Podiumnews.com / Horison / Selaras

Membeli Waktu Luang, Menolak Mati Kerja

Oleh Nyoman Sukadana • 13 Juli 2026 • 18:47:00 WITA

Membeli Waktu Luang, Menolak Mati Kerja
ILUSTRASI pekerja berdiri menatap bayangan jam pasir, simbol waktu yang terkikis oleh rutinitas kerja, jabatan, dan hidup yang perlahan terampas. (AI/Podiumnews)

PUKUL delapan malam di sebuah kawasan bisnis Jakarta. Lampu-lampu gedung pencakar langit masih menyala terang, memantulkan bayangan deretan kubikel yang sunyi namun sibuk.

Di salah satu sudut ruangan, Adrian (27 tahun) menatap nanar layar laptopnya. Di atas mejanya tergeletak sebuah surat keputusan resmi: promosi jabatan menjadi Senior Manager. Jabatan yang diimpikan banyak orang di usianya, lengkap dengan kenaikan fasilitas dan gengsi sosial.

Namun, alih-alih senyum bangga, yang hadir justru sesak di dada. Adrian teringat tiga tahun terakhir hidupnya yang habis dikomodifikasi oleh waktu kantor. Ia melewatkan pemakaman kakeknya, melewatkan makan malam ulang tahun ibunya, dan tubuhnya sendiri mulai mengirimkan sinyal bahaya lewat insomnia akut serta kecemasan konstan.

Bagi Adrian, meja kerja yang lebih besar dan papan nama jabatan baru yang mentereng terasa seperti sebuah jeruji emas. Esok harinya, Adrian melakukan sesuatu yang dianggap gila oleh rekan-rekan seniornya. Ia menolak promosi tersebut dan memilih jalan untuk membeli kembali waktu luangnya; ia menolak mati kerja demi sebuah takhta korporat.

Kisah Adrian bukanlah anomali tunggal, melainkan potret mikro dari pergeseran tektonik yang sedang terjadi di dunia kerja modern. Generasi milenial dan Gen Z sedang melancarkan pemberontakan sunyi terhadap berhala lama bernama "jabatan".

Di masa lalu, struktur sosial mengajari manusia untuk mengorbankan apa saja—kesehatan, keluarga, hingga kedamaian batin—demi mendaki tangga karier vertikal. Sukses diukur dari seberapa tinggi posisi Anda di bagan organisasi perusahaan. Namun saat ini, di hadapan pekerja muda, narasi tersebut mulai kehilangan sihirnya.

Terjadi sebuah redefinisi radikal mengenai kemewahan. Sukses tidak lagi dinilai dari ketebalan dompet atau menterengnya kartu nama, melainkan dari seberapa besar kendali yang dimiliki seseorang atas waktu hidupnya sendiri. Ketika waktu mulai dianggap lebih berharga daripada jabatan, kita sebenarnya sedang menyaksikan runtuhnya budaya hustle dan lahirnya fajar baru kesadaran eksistensial manusia dalam bekerja.

Eksploitasi Bernama Kesibukan

Untuk memahami mengapa fenomena ini terjadi, kita harus membedah akar sejarah bagaimana waktu manusia bertransformasi menjadi komoditas ekonomi. Sejak Revolusi Industri, waktu telah dikonseptualisasikan secara mekanistik. Pepatah kuno "Time is money" (Waktu adalah uang) yang dipopulerkan oleh Benjamin Franklin bukan sekadar kiasan, melainkan cetak biru sistem kapitalisme modern.

Dalam sistem ini, nilai seorang manusia diukur dari produktivitas kuantitatifnya. Jam kerja yang panjang dianggap sebagai simbol loyalitas dan prasyarat mutlak menuju kesuksesan finansial.

Filsuf sosiologi Karl Marx, dalam tulisannya Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, jauh-jauh hari telah memperingatkan bahaya dari sistem kerja seperti ini melalui teorinya mengenai Alienasi (Pengasingan Diri). Marx berargumen bahwa ketika pekerja menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kerja yang diasingkan demi keuntungan korporasi, mereka akan terasing dari hakikat kemanusiaan mereka sendiri.

Pekerja modern yang terjebak dalam ritme kerja ekstrem tidak lagi memiliki waktu untuk merenung, berkreasi, atau sekadar merasakan hidup. Mereka berubah menjadi sekadar sekrup kecil dalam mesin industri raksasa yang bergerak konstan menuju keletihan massal.

