Profesi Bernama Kolumnis
BUKU Bolak Balik Bali terbit di Denpasar pada 2006. Tebalnya 307 halaman. Gde Aryantha Soethama, penulisnya, lebih sering diperkenalkan sebagai wartawan kawakan, penulis esai, cerpenis, atau sastrawan. Katalog International Studies Library, University of Osaka, memberi keterangan lain yang menarik: buku itu berisi kolom-kolom Aryantha yang dimuat di harian Nusa sejak Oktober 2003 sampai Oktober 2005.
Jejak menulis kolom Aryantha bahkan lebih panjang. Jauh sebelumnya ia pernah mengasuh O Bali di Bali Post Minggu, kemudian menulis Samatra di majalah Sarad. Di NusaBali muncul Bolak Balik Bali dan kemudian Nusa ning Nusa. Tema yang dikerjakannya tidak pernah jauh dari masyarakat tempat ia hidup: adat, pariwisata, perilaku orang Bali, perubahan kampung, serta keganjilan yang muncul ketika tradisi bertemu uang dan modernitas.
Kalau pekerjaan seperti itu dilakukan di Amerika Serikat atau Inggris, namanya sederhana: columnist. Cambridge Dictionary mendefinisikannya sebagai orang yang menulis artikel secara reguler untuk surat kabar atau majalah. Tidak ada syarat harus menjadi profesor, tokoh terkenal, sastrawan, atau menduduki jabatan tertentu di redaksi. Yang menandainya adalah keteraturan dan hadirnya suara penulis dalam sebuah ruang yang terus muncul.
Di Bali, pekerjaan semacam itu sebenarnya sudah lama ada. Istilahnya yang tidak terlalu sering terdengar.
I Made Sudira, yang dikenal dengan nama Aridus atau Aridus Jiro, misalnya, mempunyai Obrolan di Bale Banjar di Bali Post Minggu. Arsip Bali Post 25 Juli 1999 masih menyimpan rubrik tersebut. Isinya bergerak dari kehidupan sosial sampai perkara politik dan kebudayaan, dibawakan seperti percakapan orang yang kebetulan sedang duduk di bale banjar. Bertahun-tahun kemudian ANTARA masih memperkenalkan Made Sudira sebagai “kolumnis senior”.
Di Singaraja ada Made Adnyana Ole. Ia menulis Lolohin Malu di Bali Express. Tulisan-tulisannya terbit rutin dan kemudian memperoleh kehidupan kedua setelah dikumpulkan menjadi buku. Bahan yang masuk ke kolomnya bisa sangat lokal: sate, petani, arak, tanah, bandar udara, sampai perubahan cara orang Bali melihat hidup. Ia menulis sebagai wartawan yang mengenal bahan dari dekat, tetapi kolom memberinya ruang lebih longgar daripada berita.
Putu Setia mempunyai perjalanan berbeda. Setelah lama bekerja sebagai wartawan, salah satu jejak kepenulisannya yang paling dikenal adalah Cari Angin di Koran Tempo. Kolom itu kemudian dikumpulkan dalam buku. Jean Couteau, antropolog asal Prancis yang puluhan tahun hidup di Bali, mengisi Udar Rasa di Kompas Minggu. Ia masuk melalui sejarah, agama, adat, identitas, dan perubahan kebudayaan.
Nama-nama itu menunjukkan bahwa Bali sesungguhnya tidak kekurangan orang yang bekerja sebagai kolumnis. Yang terasa ganjil justru cara mereka diperkenalkan. Aryantha lebih sering disebut wartawan dan sastrawan. Ole dikenal sebagai wartawan, esais dan penulis. Couteau sebagai antropolog atau pengamat budaya. Putu Setia sebagai wartawan senior sebelum kemudian menempuh jalan kependetaan.
Kata “kolumnis” seperti tertinggal di belakang pekerjaan yang mereka lakukan.
Fenomena serupa sebenarnya terlihat di tingkat nasional, meski istilah kolumnis lebih mudah ditemukan dalam lingkungan media Jakarta. Nama penulis bahkan bisa melekat begitu kuat pada sebuah rubrik sehingga orang tidak perlu lagi menjelaskan profesinya.
Mahbub Djunaidi sudah menunjukkan gejala itu sejak beberapa dasawarsa lalu. Sejak 1970 ia menjadi kolumnis di Kompas dan Tempo. Tulisan-tulisannya dikenal karena humor, sindiran dan kemampuannya membawa persoalan serius ke dalam bahasa yang ringan. Sebagian kemudian dihimpun antara lain dalam Kolom Demi Kolom dan Asal Usul. Riwayat tentang Mahbub hampir selalu menyebut banyak identitas sekaligus: wartawan, penulis, aktivis, penerjemah. Namun kerja kolom merupakan bagian penting dari jejak kepenulisannya.
