Podiumnews.com / Horison / Tata Kelola

Bali Mengekspor Keahlian

Oleh Nyoman Sukadana • 17 September 2026 • 12:00:00 WITA

Bali Mengekspor Keahlian
ILUSTRASI pesawat lepas landas dari nampan saji, menggambarkan Bali mengekspor keahlian hospitality ke pasar kerja internasional yang kini terus berkembang. (AI/Podiumnews)

SERIBU calon pekerja migran Indonesia dilepas dari Sanur menuju Bulgaria pada 2 April 2026. Mereka akan bekerja di sektor hospitality, bidang yang selama puluhan tahun menjadi salah satu penopang utama ekonomi Bali.

Bulgaria belakangan menjadi salah satu tujuan baru pekerja asal Bali. Sebelumnya mereka sudah banyak bekerja di Italia, Turki, Jepang, Polandia, kapal pesiar, dan sejumlah negara lain. Hingga 9 Juli 2026, BP3MI Bali mencatat penempatan pekerja migran asal Bali telah mencapai 9.313 orang.

Angka itu menunjukkan pasar kerja tenaga Bali kini sudah jauh melampaui batas pulau. Yang menarik, arus keluar tersebut tumbuh dari daerah yang justru memiliki industri pariwisata besar dan tingkat pengangguran rendah.

Dalam periode yang lebih panjang, SISKOP2MI mencatat 33.146 layanan penempatan prosedural dari Bali sepanjang 2023 hingga 31 Mei 2026. Italia, Turki, Bulgaria, Jepang, dan Polandia menjadi lima tujuan utama. Pekerjaan yang banyak diisi berada di sektor wellness therapist dan hospitality. Angka 33.146 merupakan layanan penempatan dan tidak dapat langsung dibaca sebagai jumlah orang yang berbeda.

Bali memang mempunyai persediaan tenaga yang besar untuk bidang tersebut. Dalam Rencana Strategis Kementerian Pariwisata 2025-2029, jumlah tenaga kerja pariwisata Bali pada 2026 ditargetkan mencapai 651.718 orang. Cakupannya lebih luas daripada pekerja hotel dan restoran karena perhitungan menggunakan berbagai usaha yang terkait dengan pariwisata. Namun angka itu memberi gambaran mengenai besarnya kelompok pekerja yang hidup dari industri wisata Bali.

Mereka tidak muncul begitu saja ketika lowongan dari luar negeri dibuka.

Jalur menuju pekerjaan pariwisata sudah tersedia sejak pendidikan menengah. Data Direktorat SMK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat Bali memiliki 166 SMK. Kepala Bidang Pembinaan SMK Disdikpora Bali I Gusti Ngurah Dwi Suwariantha menyebut sekitar 120 di antaranya membuka kompetensi yang berkaitan dengan pariwisata dan hospitality. Perhotelan dan kuliner masih termasuk jurusan yang banyak dipilih siswa pada penerimaan 2026.

Di tingkat perguruan tinggi, pendidikan serupa sudah lama berkembang. Politeknik Pariwisata Bali mencatat 2.942 mahasiswa aktif pada 2024. Selama 2020-2024 kampus itu menerima 18.705 pendaftar dan 3.734 orang dinyatakan lulus seleksi. Selain Poltekpar, Fakultas Pariwisata Universitas Udayana serta sejumlah perguruan tinggi swasta juga membuka program yang bersentuhan langsung dengan industri pariwisata.

Di luar sekolah dan kampus terdapat jaringan lembaga pelatihan kerja. Data Statistik Sektoral Pemerintah Provinsi Bali mencatat 299 LPK pada 2023. Sebanyak 65 berada di Denpasar, 44 di Badung, 41 di Gianyar, sedangkan sisanya tersebar di kabupaten lain. Data Disnaker ESDM setahun sebelumnya menunjukkan tujuh BLK atau LLK pemerintah dan 288 LPK swasta beroperasi di Bali. Banyak bidang pelatihannya memang tidak berkaitan dengan pariwisata, tetapi daftar resmi pemerintah juga memuat cukup banyak lembaga yang mengajarkan food and beverage, housekeeping, perhotelan, bahasa asing sampai persiapan bekerja di kapal pesiar.

Dengan infrastruktur seperti itu, Bali mempunyai sesuatu yang dicari pasar tenaga kerja internasional: orang yang sudah mengenal pekerjaan hospitality sebelum meninggalkan Indonesia.

Pengalaman dari hotel, restoran, spa atau usaha wisata kemudian melengkapi pendidikan formal. Seorang pekerja yang telah beberapa tahun bekerja di Bali biasanya sudah terbiasa menghadapi tamu asing, mengenal ritme kerja industri pariwisata dan setidaknya mempunyai kemampuan bahasa Inggris untuk kebutuhan pekerjaan.

