Wartawan di Jalan Sastra
PADA akhir 1970-an, nama-nama anak muda yang mengirim puisi ke Bali Post bisa muncul di koran meski puisinya belum tentu dimuat. Mereka mendapat komentar pendek dari pengasuh rubrik. Ada yang diminta memperbaiki sajak, ada yang didorong terus menulis.
Umbu Landu Paranggi kemudian ikut menghidupkan ruang itu. Setelah datang ke Bali, penyair asal Sumba tersebut mengasuh halaman sastra Bali Post dan rajin menyapa calon penulis melalui rubrik kontak. Nama-nama seperti Gde Artawan, Nyoman Wirata, Windhu Sancaya, Ketut Yuliarsa, IB Dharma Palguna, Lilik Mulyadi dan Alit S. Rini tumbuh dalam lingkungan semacam itu.
Koran pada masa itu rupanya tidak hanya menjadi tempat berita politik, kriminal, ekonomi atau laporan pemerintahan. Di bagian lain halaman, puisi, cerpen, ulasan buku dan perdebatan kebudayaan mendapat tempat.
Batas antara dunia berita dan sastra tidak terlalu tebal.
Puluhan tahun kemudian, jejaknya masih mudah ditemukan. Sejumlah wartawan Bali ternyata juga dikenal sebagai penyair, cerpenis, novelis atau esais. Beberapa bahkan mempunyai buku sastra lebih banyak daripada buku jurnalistik.
Gde Aryantha Soethama pernah menjadi wartawan, koresponden hingga pemimpin redaksi. Pengalaman jurnalistiknya melahirkan buku Menjadi Wartawan Desa, Wawancara Jurnalistik dan Koran Kampus. Tetapi jalan menulisnya tidak berhenti di sana. Ia menulis puisi, cerpen, novel, laporan perjalanan dan esai tentang Bali. Konflik adat, kasta, tradisi dan perubahan kehidupan orang Bali menjadi bahan yang berulang muncul dalam karya sastranya.
Oka Rusmini menjalani dua pekerjaan itu bahkan dalam waktu bersamaan. Ia masuk Bali Post pada awal 1990-an, tetapi juga menulis puisi, cerpen dan novel. Pekerjaan sebagai wartawan mempertemukannya dengan banyak perempuan Bali dari lingkungan yang berbeda. Oka pernah menjelaskan bahwa perjumpaan selama bekerja sebagai wartawan membuka matanya terhadap kehidupan perempuan Bali, pengalaman yang kemudian ikut masuk ke wilayah sastranya.
Putu Fajar Arcana berada pada jalur yang lain lagi. Selama hampir tiga dasawarsa di Kompas, ia banyak menulis seni pertunjukan, sastra dan seni rupa. Di luar berita dan ulasan jurnalistik, ia menghasilkan novel, cerita pendek, puisi, esai hingga naskah monolog. Profilnya mencatat sedikitnya sepuluh buku tunggal, dan sumber Kompas yang lebih baru menyebut sebelas.
Daftarnya bisa diperpanjang.
Made Adnyana Ole pernah bekerja di koran sebelum mendirikan Tatkala. Ia menulis puisi dan cerpen, mengelola media, mengadakan kelas menulis, lalu kembali menerbitkan kumpulan puisi Memilih Pohon Sebelum Pinangan pada 2026. Tatkala sendiri dibangun dengan karakter yang sulit dipisahkan dari sastra. Dalam penjelasan resminya, media itu memang memilih cerita, berita, artikel dan pengetahuan yang ditulis secara naratif, sekaligus memberi perhatian besar kepada seni dan budaya.
Made Sugianto lama bekerja sebagai wartawan NusaBali. Sejak 2009 ia menekuni Sastra Bali Modern. Ketika diwawancarai detikBali pada 2023, perjalanan kepengarangannya sudah menghasilkan banyak cerpen dan novel berbahasa Bali serta dua kali penghargaan Rancagé. Kegiatan itu berjalan ketika pekerjaan jurnalistik masih menjadi bagian dari kehidupannya.
Generasi yang lebih muda memperlihatkan pola serupa. Angga Wijaya bekerja sebagai wartawan di Denpasar, tetapi sejak SMA sudah menulis puisi. Buku puisinya mulai terbit, disusul esai dan bentuk tulisan lain. Ia bergerak bolak-balik antara berita, puisi dan esai tanpa merasa harus memilih salah satunya.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah ada wartawan Bali yang menulis sastra.
