Jadi Sersan
BEBERAPA hari yang lalu, seorang teman baik mendatangi saya sambil membawa secangkir kopi hitam. Wajahnya ditekuk serius, mirip petugas pajak yang sedang mengaudit laporan keuangan perusahaan. Tanpa basa-basi, dia langsung menunjuk hidung saya dan menguliti kolom esai yang nyaris saban hari saya tulis di portal media ini.
"Menot," katanya dengan nada setengah menggurui, "gaya tulisanmu itu terlalu serius. Napas kalimatmu pendek-pendek dan ketukan ritmenya cepat sekali seperti orang dikejar utang. Terkesan buru-buru pengin cepat kelar."
Dia melanjutkan kritikannya tanpa ampun. Menurutnya, di era sekarang, otak manusia sudah digiles dan dijejali ribuan informasi sampah di media sosial dari subuh sampai tengah malam. "Orang itu bakal cepat bosan membaca tulisan yang tegang begitu. Kita ini butuh yang serius, tapi renyah, Not! Singkatnya: jadi Sersan saja, alias Serius Tapi Santai!"
Mendengar khotbah kilat itu, saya cuma bisa tertegun bak bule Canggu yang mendadak ditilang polantas di siang bolong. Waduh, tajam betul lidah kawan saya yang satu ini.
Setelah dia pulang, saya mulai duduk sendirian di depan komputer sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Setelah merenungkannya, omongan si kawan tadi ada benarnya juga, meskipun rasanya agak perih di ulu hati. Memang, kalau diperhatikan, kelakuan pembaca layar ponsel zaman sekarang sudah berubah drastis dibanding era bapak-bapak kita dulu. Dulu orang rela duduk berjam-jam memelototi koran kertas setebal bantal. Sementara manusia modern hari ini adalah makhluk dengan rentang perhatian yang pendeknya minta ampun.
Di jempol mereka, ada kekuatan magis yang bisa menyingkirkan sebuah tulisan hanya dalam hitungan detik lewat gerakan scrolling. Begitu mereka membuka sebuah artikel dan mencium aroma khotbah yang kaku, dahi mereka langsung berkerut, mata mereka lelah, dan dalam sekejap mata tulisan kita didepak ke kuburan digital. Tulisan serius kita bakal kalah saing dengan video joget-joget nona-nona di TikTok yang jauh lebih menyegarkan mata.
Kenyataan ini memang pahit bagi kaum kuli tinta yang telanjur mencintai idealisme kaku. Tapi ya mau digimanakan lagi, Bro? Kenyataan hidup tak jarang pahit seperti kopi tanpa gula, dan tuntutan untuk menjadi "Sersan" ini pada hakikatnya adalah obat penenang yang sangat manjur untuk menjinakkan kebosanan massa.
Namun, menjadi santai itu bukan berarti kita menurunkan kasta intelektualitas atau berubah profesi jadi pelawak murahan di panggung sirkus digital. Menjadi "Sersan" itu justru sebuah ilmu tingkat tinggi, yaitu keterampilan membalut pil pahit kehidupan menggunakan lapisan gula yang manis supaya bisa ditelan dengan renyah oleh khalayak ramai.
Kita tetap membongkar borok birokrasi yang bolong. Kita tetap berteriak lantang soal sistem subak dan sawah-sawah Bali yang habis digunting buldoser atas nama investasi properti. Tapi, cara menyampaikannya tidak usah pakai urat leher yang tegang sampai mau putus. Bungkus narasinya dibikin santai saja, mengalir rileks, dan penuh satire jenaka yang membumi, mirip obrolan di warung kopi emperan jalan atau di bale banjar setelah lelah bekerja seharian.
Sebab kalau dipikir pakai akal sehat, para pejabat atau pihak-pihak nakal yang kita kritik itu sebenarnya paling tidak mempan kalau didebat pakai teori berat atau data statistik yang rumit. Data bisa mereka bantah pakai data tandingan buatan humas mereka. Tapi, kalau kelakuan konyol mereka kita preteli lewat lelucon satire yang cerdas dan bikin publik tertawa terpingkal-pingkal? Wah, itu namanya tamparan telak yang tidak ada tombol undo-nya, Bro! Sekali mereka dijadikan bahan lelucon oleh masyarakat luas, harga diri mereka yang setinggi pura langsung amblas ke lantai dasar. Mereka bakal terlihat seperti ogoh-ogoh megah, tapi kopong di dalam.
Jadi, setelah menimbang-nimbang dengan saksama di bawah embusan angin malam ruang kerja, saya pikir tidak ada ruginya mencoba memakai seragam "Sersan" ini untuk tulisan-tulisan ke depan. Lagipula, menulis dengan gaya yang agak nakal dan lepas itu rasanya menyenangkan sekali. Jemari jadi punya kebebasan baru, tidak lagi dikurung oleh pakem kalimat yang serba kaku mirip baris-berbaris tentara di lapangan upacara. Kita bisa sesekali memanjangkan napas kalimat, berseloroh santai, lalu tiba-tiba melayangkan pukulan kritik tepat di rahang masalah tanpa bikin pembaca merasa sedang diceramahi oleh guru BP.
Maka, untuk kawan baik saya yang sudah menyodorkan kopi dan kritikan tajamnya tempo hari, saya ucapkan terima kasih banyak. Saya sudah menerima titah Anda. Mulai hari ini, mari kita lihat apakah eksperimen "Sersan" ini bisa membuat nalar sehat kita tetap tegak berdiri tanpa perlu membuat dahi kita keriput karena ketegangan yang sia-sia.
Nah, sekarang setelah membaca tulisan santai ini sampai habis, Anda sendiri bagaimana? Masih mau meminta tulisan yang tegang-tegang seperti urat leher bupati saat kampanye, atau mau lanjut ngopi santai bersama saya sambil menertawakan keanehan dunia ini? Pilihan ada di jempol Anda.
Salam Sersan, Bro! (*)
Menot Sukadana