Pemberontakan Berakhir di Bar
MUSIK mengalir keluar dari sebuah bar di Gang Poppies, bersaing dengan deru sepeda motor yang merayap di jalan sempit. Wisatawan berjalan di antara penginapan, toko pakaian, restoran, tempat pijat, dan papan-papan promosi. Lewat tengah malam, keramaian belum menunjukkan tanda akan surut. Ketika sebagian besar Bali mulai beristirahat, Poppies dan Jalan Legian justru memasuki jam sibuk.
Pemandangan itu telah lama menjadi bagian dari wajah Kuta. Pantai menguasai siang, sedangkan malam diambil alih lampu bar, musik, minuman, dan orang-orang yang berpindah dari satu tempat hiburan ke tempat lainnya.
Riwayatnya bermula jauh sebelum diskotek dan hotel berdiri rapat. Jalan menuju pusat hiburan malam tersebut dibuka oleh generasi pengelana yang justru sedang berusaha menjauh dari perang, konsumerisme, dan kehidupan mapan di negara asalnya.
Pertengahan 1960-an, Amerika Serikat terbelah oleh Perang Vietnam. Pemerintah memperluas pengerahan tentara, korban terus bertambah, dan wajib militer membawa perang masuk ke dalam kehidupan keluarga-keluarga Amerika. Anak muda turun ke jalan memprotes kebijakan negara. Gerakan hak-hak sipil, musik rock, kehidupan komunal, dan kritik terhadap kemapanan tumbuh dalam suasana yang sama.
Dari pergolakan itu lahir kebudayaan tandingan yang kemudian lekat dengan kaum hippie. Rambut panjang, pakaian longgar, musik, kebebasan personal, dan pencarian spiritualitas Timur menjadi penanda yang mudah dikenali. Namun, di balik penampilan tersebut terdapat penolakan yang lebih mendasar terhadap perang, kekuasaan negara, aturan sosial kelas menengah, dan hidup yang seluruh jalurnya telah ditentukan sejak muda.
Perang Vietnam memang bukan satu-satunya sumber gerakan hippie. Pengaruh generasi Beat, perjuangan hak sipil, dan kritik terhadap budaya konsumsi telah muncul lebih dahulu. Akan tetapi, perang menyediakan lawan yang nyata. Protes politik bertemu pencarian kebebasan personal. Demonstrasi antiperang mempertemukan aktivis, musisi, penyair, mahasiswa, dan kelompok yang ingin membangun cara hidup berbeda.
Sebagian anak muda bertahan dan melawan di negaranya. Yang lain memilih pergi.
Mereka menempuh jalur darat melalui Turki, Iran, Afghanistan, India, Nepal, hingga Thailand. Perjalanan itu kemudian dikenal sebagai hippie trail. Para pengelana membawa ransel, uang terbatas, dan rencana perjalanan yang longgar. Dari Asia Selatan, sebagian bergerak menuju Asia Tenggara sebelum meneruskan perjalanan ke Australia.
Bali terletak di salah satu ujung rute tersebut. Kuta menjadi tempat singgah yang masuk akal: dekat dengan bandar udara, tidak jauh dari Denpasar, memiliki pantai panjang, ombak yang bagus, serta biaya hidup yang masih murah.
Pengelana yang tiba tentu tidak memiliki latar seragam. Aktivis antiperang berbaur dengan peselancar, petualang, pencari pengalaman spiritual, dan anak muda yang hanya ingin meninggalkan rutinitas lama. Istilah hippie lalu dipakai secara longgar untuk menyebut wisatawan berambut panjang, berpakaian santai, tinggal lama, dan menghindari hotel mewah.
Kesamaan mereka terletak pada cara bepergian. Mereka tidak mencari perjalanan yang rapi, terjadwal, dan terpisah dari kehidupan penduduk. Kamar sederhana lebih menarik daripada hotel besar. Warung lebih sesuai daripada restoran resmi. Mereka membutuhkan pantai, tempat tidur, makanan murah, kendaraan, dan ruang untuk bergaul.
Kuta menyediakan kebutuhan tersebut.
I Nyoman Wijaya dan Sri Lestari, sejarawan Universitas Udayana, merekam perubahan itu dalam penelitian Kuta, Bali: From Port City to Surf City yang diterbitkan Journal of Maritime Studies and National Integration pada 2025. Mereka mencatat kehadiran kaum hippie Amerika Serikat yang ikut menghidupkan kembali kegiatan selancar di Kuta pada akhir 1960-an. Peselancar Australia berdatangan lebih banyak setelah 1973.
