Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Data Rasa

Oleh Nyoman Sukadana • 09 Juli 2026 • 02:39:00 WITA

 Data Rasa
Menot Sukadana (AI/Vector)

ANGKA itu dingin. Kaku. Bebas emosi.

Sastra itu hangat. Lentur. Penuh perasaan.

Dulu, keduanya bermusuhan. Bermusuhan di ruang redaksi. Jurnalis data sibuk dengan komputer. Sibuk dengan baris spreadsheet. Sibuk dengan kode-kode rumit. Mereka penganut dewa objektivitas.

Di sudut lain, jurnalis sastrawi asyik merenung. Mencari metafora. Memikirkan diksi. Mereka mencari detak jantung manusia. Mereka penganut dewa empati.

Dua dunia. Dua kutub. Terpisah jauh.

Mari kita menengok sejarah. Perseteruan dua kutub ini sebenarnya punya akar sejarah yang luhur di tingkat global. Di Amerika Serikat pada era 1960-an, tokoh seperti Tom Wolfe, Truman Capote, dan Gay Talese mengguncang dunia pers lewat gerakan New Journalism. Mereka adalah pencetus jurnalisme sastrawi. Mereka menulis berita investigasi yang nyata, namun dikemas seindah novel fiksi.

Lalu pada tahun 1972, seorang akademisi sekaligus jurnalis bernama Philip Meyer meluncurkan buku legendaris: Precision Journalism. Dialah bapak pelopor jurnalisme data modern. Meyer sadar, jurnalisme tidak boleh hanya mengandalkan intuisi atau wawancara narasumber biasa. Harus ada riset ilmu sosial dan analisis data komputer di dalamnya.

Dua gelombang dunia itu kemudian merembes ke Indonesia.

Di level nasional, Majalah Tempo yang didirikan oleh Goenawan Mohamad pada tahun 1971 menjadi media cetak pertama yang memelopori jurnalisme sastrawi. Mereka menyebutnya "jurnalisme kisah". Di saat yang sama, Harian Kompas lewat divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) mulai merintis jurnalisme data mentah. Mereka menyajikan data infografis cetak dan jajak pendapat (polling) yang kredibel.

Arus besar nasional ini ikut membentuk karakter pers di daerah. Tengok saja Bali pada era 1980-an, 1990-an, hingga awal 2000-an. Pada masa itu, ruang redaksi media cetak lokal di Bali—terutama koran-koran legendarisnya—masih sangat kental dengan aroma jurnalisme data dan sastrawi.

Liputannya tajam. Datanya dikejar sampai ke akar. Namun, penyajian narasinya berkelas. Anggun. Mengalir seperti air subak.

Tak heran, era emas media cetak itu banyak melahirkan jurnalis hebat yang juga seorang sastrawan di Bali. Mereka terasah melalui tradisi menulis dengan rasa. Bagi mereka, berita bukan sekadar tumpukan kata yang buru-buru dilempar ke mesin cetak. Berita adalah sebuah karya yang dirawat dengan kepekaan batin.

Lalu, badai digital itu datang. Zaman berubah. Total.

Koran-koran mulai berguguran. Media daring (online) tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Kejayaan media online lokal di Bali pun dimulai. Informasi tumpah ruah. Banjir bandang berita instan terjadi setiap detik.

Namun, ada yang hilang. Ruh jurnalisme itu menguap.

Sejak media online berkuasa, sangat sulit menemui media lokal di Bali yang mengusung jurnalisme data rasa. Redaksi terjebak dalam lingkaran setan algoritma. Mereka menyembah berhala bernama umpan klik (clickbait). Berita diproduksi massal dengan cepat, dangkal, dan sering kali menipu demi mengejar trafik iklan. Pembaca pun jenuh. Bosan.

Maka, di tengah situasi kritis inilah kita butuh penawarnya: Data Rasa.

Ini bukan istilah akademis yang rumit. Ini adalah sebuah perkawinan paksa yang sukses antara dinginnya angka dan hangatnya bahasa. Hibrida baru untuk menyelamatkan pers kita.

Mengapa harus dikawinkan?

Mari kita jujur. Data tanpa rasa itu membosankan. Siapa yang tahan membaca laporan ratusan halaman tentang statistik pariwisata atau pertumbuhan ekonomi Bali? Siapa yang betah melototi grafik garis tentang okupansi hotel di ponsel pintar mereka? Sedikit sekali. Bagi publik luas, angka-angka itu seperti kuburan. Sunyi dan mati.

Sebaliknya, rasa tanpa data itu berbahaya. Jurnalisme sastrawi yang hanya mengandalkan keindahan kata-kata bisa terjebak menjadi fiksi. Menjadi dongeng indah yang menipu. Di era kepalsuan digital saat ini, pembaca butuh jangkar. Jangkar itu bernama kebenaran empiris. Bukti sahih. Fakta keras.

Di situlah Data Rasa mengambil peran.

Mari kita lihat tanah Bali hari ini. Sebuah pulau yang selalu dipuji lewat angka-angka statistik pariwisata yang mentereng.

