Batas Pantas
ROK MINI benar-benar naik panggung pada pertengahan 1960-an. London sedang riuh oleh musik, anak muda, butik dan kebiasaan baru. Tahun 1966, rok yang berhenti beberapa inci di atas lutut sudah menjadi bagian dari wajah Swinging London.
Mary Quant berada di tengah perubahan itu. Perancang Inggris tersebut bukan satu-satunya orang yang membuat rok pendek, tetapi namanya telanjur melekat pada mini. Ia melihat pakaian anak muda memang seharusnya berbeda dengan pakaian generasi ibu mereka. Victoria and Albert Museum mencatat rok mulai naik sejak akhir 1950-an dan menjadi sangat pendek sekitar 1966.
Rok mini kemudian berjalan ke mana-mana. Ia masuk majalah, film, panggung musik dan lemari perempuan muda di berbagai negara.
Jauh sebelum mini meledak, dunia ekonomi ternyata sudah mempunyai cerita sendiri mengenai panjang rok perempuan.
Namanya Hemline Index.
Cerita yang populer menghubungkannya dengan George Taylor, ekonom dan pengajar di Wharton School, Amerika Serikat, sekitar 1926. Masa itu Amerika sedang menikmati Roaring Twenties. Ekonomi tumbuh, konsumsi meningkat dan rok perempuan bergerak naik hingga sekitar lutut. Dari sanalah kemudian berkembang anggapan: ketika ekonomi sedang bagus, rok cenderung lebih pendek. Ketika ekonomi memburuk, ujung rok turun lagi.
Cerita tersebut makin enak dipercaya setelah bursa Wall Street jatuh pada 1929 dan Amerika masuk Depresi Besar pada 1930-an. Mode ikut berubah. Rok kembali memanjang.
Hanya saja sejarah teorinya tidak serapi cerita yang kemudian beredar. Taylor sendiri dalam penelitian mengenai industri stoking lebih banyak mencatat bahwa rok yang semakin pendek membuat perempuan membutuhkan stoking yang semakin terlihat. Ia tidak meninggalkan rumusan ekonomi bernama Hemline Index sebagaimana kemudian populer.
Tetapi ceritanya telanjur hidup.
Bahkan pada 2010, Marjolein van Baardwijk dan Philip Hans Franses dari Erasmus School of Economics mencoba mengujinya menggunakan data panjang rok sejak 1921 hingga 2009. Mereka memang menemukan hubungan tertentu dengan siklus ekonomi, tetapi arahnya terlambat sekitar tiga sampai empat tahun. Ekonomi lebih dahulu bergerak, mode mengikuti belakangan. Hemline akhirnya lebih menarik sebagai cerita tentang zaman daripada alat membaca ekonomi.
Tetap saja teorinya menggoda. Terlalu menggoda malah, karena gampang dipercaya.
Begitu penggaris itu dibawa ke Bali, hasilnya berantakan.
Foto perempuan Bali pada awal abad ke-20 memperlihatkan sesuatu yang sekarang mungkin dianggap jauh lebih berani dibanding rok mini. Dalam keseharian, perempuan bisa bekerja dengan kain menutup tubuh bagian bawah sementara dada terbuka. Bali waktu itu belum mengenal hotel berderet di Badung Selatan, pusat perbelanjaan, jalan penuh mobil atau jutaan wisatawan.
Ekonominya masih bertumpu pada sawah.
Lalu Bali bergerak memasuki abad modern. Kebaya semakin umum, sekolah bertambah, kota tumbuh dan perempuan masuk ke pekerjaan baru. Anehnya, tubuh justru semakin tertutup.
Kalau kemajuan hendak diukur dari sedikit-banyaknya kain, Bali sudah membuat persoalan sejak awal.
Cerita menjadi lebih menarik pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Ketika rok mini telah menjadi mode internasional, Kuta mulai kedatangan anak-anak muda dari Australia, Amerika dan Eropa. Sebagian mengikuti jalur perjalanan kaum hippie. Mereka mencari pantai murah, ombak, penginapan sederhana dan kehidupan yang tidak terlalu banyak aturan.
Jumlahnya cepat bertambah. Data kepolisian yang kemudian dikutip dalam penelitian tentang Kuta mencatat sekitar 1.700 pelancong hippie datang pada 1971. Setahun kemudian menjadi lebih dari 6.000 orang. Tahun 1973 jumlahnya mencapai 14.447 orang. Dari 204 hotel dan penginapan yang ada di Bali pada 1973, sebanyak 73 berada di Kuta. Awal Mei 1974 jumlah penginapan di kawasan itu sudah menjadi 114.
Kuta berubah cepat bukan karena seminar pariwisata. Rumah penduduk mulai menerima tamu. Warung tumbuh. Sepeda motor disewakan. Pantai menjadi tempat orang berselancar, mencari matahari atau sekadar tidak melakukan apa-apa.
Pakaian mereka juga berbeda.
I Gde Berata, salah seorang pendiri Balawista Kuta, pernah mengingat suasana pantai sekitar 1970. Turis masih sedikit dan banyak berpenampilan ala hippie. Berata bahkan sempat mengira Kevin Weldon, tokoh penyelamat pantai Australia yang kemudian membantu merintis Balawista, sebagai salah seorang hippie yang berkeliaran di Kuta.
