Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Menua di Pulau yang Makin Sesak

Oleh Nyoman Sukadana • 31 Agustus 2026 • 01:48:00 WITA

Menua di Pulau yang Makin Sesak
ILUSTRASI lansia menyeberang jalan padat di Bali, menggambarkan tantangan ruang hidup yang makin sesak bagi penduduk yang terus menua kini. (AI/Podiumnews)

SUATU hari nanti, persoalan sederhana seperti pergi ke pasar bisa menjadi urusan yang tidak sederhana bagi banyak orang Bali.

Jalan yang dahulu bisa diseberangi dengan mudah mungkin sudah dipenuhi kendaraan. Warung yang dulu hanya beberapa ratus meter dari rumah berganti deretan toko. Sawah tempat orang biasa mencari jalan pintas sudah menjadi perumahan. Anak-anak tinggal lebih jauh karena tidak lagi mendapatkan cukup ruang di pekarangan keluarga.

Tempatnya masih bernama sama. Banjar masih ada. Pura masih berdiri. Rumah mungkin bahkan tidak berpindah.

Yang berubah adalah umur penghuninya dan lingkungan di sekelilingnya.

Bali sedang bergerak menuju situasi semacam itu. Bukan karena penduduknya akan meledak dalam 25 tahun mendatang. Justru pertumbuhan penduduk mulai melambat. Perubahan yang lebih besar terjadi pada struktur umur dan ruang tempat penduduk itu hidup.

Badan Pusat Statistik memproyeksikan penduduk Bali pada 2026 sekitar 4,49 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 3,11 juta orang berada pada usia 15 sampai 64 tahun. Artinya, hampir tujuh dari setiap sepuluh penduduk Bali saat ini masih berada dalam kelompok usia produktif secara demografis.

Sekilas angka itu terlihat menguntungkan. Bali masih mempunyai tenaga kerja yang besar. Restoran, hotel, kantor, pasar, proyek konstruksi, pertanian, industri kreatif sampai usaha rumahan hidup dari kelompok usia ini.

Tetapi lihat lebih dekat komposisinya.

Sekitar 1,32 juta penduduk Bali sekarang berumur 20 sampai 39 tahun. Mereka berada pada fase kehidupan ketika seseorang mulai bekerja, menikah, mempunyai anak, menyewa rumah, mencari tanah atau membangun tempat tinggal sendiri.

Di atas mereka terdapat kelompok yang jauh lebih besar. Penduduk berusia 40 sampai 64 tahun mencapai sekitar 1,47 juta orang.

Dua puluh lima tahun dari sekarang, mereka yang hari ini berumur 40 tahun akan berumur 65. Mereka yang sekarang berumur 64 akan mendekati 90 tahun, tentu dengan memperhitungkan kematian dan perpindahan penduduk.

Dengan kata lain, hampir sepertiga penduduk Bali hari ini sedang berjalan menuju usia tua.

Tandanya sudah terlihat.

Survei Penduduk Antar Sensus 2025 mencatat angka kelahiran total atau Total Fertility Rate Bali hanya 2,02 anak per perempuan. Pertumbuhan penduduk rata-rata selama lima tahun terakhir sekitar 0,69 persen per tahun. Pada saat yang sama, penduduk lanjut usia sudah mencapai 15,07 persen jika menggunakan batas usia 60 tahun. BPS menyatakan Bali telah memasuki fase ageing population.

Jadi Bali masih menikmati besarnya kelompok usia produktif, tetapi jendelanya tidak akan terus terbuka.

Proyeksi jangka panjang memperlihatkan perubahan yang lebih jelas. Pada 2050, penduduk berusia 65 tahun ke atas diperkirakan mencapai 18,6 persen penduduk Bali. Sebaliknya, kelompok usia produktif 15 sampai 64 tahun turun menjadi sekitar 63,5 persen. Pada 2020, proporsi kelompok 65 tahun ke atas baru 8,4 persen.

Artinya bukan sekadar jumlah orang tua bertambah.

Dalam tiga dekade, proporsi penduduk 65 tahun ke atas lebih dari dua kali lipat.

Jumlah keseluruhan penduduk Bali sendiri tidak bertambah sedramatis itu. Proyeksi penduduk BPS sampai 2050 menempatkan Bali hanya di kisaran 4,7 jutaan jiwa pada pertengahan abad ini. Dibanding sekitar 4,49 juta pada 2026, tambahan penduduknya hanya sekitar seperempat juta orang.

