Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Sebelas Bukan Satu

Oleh Nyoman Sukadana • 18 Juli 2026 • 09:18:00 WITA

Sebelas Bukan Satu
ILUSTRASI seorang pemain berada dalam sorotan, sementara sepuluh rekannya membentuk sistem yang menegaskan sepak bola lahir dari kerja kolektif bersama. (AI/Podiumnews)

KAMERA selalu mudah menemukan Lamine Yamal. Ketika bola bergerak ke sisi kanan, perhatian penonton ikut bergeser kepadanya. Orang menunggu gerak tipu, umpan mematikan, atau tembakan melengkung dari kaki kirinya.

Namun, dua gol yang membawa Spanyol mengalahkan Prancis pada semifinal Piala Dunia 2026 justru dicetak Mikel Oyarzabal dan Pedro Porro. Seorang penyerang menjalankan tugasnya. Seorang bek kanan datang dari belakang dan menuntaskan serangan. Yamal tetap penting, tetapi kemenangan 2-0 itu lahir dari pekerjaan seluruh kesebelasan.

Hasil tersebut membawa Spanyol ke final Piala Dunia untuk kedua kalinya. Mereka akan menghadapi Argentina di New York New Jersey Stadium, Minggu, 19 Juli 2026 waktu setempat, atau Senin dini hari waktu Indonesia tengah. Spanyol memburu gelar dunia kedua setelah kemenangan atas Belanda pada final 2010.

Sid Lowe dari The Guardian melihat kekuatan Spanyol dalam kolektivitas dan kontrol. Pada turnamen yang dipenuhi bintang besar, tim Luis de la Fuente tidak menggantungkan nasib kepada satu manusia. Rodri mengatur irama. Para gelandang membuka jalur umpan. Bek sayap membaca ruang. Penyerang bergerak untuk menarik penjagaan.

Yamal memperoleh kebebasan karena pemain lain menjaga bentuk permainan.

Sistem itu tidak lahir menjelang Piala Dunia.

De la Fuente mulai bekerja di lingkungan Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol pada 2013. Ia memimpin Spanyol menjuarai Piala Eropa U-19 pada 2015 dan Piala Eropa U-21 pada 2019. Ia juga menangani tim Olimpiade yang meraih medali perak di Tokyo sebelum dipercaya memimpin tim senior pada Desember 2022.

Bersama tim utama, De la Fuente memenangi Liga Negara UEFA 2023 dan Piala Eropa 2024. Gelar terakhir menjadikan Spanyol negara pertama yang empat kali menjuarai Piala Eropa setelah keberhasilan pada 1964, 2008, dan 2012. Kini, ia membawa La Roja kembali ke final Piala Dunia.

Urutan itu penting.

De la Fuente tidak datang sebagai orang luar yang mendadak diminta memperbaiki tim dalam beberapa pertandingan. Ia tumbuh di dalam sistem. Banyak pemain telah dikenalnya sejak kelompok umur. Ia memahami jalur pembinaan, karakter pemain, dan bahasa permainan yang dipelihara federasi.

Spanyol hari ini memang tidak sama dengan generasi Xavi Hernández, Andrés Iniesta, dan Sergio Busquets yang memenangi Piala Dunia 2010. Permainannya lebih cepat dan langsung. Ruang bagi pemain sayap juga lebih besar.

Namun, dasarnya masih terbaca. Pemain harus nyaman menguasai bola, cerdas mencari ruang, tenang ketika ditekan, dan mampu mengambil keputusan dalam waktu singkat.

Prestasi mereka tidak berhenti pada satu generasi. Spanyol menjadi juara Eropa pada 2008 dan 2012, juara dunia pada 2010, juara Liga Negara UEFA pada 2023, juara Eropa lagi pada 2024, lalu mencapai final Piala Dunia 2026.

Nama pemain berganti. Pelatih berubah. Garis pembinaannya tetap tersambung.

Indonesia memiliki kebiasaan berbeda.

Kita lebih mudah menaruh seluruh harapan kepada figur. Seorang pelatih datang dengan reputasi besar, lalu diperlakukan sebagai jawaban. Seorang pemain diaspora bergabung, segera dibebani harapan memperbaiki seluruh kekurangan tim. Ketua federasi ditempatkan di tengah pujian ketika menang dan kemarahan ketika kalah.

Perjalanan menuju Piala Dunia 2026 memperlihatkan kemajuan sekaligus kelemahan tersebut.

Pada Juni 2024, Indonesia mengalahkan Filipina 2-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Gol Thom Haye dan Rizky Ridho membawa Indonesia untuk pertama kalinya lolos ke putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia.

