Podiumnews.com / Horison / Tata Kelola

Canggu Kehabisan Canggu

Oleh Nyoman Sukadana • 26 Juli 2026 • 17:56:00 WITA

Canggu Kehabisan Canggu
ILUSTRASI: Lanskap Canggu tersimpan dalam segelas kopi, ketika sawah, pantai, dan pohon kelapa berubah menjadi citra kafe modern yang dijual. (AI/Podiumnews)

BARISAN sepeda motor merayap di jalan sempit yang membelah sawah. Pengendara saling mendahului, lalu berhenti lagi beberapa meter kemudian. Di balik tembok vila, pucuk-pucuk padi masih terlihat. Bentangnya semakin pendek. Jalan yang dahulu melayani petani kini menjadi jalur wisatawan menuju kafe, hotel, pusat kebugaran, dan pantai.

Pemandangan semacam itu menyimpan ironi Canggu. Orang datang karena ombak, sawah, dan suasana desa. Untuk melayani kedatangan mereka, sawah dibangun, jalan dipadati kendaraan, dan kehidupan desa didorong semakin jauh dari pantai.

Canggu mungkin tidak akan kehilangan wisatawan. Kawasan ini masih dapat bertambah ramai, mahal, dan menguntungkan. Ancaman terbesarnya justru lebih aneh: Canggu tetap laku setelah segala hal yang membuatnya dikenal sebagai Canggu menghilang.

Nyoman Sunarta dan empat peneliti dari Universitas Udayana serta ZHAW Swiss menghitung kecepatan perubahan tersebut dalam riset Overtourism Triggered Built-up Expansion over a Decade in Canggu, Bali pada 2025. Citra satelit menunjukkan kawasan terbangun di koridor wisata Canggu menuju Tanah Lot bertambah 317,97 hektare sepanjang 2014–2024. Lebih dari separuh pertambahan itu, yakni 177,84 hektare, terjadi hanya dalam dua tahun terakhir pengamatan, 2022–2024.

Angka itu tidak hanya berbicara tentang banyaknya bangunan. Ia memperlihatkan ke mana masa depan Canggu bergerak. Pertumbuhan mengikuti jalan, menyebar dari pusat keramaian, lalu menjalar ke barat. Pererenan, Cemagi, hingga kawasan menuju Tanah Lot mulai menanggung tekanan yang sebelumnya terkonsentrasi di Batu Bolong dan Tibubeneng.

Ketika pusat menjadi terlalu padat dan mahal, modal tidak berhenti. Ia mencari desa yang masih memiliki sawah, jalan lengang, pemandangan laut, dan harga tanah lebih rendah. Tempat baru kemudian dipromosikan dengan janji yang sama: lebih tenang, lebih alami, lebih dekat dengan kehidupan Bali.

Canggu tumbuh dari pola tersebut. Sebelum kawasan ini terkenal, wisatawan yang lelah dengan kepadatan Kuta bergerak menuju Legian, Seminyak, Kerobokan, lalu pantai-pantai di sebelah utaranya. Mereka mencari tempat yang belum sepenuhnya dibentuk oleh paket wisata dan perdagangan massal.

Ahli geografi John Connell telah membaca siklus itu dalam tulisan Bali Revisited: Death, Rejuvenation, and the Tourist Cycle pada 1993. Ia mencatat Kuta pada 1970-an memperoleh karakter khas dari pelancong dunia dan peselancar. Setelah perdagangan, paket wisata, dan hiburan berkembang, kelompok yang mencari suasana lebih asli bergerak ke pinggiran. Pusat lama tetap ramai, sedangkan pencarian kesunyian berpindah ke tempat lain.

Canggu adalah salah satu anak dari perpindahan itu. Kini ia mulai mengulangi perjalanan tempat yang pernah ditinggalkannya.

Kuta tidak mati setelah kehilangan wajah kampung peselancar. Hotel, toko, restoran, dan tempat hiburan tetap menghasilkan uang. Nama Kuta bahkan semakin dikenal. Yang berubah ialah alasan orang datang. Wisatawan yang menginginkan pantai lengang dan kehidupan sederhana mencari kawasan baru.