Lalu ada Goenawan Mohamad.
Hubungan Goenawan dengan Catatan Pinggir bahkan sulit dipisahkan. Rubrik di majalah Tempo itu telah muncul sejak 1970-an dan kemudian menghasilkan berjilid-jilid buku. Salah satu jilidnya saja memuat 160 esai yang diterbitkan antara Januari 1986 hingga Februari 1990. Arsip Tempo juga mencatat Catatan Pinggir sebagai tulisan yang terbit setiap minggu.
Orang akhirnya tidak harus mengatakan “kolom yang ditulis Goenawan Mohamad”. Cukup menyebut Catatan Pinggir. Nama rubrik telah membawa nama penulis di dalamnya.
Kompas mempunyai pengalaman sendiri. Bre Redana lama mengasuh Catatan Minggu, yang kemudian berkembang menjadi Udar Rasa. Kajian tentang Kompas Minggu mencatat Bre sebagai kolumnis yang banyak menulis kebudayaan populer, seni, kehidupan kota, dan gaya hidup. Dalam perkembangannya Udar Rasa juga diisi nama lain, termasuk Jean Couteau. Setelah Bre pensiun sebagai wartawan Kompas pun, jejaknya sebagai penulis kolom tetap melekat.
Pada zaman digital, pola itu belum hilang. Dahlan Iskan memberikan contoh paling mudah. Catatan Harian Dahlan masih muncul hampir setiap hari melalui jaringan Disway. Judulnya bisa mengenai ekonomi, teknologi, orang yang baru ditemuinya, perjalanan, olahraga, sampai perkara kecil yang kebetulan menarik perhatiannya. Rubrik tersebut mempunyai halaman tersendiri dan terus diperbarui.
Dahlan dikenal dengan banyak identitas: wartawan, pengusaha media, bekas pemimpin perusahaan, dan penulis. Namun pembaca tulisannya tahu bahwa hampir setiap pagi akan muncul satu catatan baru dengan namanya. Kebiasaan itu sendiri bekerja seperti merek.
Di sinilah kolumnis berbeda dari orang yang sesekali menulis opini.
Artikel opini bisa muncul ketika seseorang mempunyai pendapat mengenai satu perkara. Selesai ditulis, hubungan penulis dengan media bisa berhenti di sana. Kolom membutuhkan keberlanjutan. Penulis kembali pada edisi berikutnya, kemudian kembali lagi. Dalam perjalanan itu pembaca mulai mengenali tema kesukaannya, cara membuka tulisan, pilihan kata, humor, kegelisahan bahkan prasangkanya.
Hubungan semacam itulah yang sejak lama tumbuh lebih kuat dalam pers Barat.
Amerika Serikat mempunyai sejarah panjang ketika kolumnis menjadi figur penting surat kabar. Mike Royko salah satu contohnya. Selama lebih dari tiga dasawarsa ia menulis tentang Chicago: birokrasi kota, politisi lokal, pekerja, bar, lingkungan tempat tinggal, dan tingkah manusia yang ditemuinya. Pulitzer Prize mencatat Royko sebagai salah satu nama penting jurnalisme Amerika dan memberinya penghargaan pada 1972 untuk kolom komentarnya di Chicago Daily News.
Royko tidak harus menunggu perkara nasional untuk menulis. Sebuah kantor pelayanan publik yang buruk, percakapan di kedai, tingkah pejabat kota atau perubahan sebuah lingkungan sudah cukup menjadi bahan. Kota menjadi wilayah liputannya sekaligus bahan renungannya.
Tradisi itu menjelaskan mengapa di media Barat terdapat penyebutan yang sangat biasa seperti political columnist, sports columnist, humor columnist, advice columnist, atau local columnist. Kolumnis bukan gelar kehormatan. Ia pekerjaan.
Indonesia mengambil sebagian tradisi itu, tetapi kemudian memberinya corak sendiri.
Goenawan tidak hanya dikenal sebagai kolumnis, melainkan penyair, wartawan dan intelektual. Mahbub dikenang sebagai wartawan dan penulis dengan humor yang khas. Bre tetap kuat dengan identitas wartawan dan penulis. Dahlan membawa pengalaman panjang mengelola media dan perusahaan ke dalam catatan hariannya. Identitas kolumnis hadir, tetapi hampir selalu bertumpuk dengan identitas lain.
