Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Pasrah Melawan

Oleh Nyoman Sukadana • 13 Juli 2026 • 21:08:00 WITA

Pasrah Melawan
Menot Sukadana (AI/Vector)

SAYA tertegun. Membaca berita itu. Berita dari Tiongkok.

Negeri itu luar biasa. Puluhan tahun kerja keras jadi mesin utamanya. Mesin kemajuan. Kini, mesin itu batuk-batuk. Ekonomi melambat. Konsumsi lesu. Sektor properti tiarap. Permintaan sepi.

Lalu lahir tren baru. Namanya tang ping. Artinya: rebahan.

Anak mudanya bukan malas. Mereka lelah. Sekaligus muak. Hidup kok terus didikte pekerjaan. Didikte jabatan. Didikte konsumsi.

Mereka emoh.

Maka, mereka memilih kerja sekadarnya. Dapat uang sekadarnya. Pulang ke kamar kos. Menikmati waktu tersisa. Tanpa dikejar target. Tanpa rapat. Tanpa pesan dari atasan.

Belakangan muncul istilah lebih ekstrem. Lebih ngeri: bai lan. Artinya: membiarkan membusuk.

Ini bukan lagi hidup sederhana. Ini putus asa yang mengental. Persaingan hidup terlalu brutal. Ada kultur kerja 996. Masuk jam sembilan pagi. Pulang jam sembilan malam. Enam hari seminggu.

Gila.

Kerja sekeras apa pun tetap tidak bisa beli rumah. Gaji naik sedikit. Harga properti terbang tinggi. Masa depan terus dijanjikan. Tapi tidak pernah datang.

Ya sudah. Mereka menyerah. Membiarkan keadaan memburuk. Sistem dianggap tidak adil lagi.

Ada yang pasrah untuk protes. Ada yang pasrah karena terlanjur lelah.

Di situlah paradoksnya. Di hadapan sistem yang raksasa, pasrah bisa jadi perlawanan.

Sistem menyuruh mereka berlari. Mereka memilih duduk. Pasar menyuruh mereka membeli. Mereka mengurangi kebutuhan. Perusahaan menawarkan jabatan. Mereka memilih pulang tepat waktu.

Mesin kehilangan bahan bakarnya.

Ini bukan gejala baru. Sejarah mencatat itu. Polanya berulang. Cuma beda bentuk.

Ingat Amerika Serikat tahun 1960-an? Lahir kaum hippie. Mereka menolak tatanan dominan. Muak pada perang. Muak pada budaya konsumsi. Yang mengukur hidup dari rumah, mobil, dan barang.

Mereka keluar dari kota. Memanjangkan rambut. Hidup komunal. Menolak wajib militer. Mereka tidak merebut kantor pemerintah. Tidak bikin partai.

Mereka membuat ruang hidup sendiri.

Geser ke Jepang. Sejak dekade 1990-an. Ada fenomena hikikomori. Pemerintah Jepang mencatat angka ngeri: 1,46 juta orang. Usia 15 sampai 64 tahun.

Mereka menarik diri secara ekstrem. Dari kehidupan sosial. Nyaris tidak keluar rumah. Berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun.

Tapi jangan romantisir hikikomori. Mereka bukan pejuang politik. Bukan kaum revolusioner yang mogok kerja demi ideologi.

Mereka ambruk.

Tekanan psikologis terlalu berat. Ekspektasi keluarga mencekik. Sistem pendidikan kaku. Pergaulan sosial menakutkan. Mereka tidak menyerang sistem. Mereka menyelamatkan diri. Trauma.

Tidak semua pasrah adalah perlawanan. Ada yang mundur karena masih berdaya memilih. Ada yang mendekam karena jiwanya patah.

Kini gema itu sampai ke Indonesia. Bentuknya lebih moderat. Lebih halus. Laku dijual lewat seminar dan media sosial.

Anak muda kita menyebutnya work-life balance. Atau career minimalism.

Tentu beda dengan bai lan. Anak muda kita tetap produktif. Tetap serius kerja. Mereka hanya emoh menyerahkan seluruh umur untuk kantor.

Saya pernah berbincang dengan Maya. Bukan nama sebenarnya. Desainer grafis. Umur 26 tahun.

Keputusannya berani. Keluar dari agensi ternama di Jakarta. Pilih jadi freelancer di kampung halaman. Di Boyolali.

Penghasilannya turun? Pasti. Hampir separuh. Jabatan art director yang dulu diimpikan juga dilepas.

"Untuk apa bertahan di Jakarta kalau tiap malam menangis di kos?" katanya. Stres.

"Sekarang saya bisa kerja sambil menemani ibu. Rumah dan mobil mewah bukan lagi ukuran sukses," tambahnya.

Bagi Maya, waktu adalah kemewahan baru.

Sukses tidak diukur dari merek mobil. Bukan dari menterengnya kartu nama. Sukses adalah punya kendali atas jam hidup sendiri. Bisa kerja tanpa gila. Bisa menemani orang tua. Bisa tidur tanpa dihantui pesan kantor.

Pilihan begini pasti dicibir. Generasi tua sering menuduh: anak muda sekarang lembek. Manja. Kurang gigih.

Tuduhan itu dangkal.

Mereka bukan emoh kerja keras. Mereka hanya lebih rasional menghitung harga sebuah keberhasilan.

Untuk apa jabatan tinggi kalau tiap malam harus minum obat tidur? Untuk apa gaji besar kalau tidak punya waktu melihat anak tumbuh? Untuk apa jadi pekerja teladan kalau tubuh dan pikiran remuk?

Seneca pernah mengingatkan dalam De Brevitate Vitae. Hidup itu tidak pendek. Manusialah yang membuatnya pendek. Karena menghabiskannya untuk hal yang keliru.

Dunia industri harus melek. Harus membaca tanda zaman.

Manusia memang perlu kerja untuk hidup. Tapi manusia tidak lahir hanya untuk bekerja.

Kerja keras tetap penting. Ambisi tidak perlu dibunuh. Tapi kalau pekerjaan sudah merampas waktu, kesehatan, dan kewarasan, mundur bukan berarti kalah.

Rebahan juga tidak selalu revolusioner. Kemalasan tetaplah kemalasan kalau cuma memindahkan beban ke orang lain. Menolak tanggung jawab bukan keberanian.

Tapi, menolak diperas adalah perkara lain.

Kadang-kadang, untuk selamat, kita memang harus berani berhenti berlari.

Kelihatannya pasrah.

Padahal melawan. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.