Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Di Bali, Ian Belum Pergi

Oleh Nyoman Sukadana • 18 Juli 2026 • 13:01:00 WITA

Di Bali, Ian Belum Pergi
Regina King menerima penghargaan sebagai Best Supporting Actress untuk film “If Beale Street Could Talk” di Oscar 2019. (Foto: REUTERS/Mike Blake)

REGINA King masih dapat mencium Bali.

Hampir seperempat abad berlalu sejak ia datang ke pulau ini pada 2002. Banyak hal tentu telah berubah. Jalan bertambah padat. Hotel berdiri di tempat yang dahulu mungkin berupa kebun. Pantai dipenuhi kursi, payung, papan selancar, dan telepon genggam yang terus diarahkan ke laut.

Namun, Bali yang tersimpan dalam ingatan Regina tidak datang sebagai gambar.

Ia datang sebagai aroma.

Bau pantai. Asap tempurung kelapa. Ikan segar yang dipilih, kemudian dipanggang dan dimakan bersama keluarga. Sampai sekarang, Regina mengaku belum menemukan ikan yang mampu menandingi rasa ikan yang pernah dinikmatinya di Bali.

Ingatan memang tidak selalu patuh kepada sesuatu yang dianggap penting. Nama hotel dapat hilang. Susunan perjalanan terlupakan. Foto terselip entah di mana. Sebaliknya, aroma yang sempat tercium beberapa detik justru bertahan puluhan tahun.

Ia muncul kembali tanpa diundang.

Cerita itu disampaikan Regina dalam forum Travel + Leisure World’s Best Summit pada 15 Juli 2026. Ketika ditanya tentang perjalanan yang paling mengubah hidupnya, aktris dan sutradara peraih Oscar tersebut tidak menyebut Paris, London, atau kota besar lain yang dekat dengan dunia perfilman.

Jawabannya: Bali.

Perjalanan pada 2002 itu menjadi perjalanan besar pertama yang direncanakannya sendiri sebagai seorang ibu. Ia mengatur semuanya, membawa keluarganya menyeberangi dunia, lalu menemukan kehidupan yang berbeda dari keseharian mereka di Amerika Serikat.

Regina melihat orang-orang Bali bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup. Kesenian tidak berdiri sebagai tontonan yang hanya muncul di panggung. Ia melekat dalam keseharian. Orang dapat menyanyi, menari, menggambar, atau membuat sesuatu dengan tangannya.

Kehidupan juga berjalan bersama ritual.

Pagi dimulai dengan doa. Sesaji diletakkan di berbagai sudut. Kesibukan sejenak memberi ruang kepada rasa syukur. Regina dan keluarganya kemudian ikut membangun kebiasaan kecil selama tinggal di Bali. Mereka berdoa setiap pagi dan menciptakan ritual berdasarkan kehidupan yang disaksikan di sekitar mereka.

Bali tidak berhenti sebagai pemandangan. Pulau ini masuk ke dalam cara mereka menjalani hari.

Regina tidak menyebut satu per satu anggota keluarganya yang ikut dalam perjalanan itu. Ia hanya menyebut pengalaman tersebut sebagai perjalanan keluarga dan bagian penting dari hidupnya sebagai seorang ibu.

Namun, satu hal dapat dipastikan. Ketika Regina datang ke Bali pada 2002, putra tunggalnya, Ian Alexander Jr, masih berusia enam tahun.

Masa itu adalah masa ketika Ian masih kecil. Jauh sebelum ia tumbuh menjadi musisi dan DJ dengan nama panggung Desduné. Jauh sebelum ibunya harus berhadapan dengan kehilangan yang tidak pernah terbayangkan.

Ian meninggal akibat bunuh diri pada Januari 2022, beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-26.

Kematian itu tidak datang tanpa upaya panjang untuk menolongnya. Regina mengatakan Ian menghadapi persoalan kesehatan mental. Mereka telah mencoba terapi, mendatangi psikiater, serta mengikuti berbagai program pendampingan.

Namun, depresi tidak selalu mudah dikenali, bahkan oleh orang yang hidup sangat dekat dengan penderitanya.

Dari luar, seseorang dapat tersenyum, bekerja, bercanda, menciptakan musik, dan terlihat baik-baik saja. Pergulatan yang paling berat sering berlangsung di tempat yang tidak terlihat. Ia tidak selalu memiliki wajah murung. Tidak selalu hadir sebagai tangisan.

Regina memahami hal itu dengan harga yang sangat mahal.

Selama sekitar dua tahun setelah kematian Ian, ia menjauh dari ruang publik. Ketika akhirnya berbicara pada 2024, Regina tidak membawa kisah tentang keberhasilannya menaklukkan kesedihan. Ia justru mengakui telah menjadi orang yang berbeda.

Duka, katanya, adalah sebuah perjalanan.

Ia pernah marah kepada Tuhan. Ia juga bergulat dengan pertanyaan yang menghantui banyak orang tua setelah kehilangan anak: adakah sesuatu yang seharusnya masih dapat dilakukan?