Nasib serupa dapat menunggu Canggu. Ia tetap hadir dalam peta perjalanan, iklan properti, menu restoran, nama merek pakaian, dan unggahan media sosial. Namun, sawah yang membangun citranya hanya tersisa sebagai celah di antara bangunan. Pantai tetap memiliki ombak, tetapi perjalanan menuju ke sana menghabiskan waktu dalam kemacetan. Desa tetap menjalankan upacara, sementara ruang di sekelilingnya semakin tunduk kepada kebutuhan wisata.

Perbedaannya, perubahan Canggu lebih sulit diperbaiki daripada Kuta. Pembangunan di Kuta tumbuh sebagai kawasan komersial yang relatif terkonsentrasi. Canggu berkembang menyebar melalui gang, jalan subak, permukiman, dan petak-petak sawah. Satu vila berdiri di tengah lahan pertanian, lalu membuka akses bagi bangunan berikutnya. Sawah terpecah sebelum seluruh kawasan tampak seperti kota.

Jalan baru juga membawa akibat ganda. Ia dapat memecah kemacetan untuk sementara, tetapi sekaligus membuat lahan yang sebelumnya sulit dicapai menjadi lebih menarik bagi pengembang. Solusi lalu lintas kemudian berubah menjadi pintu masuk pembangunan baru. Canggu mendapat jalan tambahan, lalu memperoleh lebih banyak kendaraan daripada yang berhasil dialihkan.

Warga menyadari tekanan tersebut. I Wayan Suyadnya, sosiolog Universitas Brawijaya, bersama Rusli Cahyadi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional serta dua peneliti lain, membahasnya dalam riset Overtourism Sensitivity and Tourism Development in Canggu, Bali pada 2025. Mereka menemukan warga mengeluhkan kemacetan, kebisingan, gentrifikasi, kedatangan wisatawan asing yang tinggal lama, serta konflik antarkelompok. Keluhan itu sering dimaklumi karena penghasilan keluarga telah terhubung dengan pariwisata.

Di situlah perangkap Canggu bekerja. Gangguan membesar, tetapi keuntungan ekonomi membuat batas toleransi terus digeser. Tanah disewakan karena hasilnya mengalahkan panen. Rumah diubah menjadi penginapan karena permintaannya tersedia. Jalan pertanian diperkeras karena kendaraan membutuhkan jalur baru. Setiap keputusan masuk akal bagi satu keluarga atau satu usaha. Jika berlangsung serentak, keputusan itu menghasilkan kawasan yang semakin sulit dihuni.

Canggu kemudian hidup dalam dua kenyataan. Pariwisata memperluas pekerjaan dan menaikkan nilai aset. Bersamaan dengan itu, biaya tempat tinggal meningkat, perjalanan harian semakin panjang, air menerima tekanan, dan ruang terbuka terus berkurang. Warga memperoleh kekayaan dari perubahan tanah, tetapi desa kehilangan kemampuan menyerap perubahan berikutnya.

Tulum di Meksiko memberikan gambaran tentang arah yang perlu dihindari. Kota pesisir itu pernah dipromosikan sebagai lawan dari resor massal Cancún. Citra yang dijual hampir menyerupai Canggu: pantai, alam, gaya hidup alternatif, penginapan bergaya, makanan sehat, dan jarak dari pariwisata konvensional.

Peneliti Universitas Quintana Roo, Lucinda Arroyo, Oscar Fausto, Romano Segrado, dan Ismael Chuc, dalam kajian Unsustainable Littoral Tourism in Tulum, Mexico pada 2013 telah mengingatkan bahwa pertumbuhan wisata pesisir Tulum berlangsung lebih cepat daripada strategi pembangunan berkelanjutan. Joel F. Audefroy dari National Polytechnic Institute kemudian menunjukkan dalam risetnya pada 2022 bahwa ekspansi kota dan pariwisata menekan mangrove, sungai bawah tanah, sanitasi, serta pengelolaan sampah di wilayah pesisir tersebut.

Tulum membuktikan bahwa sebuah destinasi dapat menjual kedekatan dengan alam sambil merusak sistem alam yang menopang penjualannya. Hotel memakai estetika hutan, sementara pembangunan menekan hutan. Penginapan menjual kejernihan air, sedangkan limbah dan pertumbuhan kota mengancam aliran bawah tanah.