Pada masa awal, pengelana asing masih banyak menginap di Denpasar. Setiap pagi mereka menumpang kendaraan menuju Kuta, menghabiskan waktu di pantai, lalu kembali ke kota menjelang petang. Pola itu berubah ketika warga mulai menyewakan kamar di rumah mereka.
Perubahannya berlangsung cepat. Catatan kepolisian yang dikutip Wijaya dan Lestari menyebut sekitar 1.700 pengunjung Kuta digolongkan sebagai hippie pada 1971. Setahun kemudian jumlahnya mencapai 6.280 orang. Pada 1973, angkanya melonjak menjadi 14.447 orang.
Arus manusia tersebut segera menciptakan permintaan baru. Agustus 1973, sebanyak 73 dari 204 hotel dan penginapan di Bali berada di Kuta. Memasuki Mei 1974, kawasan itu telah memiliki 114 penginapan, terutama di Banjar Tegal, Pande, dan Buni.
Angka-angka itu tidak hanya menambah jumlah bangunan. Kehadiran ribuan pengelana mengubah cara warga memanfaatkan rumah, halaman, kendaraan, dan keterampilan mereka.
Kamar kosong disewakan. Dapur rumah berkembang menjadi warung. Sepeda motor menghasilkan uang sewa. Anak muda setempat bekerja sebagai pemandu, pengemudi, pelayan, atau teman perjalanan bagi wisatawan yang ingin mencari pantai lain. Pariwisata Kuta tumbuh dari hubungan langsung antara pengelana dengan masyarakat, bukan dari kawasan wisata besar yang dirancang sekaligus.
Poppies muncul dari pola tersebut.
Zenik Sukenny mula-mula mengelola Jenik’s Warung, tempat makan sederhana yang melayani para pengelana. Sejumlah pelanggan asing kemudian membantunya memperluas dapur, membangun bar kecil dari bambu dan kayu kelapa, serta menata halaman menjadi taman. Tempat itu dibuka sebagai Poppies Restaurant pada 12 Januari 1973.
Jalan menuju restoran tersebut ketika itu masih berupa jalur tanah yang mengarah ke Pantai Kuta. Setelah restoran semakin dikenal, masyarakat mulai menyebutnya Poppies Lane 1. Empat pondok penginapan pertama di jalan sejajar yang kemudian dinamai Poppies Lane 2 dibangun sekitar 1974-1975.
Nama Poppies kerap dihubungkan dengan opium atau kebiasaan menggunakan narkotika yang dilekatkan kepada kaum hippie. Riwayat restoran menunjukkan asal yang berbeda. Nama tersebut dibawa dari sebuah restoran di La Jolla, California, yang memakai sebutan Golden Poppy, bunga resmi negara bagian itu. Gang tersebut mengambil nama dari restoran yang berdiri di sana.
Pada masa awal, Poppies belum menjadi koridor pesta. Kawasan itu lebih menyerupai kampung pengelana. Kamar sederhana, makanan murah, minuman, kendaraan sewaan, dan informasi perjalanan tersedia dalam jarak berjalan kaki. Orang datang untuk tinggal lama tanpa menghabiskan banyak uang.
Ritme hariannya mengikuti pantai. Pagi hingga sore digunakan untuk berselancar, berenang, atau mencari ombak baru. Menjelang matahari tenggelam, para pengelana berkumpul di pasir. Pertemuan kemudian berlanjut di warung, halaman penginapan, atau bar kecil.
Mereka makan, minum, memainkan gitar, bertukar cerita perjalanan, dan mencari kawan untuk menuju tempat berikutnya. Malam belum menjadi pertunjukan. Musik tidak membutuhkan panggung besar. Pergaulan tumbuh dari orang-orang yang tinggal berdekatan dan belum ingin kembali ke kamar setelah matahari menghilang.
Kebiasaan itulah yang kemudian melahirkan pasar hiburan malam.
Ketika jumlah wisatawan bertambah, warung membutuhkan tempat yang lebih luas. Pemilik penginapan menambah kamar. Bar kecil memperpanjang waktu pelayanan. Musik menarik lebih banyak pelanggan. Usaha yang semula melayani kebutuhan dasar pengelana berkembang mengikuti uang yang beredar.
Perubahan tidak terjadi dalam satu malam. Rumah menerima dua atau tiga penyewa, lalu berkembang menjadi losmen. Warung yang ramai diperbesar menjadi restoran. Tempat minum bertambah, kemudian muncul pub dan diskotek. Gang kampung perlahan berubah menjadi koridor perdagangan dan hiburan.
Memasuki dekade 1980-an dan 1990-an, malam Kuta bukan lagi kelanjutan dari kegiatan di pantai. Ia telah menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan mulai datang untuk mencari bar, musik, alkohol, pergaulan, dan pesta sampai pagi.