Pertanyaan itu terus hidup karena cinta seorang ibu tidak berhenti ketika anaknya meninggal. Cinta tersebut tetap ada, sedangkan tubuh yang dahulu menjadi tujuannya sudah tidak dapat dipeluk.

Manusia kemudian mencari tempat baru untuk menampung cinta itu.

Sebagian orang menyimpan pakaian milik mereka yang telah meninggal. Sebagian mempertahankan nomor telepon yang tidak akan pernah lagi menjawab. Ada yang masih memasak makanan kesukaan orang yang telah pergi. Ada pula yang kembali mendatangi tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi bersama.

Benda, makanan, dan tempat tidak dapat menghidupkan seseorang. Namun, semuanya dapat menjaga hubungan agar tidak benar-benar terputus.

Regina memilih salah satu jalannya melalui MianU, merek anggur yang dibuat untuk menghormati Ian.

Nama itu terdengar seperti me and you, aku dan kamu. Di dalamnya juga tersimpan nama Ian. Putranya pernah memperkenalkan Regina kepada anggur jingga. Kenangan kecil itulah yang kemudian tumbuh menjadi usaha untuk menciptakan pengalaman baru bersama Ian, meskipun hubungan mereka kini berlangsung dalam bentuk yang berbeda.

Regina masih membicarakan putranya dalam bentuk waktu sekarang.

Ian bukan sekadar seseorang yang pernah ada. Baginya, Ian tetap hadir. Melalui berbagai kebetulan kecil, perasaan tertentu, atau kejadian yang mengingatkannya kepada sang anak, Regina menemukan apa yang disebutnya sebagai Ian-spirations.

Ia juga percaya seseorang benar-benar pergi ketika namanya tidak lagi disebut.

MianU membuat nama Ian terus diucapkan. Orang membaca nama pada botol, menanyakan artinya, lalu mendengarkan cerita tentang seorang anak yang menyukai musik, makanan, anggur, dan pertemuan dengan manusia lain.

Cerita tentang Bali memperoleh bobot berbeda ketika ditempatkan di samping kehilangan tersebut.

Saat Regina mengingat pantai, doa pagi, ikan bakar, dan asap tempurung kelapa, ia sedang kembali ke sebuah masa ketika Ian masih kecil. Masa depan masih terbentang panjang. Belum ada Januari 2022. Belum ada wawancara tentang depresi, terapi, rasa bersalah, dan kemarahan kepada Tuhan.

Bali menyimpan Regina sebagai seorang ibu muda yang sedang merancang perjalanan besar untuk keluarganya.

Pulau ini juga menyimpan sebuah masa ketika keluarga tersebut masih lengkap.

Mungkin itulah sebabnya belum ada perjalanan lain yang dapat mengalahkan Bali.

Keistimewaan perjalanan tersebut tidak hanya terletak pada pantai, kesenian, atau ikan yang dipanggang di atas tempurung kelapa. Perjalanan itu tidak mungkin diulang dengan susunan waktu dan manusia yang sama.

Regina dapat kembali ke Bali. Ia mungkin dapat mencari pantai yang dahulu dikunjunginya. Ia dapat memesan ikan, menunggu bara menyala, lalu mencium aroma tempurung kelapa yang terbakar.

Namun, kepulangan itu tidak akan pernah menjadi perjalanan yang sama.

Waktu tidak membawa pulang seluruh penumpangnya.

Setiap manusia memiliki tempat semacam itu. Rumah yang telah dijual. Warung yang sudah tutup. Sebuah jalan kecil. Kota yang pernah dikunjungi bersama seseorang. Tempat tersebut mungkin masih dapat ditemukan dalam peta, tetapi kehidupan yang pernah berlangsung di dalamnya tidak dapat diulang.

Nilai sebuah tempat akhirnya tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam atau kemegahan bangunannya. Nilainya tumbuh dari orang yang pernah berada di sana bersama kita.

Pariwisata modern menjual perjalanan sebagai kumpulan objek yang harus dilihat. Orang datang membawa daftar tempat, restoran, hotel, dan sudut yang dianggap pantas dipotret. Perjalanan kemudian selesai ketika seluruh gambar berhasil disimpan dalam telepon genggam.

Kisah Regina menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Perjalanan yang bertahan paling lama bukan selalu perjalanan dengan foto terbaik. Ia bertahan karena pernah menjadi bagian dari kehidupan yang tidak dapat kembali. Kamera hanya merekam permukaan. Ingatan menyimpan suara, rasa, kehilangan, bahkan aroma asap yang telah lenyap puluhan tahun lalu.

Bali dalam kenangan Regina akhirnya bukan sekadar tujuan wisata.

Pulau ini menjadi ruang penyimpanan waktu.

Pada salah satu ruang itu, seorang ibu sedang bepergian bersama keluarganya. Masa depan belum retak. Kesedihan belum mempunyai nama. Mereka memilih ikan, menunggu bara tempurung kelapa, lalu duduk bersama menikmati makanan.

Hampir seperempat abad kemudian, Regina masih dapat mencium asapnya.

Di dalam aroma itulah Bali bertahan.

Di sana pula, Ian belum sepenuhnya pergi. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.