Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Industri Menolak Tua

Oleh Nyoman Sukadana • 21 Juli 2026 • 21:42:00 WITA

Industri Menolak Tua
ILUSTRASI perempuan paruh baya dengan antarmuka digital yang mengukur usia biologis, kesehatan, dan tubuh manusia sebagai proyek modern tanpa akhir. (AI/Podiumnews)

UMUR kini dapat datang sebagai angka kedua.

Angka pertama tertulis di kartu tanda penduduk. Angka kedua muncul setelah pemeriksaan darah, komposisi lemak, massa otot, kualitas tidur, metabolisme, dan sejumlah penanda lain yang sebelumnya tidak banyak dikenal orang. Namanya usia biologis.

Seseorang berumur 45 tahun mungkin diberi tahu bahwa tubuhnya telah berusia 51 tahun.

Ia datang tanpa penyakit berat. Masih bekerja. Masih sanggup berjalan jauh. Masih dapat mengurus keluarga. Namun, enam tahun tambahan dalam hasil pemeriksaan itu cukup untuk membuat tubuhnya terasa bermasalah.

Konsultasi pun dimulai. Lemak harus diturunkan. Massa otot perlu ditambah. Tidur mesti diperbaiki. Pola makan diatur. Suplemen ditawarkan. Pemeriksaan dijadwalkan kembali beberapa bulan kemudian.

Tubuh yang semula dirasakan dari dalam kini dibaca dari tabel.

Usia biologis tentu dapat membantu melihat risiko kesehatan. Pemeriksaan juga berguna untuk mencegah penyakit lebih awal. Kesulitan muncul ketika angka-angka tersebut bergerak keluar dari ruang medis dan berubah menjadi ukuran keberhasilan hidup.

Orang tidak hanya ingin sehat. Mereka ingin memiliki tubuh yang lebih muda daripada umur sebenarnya.

Keinginan itu melahirkan pasar yang luas. Krim, serum, kolagen, terapi hormon, infus vitamin, pelacak tidur, program pembentukan otot, pemeriksaan metabolik, serta berbagai paket peremajaan menawarkan satu janji yang serupa: waktu mungkin terus berjalan, tetapi jejaknya dapat ditahan.

Bahasa anti-aging belakangan terdengar terlalu kasar. Ia seperti menyatakan perang terbuka terhadap usia. Industri kemudian memilih istilah yang lebih halus: longevity, regenerasi, vitalitas, kesehatan sel, optimalisasi hormon, dan penuaan sehat.

Istilahnya terasa ilmiah dan menenangkan. Namun, iklan yang menyertainya tetap sering menampilkan wajah tanpa kerut, tubuh ramping, rambut tebal, serta manusia berusia matang yang tampak jauh lebih muda daripada umur sebenarnya.

Sehat belum cukup apabila usia masih terlihat.

Indonesia sebenarnya telah lama mengenal perawatan tubuh. Jamu diminum untuk menjaga kebugaran. Lulur, pijat, boreh, dan berbagai ramuan digunakan untuk memulihkan tenaga atau merawat kulit. Tubuh dirawat agar tetap nyaman dijalani.

Industri modern memperkenalkan hubungan yang berbeda. Tubuh tidak hanya dirawat. Ia diaudit.

Tidur diberi skor. Langkah dihitung. Detak jantung dipantau. Lemak tubuh ditampilkan dalam persentase. Kalori yang masuk dicatat. Wajah dipindai untuk menemukan pigmentasi, kerutan halus, serta penurunan elastisitas yang belum tentu terlihat oleh mata.

Setiap angka melahirkan target. Setiap target yang tercapai membuka target berikutnya.

Hampir setengah abad lalu, Ivan Illich telah mengingatkan tentang kecenderungan serupa. Illich adalah pemikir sosial kelahiran Austria yang banyak mengkritik cara lembaga modern mengambil alih pengalaman sehari-hari manusia. Dalam bukunya Medical Nemesis, ia membahas meluasnya kuasa medis hingga keadaan yang sebelumnya dianggap bagian biasa dari kehidupan mulai diperlakukan sebagai gangguan yang membutuhkan diagnosis dan penanganan profesional.