Di sinilah paradoks Bali masa depan mulai terlihat.

Penduduk tidak bertambah banyak. Tetapi pulau bisa terasa semakin sesak.

Sesak tidak selalu berarti terlalu banyak manusia per kilometer persegi. Sesak juga dapat berarti semakin banyak fungsi dan kepentingan menggunakan bidang tanah, jalan dan sumber air yang sama.

Rumah membutuhkan tanah. Anak yang menikah membutuhkan tempat tinggal. Orang tua tetap membutuhkan rumahnya. Usaha membutuhkan ruang. Pariwisata membutuhkan hotel, vila, restoran dan jalan. Pemerintah membutuhkan sekolah, rumah sakit dan infrastruktur. Sementara sawah, kebun, sungai dan daerah resapan membutuhkan ruang agar tidak hilang.

Pulau itu sendiri tidak bertambah luas.

Sebaliknya, sebagian ruang produktif justru terus berubah fungsi.

Data BPN Bali yang dikutip Pemerintah Provinsi Bali menunjukkan luas sawah produktif menyusut dari sekitar 70.996 hektare pada 2019 menjadi 64.474 hektare pada 2024. Dalam lima tahun berkurang sekitar 6.522 hektare. Pemerintah daerah menyebut pembangunan vila dan akomodasi wisata di kawasan peri-urban dan pedesaan sebagai salah satu tekanan penting terhadap perubahan tersebut.

Perubahan itu mudah dilihat di wilayah pinggiran kota.

Desa tidak selalu kehilangan nama desanya. Banjar tetap bernama banjar. Tetapi sawah di samping jalan berubah menjadi rumah, gudang, kos, toko atau vila. Sedikit demi sedikit fungsi ruang berubah sebelum orang menyadari bahwa kawasan tempat tinggalnya sudah tidak benar-benar berkarakter pedesaan.

Putu Indra Christiawan dan Thi Phuoc Lai Nguyen meneliti proses tersebut dalam studi yang diterbitkan jurnal Cities pada 2026. Mereka menggunakan kawasan peri-urban Denpasar sebagai kasus untuk melihat bagaimana pariwisata mendorong perubahan penggunaan lahan, demografi dan mata pencaharian masyarakat.

Pada 2010, lahan pertanian masih mencakup sekitar 61,55 persen kawasan yang mereka teliti, sementara permukiman sekitar 37,67 persen. Satu dekade kemudian, permukiman sudah mengambil lebih dari separuh penggunaan lahannya. Perubahan ruang diikuti pergeseran mata pencaharian dari kegiatan berbasis pertanian menuju ekonomi perkotaan dan nonpertanian.

Itulah peri-urbanisasi.

Kota tidak selalu datang membawa papan nama baru. Kadang-kadang kota datang dalam bentuk jalan yang diperlebar, rumah yang semakin rapat, minimarket, kos, kafe, kendaraan dan harga tanah yang pelan-pelan tidak lagi masuk akal bagi pekerjaan lama yang pernah hidup di atasnya.

Pariwisata tentu bukan satu-satunya penyebab. Ia juga tidak dapat sekadar ditempatkan sebagai musuh. Jutaan orang Bali memperoleh penghasilan langsung maupun tidak langsung darinya.

Namun skala aktivitasnya penting dihitung ketika membicarakan ruang.

Sepanjang 2025, Bali menerima 6.948.754 kunjungan wisatawan mancanegara langsung. Jumlah itu naik 9,72 persen dibanding tahun sebelumnya. Wisatawan bukan penduduk tetap sehingga angkanya tentu tidak boleh dijumlahkan begitu saja dengan populasi Bali. Tetapi mereka tetap menggunakan jalan, air, energi, kamar, restoran dan menghasilkan sampah selama berada di pulau ini.

Maka empat juta lebih penduduk Bali tidak pernah benar-benar hidup hanya bersama empat juta orang.

Ruang yang sama juga melayani arus manusia yang datang dan pergi.

Dalam keadaan seperti itulah orang Bali akan menua.

Sebuah penelitian yang terbit tahun ini memberi gambaran menarik tentang persoalan tersebut. Octaviani Ariyanti, Dora Sampaio dan Ajay Bailey meneliti pengalaman orang lanjut usia di kota wisata Bali. Studi mereka diterbitkan dalam jurnal Wellbeing, Space and Society pada 2026.