Kesamaan dengan Canggu tidak berhenti pada kafe, yoga, atau wisatawan muda. Keduanya tumbuh melalui janji bahwa pengunjung dapat menikmati kehidupan yang lebih bebas dan alami daripada di pusat wisata lama. Ketika modal datang untuk memenuhi janji itu, alam dan ruang yang dijual justru menyusut.

Air telah memberikan peringatan bagi Kuta Utara. Penelitian tentang intrusi air laut yang dilakukan di 32 sumur pada 2024 menemukan tingkat intrusi rendah hingga sedang di Canggu dan Tibubeneng. Kerobokan Kelod sudah masuk kategori tinggi pada sejumlah titik. Para peneliti mengaitkan ancaman tersebut dengan eksploitasi air tanah, penurunan muka tanah, dan kegiatan pariwisata.

Masalah seperti itu tidak selesai dengan promosi pariwisata berkelanjutan. Kolam renang tetap membutuhkan air. Vila tetap menghasilkan limbah. Restoran tetap memerlukan pasokan, parkir, dan tenaga kerja. Jumlah bangunan yang melampaui kapasitas lingkungan tidak menjadi ringan hanya karena arsitekturnya memakai batu alam atau atap menyerupai rumah tropis.

Phuket di Thailand menawarkan pelajaran lain. Pulau itu memilih menopang industri wisata melalui investasi besar pada infrastruktur sekaligus membicarakan diversifikasi ekonomi. Strategi transformasi Phuket yang disusun UNDP dan Prince of Songkla University pada 2023 mengakui pariwisata massal menaikkan biaya hidup dan membagikan keuntungan secara tidak merata. Dokumen tersebut menempatkan infrastruktur publik, perlindungan kelompok rentan, dan penguatan ruang hijau sebagai kebutuhan utama.

Pelajarannya bagi Canggu bukan meniru Phuket dengan membangun lebih banyak jalan dan fasilitas. Infrastruktur memang diperlukan, tetapi kapasitas baru mudah mengundang pertumbuhan tambahan. Jalan lebih lebar segera dipenuhi kendaraan baru. Saluran air yang diperbesar melayani bangunan lebih banyak. Tempat parkir tambahan membuat kawasan semakin nyaman untuk didatangi, bukan semakin layak ditinggali.

Masa depan Canggu karena itu tidak dapat ditentukan hanya melalui proyek pengurai kemacetan. Pertanyaan utamanya ialah berapa banyak bangunan yang masih dapat ditanggung oleh air, jalan, sistem limbah, pantai, dan kehidupan desa.

Batas itu harus diterjemahkan secara konkret. Sawah yang tersisa perlu dijaga sebagai satu bentang, bukan petak dekoratif di antara vila. Jalan subak tidak boleh terus diperlakukan sebagai cadangan jalan wisata. Jumlah akomodasi mesti mengikuti kapasitas air dan pengolahan limbah. Akses publik menuju pantai perlu dipastikan sebelum seluruh daratan di belakang ombak dikuasai kepentingan usaha.

Pengendalian juga harus bergerak ke barat. Melindungi Batu Bolong setelah pembangunan penuh hanya akan memindahkan tekanan ke Pererenan, Seseh, Cemagi, dan Kedungu. Desa yang hari ini dijual sebagai “Canggu yang masih tenang” dapat mengalami nasib serupa sebelum sempat menyiapkan batas.

Canggu kemungkinan tetap sukses. Restoran akan terus dibuka. Vila baru masih menemukan penyewa. Kemacetan bahkan dapat dianggap sebagai bukti bahwa kawasan itu diminati. Pariwisata tidak selalu meninggalkan sebuah tempat setelah merusak karakter awalnya. Kadang-kadang ia bertahan justru karena nama tempat tersebut sudah lebih kuat daripada kenyataan di lapangan.

Suatu hari, Canggu mungkin membentang jauh melewati batas desanya. Nama itu dipakai untuk menjual properti, makanan, hiburan, dan gaya hidup di sepanjang pesisir barat Badung hingga Tabanan. Canggu menjadi semakin besar sebagai merek, tetapi semakin kecil sebagai tempat.

Kawasan itu masih akan penuh. Yang perlu dipastikan, nama Canggu kelak tetap menunjuk sebuah desa dengan ruang hidupnya, bukan sekadar merek yang dipindahkan ke sawah terakhir di sebelah barat. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.