Di pantai itulah orang Bali mulai terbiasa melihat bikini dalam jarak dekat. Sebagian perempuan asing bahkan berjemur tanpa penutup bagian atas tubuh, terutama di bagian pantai yang masih sepi.
Dari pengalaman semacam itu kemudian beredar gurauan yang pernah cukup dikenal: “sumur”.
Bukan tempat mengambil air.
Susu jemur.
Istilahnya memang nakal. Tetapi justru dari sana kelihatan bagaimana masyarakat menghadapi sesuatu yang pada awalnya asing. Orang melihat, menertawakan, mungkin juga penasaran, kemudian kembali bekerja. Pedagang menawarkan dagangan. Anak pantai mengurus papan selancar. Pemilik rumah menerima tamu.
Bikini lama-lama menjadi bagian dari pemandangan Kuta.
Bukan berarti semua orang Bali menerimanya tanpa soal. Penyair I Gusti Ngurah Parsua, misalnya, menyinggung turis bertelanjang dada di Kuta dalam puisinya pada 1975 dengan nada kritis. Oka Sukanta juga menuliskan pemandangan serupa dalam Pantai Kuta pada 1982.
Namun kehidupan sehari-hari punya kemampuan membuat yang asing menjadi biasa.
Bikini tidak membuat Kuta berhenti menjadi Kuta.
Di sini ukuran kepantasan mulai terasa menarik. Seorang turis asing berjalan dari penginapan ke pantai memakai bikini, orang memahami konteksnya. Pindahkan pakaian yang sama ke pasar desa, kantor pemerintah atau pura, urusannya segera berbeda.
Kainnya sama.
Tempatnya yang berubah.
Identitas orang yang mengenakannya juga ikut menentukan. Bikini pada turis bisa dibaca sebagai pakaian pantai. Rok mini pada perempuan asing mungkin dianggap bagian dari gaya liburan. Tetapi ketika pakaian yang sama dikenakan perempuan Bali, ukuran lain sering dikeluarkan.
Keluarga masuk. Lingkungan ikut bicara. Umur diperhitungkan. Kadang adat ikut dibawa.
Di sinilah rok mini menjadi lebih menarik daripada teorinya.
Bukan karena kain itu pendek, tetapi karena ia menunjukkan betapa lenturnya ukuran yang digunakan untuk menilai tubuh perempuan.
Generasi 1970-an mungkin pernah menatap rok mini sebagai pakaian baru. Generasi setelahnya sudah melihatnya lewat majalah, televisi dan film. Memasuki 1990-an, pusat perbelanjaan dan butik semakin dekat dengan kehidupan perkotaan Bali. Setelah internet dan media sosial datang, orang tidak perlu lagi menunggu mode tiba dari Jakarta atau wisatawan asing membawanya ke Kuta.
Sekarang gambar datang lebih dahulu daripada barangnya.
Kebaya pun mengalami perjalanan serupa. Model yang dulu dianggap terlalu ketat atau terlalu transparan akhirnya muncul di banyak acara. Sesudah cukup sering terlihat, orang berhenti membicarakannya. Lalu datang model baru dan batas pantas kembali diperdebatkan.
Begitulah ukuran itu bergerak.
Yang pernah membuat orang tua geleng kepala bisa beberapa tahun kemudian masuk foto keluarga tanpa persoalan. Generasi yang dahulu diperingatkan karena pakaiannya pada waktunya bisa berubah menjadi generasi yang memperingatkan anaknya.
Posisi rupanya ikut menua bersama umur.
Karena itu sulit mempercayai panjang kain sebagai petunjuk keadaan moral, apalagi kemajuan sebuah masyarakat.
Bali punya terlalu banyak contoh.
Perempuan Bali pernah bekerja dengan dada terbuka ketika pulau ini masih didominasi sawah. Ketika modernisasi bergerak, kebaya justru semakin kuat. Tahun 1960-an rok mini mengguncang dunia mode. Awal 1970-an Kuta didatangi kaum hippie dengan kebiasaan berpakaiannya sendiri. Bikini kemudian menjadi benda biasa di pantai yang sama.
Semuanya terjadi dalam masyarakat yang terus berubah.
Pariwisata membawa uang sekaligus kebiasaan baru. Perempuan masuk sekolah dan pekerjaan modern. Kota membesar. Televisi kemudian internet memperpendek jarak Bali dengan mode dunia.
Yang berubah ternyata bukan sekadar pakaian.
Mata yang melihatnya ikut berubah.
Mungkin itu sebabnya gurauan “sumur” masih menarik untuk diingat. Di belakang kelakarnya ada Kuta pada sebuah masa ketika masyarakat Bali sedang belajar hidup berdampingan dengan kebiasaan yang sangat berbeda dari miliknya.
Turis tetap berjemur. Orang Kuta tetap bekerja.
Beberapa puluh tahun kemudian, yang dahulu membuat orang menoleh bahkan tidak lagi menarik perhatian.
Batas pantas memang tidak pernah benar-benar diam. Ia bergerak mengikuti tempat, waktu dan orang yang sedang memegang penggaris. (*)
Menot Sukadana