Podiumnews.com / Horison / Tata Kelola

Birokrat Menulis Bali

Oleh Nyoman Sukadana • 16 September 2026 • 00:18:00 WITA

Birokrat Menulis Bali
ILUSTRASI peta Bali tersusun dari dokumen, catatan, dan alat tulis, menggambarkan birokrat yang merekam perubahan pulau melalui tulisan mereka sendiri. (AI/Podiumnews)

JIKA ingin mencari tulisan birokrat Bali, jangan hanya membuka website pemerintah. Cobalah masuk ke Tatkala, BaleBengong, jurnal milik Pemprov Bali, blog pribadi, atau rak buku. Di sana ada dokter yang memimpin rumah sakit menulis pandemi, pegawai pemerintah mengulas digitalisasi birokrasi, ASN Badung mencatat perubahan Dalung dan Canggu, sampai pejabat BPBD menuangkan pengalaman menangani erupsi Gunung Agung.

Jejaknya memang tidak berkumpul di satu tempat. Itu mungkin sebabnya kita jarang melihat mereka sebagai kelompok penulis.

Selama ini birokrat lebih mudah dibayangkan lewat surat, rapat, disposisi, laporan dan tanda tangan. Menulis dalam pengertian membuat esai untuk dibaca masyarakat terasa seperti pekerjaan lain. Kenyataannya, sejumlah birokrat Bali sudah melakukannya cukup lama. Sebagian bahkan menghasilkan buku.

Putu Arya Nugraha merupakan contoh yang paling mudah ditemukan. Dokter spesialis penyakit dalam yang pernah memimpin RSUD Buleleng ini menulis kesehatan tidak seperti laporan rumah sakit. Di situs RSUD Buleleng, namanya muncul di bawah artikel mengenai masker, Covid-19, vaksin hingga kematian Diego Maradona dari sudut medis. Di Tatkala, tulisan Arya bergerak lebih leluasa. Kesehatan bersinggungan dengan kemanusiaan, sastra dan persoalan sosial. Tatkala pada 2022 mencatat tulisan-tulisannya juga pernah dimuat di Bali Post, DenPost dan Jawa Pos. Saat itu ia sudah menghasilkan tiga buku: Merayakan Ingatan, Obat bagi Orang Sehat, dan Filosofi Sehat.

Pandemi kemudian memberinya bahan lain. Pengalaman memimpin rumah sakit pada masa Covid-19 ditulis menjadi Dinosaurus Punah, Virus Tidak, buku sekitar 300 halaman yang terbit pada 2022. Dalam bedah buku yang diselenggarakan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Buleleng, Arya mengatakan menulis merupakan bagian dari tanggung jawab intelektualnya. Ia ingin fakta mengenai pandemi tidak berhenti sebagai informasi medis yang hanya dipahami tenaga kesehatan.

Ada satu pernyataan menarik dalam acara itu. Sekda Buleleng Gede Suyasa berharap langkah Arya menular kepada ASN lain. Pengalaman kerja, menurut Suyasa, sebaiknya ditulis agar terdokumentasi dan dapat menjadi bahan pelajaran bagi generasi berikutnya.

Kalimat tersebut sebenarnya menyentuh persoalan yang lebih besar daripada sekadar budaya membaca dan menulis di kalangan pegawai negeri.

Birokrat mempunyai pengalaman yang tidak dimiliki orang di luar kantor pemerintahan. Mereka berada di dalam proses ketika sebuah keputusan disusun, dilaksanakan dan akhirnya terlihat hasilnya. Birokrat kesehatan mengalami perubahan rumah sakit dari dekat. Orang Bappeda mengikuti sebuah kawasan sejak masih berupa rencana. Pegawai pekerjaan umum mengetahui jalan yang berkali-kali diusulkan tetapi tidak dibangun. Pejabat pendapatan melihat perubahan ekonomi melalui angka pajak sebelum perubahan itu terasa sebagai kemakmuran atau masalah di masyarakat.

Pengalaman semacam itu bisa berubah menjadi pengetahuan publik ketika ditulis.

Pande Baik menunjukkan model yang berbeda. Ia bukan penulis buku pengalaman birokrasi seperti Arya, tetapi jejak digitalnya mungkin sama menariknya. BaleBengong mencatat Pande sebagai PNS Kabupaten Badung yang menjadikan blog tempat berbagi ide, pengalaman dan pengetahuan. Tulisan Kota Satelit Dalung (Tak) Permai yang terbit pada 2008, misalnya, merekam jalan berlubang, drainase, pasar, terminal dan perkembangan kawasan Dalung ketika perubahan wilayah itu belum sejauh sekarang.

Membaca kembali tulisan lama seperti itu pada 2026 memberi pengalaman yang berbeda. Dalung sudah berubah. Canggu dan kawasan di sekitarnya berubah lebih cepat lagi. Tulisan yang awalnya merupakan komentar seorang warga perlahan mendapatkan fungsi lain: menjadi catatan tentang sebuah tempat sebelum wajahnya berganti.

