Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Aget, Bola, dan Kewarasan

Oleh Nyoman Sukadana • 18 Juli 2026 • 07:49:00 WITA

Aget, Bola, dan Kewarasan
ILUSTRASI lapangan sepak bola di dalam kepala melambangkan ruang batin manusia mencari ketenangan, harapan, dan kewarasan di tengah krisis hidup. (AI/Podiumnews)

SETANG motor itu bengkok. Bodi depannya pecah. Lampu rem menggantung nyaris menyentuh aspal. Pemiliknya duduk di tepi jalan sambil memandangi lutut yang lecet dan berdarah.

Seseorang datang. Kepala, tangan, dan kakinya diperiksa.

Aget. Kamu tidak apa-apa. Cuma lecet.”

Orang itu kemudian menoleh ke arah motor.

“Motor bisa diperbaiki. Yang penting kamu selamat.”

Kalimat semacam itu akrab di telinga manusia Bali. Orang Jawa mengenal ungkapan yang hampir sama: untung.

Untung hanya lecet. Untung tidak patah tulang. Untung masih selamat.

Tentu saja motor yang rusak tetap membawa kerugian. Ongkos bengkel harus dibayar. Pekerjaan esok pagi mungkin terganggu. Tabungan bisa berkurang. Kendaraan itu pun belum tentu kembali senyaman sebelumnya.

Semua itu nyata.

Namun, ketika musibah datang begitu cepat, pikiran manusia memerlukan pegangan. Kata aget bekerja pada saat seperti itu. Ia mengajak seseorang melihat bagian yang masih tersisa ketika perhatiannya sedang tersedot oleh sesuatu yang hilang.

Motornya hancur. Tubuhnya selamat.

Barang dapat dicari gantinya. Nyawa tidak.

Aget tidak meluruskan setang yang bengkok. Ia juga tidak membayar ongkos bengkel. Kata itu hanya memberi sedikit jarak antara manusia dan kepanikan. Jarak yang cukup untuk menarik napas, menata pikiran, lalu menghadapi kerugian dengan kepala lebih tenang.

Barangkali manusia memang memerlukan cara semacam itu. Hidup terlalu sering mendatangkan persoalan tanpa memberi waktu untuk bersiap. Kecelakaan, kehilangan pekerjaan, usaha yang gagal, atau penyakit dapat mengubah arah kehidupan hanya dalam satu hari.

Tidak semua masalah bisa segera diselesaikan. Namun, manusia tetap harus makan, tidur, bekerja, dan bangun kembali keesokan paginya. Karena itu, pikiran akan mencari celah agar tekanan tidak menelan seluruh hidup.

Psikiater Viktor Frankl pernah menulis tentang kemampuan manusia memilih sikap ketika keadaan tidak lagi dapat dipilih. Manusia mungkin tidak sanggup mengubah apa yang baru saja menimpanya, tetapi ia masih memiliki ruang kecil untuk menentukan dari mana kenyataan itu akan dipandang.

Kata aget hidup di ruang kecil tersebut.

Kerugian tidak disangkal. Rasa sakit tidak dianggap sepele. Namun, manusia memilih memulai dari apa yang masih dapat diselamatkan. Dalam kecelakaan itu, tubuh yang tetap utuh menjadi pijakan pertama sebelum urusan motor, pekerjaan, dan biaya perbaikan dipikirkan.

Ribuan kilometer dari Bali, masyarakat Argentina memiliki cara lain untuk mengambil jarak dari tekanan hidup. Mereka menemukannya dalam sepak bola.

Negeri itu telah lama hidup bersama gejolak ekonomi. Nilai peso melemah, harga kebutuhan bergerak cepat, dan tabungan keluarga dapat kehilangan daya beli hanya dalam hitungan bulan. Upah yang diterima pada awal bulan kadang tidak lagi memiliki nilai yang sama ketika akhir bulan tiba.

Kecemasan ekonomi kemudian masuk ke ruang-ruang paling pribadi. Orang menunda membeli kebutuhan. Keluarga mengurangi pengeluaran. Pekerja mencari tambahan pendapatan. Masa depan menjadi sulit dihitung, bahkan untuk beberapa pekan ke depan.

Sepak bola tidak menyelesaikan semua itu.

Gol Lionel Messi tidak dapat menurunkan harga daging. Kemenangan tim nasional tidak membuat nilai peso mendadak menguat. Piala dunia pun tidak sanggup menghapus utang negara.

Namun, sepak bola menyediakan ruang lain dalam kehidupan masyarakat Argentina. Sebuah ruang tempat mereka dapat berhenti sejenak menjadi korban inflasi, pengangguran, dan ketidakpastian. Selama pertandingan berlangsung, mereka menjadi bagian dari sebuah kesebelasan yang masih mampu menang.

Mereka bernyanyi. Berteriak. Memeluk orang yang tidak mereka kenal. Kegembiraan itu mungkin hanya bertahan beberapa jam, tetapi beberapa jam kadang cukup untuk membantu manusia melewati hari yang berat.

Sepak bola memberi mereka sesuatu yang semakin langka ketika krisis berlangsung lama: perasaan bahwa kehidupan belum sepenuhnya kalah.

Kekuatan itu tampak jelas pada Piala Dunia 1986.