Illich tidak sedang mengajak orang menolak dokter. Ia mempertanyakan batas: sampai di mana ilmu kesehatan menyembuhkan penderitaan, dan sejak kapan ia mulai membuat manusia takut menghadapi keadaan tubuhnya sendiri.

Pertanyaan itu kembali penting ketika rambut putih, perubahan bentuk tubuh, berkurangnya tenaga, atau tidur yang tidak lagi sama seperti usia 25 tahun segera dibaca sebagai tanda kemunduran.

Penuaan memang membawa risiko kesehatan. Akan tetapi, tidak semua perubahan akibat usia merupakan penyakit. Kerutan tidak mengganggu fungsi tubuh. Uban tidak mengurangi kemampuan berpikir. Wajah yang tampak matang tidak selalu meminta pertolongan medis.

Pasar memerlukan persoalan yang dapat diperpanjang. Usia menyediakan semuanya.

Krim harus dibeli kembali. Suplemen mesti dikonsumsi setiap hari. Terapi perlu diulang. Pemeriksaan dijadwalkan berkala. Hasil terbaru dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Pelanggan tidak pernah benar-benar selesai karena waktu juga tidak pernah berhenti.

Perempuan lebih dahulu mengenal tekanan tersebut.

Pada 1972, esais Amerika Susan Sontag menulis tentang “standar ganda penuaan”. Ia menunjukkan bahwa masyarakat tidak menilai pertambahan usia laki-laki dan perempuan dengan ukuran yang sama. Laki-laki yang beruban dapat dianggap matang dan berwibawa. Pada perempuan, tanda yang sama lebih cepat dibaca sebagai hilangnya daya tarik.

Sontag melihat kecantikan bukan sekadar urusan selera pribadi. Standar kecantikan ikut menentukan bagaimana perempuan dihargai, dilihat, dan diberi tempat dalam masyarakat.

Lima puluh tahun setelah esai itu ditulis, tekanannya belum lenyap. Ia justru memperoleh mesin baru.

Perempuan Indonesia dapat bekerja penuh waktu, melahirkan, membesarkan anak, mengurus rumah, dan merawat orang tua. Namun, wajah lelah tetap mudah dianggap akibat kurang merawat diri. Tubuh setelah melahirkan dituntut segera kembali. Rambut putih perlu ditutupi. Kerutan harus dicegah sejak belum muncul.

Kalimat “awet muda” selalu terdengar sebagai pujian. Di baliknya tersimpan anggapan bahwa terlihat sesuai umur bukan hasil yang cukup baik.

Pasar kemudian menemukan konsumen lain. Laki-laki kini ditawari terapi rambut, pemeriksaan testosteron, program pembentukan otot, suplemen stamina, serta perawatan wajah yang dikemas dengan bahasa maskulinitas dan produktivitas.

Kata-katanya berbeda. Laki-laki tidak selalu diminta menjadi cantik. Mereka diminta tetap kuat, prima, bertenaga, dan relevan.

Ketakutannya tetap berpusat pada hal yang sama: tubuh menua dianggap dapat menurunkan nilai seseorang.

Di tempat kerja, usia kerap diasosiasikan dengan kelambanan. Wajah muda dikaitkan dengan energi, kreativitas, kemampuan menggunakan teknologi, serta kesiapan mengikuti perubahan. Orang kemudian tidak hanya merawat tubuh demi kesehatan. Mereka berusaha mempertahankan posisi sosial dan ekonomi.

Pada titik ini, pemikiran Byung-Chul Han membantu membaca persoalan. Han adalah filsuf Korea Selatan yang menetap dan mengajar di Jerman. Ia menulis tentang “masyarakat prestasi”, masyarakat yang tidak lagi terutama digerakkan oleh larangan, melainkan oleh dorongan untuk terus meningkatkan diri.

Manusia modern, dalam pembacaan Han, tidak perlu selalu dipaksa oleh pengawas dari luar. Ia telah menjadi pengawas bagi dirinya sendiri. Ia menuntut tubuhnya lebih bugar, pikirannya lebih cepat, waktunya lebih produktif, dan penampilannya lebih meyakinkan.

