Beda Rupa
BANYAK orang tertipu. Oleh apa? Oleh imajinasi mereka sendiri.
Apalagi sekarang. Zaman media sosial. Zaman layar ponsel.
Sekali usap, langsung terhipnotis. Isinya video estetik dan foto-foto syahdu. Isinya satu: slow living di Bali.
Bayangan mereka seragam. Bali itu pulau tropis yang eksotis. Hamparan pantai tanpa batas. Sawah hijau membentang. Pohon kelapa melambai-lambai. Penduduknya ramah dan khusyuk beritual setiap hari. Damai sekali.
Itu imajinasi lama. Warisan pascarevolusi industri. Dibangun oleh para pelancong Barat. Para petualang yang penasaran dengan misteri Timur. Teknologi kapal uap mendukungnya. Fotografi memperluasnya.
Lalu datanglah para pelukis seperti Walter Spies dan Rudolf Bonnet. Disusul antropolog sekaliber Margaret Mead. Mereka memotret ritual. Mereka melukis kedamaian. Mereka membaptis Bali sebagai The Last Paradise—surga terakhir di bumi.
Pemikir besar Edward Said menyebut fenomena ini sebagai bagian dari orientalisme—sebuah kecenderungan akut kaum pendatang yang gemar meromantisasi dunia Timur sebagai tempat pelarian yang sunyi dan eksotis, tanpa pernah mau peduli pada dinamika hidup masyarakat lokal di dalamnya. Sialnya, penyakit masa lalu itu kini menular ke anak muda seberang pulau, terutama kaum urban. Manusia metropolitan yang bosan setengah mati dengan rutinitas kota. Mereka stres. Mereka mencari makna hidup.
Lalu ketemulah mantra itu: slow living. Dan Bali, dianggap sebagai altar sucinya.
Maka berbondong-bondonglah kaum urban ini menuju tanah harapan. Bayangan di kepala mereka sudah mirip adegan film Hollywood. Tepatnya, mereka semua mendadak ingin menjadi Elizabeth Gilbert dalam film Eat Pray Love.
Ingat adegan Julia Roberts bersepeda membelah angin di Ubud? Itulah magnetnya. Lalu, di dalam kepala mereka, adegan itu berkelindan dengan fantasi modern: duduk santai di selasar vila, menatap senja yang perlahan karam di balik sawah, tangan kanan memegang cangkir kopi, tangan kiri memegang buku sastra. Aduh, sebuah quality time yang aduhai bagi manusia modern yang batinnya gersang. Mereka rindu berjalan kaki di trotoar yang dipenuhi kafe estetik, berpapasan dengan manusia multibangsa yang cuma modal celana pendek dan sandal jepit. Hidup rasanya enteng sekali.
Mereka membayangkan Canggu adalah surga sepi tempat merenungi nasib. Padahal begitu sampai, Canggu sudah berubah menjadi rimba beton baru, tempat suara deru mesin buldoser bersahut-sahutan dengan musik disko dari beach club sejak jam sepuluh pagi. Sifat dasar industri sinema dan media sosial memang kompak: cuma suka pamer yang indah-indah, menyembunyikan macetnya jalanan yang bikin urat leher tegang. Mereka juga sukses mengubah Ubud menjadi rimba komersial tempat harga-harga melambung tinggi.
Benar kata filsuf Guy Debord, kita hari ini telah terjerumus menjadi masyarakat tontonan (society of the spectacle). Dalam dunia modern seperti sekarang, segala hal yang dulunya dialami secara langsung kini telah berubah menjadi sekadar representasi digital. Akibatnya, slow living bergeser dari sebuah filosofi hidup menjadi sekadar komoditas visual yang wajib dipamerkan.
Orang tua dulu sudah mengingatkan: indah kabar dari rupa. Begitu menapakkan kaki di bandara, realitas langsung menampar pipi kiri dan kanan tanpa permisi. Jangan harap algoritma Instagram mau memotret tagihan kos yang bikin jantungan.
Tengoklah nasib Yanresa Utami. Umur 39 tahun, karyawan perusahaan bonafide di Jakarta. Kurang mentereng apa lagi? Dia sudah bulat ingin mempraktikkan mazhab slow living di Bali. Rencana sudah disusun rapi, tetapi langsung ambyar begitu melihat angka-angka di atas kertas. Biaya kos di lokasi strategis dengan fasilitas standar—cuma AC, kamar mandi di dalam, kasur, dan lemari pakaian—dibanderol di atas Rp5 juta per bulan! Di Jakarta, fasilitas begitu paling banter Rp2,5 juta sampai Rp3 juta. Bali ternyata lebih Jakarta daripada Jakarta.
Yanresa sempat nekat menjajal hidup di Bali sebulan. Ambil cuti tanpa gaji. Demi sebuah pencarian jati diri. Alih-alih dapat kos-kosan estetik seperti di TikTok, dia malah berakhir sharing rumah dengan sepasang lansia lokal di Denpasar Barat. Kamar mandi dan dapur harus berbagi. Bayarnya? Rp2,5 juta.
Selama sebulan itu, dia rajin keliling wawancara kerja. Lowongan sebenarnya bejibun. Tawaran masuk bertubi-tubi, tetapi begitu dia hitung-hitungan kalkulator, senyumnya langsung kecut. Gaji yang ditawarkan pakai standar rupiah lokal, tetapi biaya hidup yang harus dikeluarkan sudah pakai standar dolar internasional. Tempat tinggal mahalnya dua kali lipat dari ibu kota. Akhirnya, dia angkat koper kembali ke Jakarta sambil meringis.