Setahun kemudian, kemenangan 1-0 atas China melalui penalti Ole Romenij memastikan Indonesia maju ke babak berikutnya. Tim Garuda akhirnya mencapai putaran keempat, pencapaian terjauh Indonesia dalam kualifikasi Piala Dunia sejak kemerdekaan.

Pemain diaspora ikut menaikkan mutu tim. Mereka membawa pengalaman kompetisi Eropa, ketenangan menguasai bola, pemahaman ruang, dan kebiasaan bermain dalam organisasi yang lebih tertata.

Namun, perjalanan itu juga memperlihatkan ketergantungan Indonesia kepada pergantian tokoh.

Shin Tae-yong digantikan Patrick Kluivert pada Januari 2025, ketika Indonesia masih memiliki peluang melaju. Kluivert datang dengan nama besar sebagai mantan pemain Ajax, AC Milan, dan Barcelona. Setelah Indonesia gagal lolos dari putaran keempat pada Oktober 2025, kerja sama dengannya berakhir.

John Herdman kemudian ditunjuk pada Januari 2026. Ia pernah membawa Kanada tampil di Piala Dunia 2022, penampilan pertama negara itu dalam 36 tahun. Dalam waktu sekitar satu tahun, tim nasional Indonesia bekerja di bawah tiga pelatih dengan latar dan gagasan permainan berbeda.

Setiap pergantian tentu memiliki alasan. Shin membawa Indonesia menembus putaran ketiga. Kluivert dianggap mampu menjalin komunikasi dengan para pemain yang tumbuh di Belanda. Herdman memiliki pengalaman membangun tim nasional menuju Piala Dunia.

Namun, rangkaian itu juga menunjukkan betapa sepak bola Indonesia masih suka memulai cerita dari nama baru.

Pelatih datang bersama harapan baru. Istilah baru diperkenalkan. Target kembali diumumkan. Publik diminta percaya bahwa kali ini perjalanan akan berbeda.

Padahal pelatih tim nasional hanya memiliki pemain beberapa hari menjelang pertandingan internasional. Sehebat apa pun kemampuannya, ia bekerja dengan hasil pendidikan klub, akademi, kompetisi kelompok umur, dan pelatih-pelatih sebelumnya.

Tim nasional bukan tempat memulai pembangunan. Ia merupakan ujung dari pekerjaan panjang.

Indonesia tidak kekurangan bakat. Pemain muncul dari sekolah sepak bola, klub daerah, akademi profesional, dan keluarga diaspora yang hidup jauh dari tanah leluhurnya. Masalahnya adalah bagaimana menyatukan semua jalur tersebut ke dalam tujuan yang sama.

Pemain diaspora juga harus ditempatkan dalam rancangan yang lebih luas. Pengalaman mereka jangan hanya digunakan dalam pertandingan tim nasional. Standar latihan, pemahaman taktik, perawatan tubuh, dan kebiasaan profesional yang mereka bawa perlu memperkaya pemain muda serta akademi Indonesia.

Pelatih asing pun mesti meninggalkan lebih banyak daripada daftar kemenangan. Metode latihan, analisis pertandingan, dan pengetahuannya perlu diteruskan kepada pelatih lokal. Ketika kontraknya selesai, sebagian ilmu tetap tinggal.

Indonesia tidak harus meniru cara bermain Spanyol. Kondisi kompetisi, budaya, iklim, dan karakter pemain kita berbeda. Menyalin permainan Spanyol secara mentah hanya akan menghasilkan pakaian taktik yang tidak sesuai ukuran.

Yang layak dipelajari adalah kesinambungannya.

Spanyol menentukan jenis pemain yang ingin dibentuk, merawatnya sejak kelompok umur, lalu menyediakan jalan menuju tim senior. De la Fuente mengenal sistem itu karena tumbuh bersamanya. Yamal dapat menjadi istimewa karena sepuluh pemain lain memahami apa yang harus dilakukan ketika bola berada di kakinya.

Pemain hebat memang mampu menentukan pertandingan melalui satu gerakan. Satu tembakan dapat mengubah skor. Satu umpan dapat menentukan siapa yang mengangkat piala.

Namun, satu pemain hanya mampu mengubah sebuah malam.

Untuk mengubah sejarah sepak bola, sebuah negara membutuhkan sebelas pemain yang saling memahami, puluhan pelatih yang bekerja menuju arah yang sama, ratusan klub yang serius mendidik, dan federasi yang tidak mengubah tujuan setiap kali hasil mengecewakan.

Sepak bola dapat dimenangkan oleh satu gol.

Ia dibangun oleh lebih dari satu orang. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.