Pengawasan itu terasa sukarela karena hadir melalui bahasa kesehatan dan pengembangan diri. Namun, ia juga membawa kelelahan. Tidak pernah ada keadaan yang sungguh dianggap selesai.

Tidur yang nyenyak dapat terasa gagal karena skor aplikasi rendah. Berjalan pagi kehilangan kenikmatannya karena target langkah belum tercapai. Olahraga berubah menjadi tugas untuk membakar kalori. Wajah dilihat sebagai kumpulan bagian yang perlu diperbaiki.

Tubuh tidak lagi menjadi tempat seseorang menjalani hidup. Tubuh menjadi proyek yang dinilai setiap hari.

Media sosial memperbesar ruang penilaian tersebut. Orang dahulu melihat wajahnya beberapa kali melalui cermin. Kini wajah muncul dalam kamera depan, rapat daring, foto kelompok, video pendek, dan unggahan yang dapat dilihat kembali berkali-kali.

Filter menyediakan versi wajah yang lebih halus, cerah, simetris, dan muda. Setelah terlalu sering melihat hasil perbaikan digital, wajah asli dapat terasa seperti kesalahan teknis.

Seseorang menghapus foto karena lehernya tampak berlipat. Sudut kamera dipilih untuk menyamarkan rahang. Cahaya diatur agar kerutan tidak terlihat. Perawatan kemudian tidak lagi sekadar membuat tubuh nyaman. Ia menjadi syarat agar seseorang merasa layak ditampilkan.

Dari sini, ageisme dapat tumbuh tanpa hinaan yang kasar.

“Masih cantik untuk usianya.”

“Sudah tua, tetapi tetap produktif.”

“Umurnya 50 tahun, kelihatannya masih 35.”

Kalimat tersebut terdengar seperti pujian. Namun, semuanya menempatkan usia sebagai kekurangan yang berhasil dikalahkan. Cantik, aktif, dan produktif dianggap mengejutkan ketika muncul pada tubuh yang tidak lagi muda.

Tidak ada yang keliru ketika seseorang memakai krim, mengecat rambut, mengonsumsi suplemen, berolahraga, atau menjalani prosedur estetika. Manusia berhak merasa nyaman dengan penampilannya. Ilmu kedokteran juga telah membantu orang hidup lebih lama dan menghadapi penyakit yang dahulu sulit ditangani.

Persoalan dimulai saat perawatan berubah menjadi kewajiban, lalu tubuh yang menunjukkan usia dianggap bukti kemalasan dan kurang disiplin.

Tekanan itu juga memiliki dimensi kelas. Tidak semua orang dapat membeli pemeriksaan usia biologis, terapi premium, pelatih pribadi, makanan khusus, dan perawatan berulang. Mereka yang memiliki uang dapat menyamarkan sebagian tanda usia. Mereka yang tidak memilikinya harus menanggung penilaian terhadap tubuh yang telah bekerja, melahirkan, sakit, dan bertambah tua.

Indonesia sedang bergerak menjadi masyarakat dengan jumlah penduduk lanjut usia yang semakin besar. Persiapan menghadapi perubahan tersebut tidak dapat diserahkan kepada klinik, suplemen, kosmetik, atau nasihat agar semua orang tetap produktif.

Orang yang menua membutuhkan pelayanan kesehatan yang terjangkau, ruang publik yang nyaman, pekerjaan yang tidak diskriminatif, hubungan sosial, serta pengakuan terhadap pengalaman hidupnya. Kehidupan yang baik pada usia 60 atau 70 tahun tidak harus menyerupai kehidupan pada usia 30 tahun.

Industri tidak perlu menemukan obat yang membuat manusia abadi. Ia hanya perlu menjaga kecemasan agar setiap orang merasa terlalu cepat tua.

Di situlah pasar ini memperoleh kekuatannya.

Kesehatan layak dirawat. Tubuh boleh dibantu agar tetap berfungsi dan bebas dari penderitaan. Namun, hidup panjang kehilangan makna apabila setiap tahun yang berhasil dilalui justru membuat manusia semakin malu terhadap dirinya sendiri.

Mungkin tubuh yang menua tidak selalu membutuhkan koreksi.

Kadang-kadang, cara kita memandangnyalah yang perlu diperiksa. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.