Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Profesi Ketiga

Oleh Nyoman Sukadana • 22 Juli 2026 • 00:29:00 WITA

Profesi Ketiga
Menot Sukadana (AI/Vector)

SEJAK awal 2026, saya punya sebutan baru.

Kolumnis.

Dulu, orang kenal saya sebagai jurnalis. Juga publisher. Profesi pertama sudah hampir seperempat abad. Profesi kedua lahir karena tuntutan. Saya tidak mau cuma jadi pekerja. Saya ikut mendirikan, menerbitkan, dan menghidupkan media online.

Tugas jurnalis jelas: cari fakta, olah fakta.

Tugas publisher juga jelas: pastikan media tetap terbit. Jangan sampai mati.

Lalu, datanglah profesi ketiga itu.

Sebenarnya, saya sudah menulis opini sejak 2010. Tapi, belum jadi pekerjaan tetap. Hanya sambilan. Ada masalah penting, saya menulis. Setelah itu, tenggelam lagi dalam rutinitas jurnalisme.

Tahun 2015, ritme itu sempat ketemu.

Dua tahun lamanya saya mengisi rubrik Candi Bentar di Harian Fajar Bali. Rasanya beda. Sangat beda dengan jadi wartawan biasa. Kalau menulis berita, harus cepat. Cari fakta utama, konfirmasi, lalu sajikan. Pembaca ingin cepat tahu.

Kolom tidak begitu. Kolom bekerja lebih lambat.

Peristiwa tidak selesai begitu saja setelah diberitakan. Peristiwa perlu dibaca lagi. Dihubungkan dengan pengalaman. Diuji pakai sejarah. Dilihat dari sudut yang tidak biasa.

Tapi, dasar angin-anginan. Setelah dua tahun, gairah menulis opini surut lagi.

Saya hanya menulis sesekali. Kalau ada isu seru. Kalau ada yang meminta. Atau, kalau kepala sudah terlalu penuh oleh gagasan yang mengganggu.

Iramanya timbul tenggelam.

Saya ini jurnalis yang kebetulan menulis opini. Belum jadi kolumnis yang disiplin.

Baru setahun terakhir ini semua berubah.

Saya mulai disiplin. Saya sediakan waktu khusus untuk menulis di PodiumNews. Tulisan pendek dan personal saya taruh di JEDA. Pendapat yang langsung menjedot masalah saya masukkan kanal opini. Urusan yang agak berat—seperti tata kelola, pariwisata, budaya, lingkungan—saya ulas panjang di HORISON.

Awalnya cuma satu-dua tulisan.

Lalu jadi puluhan.

Sekarang? Sudah tembus 300 artikel. Menyebar di JEDA, opini, dan HORISON.

Apakah angka 300 langsung bikin saya sah jadi kolumnis? Belum tentu. Banyak menulis bukan berarti tulisannya bagus. Malah, tumpukan tulisan bisa jadi tumpukan sampah pengulangan. Itu kalau penulisnya malas membaca dan enggan memperbarui isi kepala.

Tapi, jumlah itu punya fungsi lain: menguji daya tahan.

Menulis satu artikel itu mudah. Cukup modal semangat. Menulis sepuluh artikel juga gampang. Masih banyak ide. Tapi kalau sudah ratusan? Semangat dan inspirasi saja tidak cukup. Mesti jadi kebiasaan kerja. Jadi etos.

Ada hari yang menyenangkan. Gagasan mengalir lancar. Sudut pandang langsung ketemu. Kalimat pertama meluncur begitu saja.

Ada juga hari yang menyiksa. Semua berita rasanya sudah dikunyah orang lain. Isunya penting, tapi saya tidak punya hal baru untuk ditambahkan. Di titik ini, penulis sering tergoda. Menulis hanya demi berpendapat. Padahal pembaca tidak butuh.

Profesi ketiga ini melatih ego saya. Mengajarkan cara menahan diri.

Tidak semua peristiwa harus dikomentari. Tidak semua unek-unek harus dipajang. Kolom itu tugasnya menambah jernih cara pandang. Bukan mempertebal kebisingan.

Dari 300-an tulisan itu, saya jadi tahu diri. Saya melihat cacat sendiri.

Oh, ternyata cara saya membuka esai sering sama. Oh, kata-kata ini kok terlalu sering dipakai. Oh, gagasan ini awalnya saya kira tajam, ternyata tumpul setelah dibaca ulang. Bahkan, ada tulisan yang sudah telanjur terbit, tapi menyisakan sesal: harusnya bisa lebih baik dari ini.

Ratusan artikel itu bukan piagam kemenangan.

Itu jejak kaki di tempat latihan.

