Ingat Beli
SATU buku ternyata tidak membuat puas. Menulis itu seperti makan kacang garing. Sulit berhenti pada butir pertama. Begitu buku kesatu terbit, pintu untuk karya berikutnya langsung terbuka lebar.
Maka, sekarang saya sedang sibuk menyiapkan buku kedua. Judul sementaranya: Pena Ingatan: Esai tentang Manusia, Budaya, dan Zaman.
Tolong digarisbawahi kata "sementara" itu. Judul buku itu tabiatnya mirip sekali dengan janji politik menjelang pemilihan: suka berubah-ubah! Hari ini terdengar gagah dan revolusioner, besok terasa kepanjangan seperti gerbong kereta ekonomi, lusa mendadak terasa hambar. Akhirnya minggu depan diganti total hanya karena si penulis tidak sengaja menemukan dua kata yang terasa lebih genit dan hidup di pelataran parkir.
Isi dari calon anak kedua ini adalah 28 esai yang sempat numpang lewat di rubrik Horison, PodiumNews. Kalau buku pertama dulu genrenya lebih intim—membahas kopi sambil merenungi nasib—yang sekarang ini agak sedikit sok tahu karena mencoba melihat dunia dari jarak agak jauh.
Namanya juga horison. Batas pandang yang hobi sekali mempermainkan manusia; makin kita kejar, dia makin mundur teratur. Menyebalkan, tapi entah kenapa bikin penasaran terus.
Dulu di ruang redaksi yang serba buru-buru, rubrik Horison ini saya bikin sebagai tempat sembunyi untuk sekadar menarik napas. Berita harian itu kerjanya cuma laporan kilat: hari ini ada begal ketangkap, siang dibaca orang, malamnya sudah dipakai buat bungkus gorengan. Lenyap tak berbekas.
Nah, esai-esai ini mencoba sedikit lebih keras kepala dari itu. Dia menolak mati muda. Dia mau memperpanjang umur sebuah peristiwa dengan memberinya sedikit dandanan berupa konteks, ingatan, dan tafsir yang agak mendalam.
Makanya, isi kompilasi baru ini gado-gado sekali. Di dalamnya ada obrolan soal film, musik, sejarah, pewayangan, pers, urusan tanah Bali, harga rumah yang makin tidak masuk akal bagi dompet anak muda, soal kekuasaan, sampai urusan luka sosial masa lalu yang belum sembuh juga.
Apakah berantakan? Tenang, jangan panik dulu. Kalau dibaca pelan-pelan sambil ngopi, semuanya punya benang merah yang sama: kisah tentang bagaimana manusia modern pontang-panting mempertahankan akal sehat dan martabatnya ketika terus-menerus digencet oleh roda zaman.
Biar pembaca tidak pusing seperti masuk ke gudang rongsokan yang acak-acakan, tulisan ini nantinya akan dikotak-kotakkan ke dalam bab-bab yang rapi. Ada bab manusia, bab budaya, bab Bali, sampai bab pers. Tapi ya itu tadi, posisinya masih bisa digeser sesuka hati sebelum mesin cetak berbunyi.
Sekarang naskahnya lagi dianiaya oleh Angga Wijaya, editor setia saya sejak buku pertama. Saya ini sadar diri. Penulis kalau sudah terlalu jatuh cinta pada tulisannya sendiri biasanya buta. Dia merasa kalimatnya sudah paling puitis sejagat raya, padahal pembaca di luar sana sedang tersesat dan garuk-garuk kepala.
Penulis juga punya penyakit kronis: suka sayang berlebihan pada kalimat jelek bikinannya sendiri, hanya karena ingat dulu melahirkannya pakai acara begadang dan sakit pinggang. Pembaca kan tidak mau tahu penderitaan itu! Pembaca cuma butuh tulisan yang renyah dikunyah dan masuk akal.
Di situlah gunanya Angga; bertugas menyapu kerikil tajam biar jalanan pembaca mulus tanpa hambatan.
Target saya sebenarnya agak nekat. Sebelum berusia 50 tahun pada tahun depan, setidaknya saya ingin mempunyai empat atau lima buku.
Bukan mengejar gelar sastrawan, apalagi demi memenuhi rak dengan nama sendiri. Saya hanya memindahkan hasil kerja dari dunia digital ke bentuk kertas, biar usianya lebih tahan lama.
Tulisan di internet itu mudah tenggelam. Hari ini tayang, besok tertimbun berita baru. Sebulan kemudian, penulisnya sendiri sudah lupa pernah menulis apa. Buku memberikan kesempatan kedua; menyelamatkan tulisan dari liang kubur mesin pencari Google.
Pena Ingatan ini terasa penting karena kita hidup di zaman yang luar biasa bising. Informasi datang bertubi-tubi tanpa permisi. Setiap hari ada kemarahan baru, pujaan baru, musuh baru, dan debat kusir baru di media sosial.
Belum sempat kita paham apa yang terjadi kemarin, perhatian kita sudah diseret paksa ke drama yang baru lagi hari ini. Kita tahu banyak hal, tapi tidak mengingat apa-apa.
Di sinilah pena harus bergerak, menahan sesuatu agar tidak lekas menguap. Ingatan bukan sekadar urusan kangen masa lalu. Ingatan adalah sebuah sikap moral.
Buku kedua ini harus lahir. Titik.
Jadi, ketimbang Anda cuma jatuh cinta pada draf mentah ini, mending siapkan dompet Anda sejak hari ini. Sesuai judul tulisan ini: Ingat dibeli, ya! Jangan cuma dilihat, dipuji, lalu ditinggal pergi mirip gebetan yang pelit modal. Anggap saja ini investasi akhirat untuk mendukung kelangsungan hidup penulisnya. Selamat menabung! (*)
Menot Sukadana