Bola Darah Campuran
SPANYOL dan Argentina akan bertemu pada final Piala Dunia 2026 di New York New Jersey Stadium, Minggu, 19 Juli 2026 waktu setempat, atau Senin dini hari pukul 03.00 WITA. Pertandingan itu mempertemukan juara Eropa dengan juara bertahan dunia. Namun, hubungan keduanya jauh lebih panjang daripada usia turnamen ini.
Argentina pernah membantu membentuk sepak bola Spanyol. Spanyol kemudian menjadi rumah bagi sejumlah pemain terbesar Argentina. Pada final nanti, Lionel Messi akan menghadapi negeri tempat bakatnya dibesarkan sejak berusia 13 tahun.
Spanyol datang ke final dengan membawa prestasi yang tidak kecil. La Roja menjuarai Piala Dunia 2010, memegang rekor empat gelar Piala Eropa pada 1964, 2008, 2012, dan 2024, serta memenangi UEFA Nations League 2023. Kemenangan 2-0 atas Prancis di semifinal membawa Spanyol ke final Piala Dunia untuk kedua kalinya dan membuka kemungkinan menambah bintang kedua di atas lambang federasi.
Keberhasilan itu mudah dianggap sebagai hasil kerja sekolah sepak bola Spanyol semata. La Masia milik Barcelona, akademi Real Madrid, dan pembinaan klub-klub Basque memang memainkan peran besar. Namun, sepak bola Spanyol tidak tumbuh di ruang tertutup. Ia dibentuk pula oleh pemain, pelatih, gagasan, bahkan kosakata yang datang dari luar.
Hubungan dengan Argentina sudah berlangsung hampir satu abad.
Ketika Perang Saudara Spanyol berkecamuk pada akhir 1930-an, tim nasional Euskadi berkeliling ke luar negeri untuk mengumpulkan dana bagi Republik. Sejumlah pemain tidak pulang setelah Francisco Franco berkuasa. Salah satunya Isidro Lángara, penyerang Real Oviedo yang kemudian bergabung dengan San Lorenzo di Argentina pada 1939.
El País mencatat Lángara mencetak 110 gol dalam 121 pertandingan selama empat musim bersama San Lorenzo. Seorang pemain Spanyol yang terusir oleh perang menemukan hidup baru di Argentina. Beberapa tahun kemudian, arus pengaruh bergerak ke arah sebaliknya.
San Lorenzo melakukan tur ke Spanyol pada 1946. Saat itu, sepak bola Spanyol masih lekat dengan umpan panjang dan pertarungan fisik. San Lorenzo datang dengan operan pendek, pergerakan segitiga, dan sentuhan bola yang lebih halus. Penampilan mereka di Madrid, Bilbao, dan Barcelona memperlihatkan cara lain memperlakukan bola.
Pertandingan persahabatan melawan Athletic Bilbao di Stadion San Mamés berakhir 3-3. Namun, hasil bukan hal terpenting dari tur tersebut. Permainan kolektif San Lorenzo membuat publik Spanyol mengenal sepak bola yang dibangun melalui ketepatan operan dan pergerakan antarpemain.
Hubungan itu semakin kuat ketika Alfredo Di Stéfano tiba di Real Madrid pada 1953. Pemain kelahiran Buenos Aires tersebut bukan penyerang yang hanya menunggu umpan di depan gawang. Ia turun menjemput bola, membantu pertahanan, mengatur serangan, lalu muncul kembali di daerah lawan.
Bersama Di Stéfano, Real Madrid memenangi lima Piala Champions Eropa secara beruntun dan delapan gelar liga. Ia tidak sekadar menjadi pemain asing yang berhasil. Di Stéfano ikut mengubah Real Madrid menjadi kekuatan utama Eropa dan memberi contoh baru tentang pemain yang mampu bekerja di hampir seluruh wilayah lapangan.
Jejak Argentina terus datang. Mario Kempes menjadi pujaan Valencia setelah bergabung pada 1976. Diego Maradona tiba di Barcelona pada 1982 dengan nilai transfer yang ketika itu menjadi rekor dunia. Jorge Valdano, Diego Simeone, César Luis Menotti, Carlos Bilardo, dan banyak nama lain memenuhi klub, ruang ganti, bangku pelatih, serta perdebatan sepak bola Spanyol.