Jumlahnya cukup banyak untuk memunculkan pertanyaan lain: mengapa dua pekerjaan itu begitu sering bertemu?
Sebagian jawabannya mungkin berada pada sejarah media di Bali sendiri.
Koran pernah menjadi salah satu ruang penting pertumbuhan sastra. Seorang anak muda yang ingin puisinya dibaca orang tidak mempunyai media sosial. Ia mengirim naskah ke koran. Redaktur sastra menentukan karya mana yang dimuat. Penyair membaca penyair lain dari halaman yang sama. Perdebatan kebudayaan juga berlangsung di sana.
Kehadiran Umbu di Bali Post membuat hubungan tersebut semakin kentara. Ia bukan sekadar menunggu kiriman naskah. Ia mencari penulis muda, memberi komentar dan menjaga sebuah ruang tempat orang belajar menulis. Made Sujaya mencatat peran Umbu sejak akhir 1970-an dalam mendorong lahirnya pengarang-pengarang Bali. Aryantha bahkan pernah menyebut Umbu sebagai salah satu “leluhur penyair Bali”.
Artinya, redaksi koran dan lingkungan sastra memang pernah tinggal sangat berdekatan.
Orang bisa datang membawa berita, lalu bertemu penyair. Seorang reporter membaca cerpen di halaman Minggu. Redaktur budaya bergaul dengan pelukis, pemain teater, penari dan pengarang. Percakapan tentang berita dengan mudah berbelok menjadi percakapan tentang buku.
Keadaan itu tentu tidak otomatis membuat seorang wartawan menjadi sastrawan. Tetapi lingkungannya menyediakan jalan.
Ada faktor lain yang lebih praktis.
Wartawan setiap hari berurusan dengan cerita manusia.
Reporter kriminal bertemu keluarga korban. Wartawan pengadilan mendengar pertengkaran rumah tangga yang berakhir di meja hakim. Reporter desa masuk ke rumah penduduk, warung, sawah dan balai banjar. Wartawan budaya mengikuti upacara, pertunjukan dan kehidupan seniman. Mereka melihat orang pada situasi yang tidak selalu bisa direncanakan.
Sebagian besar pengalaman itu akhirnya menjadi berita.
Tetapi tidak semuanya muat.
Berita membutuhkan fakta yang relevan dengan peristiwa. Seorang narasumber mungkin berbicara satu jam, tetapi hanya dua kalimat masuk naskah. Wartawan melihat ekspresi wajah, keadaan rumah, hubungan antarkeluarga atau percakapan kecil yang tidak penting bagi berita hari itu.
Sastra mempunyai pintu berbeda untuk memasuki pengalaman tersebut.
Ia tidak terikat kebutuhan menjelaskan siapa mengatakan apa dalam konferensi pers. Peristiwa kecil yang dibuang dari berita justru bisa menjadi awal cerita. Watak manusia yang hanya tampak beberapa menit ketika wawancara dapat tinggal lama dalam ingatan penulis.
Di sini pengalaman Oka Rusmini menjadi relevan. Perempuan Bali yang ditemuinya melalui kerja jurnalistik tidak semuanya berhenti sebagai sumber berita. Sebagian pengalaman itu ikut mempertajam perhatian Oka pada persoalan perempuan, kasta, keluarga dan adat yang kemudian kuat dalam karyanya.
Aryantha juga bekerja dekat dengan paradoks kehidupan Bali. Gramedia menggambarkan karya-karyanya banyak mengangkat konflik tradisi, adat dan kasta yang sering berada di balik citra Bali sebagai daerah yang tenteram dan harmonis. Pengalaman sebagai wartawan membuat wilayah itu bukan sesuatu yang asing baginya.
Namun hubungan jurnalisme dan sastra tidak hanya soal bahan.
Wartawan juga belajar melihat detail.
Sebuah berita tanpa detail mudah menjadi laporan rapat. Seorang reporter yang baik harus tahu mana hal kecil yang membantu pembaca memahami kejadian. Tempat, suara, cara orang berbicara, benda di ruangan atau perubahan suasana sering menentukan hidup tidaknya sebuah laporan.
Keterampilan seperti itu berguna ketika masuk ke cerita pendek atau novel.
Yang berubah terutama aturan permainannya.
