Bola di Tengah Devaluasi
BUENOS AIRES seperti menolak tidur.
Seragam biru-putih memenuhi jalan. Bendera Argentina menggantung di jendela apartemen, berkibar dari atap mobil, dan melilit bahu anak-anak. Nama Lionel Messi diteriakkan dari satu sudut ke sudut lain, bercampur dengan lagu tentang Diego Maradona, tanah air, dan kejayaan.
Piala Dunia 2026 yang digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat membawa Argentina kembali ke final. Empat tahun setelah mengangkat trofi di Qatar, Messi dan kawan-kawan sekali lagi tiba di pertandingan terakhir. Spanyol menunggu mereka di New York New Jersey Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, pada 19 Juli 2026.
Pada saat seperti itu, Argentina terlihat sebagai negeri paling bahagia di muka bumi.
Namun, ribuan kilometer dari Buenos Aires, papan-papan penukaran uang menyampaikan cerita berbeda. Angka-angka menyala di balik kaca. Tidak ada sorak-sorai di sana. Tidak ada orang berpelukan. Hanya peso yang terus kehilangan tenaga ketika berhadapan dengan dolar Amerika Serikat.
Pada Desember 2022, saat Argentina menjuarai Piala Dunia di Qatar, nilai tukar resmi rata-rata berada di kisaran 172 peso per dolar AS. Memasuki Juli 2026, satu dolar memerlukan sekitar 1.500 peso.
Dalam waktu kurang dari empat tahun, jumlah peso yang dibutuhkan untuk membeli satu dolar bertambah lebih dari delapan kali lipat.
Inflasi memang mulai melandai. Namun, kenaikan harga tahunan masih berada di atas 30 persen. Bagi masyarakat Argentina, angka itu tidak berdiam di dalam laporan ekonomi. Ia hadir di pasar, di meja makan, di ongkos bus, dan di uang sewa rumah.
Gaji yang diterima pada awal bulan dapat kehilangan sebagian nilainya sebelum bulan berakhir. Tabungan seperti es batu di bawah matahari. Tetap ada, tetapi terus mengecil.
Anehnya, ketika peso kehilangan harga, seragam tim nasional Argentina justru semakin mahal dalam perasaan rakyatnya.
Inilah paradoks Argentina.
Negara itu berkali-kali dihantam krisis ekonomi, utang, inflasi, perubahan kebijakan, dan hilangnya kepercayaan terhadap mata uang. Namun, sepak bolanya terus menghasilkan kepercayaan baru.
Pemerintah datang dan pergi. Menteri ekonomi berganti. Nilai peso berubah. Namun, warna biru-putih tetap bertahan. Nama Maradona tidak tergerus inflasi. Messi tidak kehilangan nilai di hadapan dolar.
Kemenangan di lapangan tentu tidak akan membuat harga daging turun. Gol tidak menghapus utang negara. Trofi tidak serta-merta membuat peso kembali perkasa.
Rakyat Argentina memahami itu.
Namun, sepak bola memberi sesuatu yang tidak tersedia dalam neraca perdagangan atau laporan pertumbuhan ekonomi: keyakinan bahwa mereka masih menjadi bangsa besar.
Ribuan kilometer dari Buenos Aires, Indonesia mengenal kegairahan yang hampir sama.
Ketika tim nasional bertanding, warung berubah menjadi tribun. Kedai kopi mendadak penuh. Layar putih dibentangkan di lapangan desa. Kursi plastik disusun seadanya. Orang yang tidak saling mengenal duduk berimpitan, menunggu sebelas pemain membawa nama negara.
Selama sembilan puluh menit, perbedaan agama, suku, kelas sosial, dan pilihan politik seolah disimpan sementara. Orang Aceh, Jawa, Bali, Maluku, dan Papua menahan napas pada detik yang sama.
Indonesia mungkin belum hadir di Piala Dunia 2026. Namun, masyarakatnya tetap mengikuti turnamen itu dengan gairah besar. Mereka memilih tim, mengingat nama pemain, membahas taktik, dan menjadi pelatih dadakan dari ruang tamu.
Sepak bola telah lama menjadi bahasa nasional yang tidak membutuhkan penerjemah.
Indonesia juga sedang menghadapi mata uang yang melemah. Pada akhir 2022, satu dolar AS bernilai sekitar Rp15.592. Memasuki pertengahan Juli 2026, nilainya bergerak di sekitar Rp18 ribu.
Rupiah kehilangan sekitar 15 persen nilainya terhadap dolar dalam periode tersebut.
Keadaan ini tentu tidak dapat disamakan dengan Argentina. Peso mengalami keruntuhan yang jauh lebih dalam. Inflasi Argentina berkali-kali melampaui batas yang masih dapat dirasakan normal oleh masyarakat. Rupiah melemah, tetapi ekonomi Indonesia belum kehilangan kendali seperti negeri Amerika Latin itu.
Istilah devaluasi pun perlu ditempatkan secara hati-hati.
Dalam pengertian ekonomi, devaluasi biasanya merujuk pada keputusan resmi pemerintah menurunkan nilai mata uang dalam sistem kurs tetap. Rupiah saat ini lebih tepat disebut mengalami depresiasi.
Namun, devaluasi dalam tulisan ini tidak hanya berbicara tentang mekanisme kurs. Ia juga menggambarkan keadaan ketika sesuatu perlahan kehilangan nilai, kehilangan harga, dan akhirnya kehilangan kepercayaan.
