Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Presiden Bola

Oleh Nyoman Sukadana • 08 Juli 2026 • 19:37:00 WITA

Presiden Bola
Menot Sukadana (AI/Vector)

SEPAK bola itu sains. Bukan klenik. Gus Dur tahu itu. Sangat tahu.

Maka, jangan heran. Gus Dur adalah presiden paling gila bola dalam sejarah Indonesia. Gila dalam arti yang sebenar-benarnya. Bukan sekadar pencitraan memakai jersei di depan kamera. Bukan pula sekadar duduk manis di tribun VVIP demi sorotan kamera.

Gus Dur membedah bola lewat logika.

Bagi Gus Dur, bola adalah pantulan masyarakat. Ada taktik di sana. Ada karakter bangsa. Ada sosiologi. Juga geopolitik dunia. Ia melihat formasi 4-4-2 bukan sekadar angka di atas rumput. Itu adalah susunan strategi kebudayaan sebuah negara.

Wartawan paham betul kegilaan ini. Maka, setiap ada turnamen besar, kantor PBNU di Kramat Raya mendadak riuh. Ruang kerja yang biasanya padat oleh urusan umat, mendadak santai. Menjadi ruang diskusi bola yang penuh gelak tawa. Suasana yang kelak dibawa Gus Dur saat memimpin kabinet di istana.

"Gus, siapa yang juara Piala Dunia nanti?" tanya seorang wartawan. Setengah memancing reaksi.

Gus Dur tersenyum. Santai. Ia tidak menyebut nama tim asal tebak. Ia merinci statistik di luar kepala. Menghitung kebugaran pemain tengah. Membedah kelemahan bek sayap.

Lalu keluar satu nama: Prancis. Itu terjadi pada tahun 1998. Jauh sebelum Zinedine Zidane mengangkat trofi di Paris, Gus Dur sudah menulisnya di kolom koran nasional. Prediksinya akurat. Tepat sasaran. Menembus ekspektasi.

Orang-orang NU sempat melongo. Mereka mengira sang kiai memakai ilmu kasyaf. Indra keenam. Karomah tingkat tinggi.

Gus Dur terkekeh. "Itu analisis data, bukan ilmu gaib," katanya enteng. Ia membaca. Ia mendengar berita radio internasional. Ia mencatat.

Pernah juga wartawan bertanya soal Timnas Indonesia. Kapan bisa masuk Piala Dunia?

Gus Dur tidak mau memberi harapan palsu kepada publik. Ia menjawab ketus tapi jujur. "Masih lama. Kita tidak punya disiplin." Jleb. Kritik itu abadi sampai detik ini. Manajemen bola kita memang sering berjalan tanpa arah yang jelas.

Kegilaan Gus Dur pada bola tidak lahir dari ruang hampa. Ada modal kuat di belakangnya: literasi tingkat tinggi. Gus Dur adalah pembaca yang rakus. Ia juga penulis yang sangat produktif. Kolumnis jempolan.

Tulisannya bertebaran di mana-mana. Di Kompas. Di Tempo. Di Majalah Editor. Ribuan halaman esai lahir dari ketukan jemarinya. Termasuk koleksi 800 halaman kliping berita khusus Piala Eropa 1992. Bayangkan. Delapan ratus halaman. Hanya untuk urusan bola.

Darah menulis ini ternyata menular. Menjadi ekosistem alami di dalam rumah.

Keluarga Gus Dur adalah keluarga jurnalis. Garis keras.

Istrinya, Ibu Sinta Nuriyah, bukan ibu rumah tangga biasa. Pada era 1970-an, ia adalah wartawan profesional. Menjadi redaktur di Majalah Zaman. Ibu Sinta tahu cara memburu berita lapangan. Tahu cara menyunting kalimat agar bertenaga. Ia menulis untuk menopang dapur keluarga saat Gus Dur asyik berjuang di LSM tanpa gaji tetap.

Anak-anaknya? Setali tiga uang. Sama saja.

Alissa Wahid akrab dengan dunia pers mahasiswa sejak menempuh studi di UGM. Menulis, membaca, dan berdiskusi adalah makanan pokoknya sehari-hari.

Yenny Wahid lebih nekat lagi. Ia memilih jalur jurnalis lapangan papan atas. Menjadi koresponden untuk media raksasa Australia, The Sydney Morning Herald. Yenny meliput langsung referendum Timor Timur yang berdarah-darah itu. Masuk ke daerah konflik tanpa rasa takut. Bertaruh nyawa demi informasi. Hasilnya? Penghargaan Walkley Award berhasil disabetnya dengan gagah berani.

Sementara si bungsu, Inayah Wahid, memilih jalur media kreatif. Menulis skrip, bermain teater satire, menyerang ketidakadilan sosial lewat komedi. Persis gaya bapaknya yang suka melempar kritik lewat humor segar.

Rumah Gus Dur adalah ruang redaksi mini. Di meja makan, obrolan mereka sangat dahsyat. Suami kolumnis. Istri mantan redaktur. Anak jurnalis internasional.

Mereka bisa berdebat tentang banyak hal dalam satu waktu. Politik dunia. Gerakan sosial. Dan tentu saja: hasil pertandingan bola semalam.

Tradisi literasi ini tidak jatuh dari langit begitu saja. Gus Dur mewarisi darah ini dari ayahnya, KH Wahid Hasyim. Sang ayah adalah pelopor pers pesantren. Pendiri berbagai majalah. Tokoh utama di balik lahirnya koran harian Duta Masyarakat.

Kakeknya, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, juga setali tiga uang. Ia menggunakan pers Swara Nahdlatoel Oelama untuk membakar semangat melawan penjajah Belanda. Menulis maklumat global di media untuk membela hak kedaulatan Palestina sejak tahun 1940-an.

Jadi, jelas sudah. Gus Dur adalah produk asli dari rantai literasi yang sangat panjang. Tiga generasi jurnalis berkumpul dalam satu silsilah.

Ketika Gus Dur bicara bola, ia sedang mempraktikkan jurnalisme tingkat tinggi. Tajam. Menghibur. Berisi. Penuh daging.

Indonesia mungkin punya banyak presiden setelahnya. Ada presiden yang suka ikut main bola di lapangan terbuka. Ada presiden yang mendirikan akademi bola modern. Tapi tidak ada yang sekharismatik Gus Dur dalam urusan bola.

Ia menempatkan sepak bola di derajat yang sangat terhormat. Sebagai cabang ilmu pengetahuan.

Gus Dur telah tiada. Kolom-kolom bolanya kini menjadi warisan sejarah yang mahal. Mengingatkan kita semua bahwa bola bukan sekadar urusan menang atau kalah di papan skor. Bola adalah soal kemanusiaan.

Dan dari balik makamnya yang tenang di Tebuireng, humor bolanya masih terasa sangat segar. Seolah sedang menertawakan kita, yang sampai hari ini masih saja hobi menyewa dukun untuk memenangkan pertandingan sepak bola lokal. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.