Dalam berita, fakta tidak boleh dikarang. Nama, tempat, angka dan peristiwa harus bisa dipertanggungjawabkan. Dalam fiksi, penulis memperoleh kebebasan membangun tokoh dan kejadian. Namun kebiasaan memperhatikan manusia dan lingkungan tetap bisa dibawa dari lapangan.
Made Adnyana Ole pernah menjelaskan hubungan yang berdekatan itu ketika berbicara tentang jurnalisme sastra. Menurut dia, sebuah peristiwa dapat diceritakan dari sudut yang jarang dilirik media utama, misalnya orang yang bekerja di balik pembangunan besar, tukang ukir sebuah patung atau cerita warung lama.
Di wilayah itulah berita dan sastra kadang bertetangga.
Bali juga mempunyai keadaan sosial yang membuat hubungan tersebut semakin menarik. Adat masih kuat, ritual hadir hampir setiap hari, bahasa Bali terus hidup berdampingan dengan bahasa Indonesia, sementara pariwisata membawa perubahan sosial dengan kecepatan tinggi.
Seorang wartawan bisa meliput upacara pagi hari, sengketa tanah siangnya, lalu jumpa pers hotel pada sore hari.
Di satu pulau yang relatif kecil, dunia tradisional dan ekonomi global bertemu hampir tanpa jarak.
Konflik semacam itu menyediakan bahan yang tidak pernah benar-benar selesai. Tanah bukan sekadar tanah. Ia bisa menjadi warisan keluarga, tempat upacara, modal investasi sekaligus sumber pertengkaran. Pernikahan bisa membawa urusan adat dan kasta. Desa berhadapan dengan hotel. Bahasa Bali hidup bersama bahasa Indonesia dan bahasa asing yang dibawa pariwisata.
Berita mencatat peristiwanya.
Sastra mempunyai kesempatan masuk lebih jauh ke manusia yang berada di dalamnya.
Mungkin itu pula sebabnya beberapa wartawan Bali tidak benar-benar meninggalkan sastra meski ritme media berubah.
Tatkala pada 2019 pernah mencatat berkurangnya kiriman puisi dan cerpen, sementara lebih banyak sastrawan bergerak menulis esai. Made Adnyana Ole ketika itu melihat bahwa puisi dan cerpen membutuhkan stamina tersendiri dan tidak selalu mempunyai pembaca sebanyak bentuk tulisan lain.
Perubahan tersebut penting.
Hubungan pers dan sastra yang dulu banyak hidup di halaman koran kini tidak selalu berada di tempat yang sama. Rubrik sastra media cetak menyusut. Portal berita mengejar kecepatan. Wartawan bekerja dengan tuntutan produksi yang jauh lebih padat.
Tetapi jalannya belum tertutup.
Sebagian pindah ke media digital, komunitas, penerbit kecil, kelas menulis atau situs kebudayaan. Angga Wijaya masih menulis sebagai wartawan sambil mengerjakan puisi dan esai. Made Sugianto tetap menghasilkan karya Sastra Bali Modern. Made Adnyana Ole menggabungkan media, sastra dan kegiatan komunitas dalam satu lingkungan kerja.
Bahkan I Made Sujaya sekarang diperkenalkan secara sederhana di Tatkala dengan tiga pekerjaan sekaligus: wartawan, sastrawan, dosen. Tiga kata itu tidak terasa janggal diletakkan berdampingan.
Barangkali memang tidak pernah ada tembok tinggi di antara keduanya.
Jurnalisme memberi seorang penulis alasan untuk keluar rumah. Sastra memberinya kesempatan membawa sebagian dari yang ditemukan di luar itu pulang lebih jauh ke dalam tulisan.
Wartawan mengejar apa yang terjadi.
Sastrawan bertanya apa yang dialami manusia ketika sesuatu terjadi.
Di Bali, cukup banyak orang pernah berjalan pada kedua jalan tersebut. Sebagian memulainya dari meja redaksi, sebagian dari puisi, lalu keduanya bertemu di tengah perjalanan.
Karena itu, ketika menemukan nama wartawan di sampul novel, kumpulan cerpen atau buku puisi, kita mungkin tidak sedang melihat seseorang yang berpindah profesi.
Ia hanya mengambil jalan yang sejak lama berada tidak jauh dari meja kerjanya. (*)
Menot Sukadana