Hasilnya tidak sederhana.

Pariwisata memberikan peluang ekonomi kepada penduduk tua. Mereka tetap bisa terlibat dalam usaha keluarga, perdagangan dan aktivitas yang berhubungan dengan industri wisata. Pariwisata bahkan dapat memperkuat alasan sebagian orang untuk tetap tinggal di tempatnya.

Tetapi lingkungan kota wisata juga membawa hambatan. Keramaian dan kemacetan muncul sebagai persoalan yang berulang dalam kehidupan lansia yang mereka teliti. Lingkungan yang berubah cepat dapat membuat perjalanan sehari-hari dan mobilitas menjadi semakin sulit bagi tubuh yang tidak lagi sekuat sebelumnya.

Dalam kajian tentang penuaan terdapat konsep ageing in place. Gagasannya sederhana: orang dapat terus hidup dengan aman, mandiri dan tetap terhubung dengan lingkungan yang sudah dikenalnya ketika usianya bertambah.

Rumah saja tidak cukup.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, menempatkan lingkungan fisik dan sosial sebagai faktor penting dalam menentukan kualitas hidup seseorang pada usia tua. Jalan yang aman, transportasi, tempat tinggal yang sesuai, pelayanan yang dekat dan hubungan sosial dapat membantu seseorang tetap mandiri. Sebaliknya, lingkungan dapat menjadi penghalang ketika kemampuan fisik mulai berkurang.

Gerontolog M. Powell Lawton sejak lama melihat hubungan ini melalui gagasan person-environment fit. Kemampuan manusia dan tuntutan lingkungannya selalu berhadapan.

Ketika seseorang berumur 35 tahun, naik tangga, mengendarai motor lima belas kilometer atau menyeberang jalan yang ramai mungkin tidak terasa sebagai persoalan besar. Pada umur 75 tahun, lingkungan yang sama dapat memberikan pengalaman yang sama sekali berbeda.

Gangnya mungkin tidak bertambah panjang.

Tubuh penghuninya yang berubah.

Di Bali persoalan ini menjadi lebih menarik karena kehidupan usia tua tidak hanya ditopang oleh rumah sebagai bangunan. Ada pekarangan, keluarga besar, tetangga, banjar, pura dan jaringan hubungan sosial yang dibangun selama puluhan tahun.

Penelitian mengenai perawatan lansia dalam keluarga multigenerasi Bali memperlihatkan pentingnya hubungan tersebut. Studi yang melibatkan 49 anggota dari 11 rumah tangga multigenerasi menemukan empat unsur penting dalam praktik merawat orang tua: kewajiban antargenerasi, pemenuhan kebutuhan, menjaga keharmonisan dan hubungan sosial.

Dalam konteks itu, pekarangan Bali sebenarnya lebih dari sekadar properti.

Ia juga sistem perawatan.

Orang tua dapat tinggal beberapa meter dari rumah anaknya. Saudara berada dalam satu lingkungan. Ada orang yang mengetahui ketika penghuni rumah sakit, tidak keluar sejak pagi, atau membutuhkan bantuan pergi ke suatu tempat.

Model semacam ini selama bertahun-tahun membuat sebagian beban usia tua diserap keluarga dan komunitas tanpa pernah dicatat sebagai bagian dari infrastruktur sosial.

Tetapi ruang keluarga itu juga berubah.

Tanah diwariskan kepada beberapa anak. Pekarangan dibagi. Bangunan bertambah. Anak menikah dan membutuhkan rumah sendiri. Sebagian tanah dijual. Sebagian generasi muda mencari tempat tinggal lebih jauh karena tanah di sekitar tempat kelahirannya sudah mahal.

Di sinilah demografi bertemu persoalan ruang dengan cara yang paling nyata.

Bali mempunyai sekitar 1,32 juta orang berusia 20 sampai 39 tahun yang sedang memasuki atau menjalani fase pembentukan rumah tangga. Pada saat bersamaan terdapat sekitar 1,47 juta orang berumur 40 sampai 64 tahun yang dalam seperempat abad mendatang masuk kelompok usia tua.

Generasi pertama membutuhkan ruang untuk memulai kehidupan.

Generasi kedua membutuhkan ruang untuk tetap dapat menjalani kehidupan ketika menua.

Keduanya tidak harus saling mengusir. Tetapi tanpa perencanaan, kebutuhan itu dapat bertabrakan.