Jika menggunakan jurnalisme data murni, beritanya akan penuh angka keberhasilan. Jumlah wisatawan sekian juta orang. Pertumbuhan ekonomi sekian persen. Pembangunan resor baru meningkat sekian kali lipat. Grafik batang akan berderet. Jelas. Akurat. Tapi, apakah pembaca lokal akan tersentuh? Belum tentu. Angka-angka miliaran rupiah itu terlalu abstrak bagi warga biasa.

Lalu, masukkan unsur rasa. Masukkan teknik sastrawi.

Mulailah berita itu dari sudut gang kecil di Kuta atau Denpasar Barat. Kisah tentang seorang pecalang atau petani subak yang sumur rumahnya mulai mengering akibat dieksploitasi hotel berbintang. Tuliskan bagaimana ia harus bangun tengah malam hanya demi menunggu tetesan air PDAM yang mengalir kecil. Gambarkan matanya yang lelah melihat sawah warisan leluhurnya kini tertutup beton vila. Tuliskan aroma debu jalanan bypass yang kian padat.

Lalu, saat pembaca mulai terenyuh, kunci emosi itu dengan data.

Ketika pembaca menggulir layar ponsel ke bawah—lewat teknologi scrollytelling—masuklah data riil. Grafik interaktif muncul secara dinamis. Menunjukkan visualisasi laju penurunan air tanah Bali secara drastis, peta titik-titik alih fungsi lahan sawah, atau rasio timpangnya konsumsi air antara satu turis mewah dan satu keluarga lokal. Angka-angka tadi tiba-tiba punya wajah. Punya dampak nyata.

Hari ini, tantangan baru pun datang: Kecerdasan Buatan (AI).

Banyak orang cemas jurnalis akan punah digilas AI. Memang, AI sangat pintar. AI bisa membersihkan dan mengekstrak jutaan baris data mentah dalam hitungan detik. Ruang redaksi modern sangat terbantu oleh robot ini.

Tapi, AI punya batas. AI tidak memiliki hati. AI tidak bisa merasakan kesucian upacara adat atau kecemasan krisis air warga Karangasem. AI tidak bisa menangkap getar suara korban ketidakadilan sosial. AI bisa mengolah data, tapi AI tidak punya rasa.

Di sinilah peran jurnalis manusia menjadi mutlak. AI digunakan sebagai mesin pemroses data tercepat, lalu jurnalis bertindak sebagai penenun rasanya. Memadukan keduanya.

Di Indonesia, tren ini mulai mewabah. Media nasional era baru seperti Katadata, Tirto.id, dan Project Multatuli sukses membuktikannya. Di Bali sendiri, untungnya riak perlawanan itu masih ada. Upaya merawat tradisi ini dijaga oleh media alternatif seperti BaleBengong dengan gerakan jurnalisme warganya, serta Tatkala yang konsisten mengusung narasi yang kental akan nuansa budaya dan kedalaman sastra.

Mereka mencoba membangkitkan kembali trah jurnalis-sastrawan masa lalu yang sempat hilang. Mereka tidak lagi sekadar mengejar kecepatan klik. Mereka mengejar kedalaman. Mereka merawat kemanusiaan dengan bantuan fakta empiris.

Tantangannya tentu tidak mudah. Sangat berat.

Membuat produk Data Rasa butuh ongkos mahal. Butuh waktu lama. Jurnalis tidak bisa lagi bekerja sendirian. Di ruang redaksi modern, jurnalis teks harus duduk semeja dengan data scientist, programmer, dan desainer grafis. Mereka harus melebur ego.

Jurnalis data harus belajar menulis dengan hati. Jurnalis sastrawi harus belajar membaca baris angka. Ini adalah tuntutan kompetensi baru.

Masyarakat kita sering dituduh malas membaca tulisan panjang. Padahal yang tepat adalah: kita kekurangan pasokan bacaan yang bermutu dan memikat. Publik malas membaca tulisan panjang yang membosankan, bukan malas membaca kisah yang menarik.

Data Rasa adalah jawaban atas tantangan itu. Ia mengubah tumpukan data mati menjadi narasi yang bernyawa. Ia membuat statistik yang dingin menjadi cerita yang hangat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Zaman boleh saja berganti. Teknologi boleh kian canggih. Tetapi jurnalisme berkualitas tidak boleh kehilangan ruhnya.

Masa depan jurnalisme di Indonesia ada pada perkawinan ini. Kita tidak bisa lagi hanya menyodorkan angka mati kepada publik. Kita juga tidak boleh sekadar mengumbar emosi tanpa dasar fakta yang kuat.

Jurnalisme masa depan harus kuat dalam metodologi, namun harus tetap lembut dalam penyampaian. Sahih di atas kertas, bergetar di dalam hati.

Angka dan sastra. Data dan rasa. Keduanya kini telah bersatu demi merawat akal sehat bangsa.

Saya pun termenung. Kalau pers kita saat ini emoh melahirkan kembali jurnalisme data rasa, ya sudah. Mari kita nikmati saja berita clickbait esok hari: "Viral! Sepasang Kekasih Bule Menangis Haru Melihat Warga Bali Mengantre Air Bersih." Sebuah judul yang bagus untuk menaikkan trafik, bukan? (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.