Generasi milenial dan Gen Z mengalami alienasi ini dalam dosis yang lebih pekat akibat digitalisasi. Teknologi yang awalnya dijanjikan untuk membebaskan manusia dan menghemat waktu, justru bertindak sebaliknya. Ponsel pintar dan aplikasi pesan instan telah meruntuhkan dinding pembatas antara ruang kantor dan ruang privat.

Seorang karyawan kini bisa dieksploitasi kapan saja. Instruksi kerja bisa masuk saat makan malam keluarga atau di tengah malam cuti tahunan.

Kondisi ini melahirkan apa yang disebut oleh filsuf kontemporer Byung-Chul Han sebagai The Burnout Society (Masyarakat Kelelahan). Han menjelaskan bahwa manusia modern tidak lagi dieksploitasi oleh bos eksternal secara paksa, melainkan mengeksploitasi diri mereka sendiri secara sukarela demi target pencapaian (achievement) dan status sosial.

Jabatan tinggi sering kali menjadi umpan yang dipasang sistem untuk membuat individu dengan sukarela menyerahkan seluruh kedaulatan waktunya kepada korporasi. Pekerja muda hari ini mulai menyadari jebakan ini. Mereka melihat para senior mereka yang memiliki jabatan tinggi, namun hidupnya didikte oleh jadwal rapat konstan, menderita penyakit psikosomatis, dan tidak punya waktu untuk membesarkan anak-anak mereka sendiri. Dari sinilah resistensi itu lahir.

Kemewahan Kelas Baru

Ketika materi dan jabatan tidak lagi mampu membeli kebahagiaan sejati, arah angin budaya pun berubah. Lahirlah sebuah konsep yang dikenal sebagai Time Wealth (Kemewahan Waktu). Konsep ini menempatkan kepemilikan atas waktu bebas sebagai indikator tertinggi dari kesejahteraan dan status sosial seseorang.

Orang yang paling kaya di era modern bukan lagi mereka yang bekerja 14 jam sehari dan memiliki mobil mewah. Mereka adalah orang-orang yang memilih membeli waktu luangnya sendiri dan memiliki otonomi penuh untuk menentukan bagaimana 24 jam dalam sehari mereka dihabiskan.

Pandangan ini sejalan dengan gagasan ekonomi-politik yang dikemukakan oleh Thorstein Veblen dalam bukunya The Theory of the Leisure Class. Veblen menyatakan bahwa di setiap era, kelas sosial atas selalu menunjukkan status mereka melalui kemampuan untuk menikmati "waktu luang" (leisure).

Namun, jika di abad ke-19 waktu luang ditunjukkan melalui kemewahan yang konsumtif dan pamer kekayaan, maka di abad ke-21, pamer waktu luang mewujud dalam bentuk kemampuan untuk hidup lambat (slow living), menjaga kesehatan mental, dan memiliki ruang untuk aktualisasi diri non-ekonomis.

Bagi Gen Z dan milenial, waktu adalah modal utama untuk merajut makna hidup. Mereka memahami apa yang pernah ditulis oleh filsuf stoik kuno, Seneca, dalam esainya De Brevitate Vitae (On the Shortness of Life).

Seneca menegaskan bahwa hidup ini sebenarnya tidak pendek, tetapi manusialah yang membuatnya pendek karena menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak esensial. Seneca menulis bahwa manusia sangat pelit dalam menjaga harta benda mereka; namun begitu tiba masalah menyia-nyiakannya waktu, mereka adalah satu-satunya makhluk yang sangat boros terhadap satu-satunya hal di mana menjadi pelit adalah tindakan yang terhormat.

Pekerja muda saat ini sedang menerapkan "kepelitan yang terhormat" yang dimaksud Seneca. Mereka membatasi waktu yang mereka jual kepada perusahaan demi menginvestasikan sisa waktu tersebut untuk kesehatan mental, hobi, komunitas, dan hubungan interpersonal yang mendalam. Menolak promosi jabatan yang toksik atau memilih jalur kerja fleksibel adalah bentuk nyata dari upaya membeli kembali waktu luang yang sempat dirampas oleh industrialisasi.

Jebakan Kelas Pekerja

Melihat fenomena ini, para kritikus dari generasi yang lebih tua sering kali melayangkan tuduhan stereotipikal. Mereka melabeli pekerja muda sebagai generasi yang lembek, manja, kurang gigih, atau tidak memiliki ambisi. Kritikan ini biasanya bersumber dari ketidakmampuan generasi senior untuk memahami bahwa tolok ukur kebahagiaan telah bergeser.

