Ide Loakan
MONITOR menyala.
Kursor berkedip. Genit sekali.
Dia menagih tulisan. Lagi.
Layar itu saya tatap. Lama. Saya melamun. Agak getir. Jangan-jangan, yang saya ketik belakangan ini cuma barang loakan. Ide loakan.
Dulu beda. Zaman Bung Karno atau awal Orde Baru. Ketakutan terbesar penulis adalah writer’s block. Kepala mampet total. Ide mogok. Seperti bus Manis kehabisan bensin di tanjakan Selbar.
Sekarang? Kebalikannya.
Tulisan meluncur lancar jaya. Mirip air Tukad Badung pas banjir bandang. Lancar sekali. Tapi mutunya rontok. Gembos. Demi mengejar target setoran, apa saja dilempar ke mesin cetak. Tanpa diendapkan.
Akibatnya fatal. Kita memproduksi barang loakan massal.
Mari buka-bukaan data. Mumpung kalkulator belum dilarang pemerintah. Empat belas bulan terakhir. Rubrik JEDA jebol dua ratus esai. Ditambah editorial. Ditambah opini yang dipaksakan ilmiah. Plus analisis di rubrik Horison. Lagaknya sudah mirip pengamat politik nasional.
Totalnya? Melampaui tiga ratus tulisan. Gila. Ini namanya kerja rodi sukarela.
Satu tulisan rata-rata delapan ratus kata. Totalnya hampir seperempat juta kata. Diperas dari satu batok kepala yang sama. Dalam waktu singkat.
Kalau dicetak, tebalnya luar biasa. Bisa buat ganjal pintu perpustakaan yang reyot.
Tapi mari jujur pada diri sendiri. Sesuatu yang kini makin langka. Apakah semuanya bermutu? Ataukah sebagian besar cuma godoh kemarin sore? Digoreng ulang. Dipoles sana-sini biar kelihatan baru. Dan hangat.
Kita sering lupa. Otak manusia bukan mesin molen proyek jalan shortcut. Bukan pula kasir swalayan di Denpasar. Dipencet, langsung keluar struk.
Otak itu sebidang sawah di Mengwi.
Dipaksa panen setahun empat kali demi target? Tanah ambrol. Kesuburan rontok. Padi memang tetap tumbuh subur. Kelihatan hijau royo-royo. Tapi pas dipanen bulirnya kopong.
Rasanya hambar. Kayak sayur jukut kalahang kurang uyah. Sama seperti tulisan yang dipaksakan lahir demi mengejar deadline: kering, garing, dan murahan.
Bahaya laten penulis bukan kehabisan ide. Tapi saat menulis terlalu lancar secara mekanis. Cetak-cetok-cetak-cetok. Mirip runitas mesin ketik di kantor Samsat era dulu.
Tulisan lahir tepat waktu. Halaman koran penuh. Situs web ramai. Tapi kehilangan daya kejut. Tidak ada ledakan. Tidak ada sengatan.
Penulisnya merasa hebat. Merasa sedang memeluk gagasan baru yang brilian. Padahal? Kasihan betul. Dia cuma sedang menjajakan barang loakan di pasar Kreneng.
Mendaur ulang kegelisahan lama. Hanya ganti baju. Judul baru yang mentereng. Contoh kasus baru. Metafora keren. Tapi ujung-ujungnya? Kesimpulannya sama dengan tulisan bulan lalu.
Sahabat saya menyebutnya korupsi ide!
Pembaca itu pintar. Luar biasa pintar. Mereka mencium bau "lawar kemarin sore" ini lebih cepat dari penulisnya. Mereka tidak protes di kolom komentar. Mereka sopan.
Tapi batinnya berbisik jengkel: “Kok rasanya dejavu ya?”
Persis seperti kita keluar modal buat nonton pertunjukan seni mahal. Tapi alurnya menjiplak habis-habisan drama jadul. Penonton pulang dongkol. Berasa dikibuli oleh barang loakan di pasar Kodok.
Di situlah virus bosan bekerja. Senyap.
Ironisnya, bosan tidak menyerang pembaca duluan. Dia mencekik si penulis lebih dulu. Menulis bukan lagi proses berpikir yang seksi dan mendebarkan, melainkan berubah jadi kewajiban produksi massal. Kalender mengatur ide. Deadline mendikte perenungan.
Pikiran dipaksa lembur malam. Mana bisa? Pikiran punya musim sendiri.
Ada musim menanam. Ada musim memanen. Ada juga musim membiarkan tanah bera—istirahat total agar subur lagi. Tanpa istirahat, jangan harap bisa menghasilkan barang orisinal.
Penulis kawakan paham ini. Kepalanya waras.
Ada yang mendadak hobi jalan kaki tanpa arah. Sepanjang trotoar jalan protokol. Seperti orang kurang waras. Ada yang berkebun. Memancing ikan yang tak kunjung memakan umpan. Atau sekadar bengong di pinggir jalan melihat lalu lintas bypass yang semrawut.
Mereka tidak malas. Mereka sedang belanja cerita. Mengisi ulang gudang ide yang tiris, supaya tidak terus-menerus menjual stok loakan.
Tulisan bermutu tidak lahir dari meja kerja yang rapi jali dan ruangan harum ber-AC. Dia lahir dari kehidupan nyata yang acak-acakan. Dari obrolan warung kopi yang ngawur antara pengemudi ojol dan pegawai kelurahan. Dari kejengkelan kecil yang mengganggu tidur.
Tulisan cuma hasil panen. Kehidupan nyata adalah musim tanamnya.
Tapi, mari realistis. Jangan hidup di awang-awang. Bagi penulis industri, berhenti total demi menunggu "musim tanam" adalah kemewahan yang mustahil. Ajaib.
Kontrak kerja tidak bisa diajak nangis curhat. Deadline tidak punya hati nurani, apalagi peri kemanusiaan.
Solusinya? Bukan berhenti menulis, tapi ubah cara mengelola isi kepala agar terlepas dari lingkaran setan bisnis ide loakan. Belajarlah mengerem rutinitas yang gila itu.
Jika biasa menulis opini serius yang bikin kening berkerut, cobalah menulis jurnal personal yang berantakan dan emosional. Jika biasa riset digital sampai mata juling, keluarlah rumah.
Ngobrol dengan tukang parkir mini market atau pedagang tipat cantok tanpa perlu membawa gawai. Jelajahi sudut pandang baru di luar zona nyaman Anda yang mapan itu. Tulis saja hal bodoh yang tidak perlu dipublikasikan ke dunia luar. Itu resep paling mujarab untuk membuang karat di kepala.
Intinya, penulis harus tahu diri kapan waktunya menutup buku setoran.
Sekali-sekali, bacalah buku murni karena ingin membaca, tanpa niat bulus menjadikannya bahan tulisan. Berjalanlah sore hari tanpa sibuk membuka aplikasi catatan di ponsel. Nikmati hari libur dengan khusyuk tanpa rasa berdosa setengah mati hanya karena tidak menghasilkan satu artikel pun.
Pena juga punya urat. Uratnya bisa tegang kalau dipaksa kerja rodi.
Jangan sampai, demi predikat produktif, fungsi luhur kita bergeser. Dari seorang pemikir sejati yang jernih, merosot drastis menjadi sekadar mesin fotokopi bagi pikiran sendiri. Menjual ide loakan yang itu-itu saja sampai bosan sendiri.
Ngeri, kan? Tapi ya bagaimana lagi.
Itulah faktanya! (*)
Menot Sukadana