Dulu satu rumah tangga besar bisa menempati satu pekarangan. Ketika tiga anak menikah, kebutuhan berubah menjadi tiga atau empat rumah tangga. Jumlah penduduk keluarga mungkin hanya bertambah beberapa orang, tetapi kebutuhan bangunannya bisa berlipat.

Karena itu pertumbuhan kebutuhan ruang tidak selalu berjalan searah dengan pertumbuhan jumlah penduduk.

Bali bahkan dapat mengalami keadaan yang terlihat aneh: penduduk hampir berhenti bertambah, tetapi rumah terus bertambah.

Pada saat yang sama, rumah-rumah yang dahulu dihuni lima atau enam orang bisa kelak hanya dihuni satu atau dua orang lanjut usia. Anak-anaknya tinggal di tempat lain karena bekerja atau karena tidak lagi mempunyai ruang di pekarangan asal.

Pertanyaan mengenai perumahan Bali akhirnya bukan cuma berapa unit rumah yang harus dibangun.

Pertanyaannya berubah menjadi: rumah seperti apa, dibangun di mana, dan seberapa jauh penghuninya dari keluarga, pelayanan kesehatan, pasar, banjar dan ruang sosial yang membuat kehidupan sehari-hari masih dapat dijalani tanpa selalu bergantung pada kendaraan?

Pertanyaan itu penting karena Bali terlalu lama membaca pembangunan dari sudut orang yang masih kuat bergerak.

Jalan dibuat untuk kendaraan. Perumahan bergeser semakin jauh. Trotoar sering dianggap pelengkap. Jarak antara rumah dan kebutuhan sehari-hari tidak terlalu dipersoalkan karena hampir semua orang diasumsikan dapat mengendarai sepeda motor.

Asumsi itu akan menghadapi kenyataan demografi.

Pada 2050, hampir satu dari lima penduduk Bali diproyeksikan berusia 65 tahun ke atas. Kelompok usia produktif tetap menjadi mayoritas, tetapi porsinya mengecil. Bali bukan hanya mempunyai lebih banyak rambut putih. Ia mempunyai lebih banyak orang yang membutuhkan bentuk kota dan desa yang berbeda dari kebutuhan generasi produktif hari ini.

Maka tantangan 25 tahun mendatang bukan sekadar membangun panti jompo atau menambah rumah sakit.

Yang lebih mendasar adalah mempertahankan lingkungan yang memungkinkan orang tidak harus meninggalkan kehidupannya hanya karena bertambah tua.

Pasar yang dekat. Jalan yang dapat diseberangi. Rumah yang mudah dirawat. Ruang untuk berjalan. Tetangga yang masih dikenal. Anak yang tidak tinggal terlalu jauh. Banjar yang tetap dapat dijangkau.

Sebagian kebutuhan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru hal-hal sederhana tersebut mudah hilang ketika nilai tanah meningkat dan seluruh ruang dipaksa menghasilkan nilai ekonomi tertinggi.

Bali tentu harus terus berkembang. Generasi muda membutuhkan pekerjaan dan rumah. Pariwisata tetap menjadi sumber kehidupan jutaan orang. Infrastruktur perlu dibangun.

Tetapi demografi sedang memberikan peringatan tentang arah pembangunan itu.

Pulau ini tidak sedang menuju ledakan penduduk. Ia sedang menuju masyarakat yang lebih tua.

Jika pada saat bersamaan sawah terus berkurang, kawasan pinggiran terus memadat, permukiman makin jauh dari pusat aktivitas dan ruang keluarga semakin terfragmentasi, persoalan Bali pada 2050 bukan berapa banyak orang yang bisa dimasukkan ke dalam pulau.

Persoalannya adalah apakah kehidupan masih cukup dekat untuk dijalani.

Selama puluhan tahun Bali bekerja keras agar pulau ini mudah didatangi. Bandara diperbesar. Jalan dibangun. Hotel dan vila bertambah. Destinasi baru terus dicari.

Demografi mengajukan pertanyaan yang berbeda.

Apakah Bali juga sedang menyiapkan dirinya sebagai tempat yang nyaman untuk ditinggali sampai tua?

Dua puluh lima tahun lagi, ukuran keberhasilan Bali mungkin bukan hanya berapa juta orang masih ingin datang.

Melainkan apakah orang yang lahir, bekerja, membangun keluarga dan menjalani sebagian besar hidupnya di pulau ini masih mempunyai ruang untuk menua. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.