Hal tersebut ikut menjelaskan mengapa perekrut luar negeri datang ke Bali. Wakil Menteri P2MI Christina Aryani, ketika membahas penempatan pekerja ke Bulgaria pada Februari lalu, menyebut tenaga asal Bali mempunyai keuntungan karena tumbuh dalam ekosistem hospitality. Industri perhotelan Bali juga menyediakan tempat bagi calon pekerja untuk memperoleh pengalaman langsung sebelum mengikuti penempatan ke luar negeri.

Kebutuhan tenaga di negara tujuan pada saat yang sama cukup besar.

Komisi Eropa mencatat 92 persen usaha kecil dan menengah di sektor pariwisata mengalami kesulitan mendapatkan tenaga terampil, terutama karena kekurangan pelamar. Masalah itu terlihat di sejumlah negara yang menjadi tujuan pekerja dari Bali. EURES, layanan ketenagakerjaan Uni Eropa, mencatat Bulgaria mengalami kekurangan tenaga pariwisata ketika musim panas. Hotel dan restoran membutuhkan koki, pelayan, bartender sampai tenaga administrasi. Di kawasan wisata pantai, perekrutan pekerja dari negara ketiga sudah menjadi bagian dari upaya menutup kekurangan tersebut.

Italia menghadapi persoalan serupa. Kekurangan tenaga pada sektor pariwisata meliputi pelayan, koki, resepsionis, petugas kebersihan dan operator wisata. EURES mencatat perusahaan di negara itu semakin sulit mendapatkan pekerja yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pada 2023, kesulitan mendapatkan kandidat terjadi pada sekitar separuh rencana perekrutan di berbagai sektor.

Jepang bahkan memasukkan usaha akomodasi dalam skema Specified Skilled Worker. Pemerintah negara itu menetapkan ruang penerimaan hingga 23.000 tenaga asing untuk sektor tersebut selama periode lima tahun. Pekerja asing dapat ditempatkan antara lain pada bagian resepsionis, pelayanan tamu dan restoran hotel.

Bali berada pada posisi yang menguntungkan untuk mengisi sebagian kebutuhan itu. Negara tujuan membutuhkan orang, sementara pulau ini sudah mempunyai industri yang selama bertahun-tahun menghasilkan tenaga dengan pengalaman pelayanan wisata.

Pasarnya kemudian tidak berhenti pada pengiriman tenaga secara umum. Untuk pekerjaan tertentu, keterampilan yang melekat dengan nama Bali sendiri mempunyai permintaan. Pada 2022, sebanyak 1.375 pekerja asal Bali ditempatkan di Turki dan mayoritas bekerja sebagai terapis spa. BP3MI Bali ketika itu mencatat Balinese massage cukup dikenal di negara tersebut.

Arus pekerja keluar menjadi semakin mudah karena jaringan penempatannya juga telah terbentuk. Pemerintah Provinsi Bali memiliki daftar khusus perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia yang berkantor pusat atau membuka cabang di Bali. BP3MI juga melakukan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan tersebut. Untuk sektor awak kapal saja, forum yang difasilitasi BP3MI Bali pada April 2026 diikuti empat P3MI pemegang izin usaha keagenan awak kapal.

Jadi, ketika lowongan datang dari Eropa atau kapal pesiar, perusahaan tidak harus mulai mencari calon pekerja dari nol. Sekolah, lembaga pelatihan, pengalaman industri dan perusahaan penempatan sudah membentuk jalur yang dapat dilalui calon pekerja.

Pemerintah sekarang ikut memperlebar jalur itu. Program SMK Go Global mulai berjalan di Bali pada Agustus 2026. Angkatan pertama disiapkan melalui pelatihan di Balai Diklat Industri Denpasar untuk pekerjaan yang memang dibutuhkan pasar luar negeri. BP3MI juga menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi untuk menyiapkan tenaga sektor hospitality.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa orang Bali mau pergi.

Jawaban paling mudah tentu pendapatan. Upah minimum sektoral Bali pada 2026 untuk hotel berbintang ditetapkan Rp3.267.693 per bulan. Angka tersebut bukan rata-rata penghasilan pekerja hotel. Pekerja berpengalaman bisa mendapatkan lebih besar, termasuk dari service charge dan tunjangan. Tetapi angka minimum itu tetap memperlihatkan dasar pengupahan yang berlaku pada sektor tersebut.

Pada saat yang sama, pekerja bisa membuka SISKOP2MI dan melihat harga yang ditawarkan pasar lain.