Pengaruh itu masuk hingga ke bahasa. Istilah seperti achique, caño, dan gambetear menyeberang ke percakapan sepak bola Spanyol. Perdebatan antara Menottisme dan Bilardisme juga ikut hidup di sana: sepak bola menyerang melawan pragmatisme, keindahan permainan berhadapan dengan tuntutan kemenangan.
Kemudian datang Messi.
Ia lahir di Rosario, memulai sepak bola bersama Newell’s Old Boys, lalu menyeberangi Atlantik pada 2000. Barcelona menerima Messi sebagai anak 13 tahun. La Masia membentuk teknik, pemahaman ruang, dan kebiasaan bermainnya sampai ia menjadi simbol terbesar klub tersebut.
Tubuh dan ingatan masa kecilnya berasal dari Argentina. Pendidikan sepak bola dewasanya tumbuh di Spanyol. Dalam diri Messi, dua sejarah itu bertemu tanpa harus saling meniadakan.
Itulah sebabnya final Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertemuan dua negara. Ia seperti pertandingan antara dua cabang dari pohon yang akarnya telah lama bersinggungan. Spanyol menerima pengaruh Argentina, mengolahnya, lalu memasukkannya ke dalam tradisi sendiri. Argentina juga menerima kembali pemain dan gagasan yang berkembang di Eropa.
Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa identitas sepak bola tidak lahir dari kemurnian. Ia tumbuh melalui perpindahan manusia. Bersama pemain dan pelatih, ikut berpindah cara berlatih, disiplin, gagasan taktik, dan kebiasaan profesional.
Indonesia sedang menjalani proses serupa melalui pemain diaspora, terutama mereka yang lahir dan tumbuh dalam sistem sepak bola Belanda.
Hubungan itu tidak muncul tanpa sejarah. Kolonialisme meninggalkan keluarga berdarah Indonesia di Belanda. Beberapa generasi kemudian, anak dan cucu mereka memilih membela Garuda. Reuters mencatat Indonesia telah menaturalisasi lebih dari selusin pemain kelahiran Belanda dalam upaya mengejar tiket Piala Dunia 2026.
Hasilnya terlihat. Indonesia mencapai putaran keempat kualifikasi zona Asia untuk pertama kalinya. Itu menjadi pencapaian terjauh tim nasional Indonesia dalam kualifikasi Piala Dunia sejak kemerdekaan. Perjalanan tersebut akhirnya berhenti pada Oktober 2025, tetapi pemain diaspora telah menaikkan kualitas dan persaingan di dalam tim nasional.
Perdebatan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah mereka cukup Indonesia. Garis keturunan telah diperiksa, proses kewarganegaraan dijalankan, dan pilihan membela negara sudah dibuat. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang tersisa bagi sepak bola Indonesia dari kehadiran mereka.
Spanyol tidak sekadar memakai kaki Di Stéfano, Kempes, Maradona, atau Messi. Klub-klubnya menyerap pengetahuan, metode, bahasa, dan perdebatan yang mereka bawa. Pengaruh asing bertemu dengan tradisi lokal, kemudian berkembang menjadi kekayaan baru.
Indonesia juga perlu bergerak ke sana. Pemain diaspora jangan hanya dipanggil untuk dua pertandingan, lalu kembali ke klub masing-masing. Pengalaman mereka dapat masuk ke klinik pemain muda, pendidikan pelatih, pengelolaan kebugaran, analisis pertandingan, dan pembentukan standar profesional di akademi.
PSSI dan klub-klub juga perlu merancang pemindahan pengetahuan secara terukur. Pemain diaspora dapat dilibatkan dalam pelatihan usia muda ketika berada di Indonesia. Pelatih tim nasional bisa membagikan metode kepada pelatih klub. Standar kebugaran dan analisis pertandingan dapat diterapkan secara bertahap dalam kompetisi domestik.
Tanpa proses tersebut, Indonesia hanya meminjam tenaga yang dibentuk negara lain. Tim nasional mungkin menjadi lebih kuat, tetapi fondasi di bawahnya tidak ikut berubah.
Naturalisasi akan menjadi jalan pintas apabila berhenti pada paspor. Ia dapat menjadi jembatan apabila ilmu yang datang bersama pemain ikut dipindahkan.
Final di New Jersey akan menghasilkan satu juara. Namun, siapa pun yang mengangkat piala, Spanyol dan Argentina telah lama hidup dalam sejarah sepak bola satu sama lain.
Bola memang berpindah dari kaki ke kaki.
Begitu pula pengetahuan. (*)
Menot Sukadana