Sengaja tidak saya hapus. Biar saya bisa mengukur diri. Tulisan yang jelek jadi pengingat. Tulisan yang ramai direspons pembaca jadi penanda: oh, nadi persoalannya ada di sini.

Lalu, ujian naik kelas itu datang: buku.

Awal tahun ini, buku perdana saya lahir. Mengurus buku bikin saya sadar lagi. Menulis artikel pendek dengan membangun karya panjang itu dua makhluk yang berbeda.

Artikel bisa selesai sekali duduk. Satu tarikan napas.

Buku? Butuh napas panjang. Butuh hubungan antargagasan. Tulisan harus diseleksi ketat. Disusun. Dipotong. Dipindah. Diperiksa ulang. Jangan sampai cuma jadi kliping artikel yang dijilid.

Begitu dibaca utuh sebagai satu buku, ketahuan semua belangnya. Pengulangan kata yang tidak terasa di media online, tiba-tiba menumpuk berdekatan. Cara berpikir yang saya kira luas, ternyata cuma muter-muter di situ saja. Kalimat yang saya kira gagah, ternyata cuma cerewet.

Buku pertama itu bukan akhir.

Malah jadi pembuka repot berikutnya.

Tahun ini, saya sedang menggodok tiga buku lagi. Statusnya sedang disunting. Belum selesai. Menulis semua bab belum berarti pekerjaan rampung. Ada yang harus diringkas. Ada yang harus diperdalam. Bahkan ada bab yang terpaksa saya bongkar total karena sudah tidak cocok dengan arah buku.

Menyunting itu belajar ikhlas. Belajar tega.

Penulis harus berani membuang kalimat indah yang dia sukai, kalau kalimat itu cuma jadi benalu bagi naskah. Selesai mengetik bukan berarti selesai berpikir.

Sembari repot urusan buku, saya bikin web pribadi.

Saya butuh rumah. Rumah untuk mengumpulkan tulisan yang berserakan. Media online bisa berubah haluan. Bisa ganti tampilan. Bisa tutup rubrik. Bahkan bisa bangkrut. Punya web sendiri bikin jejak karya aman dan rapi.

Tapi, punya rumah sendiri tidak otomatis bikin kita jadi hebat.

Di PodiumNews, saya ini penulis sekaligus bosnya. Saya bebas menentukan tema. Bebas menentukan kapan mau tayang. Enak memang. Tapi merusak. Bebas tanpa batas itu berbahaya. Penulis butuh pembanding dari luar. Butuh wasit.

Maka, saya nekat mengirim tulisan ke Kolom Kompas.com.

Di sana, keistimewaan saya copot semua. Saya jadi pengirim naskah biasa. Nama besar atau pengalaman seperempat abad di media lokal tidak laku di sana. Tidak ada jaminan. Tulisan saya harus bertarung di meja redaksi.

Saingannya ngeri. Kompas.com menampung semua kalangan. Akademisi, pakar, budayawan, politisi, aktivis, sampai mahasiswa S-2 dan S-3. Semuanya menyetor tulisan.

Pintunya terbuka luas, tapi filternya ketat.

Gagasan harus klir. Harus relevan. Argumennya harus kuat. Bahasanya harus renyah buat publik. Kalau jelek? Ditolak. Kalau kurang? Diminta perbaiki.

Begitu tulisan saya akhirnya dimuat, nama saya resmi nangkring di daftar kontributor Kompas.com.

Senang? Pasti.

Tapi jangan sombong dulu. Daftar itu panjangnya minta ampun. Data September 2025 saja mencatat ada 1.250 kolumnis di sana. Datang dari segala penjuru, segala keahlian.

Saya cuma satu nama kecil di antara seribu lebih nama.

Nyata betul realitas itu. Menembus halaman kontributor belum bikin seseorang otomatis jadi kolumnis beken. Satu tulisan dimuat cuma membuktikan: naskah Anda kebetulan lolos hari itu.

Cuma itu. Belum lebih.

Lihat saja saat perayaan 30 tahun Kompas.com. Dari ribuan tulisan, cuma 41 yang dipilih untuk dibukukan. Angka yang bicara. Jarak antara sekadar terdaftar, dimuat, dipilih, sampai akhirnya diingat pembaca itu jauhnya bukan main.

Profesi itu bukan soal satu kali menang.

Profesi itu soal konsistensi. Soal napas panjang.

Saya akhirnya berani menyebut kolumnis sebagai profesi ketiga. Bukan karena pamer satu tulisan di media nasional. Bukan karena pamer 300 artikel, buku perdana, atau tiga calon buku baru.

Semua itu cuma bukti: saya sedang menekuni jalan ini dengan serius.

Jalan panjang yang merayap dari 2010. Sempat menemukan bentuk di Candi Bentar 2016. Lalu berlanjut sampai hari ini. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.