar biasa. Nonstop.
Lalu pensiun tiba.
Walhasil, semua berubah. Pelan tapi pasti. Telepon mulai sepi. Undangan drastis berkurang. Orang-orang yang dulu mendekat? Perlahan hilang.
Apakah mereka jahat? Tidak. Bukan begitu.
Sederhana saja: selama ini mereka butuh medianya. Bukan butuh orangnya.
Pahit? Memang. Tapi kenyataan tidak pernah punya utang untuk terasa manis.
Sekarang saya paham. Mengapa banyak jurnalis senior akhirnya bikin buku. Mengapa mereka menulis kolom tetap. Mengapa buat website pribadi.
Dulu saya kira itu gaya-gayaan. Biar keren. Biar dianggap modern.
Saya salah.
Mereka sebenarnya sedang menebus utang masa lalu. Mulai sadar untuk membangun tabungan yang dulu terlupa: nama sendiri.
Bukan untuk melawan medianya. Bukan karena merasa lebih besar dari kantornya. Bukan.
Mereka hanya sedang menyiapkan payung. Agar punya identitas yang tetap tegak. Saat baju seragam dinas itu harus dilepas.
Dokter punya papan nama praktik. Pengacara punya plang kantor hukum. Arsitek? Bisa menunjuk gedung hasil desainnya. Mereka berinvestasi pada nama mereka sendiri.
Penulis dan jurnalis punya apa?
Hanya satu. Namanya sendiri.
Nama di bawah kolom opini. Nama di sampul buku. Atau nama kecil di pojok artikel. Yang sering kali dilewati pembaca. Itulah celengan satu-satunya.
Maka jangan heran. Penulis besar dunia justru dikenal karena namanya. Bukan karena institusinya. Orang jatuh cinta pada tulisannya dulu. Baru tahu di mana dia bekerja.
Nama mereka melompat lebih jauh. Melampaui pagar kantornya. Di era digital sekarang, pintu itu terbuka makin lebar. Lewat platform-platform mandiri.
Tentu, ini bukan soal popularitas. Popularitas itu seperti cuaca di Bali saat musim hujan. Pagi panas menyengat. Siang mendung pekat. Sore badai. Malamnya? Terang benderang lagi. Datang dan pergi sesuka hati.
Yang kekal itu reputasi. Jejak digital. Jejak pemikiran. Integritas karya.
Itulah alasan mereka membukukan tulisan. Mengisi kolom rutin selama bertahun-tahun. Merawat website pribadi.
Meski pembacanya tidak meledak seperti video TikTok. Mereka tahu mereka sedang investasi jangka panjang.
Bukan uang. Bukan pangkat. Mereka sedang menabung nama.
Sebab jabatan ada pensiunnya. Kekuasaan ada tanggal kedaluwarsanya. Media besar sekalipun bisa kolaps. Bisa ganti pemilik. Bisa ganti arah angin.
Tapi nama baik? Umurnya jauh lebih panjang dari semua itu.
Ia bisa berjalan sendiri. Mengetuk pintu yang belum pernah kita lihat. Mengenalkan kita pada orang yang belum pernah kita temui.
Bahkan tetap hidup. Saat pemiliknya sudah lama tiada.
Pada akhirnya, itulah cita-cita rahasia setiap penulis. Bukan sekadar menumpuk karya di rumah orang. Tapi mengukir, merawat, dan menabung namanya sendiri. (*)
Menot Sukadana