Empat tahun sebelumnya, Argentina kalah dalam Perang Malvinas melawan Inggris. Ratusan serdadu tewas. Kekalahan tersebut meninggalkan luka politik, kehilangan, dan pukulan terhadap kebanggaan nasional.

Ketika Argentina bertemu Inggris di perempat final Piala Dunia, pertandingan itu sulit dipisahkan dari ingatan tentang perang. Lapangannya berbeda. Pertaruhannya juga tidak sama. Namun, bagi banyak orang Argentina, Inggris bukan sekadar lawan sepak bola.

Diego Maradona mencetak dua gol.

Gol pertama lahir dari tangannya yang luput dari pengamatan wasit. Dunia kemudian mengenalnya sebagai gol Tangan Tuhan. Gol kedua muncul dari kemampuan yang hampir tidak masuk akal. Maradona menggiring bola dari tengah lapangan, melewati pemain-pemain Inggris, lalu menaklukkan penjaga gawang.

Argentina menang 2-1.

Kemenangan itu tidak mengubah hasil perang. Tentara yang gugur tidak kembali. Kepulauan yang dipersengketakan juga tidak berpindah tangan. Namun, masyarakat Argentina memperoleh kesempatan untuk merasakan kemenangan atas Inggris dalam ruang yang masih mungkin mereka kuasai.

Sepak bola mengambil luka sejarah, lalu memberinya jalan keluar yang dapat dirayakan.

Puluhan tahun kemudian, suasana serupa hadir dalam bentuk berbeda. Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 ketika masyarakatnya sedang menghadapi tekanan ekonomi berat. Saat Messi mengangkat trofi di Qatar, jutaan orang turun ke jalan-jalan Buenos Aires.

Mereka tentu memahami bahwa pesta tersebut tidak akan membuat persoalan ekonomi selesai pada pagi berikutnya. Tagihan tetap harus dibayar. Harga kebutuhan tetap tinggi. Nilai uang mereka belum berubah.

Namun, malam itu, mereka memilih merayakan sesuatu yang benar-benar menjadi milik bersama.

Mereka membutuhkan kemenangan tersebut. Bukan karena sepak bola lebih penting daripada ekonomi, melainkan karena manusia tidak sanggup hidup hanya dengan kecemasan. Jiwa juga memerlukan kebanggaan, perayaan, dan perasaan terhubung dengan orang lain.

Dalam hal itulah kata aget dan sepak bola Argentina bertemu.

Keduanya bekerja dengan cara berbeda. Aget lahir sebagai ungkapan personal untuk melihat bagian hidup yang masih dapat disyukuri. Sepak bola bergerak sebagai pengalaman kolektif yang menyediakan pelepasan emosi dan kebanggaan nasional.

Namun, keduanya membantu manusia mengurangi kuasa musibah di dalam kepala.

Masalah besar tidak dibuat seolah-olah kecil. Manusia hanya berusaha agar masalah itu tidak menguasai seluruh isi pikirannya.

Seorang pengendara memandang motor yang hancur, lalu mengingat bahwa tubuhnya selamat. Seorang buruh di Buenos Aires memikirkan harga kebutuhan yang terus naik, lalu selama 90 menit bernyanyi ketika tim nasionalnya bermain.

Keduanya sedang mengambil kembali sedikit kendali atas hidup.

Cara bertahan semacam itu penting. Namun, ia juga memiliki batas.

Ucapan aget dapat menolong orang menerima kenyataan. Akan tetapi, kata itu tidak boleh dipakai untuk membiarkan penyebab musibah terus berulang. Rasa syukur karena selamat tidak menghapus kewajiban memperbaiki kendaraan, memeriksa kondisi jalan, atau meminta pertanggungjawaban pihak yang lalai.

Begitu pula dengan sepak bola.

Kemenangan tim nasional dapat memberi kegembiraan. Namun, pesta tidak boleh menjadi selimut yang menutupi kegagalan negara. Pemerintah tetap harus mengendalikan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan melindungi daya beli masyarakat.

Penghiburan berubah menjadi masalah ketika ia dipakai untuk membenarkan pembiaran.

Menerima kenyataan berbeda dengan menyerah kepada keadaan. Menenangkan pikiran juga tidak sama dengan menutup mata.

Motor yang ringsek tetap harus dibawa ke bengkel. Krisis ekonomi tetap harus dihadapi dengan kebijakan yang masuk akal. Setelah kepanikan mereda dan sorak-sorai berhenti, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai.

Hidup memang tidak selalu memberi manusia kemenangan besar. Sering kali, yang tersedia hanya bagian kecil yang belum ikut rusak.

Tubuh yang selamat. Keluarga yang masih bersama. Pekerjaan yang masih dapat dilakukan. Atau sebuah bola yang masuk ke gawang lawan.

Manusia memerlukan bagian kecil itu agar tidak runtuh seluruhnya. Ia menjadi tempat berpijak sebelum melangkah lagi.

Barangkali itulah arti aget yang paling dalam. Ia bukan ajakan untuk berdamai dengan kerusakan. Ia adalah cara menyelamatkan pikiran agar manusia masih memiliki tenaga untuk memperbaikinya.

Sebab kewarasan tidak hanya dijaga dengan menerima kenyataan. Kewarasan juga dirawat dengan mengetahui kapan harus bersyukur, kapan boleh merayakan, dan kapan mesti kembali bekerja. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.