Di Bali, tumpukan itu bahkan lebih tebal. Dunia pers berdekatan dengan sastra dan kebudayaan sehingga wartawan yang rutin menulis kolom sering lebih mudah disebut sastrawan, budayawan atau esais.
Aryantha adalah contoh yang jelas. Ia menulis berita, cerpen, esai dan kolom. Ketika Bolak Balik Bali keluar sebagai buku dan memperoleh penghargaan buku nonfiksi terbaik Pusat Bahasa pada 2006, tulisan yang sebelumnya hadir berkala di koran mendapat bentuk yang jauh lebih permanen. Koran lama mungkin sudah sulit ditemukan, tetapi catatan tentang Bali pada masa itu tinggal dalam buku.
Hal serupa terjadi pada Cari Angin dan Lolohin Malu. Kolom yang semula dibuat untuk satu edisi ternyata tidak harus mati bersama tanggal penerbitannya.
Itulah salah satu keistimewaan pekerjaan ini. Wartawan dan kolumnis sering menggunakan bahan yang sama: peristiwa, orang, dokumen, angka, pengalaman lapangan. Tetapi berita terutama menjawab apa yang sedang terjadi. Kolom mempunyai keleluasaan membawa persoalan itu ke tempat lain, menghubungkannya dengan pengalaman lama, sejarah, bacaan, atau kejadian yang tampaknya tidak berkaitan.
Kolumnis yang bertahan lama akhirnya mempunyai wilayahnya sendiri.
Mahbub dikenali melalui humor dan kritik sosialnya. Goenawan membawa pembaca berjalan melalui sastra, filsafat, politik, sejarah dan perkara kemanusiaan. Bre banyak memasuki kebudayaan, kota dan kehidupan modern. Dahlan bergerak sangat bebas dari teknologi sampai pertemuan dengan orang biasa. Aryantha berulang kali kembali kepada Bali dan perubahan masyarakatnya. Aridus mendekatkan urusan publik ke bale banjar. Ole mengambil benda dan pengalaman keseharian Bali sebagai pintu masuk.
Tidak semuanya menuliskan kata “kolumnis” di bawah namanya.
Pembaca tetap mengetahui kapan sebuah tulisan sudah menjadi milik seseorang.
Dahulu hubungan itu dibantu halaman koran. Orang tahu pada hari apa rubrik tertentu muncul dan di bagian mana harus mencarinya. Ada pembaca yang membeli koran Minggu bukan semata-mata mengejar berita, melainkan ingin membaca penulis tertentu.
Internet memutus kebiasaan halaman tetapi tidak sepenuhnya memutus hubungan tersebut. Sekarang tulisan datang melalui tautan WhatsApp, Facebook, mesin pencari, aplikasi berita atau unggahan media sosial. Di tengah arus tulisan yang jauh lebih banyak, nama penulis bahkan menjadi semakin penting. Pembaca perlu alasan untuk berhenti pada satu tautan di antara ratusan lainnya.
Rubrik tetap membantu menciptakan alamat.
Catatan Pinggir. Udar Rasa. Cari Angin. Lolohin Malu. Obrolan di Bale Banjar. Bolak Balik Bali. Catatan Harian Dahlan.
Judul-judul itu menunjukkan sesuatu yang sederhana. Sebuah kolom yang hidup cukup lama akhirnya bukan lagi sekadar tempat menampung tulisan. Ia menjadi hubungan antara penulis, media, dan pembacanya.
Mungkin itu pula sebabnya kata “kolumnis” tidak terasa terlalu penting bagi orang yang sudah mempunyai hubungan semacam itu. Publik mengenal Goenawan tanpa perlu memperkenalkannya sebagai kolumnis. Pembaca Dahlan langsung mencari catatan hariannya. Orang yang mengikuti Aryantha tahu cara ia membicarakan Bali.
Di Bali, kata tersebut memang belum sepopuler wartawan, penulis, sastrawan atau budayawan. Tetapi pekerjaannya sudah dilakukan sejak lama. Ada jejaknya di Bali Post, NusaBali, Bali Express, Koran Tempo, Kompas, majalah Tempo, sampai media digital hari ini.
Orang mengamati kehidupan di sekelilingnya, memilih sesuatu yang dianggap perlu dibicarakan, menuliskannya dengan cara yang menjadi miliknya sendiri, lalu datang lagi pada edisi berikutnya.
Profesi itu ternyata tidak asing.
Namanya saja yang jarang disebut: kolumnis. (*)
Menot Sukadana