Salah satu lowongan waiter yang dipasang perusahaan penempatan di Denpasar pada April 2026 menawarkan 970 sampai 1.000 euro per bulan. Pelamar harus mempunyai pengalaman satu sampai tiga tahun dan kemampuan bahasa Inggris untuk kebutuhan kerja. Akomodasi, konsumsi serta asuransi termasuk fasilitas yang disediakan. Tawaran dengan kisaran serupa juga tersedia untuk kitchen helper, room steward dan terapis spa.

Nominal tersebut tidak bisa begitu saja dikalikan kurs rupiah lalu dibandingkan dengan upah Bali. Biaya hidup, pajak, jam kerja dan masa kontrak berbeda. Penempatan di Bulgaria, misalnya, banyak yang bersifat musiman selama lima sampai enam bulan. Namun adanya akomodasi atau konsumsi yang ditanggung pemberi kerja ikut menentukan jumlah uang yang mungkin disimpan pekerja selama kontrak.

Pertimbangan ekonomi seperti itu sudah lama ditemukan dalam penelitian pekerja Bali. Pam Nilan dan Luh Putu Artini meneliti 35 calon, pekerja dan mantan pekerja kapal pesiar asal Bali. Motivasi kuat calon pekerja adalah memperbaiki ekonomi keluarga dan memperoleh masa depan yang lebih baik. Penelitian itu juga mencatat reputasi Bali dalam pendidikan pariwisata serta tingkat upah lokal menjadi bagian dari alasan perusahaan kapal pesiar menjadikan Bali sebagai daerah perekrutan.

Penelitian tersebut memang dilakukan lebih dari satu dekade lalu. Tetapi perbedaan nilai pekerjaan masih terlihat pada lowongan hari ini. Orang yang sudah mempunyai pengalaman satu hingga tiga tahun di industri Bali bisa membawa keterampilan yang sama ke pasar dengan tingkat pembayaran berbeda.

Kepergian pekerja juga tidak terjadi ketika Bali sedang mengalami pengangguran tinggi. BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2026 sebesar 1,52 persen. Jumlah penduduk yang bekerja mencapai 2,66 juta orang, bahkan bertambah sekitar 39 ribu dibanding Februari. Penambahan terbesar terjadi pada sektor akomodasi serta makan dan minum.

Data tersebut membuat cerita pekerja migran Bali agak berbeda dari gambaran lama tentang orang yang pergi ke luar negeri karena tidak menemukan pekerjaan di daerah asal.

Pekerjaan di Bali masih tersedia. Yang berubah adalah luas pasar yang bisa dimasuki pekerjanya.

Seseorang dapat belajar perhotelan di Bali, bekerja beberapa tahun di hotel, kemudian menggunakan pengalaman tersebut untuk masuk ke kapal pesiar atau hotel di negara lain. Perusahaan di Bali akhirnya bukan hanya bersaing mendapatkan tenaga dengan hotel sebelah. Untuk pekerja tertentu, pesaingnya sudah berada ribuan kilometer dari pulau ini.

Situasi tersebut belum tentu buruk bagi Bali. Banyak pekerja pergi dengan kontrak dan kemudian pulang. Mereka bisa kembali dengan pengalaman, tabungan dan kemampuan kerja yang lebih tinggi. Sebagian kemudian kembali ke industri pariwisata atau menggunakan modal yang diperoleh untuk membuka usaha.

Penelitian Nilan dan Artini menemukan mantan pekerja kapal pesiar yang telah bekerja selama sepuluh hingga dua belas tahun dapat mengumpulkan modal untuk mencoba membangun usaha setelah kembali ke Bali. Persoalan yang ditemukan justru muncul pada kemampuan mengelola usaha setelah mereka berhenti bekerja di kapal.

Di sinilah pembicaraan mengenai pekerja migran Bali seharusnya mulai bergeser. Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah orang yang berhasil ditempatkan di luar negeri. Yang perlu diketahui juga adalah berapa banyak keterampilan, pengalaman dan modal yang kembali ketika mereka pulang.

Bali sudah mempunyai rantai yang cukup lengkap untuk menghasilkan tenaga pariwisata. Sekolah kejuruan tersedia hampir di seluruh daerah. Kampus dan ratusan lembaga pelatihan menyiapkan keterampilan yang dibutuhkan industri. Hotel dan restoran menyediakan tempat mendapatkan pengalaman, sementara perusahaan penempatan menghubungkannya dengan lowongan luar negeri.

Di ujung rantai itu terdapat pasar dunia yang sedang mencari tenaga.

Pariwisata Bali selama ini dihitung dari jumlah orang asing yang datang ke pulau ini. Kini semakin terlihat arus yang bergerak ke arah sebaliknya.

Yang berangkat bukan hanya pekerja.

Mereka membawa keahlian yang dibentuk Bali. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.