Jual Tenang
TENANG itu mahal. Dulu gratis. Sekarang harus bayar. Makin sunyi, makin mahal harganya.
Bule-bule datang bergelombang. Lari dari rutinitas di negerinya. Lari dari rapat, lari dari musim dingin, lari dari layar gawai yang menyala tanpa henti. Mereka terbang belasan jam ke Bali mencari jeda. Membayar mahal untuk sebuah paket yang terdengar ganjil: belajar diam.
Bali menyediakan semuanya. Yoga. Meditasi. Spa. Retret.
Tenang, ternyata, sudah jadi komoditas pariwisata. Laris manis.
Salahkah? Tentu tidak. Jeda itu perlu. Saya pun percaya kemampuan berhenti sama pentingnya dengan kemampuan bekerja keras.
Yang menarik justru ini: di mana ketenangan itu diproduksi?
Misalkan ada sebuah vila retret. Mewah. Kamarnya sunyi. Menghadap sawah terasering. Sawah itu milik petani lokal.
Tapi di balik dinding bambu estetik itu, gesekan sosial sedang menyala pelan-pelan.
Untuk mengisi kolam renang yang jernih itu, pipa bor dilesakkan puluhan meter ke perut bumi. Air disedot siang dan malam. Di luar pagar, warga desa mulai bingung: sumur gali mereka mendadak kering. Air mandi harus dihemat, sementara beberapa meter di sampingnya bule berendam seharian.
Bukan cuma air. Saluran subak ikut terpotong demi membangun gang semen untuk akses mobil tamu. Aliran air terhambat. Petani di hilir menjerit. Karena air mati, padi mati. Kalau padi mati, sawah tinggal tunggu waktu untuk ikut dijual jadi vila baru.
Lalu ada perkara suara.
Orang asing itu membeli sunyi. Dan mereka menuntut dunia luar ikut membisu. Pernah ada yang sampai bikin petisi: komplain karena kokok ayam jantan pagi-pagi, gong bale banjar yang sedang latihan upacara, atau motor warga yang lewat mencari nafkah.
Mereka ingin desa adat mengalah pada paket hening yang sudah dibayar lewat kartu kredit.
Berapa bayarnya? Ribuan dolar.
Masuk ke rekening perusahaan di luar negeri. Yang tertinggal di desa cuma jalan retak, pipa bocor, dan tenaga lokal yang dibayar harian untuk menyapu daun kering.
Industri pariwisata membacanya sebagai peluang emas: menjual suasana batin.
Di situlah paradoksnya. Semakin banyak bule mencari tempat sepi, semakin bising proyek fisiknya. Hutan diratakan. Sawah diuruk semen.
Saya ingat kritik Ronald Purser: McMindfulness. Stres akibat sistem hidup modern diobati dengan duduk diam. Akar masalahnya diabaikan.
Di Bali, kita punya Tri Hita Karana. Keseimbangan manusia, alam, dan pencipta.
Harmoni itu tidak bisa diganti dengan mangkuk kristal (singing bowl) atau dupa yang dibakar di ruang ber-AC, sementara sumur tetangga mati air dan saluran subak terbelah jalan beton.
Sawah kian sempit. Itu pun dijadikan instrumen dagang: “Rice field view”.
Dua kata bahasa Inggris itu membuat harga kamar melambung. Petani lokal mandi keringat di lumpur, bule tersenyum menyesap kombucha dari balkon atas.
Kemacetan makin panjang. Sawah makin habis. Tapi brosur retret makin gencar disebar.
Pertanyaannya tinggal menunggu waktu: ke mana bule-bule itu akan mencari tenang, kalau seluruh tempat sepi sudah disulap jadi proyek vila?
Tarik napas.
Buang pelan-pelan. (*)
Menot Sukadana