Darah dari Dua Negeri
JUAN Manuel Posada meninggalkan Asturias menuju Argentina pada 1968. Usianya baru 17 tahun. Ia kemudian menetap, bekerja, membangun keluarga, dan menua di Buenos Aires.
Argentina memberinya kehidupan. Namun, darah Spanyol tidak pernah benar-benar pergi.
Ketika Spanyol dan Argentina bertemu pada final Piala Dunia 2026, Posada menghadapi kebimbangan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan memilih warna seragam. Ia mencintai tanah kelahirannya. Pada saat yang sama, ia telah menjadi bagian dari negeri yang menerima dan membesarkan keluarganya.
Associated Press menemukan kegamangan serupa di antara warga Spanyol yang lama menetap di Argentina. Manuel Fernández Acevedo, perantau asal Galicia, mengakui memiliki kasih sayang kepada kedua negara. Mereka mungkin memilih satu tim ketika pertandingan dimulai, tetapi tidak sungguh-sungguh sanggup melihat pihak lain sebagai musuh.
Final itu mempertemukan dua negeri yang telah lama bertukar manusia.
Gelombang migrasi dari Spanyol ikut membentuk Argentina. Buenos Aires dihuni keluarga-keluarga yang membawa nama, makanan, bahasa, dan ingatan dari Galicia, Asturias, Basque, Catalonia, serta wilayah lain di Semenanjung Iberia. Perjalanan sebaliknya juga terjadi. Banyak orang Argentina kemudian menetap di Madrid, Barcelona, Málaga, dan kota-kota Spanyol lainnya.
Darah berpindah melalui kapal, perkawinan, pengasingan, pekerjaan, dan pencarian hidup yang lebih baik. Bersamanya ikut berpindah kebiasaan, bahasa, musik, serta sepak bola.
Alfredo Di Stéfano lahir di Buenos Aires, tetapi menjadi legenda Real Madrid. Lionel Messi tumbuh di Rosario, lalu menyeberangi Atlantik ketika berusia 13 tahun untuk bergabung dengan akademi Barcelona.
Messi tetaplah manusia Argentina. Ia membela tanah kelahirannya dan membawa negeri itu menjuarai Piala Dunia 2022. Namun, sebagian besar pendidikan sepak bolanya berlangsung di Spanyol. La Masia membentuk caranya membaca ruang, bergerak di antara pemain lawan, dan memperlakukan bola.
Pada final Piala Dunia 2026, Messi menghadapi negeri tempat kejeniusannya dibesarkan.
Laga itu sulit dipahami sebagai pertemuan dua dunia yang sepenuhnya terpisah. Spanyol dan Argentina sudah terlalu lama mengalir dalam sejarah satu sama lain. Ada darah Argentina dalam sepak bola Spanyol. Ada jejak Spanyol dalam keluarga dan budaya Argentina.
Sepak bola hanya membuat hubungan itu tampak lebih terang.
Selama 90 menit, stadion meminta orang memilih satu pihak. Merah-kuning atau biru-putih. Spanyol atau Argentina. Namun, kehidupan tidak selalu bekerja dengan garis pembatas setegas papan skor.
Seseorang dapat memiliki darah dari satu negeri dan kehidupan dari negeri lain. Ia dapat lahir di satu tempat, tumbuh di tempat berbeda, kemudian mewarisi cerita tentang tanah yang hanya dikenalnya melalui orang tua atau kakek-nenek.
Garis keturunan memang menghubungkan manusia dengan masa lalu. Namun, darah tidak otomatis menentukan seluruh identitas. Rasa memiliki juga tumbuh dari pengalaman, bahasa, pergaulan, pendidikan, dan pilihan hidup.
Persoalan serupa kini berada di tengah sepak bola Indonesia.
Jay Idzes lahir dan dibesarkan di Belanda. Pendidikan sepak bolanya berlangsung di negeri itu. Ia belajar membaca permainan, menjaga garis pertahanan, dan menghadapi tekanan melalui akademi serta kompetisi Eropa.
Namun, dalam tubuhnya mengalir garis keluarga Indonesia.
Hubungan itulah yang membuka jalan bagi Idzes untuk mengenakan seragam Garuda. Ia kemudian dipercaya menjadi kapten tim nasional. Ketika memimpin pemain Indonesia masuk ke lapangan, ia tidak sedang menyangkal Belanda sebagai tempat kelahirannya. Ia sedang menerima bagian lain dari sejarah keluarganya.