Pande juga meninggalkan jejak cukup rinci mengenai pekerjaannya di LPSE Badung. Blog pribadinya menyimpan catatan tentang pengembangan sistem pengadaan elektronik, persoalan server, rapat koordinasi nasional LPSE, sampai pengalamannya menjadi Sekretaris LPSE Badung. Pada 2012 ia bahkan menulis mengenai keluhan dan masukan LPSE Badung kepada LKPP serta proses pengembangan SPSE.

Ketika ditulis saat itu, mungkin isinya terasa teknis dan sehari-hari. Bertahun-tahun kemudian catatan tersebut mempunyai nilai lain. Generasi ASN sekarang masuk ke dunia kerja ketika pengadaan elektronik sudah dianggap biasa. Dari tulisan semacam itu mereka bisa membaca masa ketika sistem masih dibangun, perangkatnya dicari, pegawainya belajar dan pemerintah daerah beradaptasi dengan sistem pusat.

Di Buleleng ada pula Made Pasda Gunawan. Tatkala mencatatnya sebagai ASN Pemkab Buleleng. Salah satu esainya berjudul Mendadak Digital ala Birokrat. Sekarang Pasda tercatat sebagai Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Buleleng.

Jejaknya tidak berhenti pada artikel. Ia menerbitkan 12 PAS dalam Perspektif Kebijakan Publik, buku yang berawal dari tesis magisternya mengenai 12 Prioritas Agenda Strategis pemerintahan Putu Agus Suradnyana-Nyoman Sutjidra. Penelitian akademik itu kemudian diolah kembali sehingga bisa dibaca di luar ruang kampus.

Model Pasda berbeda dengan Arya dan Pande. Arya mengolah pengalaman profesi dan kemanusiaan. Pande banyak menulis pengalaman kerja dan perubahan lingkungan yang ia lihat sehari-hari. Pasda membawa kebijakan pemerintah menjadi objek kajian.

Ketiganya menunjukkan bahwa birokrat Bali tidak sepenuhnya diam di balik meja.

Di lingkungan pemerintah sendiri ruang untuk menulis mulai terlihat lebih jelas. Jurnal Bali Membangun Bali yang dikelola pemerintah provinsi menjadi salah satu tempatnya. Edisi Agustus 2026 bahkan menggunakan pengantar berjudul Geliat Penulis dari Kantor Pemerintah Dinas Provinsi. Lima dari delapan artikel edisi tersebut ditulis pegawai dari tiga instansi Pemprov Bali. Tiga tulisan berasal dari Bappeda, masing-masing satu dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Kebudayaan. Tema yang dibahas antara lain banjir Denpasar, transformasi digital UMKM, stunting, pasar murah dan kesejahteraan pedagang kecil.

Dewa Made Indra juga pernah masuk ke ruang itu. Ketika masih menjadi Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, ia menulis Perkembangan Gunung Agung, Kebencanaan, dan Persoalan Pengungsi dalam edisi perdana jurnal tersebut pada 2018. Tulisan itu membahas erupsi Gunung Agung 2017-2018 serta persoalan pengungsian yang ditanganinya dari dekat.

Di sinilah posisi birokrat sebagai penulis menjadi menarik. Wartawan dapat meliput pengungsi Gunung Agung dan akademisi dapat meneliti kebencanaan. Dewa Indra membawa sesuatu yang berbeda: pengalaman orang yang berada dalam organisasi yang mengurus bencana tersebut.

Sudut seperti itu tidak otomatis lebih benar. Orang dalam juga mempunyai keterbatasan, kepentingan dan cara melihat persoalan. Justru karena itu tulisan perlu dibaca berdampingan dengan laporan wartawan, penelitian akademik, suara masyarakat dan dokumen pemerintah. Tetapi tanpa catatan orang yang bekerja di dalam pemerintahan, satu lapisan cerita akan hilang.

Secara nasional sebenarnya sudah ada tempat yang secara khusus mencoba mengumpulkan lapisan cerita tersebut. BirokratMenulis.org lahir pada 2017 sebagai gerakan literasi yang menghimpun birokrat, akademisi dan pemerhati pemerintahan. Portal itu tidak dibangun seperti media berita harian. Isinya lebih banyak opini, refleksi dan kajian tentang birokrasi yang ditulis orang-orang yang bekerja atau pernah bersentuhan langsung dengan pemerintahan.

Yang menarik bukan hanya artikelnya. BirokratMenulis mencoba membangun identitas penulis. Kontributor mempunyai halaman penulis dan jenjang berdasarkan jumlah karya yang diterbitkan. Ada Associate Writer, Active Writer, Professional Writer, Expert Writer sampai Distinguished Writer. Mereka juga menerbitkan buku dan mengembangkan diskusi serta jaringan penulis.

Model itu menunjukkan tulisan birokrat dapat tumbuh menjadi komunitas pengetahuan ketika tidak dibiarkan berdiri sendiri-sendiri.