Yanresa tidak sendiri. Ada mbak-mbak dari Surabaya, ada pemuda dari kota besar lain. Penyakitnya sama: lupa menyadari bahwa bule-bule yang mereka lihat santai-santai itu adalah ekspatriat atau pekerja remote yang dompetnya tebal berisi dolar. Begitu anak muda lokal mau ikutan gaya mereka, kerjanya tetap dibayar rupiah, tetapi pengeluarannya dipaksa mencicipi tarif internasional.
Hasrat naluriah manusia kota yang rindu ketenangan ini tentu saja dibaca dengan sangat jeli oleh para juru kampanye marketing property. Iklannya bertebaran di mana-mana. Merayu dengan kalimat manis: "Kapan lagi punya rumah murah dekat Canggu?" Sasaran empuknya jelas: para pensiunan metropolitan yang kantongnya tebal. Mereka diiming-imingi investasi masa tua yang tenang, sekaligus bonus bisa disewakan kembali untuk menambah isi rekening sambil ongkang-ongkang kaki. Bagi pensiunan Jakarta, ini jelas godaan iman yang luar biasa. Harga tanah di Bali memang masih di bawah Jakarta, tetapi Bali menawarkan satu hal yang tidak dipunyai Jakarta: gengsi gaya hidup.
Sebenarnya, saya juga setuju dengan konsep hidup santai. Saya ini juga penganut slow living. Hari ini pun saya sedang mempersiapkan masa itu. Saya sering menontonnya di YouTube. Cerita tentang orang-orang sukses di kota besar, bergaji tinggi, tetapi memilih pensiun dini. Mereka menjual seluruh hartanya di kota. Pindah ke pelosok desa di kaki gunung. Menjadi petani. Berkebun. Hidupnya tenang sekali.
Saya akui. Saya sempat tergoda. Iman saya goyah.
Saya sempat berpikir ekstrem. Menjual 3 sampai 4 are lahan saya di kampung. Uangnya untuk apa? Untuk membeli lahan di Selemadeg. Atau di Pupuan. Atau di kawasan Gesing dan Lemukih Buleleng yang dingin itu.
Saya bahkan sudah berburu di marketplace Facebook. Mencari lahan yang dijual.
Hitungan saya waktu itu sederhana. Tukar 3–4 are di kampung, bisa dapat 50 are sampai 1 hektar kebun di gunung. Saya bisa membangun rumah semi-vila di sana. Sisa uangnya untuk modal awal hidup baru.
Bayangan saya sudah melambung tinggi. Usaha media saya sudah mulai stabil. Bisa jalan sendiri. Jadi, saya bisa hidup ideal. Berkebun di siang hari. Menulis dengan tenang dan santai di malam hari.
Namun, saya berpikir ulang. Saya merenung dalam-dalam.
Pertimbangan demi pertimbangan masuk ke kepala. Akhirnya? Niat itu saya urungkan.
Saya ganti strategi. Saya pilih bertahan di kampung sendiri. Di Mengwi.
Lahan saya di kampung memang tidak terlalu luas, hanya belasan are saja. Namun, itu sudah lebih dari cukup. Di sana saya akan membangun kedai kopi. Sisa lahannya saya pakai berkebun untuk aktivitas harian, menanam sayur-sayuran dan kebutuhan dapur lainnya untuk konsumsi sendiri. Ditambah sebuah pondok kecil, khusus untuk tempat saya menulis.
Mengwi memang tidak sesejuk Gesing atau Lemukih. Namun, Mengwi punya keunggulan lain. Akses publiknya luar biasa dekat. Rumah sakit dekat. Kantor pemerintahan dekat. Pusat belanja dekat. Kantor polisi dekat. Bandara mudah dijangkau. Yang paling penting: akses internetnya kencang.
Jarak ke Denpasar hanya 15–18 kilometer. Cuma 40 menit perjalanan. Ke kantor saya di Dalung? Lebih dekat lagi. Cuma 7–8 kilometer. Kurang dari 20 menit sudah sampai.
Keputusan sudah diambil. Proyek ini saya beri nama: Podium Ecosystem (POST).
Sebuah rumah yang dibangun dari kata. Ekosistem nyata untuk jurnalisme pelan (slow journalism).
Aktivitas berkebun sayur untuk meja makan sendiri. Menulis dari pondok kreatif sendiri. Hasil kedai kopi untuk menghidupi ruang literasi digital. Sebuah siklus yang mandiri, rasional, dan berkepanjangan.
Inilah persiapan nyata saya. Untuk masa pensiun di usia 55–56 tahun nanti.
Lagipula, gaya hidup slow living di media sosial itu ibarat barang impor yang salah pasang harga. Keindahannya dikemas dengan mata uang asing, sementara kantong kita masih berdarah rupiah. Menepi ke pelosok yang terasing demi mengejar gengsi visual hanya akan menjebak kita pada jenis stres yang baru. Bagi saya, ketenangan yang sejati itu tidak perlu mahal. Cukup di Mengwi, tempat saya bisa menanam sawi tanpa harus menguras tabungan hari tua. (*)
Menot Sukadana