Belanda membentuk kehidupannya. Indonesia hidup dalam garis keturunannya. Dua kenyataan tersebut tidak harus saling membatalkan.
Cerita yang lebih jelas terlihat dalam keluarga Reijnders.
Tijjani dan Eliano Reijnders lahir dari orang tua yang sama. Ibu mereka memiliki darah Maluku. Tijjani memilih membela Belanda, sedangkan Eliano mengenakan seragam Indonesia.
Dua saudara kandung dapat berdiri di bawah bendera berbeda. Mereka menyanyikan lagu kebangsaan yang berbeda dalam pertandingan internasional, tetapi tetap pulang kepada keluarga yang sama.
Pilihan itu tidak berarti salah seorang lebih mencintai darah leluhurnya. Kesempatan bermain, perjalanan karier, pengalaman pribadi, serta hubungan emosional ikut menentukan. Keturunan menyediakan kemungkinan. Keputusan membuatnya hidup.
Karena itu, darah tidak seharusnya dijadikan satu-satunya alat untuk mengukur nasionalisme.
Pemain diaspora memang memiliki garis keluarga Indonesia. Namun, ikatan mereka kepada tim nasional tidak cukup dibuktikan melalui silsilah. Ia harus terlihat melalui kesungguhan berlatih, penghormatan kepada rekan setim, kemauan memahami negeri yang dibela, dan tanggung jawab ketika mengenakan lambang Garuda.
Paspor memberi status. Darah memberi hubungan. Keterlibatan memberi makna.
Di sisi lain, publik juga tidak seharusnya terus-menerus menuntut pemain diaspora menghapus negeri tempat mereka tumbuh. Mereka tidak perlu berpura-pura bahwa Belanda bukan bagian penting dari kehidupannya agar dianggap cukup Indonesia.
Manusia dapat membawa dua sejarah dalam satu tubuh.
Indonesia sendiri dibangun oleh banyak darah, bahasa, dan kebudayaan. Seseorang dapat menjadi manusia Maluku sekaligus Indonesia. Ia bisa tumbuh sebagai orang Bali, Jawa, Papua, Bugis, Sunda, Batak, atau Minahasa tanpa kehilangan ikatannya kepada Merah Putih.
Kebangsaan bukan proses menghapus asal-usul. Ia merupakan kesediaan berbagai asal untuk hidup dalam tujuan bersama.
Suporter menjalani bentuk kesetiaan berlapis yang sama.
Seseorang dapat mencintai Barcelona sejak kecil, tetapi tetap merasa lebih gugup ketika Indonesia bermain. Pendukung Persib, Persija, Persebaya, Arema, Bali United, atau PSM dapat bersitegang sepanjang kompetisi domestik. Ketika tim nasional turun ke lapangan, warna klub disimpan sementara.
Mereka tidak kehilangan kesetiaan lama. Mereka hanya memasuki ruang kesetiaan yang lain.
Klub kampung, klub luar negeri, daerah asal, dan tim nasional memiliki tempat masing-masing dalam kehidupan manusia. Hati tidak bekerja seperti lemari yang hanya menyediakan satu ruang.
Kehadiran pemain diaspora ikut mengangkat kualitas tim nasional Indonesia. Tim Garuda mencapai putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, perjalanan terbaik sejak kemerdekaan, meskipun akhirnya gagal menembus putaran final.
Kerangka tim itu mempertemukan pemain yang tumbuh di akademi Indonesia dengan pemain yang dibentuk di Belanda. Mereka datang dari jalur berbeda, berbicara dengan logat berbeda, dan memiliki pengalaman hidup yang tidak sama.
Namun, ketika pertandingan dimulai, seluruh perbedaan itu harus tunduk kepada satu seragam.
Final Spanyol melawan Argentina mengingatkan bahwa sepak bola tidak selalu memisahkan manusia menjadi dua kelompok yang saling membenci. Bagi keluarga yang darah dan hidupnya terbagi antara Madrid dan Buenos Aires, kemenangan satu tim mungkin datang bersama kesedihan kecil untuk tim lainnya.
Sepak bola memang meminta pilihan selama pertandingan.
Namun, setelah peluit panjang berbunyi, darah kembali menceritakan hubungan yang lebih panjang daripada skor.
Seseorang dapat lahir dari dua sejarah.
Mencintai dua negeri.
Dan tetap utuh sebagai satu manusia. (*)
Menot Sukadana