Bali sebenarnya mempunyai bahan yang sama, hanya jejaknya masih terpencar. Tatkala memberi tempat kepada ASN yang ingin menulis di luar saluran resmi. BaleBengong sejak lama membuka ruang jurnalisme warga. Website pemerintah dan jurnal OPD menyediakan jalur yang lebih formal. Blog pribadi menyimpan catatan yang kadang justru lebih bebas dan detail.

Kalau tulisan-tulisan itu dibaca dalam rentang panjang, fungsinya berubah. Sebuah esai yang semula menanggapi persoalan sehari-hari dapat menjadi catatan tentang bagaimana birokrasi dan Bali berubah dari waktu ke waktu. Puluhan tulisan seorang ASN pada akhirnya bisa membentuk kumpulan pengalaman yang tidak kalah berharga dari sebuah buku.

Birokrat Bali belum banyak memiliki jejak yang terhubung seperti itu.

Tulisan mereka masih tercecer. Ada di website rumah sakit, jurnal pemerintah, Tatkala, BaleBengong, blog pribadi, tesis dan buku. Kita mengenal Arya sebagai dokter yang menulis atau Pande sebagai PNS yang ngeblog, tetapi belum melihat semuanya sebagai bagian dari tradisi yang lebih besar: orang-orang di dalam pemerintahan sedang mencatat Bali dari meja kerja masing-masing.

Padahal bahan mereka luar biasa.

Seorang birokrat yang mulai bekerja pada awal 1990-an telah melihat Bali berubah selama lebih dari tiga dasawarsa. Ia mengalami masa sebelum internet menjadi bagian pekerjaan kantor, Reformasi, otonomi daerah, Bom Bali, pertumbuhan besar pariwisata, ledakan properti, erupsi Gunung Agung, pandemi, digitalisasi pelayanan, sampai persoalan ruang yang sekarang menjadi perdebatan hampir setiap hari.

Bila ia bertugas di Badung, ia mungkin melihat Kuta Utara sebelum Canggu menjadi kawasan global. Bila bekerja di Denpasar, ia menyaksikan wilayah pinggiran tumbuh menjadi kota. Orang Bappeda tahu peta sebelum tanah berubah. Pejabat pertanian mengetahui tekanan terhadap sawah. Birokrat pendapatan dapat membaca transformasi ekonomi dari perubahan sumber pajak.

Sebagian pengetahuan itu masuk laporan. Banyak yang tinggal sebagai pengalaman.

BirokratMenulis secara nasional berangkat dari persoalan yang hampir sama. Orang-orang yang bekerja di pemerintahan memahami banyak hal karena mereka sendiri pelakunya, tetapi pengetahuan tersebut sering hanya tersimpan dalam diri masing-masing. Menulis kemudian menjadi jalan untuk memindahkan pengalaman individual menjadi pengetahuan yang dapat dibaca orang lain.

Bali belum mempunyai wadah khusus seperti itu. Barangkali juga tidak harus.

Yang lebih penting adalah kebiasaan melihat tulisan sebagai bagian dari pekerjaan intelektual seorang birokrat. Selama ini kemampuan pejabat lebih sering diukur dari bagaimana ia mengelola organisasi, mencapai target, menyerap anggaran dan menjalankan program. Jarang orang bertanya apa yang ia pelajari setelah dua puluh atau tiga puluh tahun mengerjakan semua itu.

Tulisan dapat menjawab sebagian pertanyaan tersebut.

Tidak semua birokrat perlu menjadi kolumnis. Tidak semua kepala dinas harus membuat blog. Catatan mereka juga tidak harus selalu membela pemerintah. Pengalaman mengenai program yang tidak berjalan, perencanaan yang meleset atau kebijakan yang belakangan perlu diperbaiki malah bisa lebih berguna bagi orang berikutnya.

Di titik itu, buku menjadi kelanjutan yang masuk akal.

Dokter Arya sudah menunjukkan pengalaman kerja bisa tumbuh menjadi buku. Made Pasda mengubah penelitian mengenai kebijakan daerah menjadi bacaan yang lebih luas. Puluhan tulisan Pande Baik sebenarnya dapat dikurasi menjadi catatan perubahan birokrasi digital dan wilayah Badung. Artikel Dewa Made Indra mengenai Gunung Agung bisa menjadi satu bagian dari cerita lebih panjang mengenai pengalaman mengelola bencana dan pemerintahan Bali.

Bahan sudah ada. Penulisnya juga ada.

Yang belum banyak dilakukan adalah melihat semua itu sebagai warisan pengetahuan.

Selama ini Bali lebih sering dibaca melalui tulisan wartawan, akademisi, budayawan, seniman dan aktivis. Mereka penting. Tetapi ada kelompok lain yang selama puluhan tahun berada sangat dekat dengan keputusan yang membentuk pulau ini.

Mereka adalah birokrat.

Sebagian ternyata sudah menulis.

Tanpa terlalu disadari, ketika mereka menulis pekerjaan, kebijakan, rumah sakit, jalan, bencana, pelayanan publik atau perubahan sebuah wilayah, mereka tidak hanya sedang menulis birokrasi.

Mereka sedang menulis Bali. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.