Di Indonesia sendiri, penerapan tren membeli waktu luang ini memiliki dinamika pragmatis yang sangat menarik dan berbeda dengan gerakan radikal di negara maju seperti gerakan Tang Ping (rebahan total) di China. Anak muda Indonesia tidak sepenuhnya menolak kerja atau menjadi antipati terhadap uang.

Mereka tetap menyadari realitas ekonomi yang keras, terlebih banyak dari mereka yang terjebak dalam lingkaran Generasi Sandwich (harus membiayai orang tua sekaligus anak sendiri). Oleh karena itu, strategi mereka bukanlah berhenti bekerja, melainkan mengadopsi apa yang disebut dengan Career Minimalism atau integrasi kerja-hidup yang fleksibel.

Mereka lebih memilih posisi kerja yang menawarkan kebijakan remote atau hybrid dengan gaji yang "cukup", daripada posisi manajerial tingkat atas yang menuntut kehadiran fisik dan emosional penuh waktu.

Namun, kita juga harus jujur menguliti fenomena ini: tren membeli waktu luang rentan menjadi bias kelas (hak istimewa/privilege). Memilih menolak jabatan demi ketenangan batin sering kali hanya menjadi opsi yang valid bagi kelompok menengah perkotaan yang memiliki bantalan finansial atau keahlian digital spesifik.

Bagi pekerja kerah biru, kurir logistik, buruh pabrik, atau pekerja alih daya (outsourcing) di Indonesia, otonomi waktu adalah barang mewah yang utopis. Bagi mereka, tidak mengambil lembur atau menolak tugas tambahan berarti pemotongan pendapatan yang mengancam isi piring di rumah. Pilihan mereka sangat terbatas: bekerja keras, atau tidak makan sama sekali.

Ironisnya lagi, demi mengejar ilusi kebebasan dari jeratan kantor formal, banyak anak muda Indonesia yang beralih menjadi pekerja lepas (freelancer) atau pelaku side hustle. Di titik inilah tesis Byung-Chul Han tentang self-exploitation mewujud nyata secara lokal.

Tanpa disadari, demi menghindari eksploitasi bos di kantor, mereka justru mengeksploitasi diri mereka sendiri. Mereka mengambil tiga proyek sekaligus, bekerja melampaui waktu 9-to-5 di warung kopi hingga larut malam, dan berakhir dengan burnout yang sama parahnya, namun tanpa jaminan kesehatan dari korporasi. Kedaulatan waktu yang dicari sering kali justru bertransformasi menjadi ketidakpastian ekonomi yang mencemaskan.

Paradigma Baru Kerja

Pada akhirnya, arus balik penolakan terhadap pemujaan jabatan ini mengirimkan pesan yang sangat kuat kepada dunia industri. Sistem manajemen kerja kuno yang memperlakukan manusia sebagai komoditas waktu harus segera diakhiri. Perusahaan-perusahaan yang tetap bersikeras menerapkan budaya kerja eksploitatif, mengabaikan kesehatan mental, dan mengukur produktivitas hanya dari kehadiran fisik, lambat laun akan kehilangan talenta-talenta terbaik mereka.

Pergeseran nilai dari jabatan menuju kedaulatan waktu adalah sebuah kemenangan evolutif bagi kesadaran manusia. Fenomena ini mengingatkan kita kembali pada esensi mendasar yang sering terlupakan di era modern: bahwa pekerjaan hanyalah salah satu instrumen untuk mendukung kehidupan, bukan tujuan utama dari kehidupan itu sendiri. Manusia bekerja untuk hidup secara utuh dan bermakna, bukan hidup untuk bekerja hingga mati di balik meja kubikel.

Seperti kisah Adrian di awal tulisan ini, keputusan untuk membeli waktu luang daripada memburu jabatan bukanlah sebuah langkah mundur atau tanda kesiapan untuk kalah. Itu adalah sebuah tindakan keberanian eksistensial yang luhur di tengah kepungan sistem yang menuntut manusia untuk terus berlari tanpa henti.

Sebuah kesadaran bahwa ketika lembar kehidupan kita berakhir, kita tidak akan pernah menyesali mengapa kita tidak menghabiskan lebih banyak waktu di kantor untuk mengejar gelar direktur. Sebaliknya, kita akan bersyukur karena kita memilih menolak mati kerja, membeli kembali waktu kita, dan menikmati keindahan menjadi manusia yang merdeka atas kehidupannya sendiri. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.