Pada titik inilah Argentina dan Indonesia dapat ditempatkan dalam satu lapangan pembacaan.
Georg Simmel melihat uang bukan sekadar kertas atau logam. Uang hidup karena kepercayaan. Seseorang menerima selembar uang karena yakin orang lain juga akan menerimanya. Ketika keyakinan itu retak, angka yang tercetak di atas kertas tidak lagi menjamin nilainya.
Sepak bola bekerja melalui kepercayaan yang hampir serupa.
Sebelas pemain dianggap mewakili jutaan manusia karena masyarakat sepakat menyerahkan sebagian identitasnya kepada mereka. Seragam hanyalah kain. Bendera hanyalah susunan warna. Lagu kebangsaan hanyalah nada dan kata.
Semua menjadi agung karena dipercayai bersama.
Benedict Anderson menyebut bangsa sebagai komunitas terbayang. Sebagian besar warga sebuah negara tidak pernah bertemu. Mereka tidak saling mengenal. Namun, mereka merasa hidup dalam satu persekutuan.
Sepak bola membuat persekutuan yang abstrak itu terlihat.
Bangsa menjelma menjadi tubuh-tubuh yang berlari di lapangan. Ia terdengar dalam lagu kebangsaan. Ia tampak pada bendera yang dikibarkan. Ia terasa ketika gol tercipta dan orang-orang asing saling berpelukan.
Seorang buruh di Rosario dapat menangis bersama pengusaha di Buenos Aires ketika Argentina menang. Seorang petani di Tabanan dapat mengepalkan tangan pada detik yang sama dengan pekerja tambang di Kalimantan ketika Indonesia mencetak gol.
Namun, kecintaan Argentina dan Indonesia tumbuh dari sumber yang berbeda.
Argentina mencintai sepak bola melalui ingatan tentang kejayaan. Mereka memiliki bukti bahwa negaranya mampu menjadi yang terbaik di dunia. Maradona dan Messi bukan hanya pemain hebat. Keduanya telah menjadi bagian dari cara Argentina memandang dirinya sendiri.
Sepak bola Argentina juga mengenal mitos tentang pibe: anak kecil dari jalanan, bertubuh tidak selalu besar, tetapi cerdik, berani, nakal, dan penuh improvisasi. Sosok itu hidup dalam Maradona, lalu muncul kembali dalam Messi dengan watak berbeda.
Argentina melihat dirinya di dalam para pemain tersebut.
Indonesia mencintai sepak bola melalui harapan akan kejayaan.
Dukungan rakyatnya sangat besar, tetapi prestasinya belum sebanding. Stadion penuh. Percakapan di media sosial meledak. Seragam tim nasional dikenakan di mana-mana. Namun, sepak bola Indonesia masih berkutat dengan persoalan pembinaan, kompetisi, organisasi, infrastruktur, dan tata kelola.
Cinta masyarakat tumbuh jauh lebih cepat daripada kemampuan lembaganya.
Argentina berusaha mempertahankan kebesaran yang telah dimiliki.
Indonesia berusaha membuktikan kebesaran yang selama ini dibayangkan.
Bagi Argentina, sepak bola menjadi cadangan harga diri ketika ekonomi gagal memberikannya. Bagi Indonesia, sepak bola menjadi ruang untuk membayangkan masa depan yang lebih tinggi daripada prestasi hari ini.
Karena itu, menyebut sepak bola sekadar candu bagi rakyat adalah kesimpulan yang terlalu mudah.
Rakyat Argentina tahu kemenangan tidak akan membayar tagihan. Masyarakat Indonesia tahu gol tidak akan langsung menguatkan rupiah. Mereka tidak sebodoh itu.
Manusia memang membutuhkan pekerjaan, pendapatan, makanan, dan rumah. Namun, manusia juga memerlukan rasa memiliki, kenangan, pertemuan, dan kebanggaan bersama.
Sepak bola menyediakan semua itu dalam bentuk yang sederhana: satu bola, dua gawang, dan sebelas orang yang membawa nama negara.
Masalah baru muncul ketika penguasa merasa cukup memberikan simbol kebanggaan tanpa memperbaiki kenyataan. Prestasi olahraga dapat menjadi modal sosial, tetapi tidak boleh dipakai sebagai tirai untuk menutupi kegagalan ekonomi dan buruknya tata kelola.
Pesta harus berakhir. Stadion akan kembali kosong. Orang-orang akan pulang dan berhadapan lagi dengan harga kebutuhan, pekerjaan, dan nilai uang yang berubah.
Pada akhirnya, mata uang dan sepak bola sama-sama mengukur kepercayaan.
Kurs menunjukkan seberapa besar dunia mempercayai kemampuan sebuah negara mengelola ekonominya. Sepak bola menunjukkan seberapa besar rakyat masih bersedia mempercayai bangsanya.
Peso boleh terus merosot. Rupiah dapat kembali melemah. Namun, selama bola masih bergulir, Argentina dan Indonesia akan selalu menemukan alasan untuk berkumpul dan membayangkan dirinya sebagai bangsa besar.
Bedanya, Argentina telah berkali-kali mengubah bayangan itu menjadi piala.
Indonesia masih menunggu cintanya dibayar dengan prestasi. (*)
Menot Sukadana