Di sinilah riwayat Kuta menghasilkan ironi.
Kaum hippie tiba dengan kritik terhadap konsumerisme dan kehidupan mapan. Mereka mencari cara hidup yang lebih sederhana, murah, serta tidak tunduk kepada jadwal kerja. Namun, kebutuhan mereka membentuk pasar. Setelah pasar terbukti menguntungkan, modal datang memperbesar usaha yang telah dirintis warga.
Industri pariwisata kemudian mengambil bagian paling mudah dijual dari budaya tandingan. Kritik terhadap Perang Vietnam, wajib militer, dan kapitalisme ditinggalkan. Yang dipertahankan ialah rambut panjang, pakaian santai, musik, pantai, alkohol, pergaulan terbuka, dan citra kehidupan tanpa aturan.
Kebebasan dipisahkan dari sejarah politiknya, kemudian dijual kembali sebagai pengalaman liburan.
Dick Hebdige, teoritikus budaya Inggris, menjelaskan proses itu dalam Subculture: The Meaning of Style yang terbit pada 1979. Menurut dia, kelompok subkultur menciptakan musik, busana, dan bahasa sebagai bentuk perlawanan simbolik. Pasar kemudian menyerap tanda-tanda tersebut, memproduksinya secara massal, lalu mengubahnya menjadi barang yang dapat dibeli.
Perlawanan akhirnya tidak perlu dilarang. Cukup dipindahkan ke etalase.
Kuta memperlihatkan proses tersebut dalam bentuk ruang. Musik yang dahulu dimainkan untuk kawan menjadi pertunjukan. Minuman berpindah dari lingkaran pergaulan ke daftar menu. Kamar murah berkembang menjadi bisnis akomodasi. Kehidupan santai berubah menjadi citra yang ditawarkan industri pariwisata.
Jejak perubahan itu juga tersimpan dalam musik populer Indonesia.
Slank merekam Kuta sebagai tempat melarikan diri dari tekanan Jakarta melalui lagu Bali Bagus dalam album Kampungan pada 1991. Kuta hadir sebagai ruang yang lebih longgar, jauh dari penilaian sosial dan kepadatan ibu kota.
Tujuh tahun kemudian, Poppies Lane Memory menjadikan sebuah gang kecil sebagai nama yang penuh kenangan, perjumpaan, dan kebebasan personal. Poppies tidak lagi dikenal hanya oleh orang yang pernah berjalan di sana. Lagu tersebut membawanya ke dalam ingatan anak muda di berbagai kota.
Superman Is Dead memberi suara dari sisi berbeda. Band yang tumbuh di Kuta itu merilis Kuta Rock City pada 2003. Kuta tidak lagi dipandang sebagai tempat singgah wisatawan, tetapi sebagai rumah, lingkungan pergaulan, dan identitas musik anak muda Bali.
Slank datang ke Kuta lalu membawa pulang kenangan. Superman Is Dead tumbuh di sana dan membawa nama kotanya keluar dari Bali.
Musik tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kehidupan malam tidak hanya melahirkan industri. Di tengah bar, gang, studio kecil, dan pertemanan, anak muda lokal membangun kebudayaannya sendiri. Mereka menyerap musik dari luar, lalu menggunakannya untuk menyatakan keberadaan sebagai warga Kuta, bukan sekadar pekerja di sebuah destinasi wisata.
Namun, kota yang terus menyala memiliki harga yang jarang masuk ke dalam lagu.
Pelayan bar membawa pesanan dari meja ke meja. Musisi tampil ketika orang lain berlibur. Pengemudi menunggu penumpang sampai dini hari. Petugas keamanan berdiri di depan pintu. Pedagang makanan mencari pembeli yang baru keluar dari tempat hiburan. Menjelang pagi, petugas kebersihan mengurus sisa pesta.
Bagi wisatawan, malam Kuta menawarkan kebebasan. Bagi pekerja, jam tersebut merupakan bagian dari mata pencaharian. Warga yang tinggal di sekitarnya menghadapi musik keras, kemacetan, sampah, serta ruang kampung yang semakin bercampur dengan kegiatan komersial.
Kuta karena itu tidak tumbuh menjadi pusat hiburan hanya akibat kebiasaan wisatawan asing. Pemerintah membuka akses melalui bandar udara dan jalan. Pengelana menciptakan permintaan. Warga mengubah kebutuhan menjadi usaha. Investor kemudian memperbesar skalanya.
Semua pihak ikut membentuk kawasan yang disebut tidak pernah tidur itu.
Para pengelana generasi awal telah lama pergi. Jalan tanah menuju pantai berubah menjadi gang perdagangan yang sesak. Gitar di halaman penginapan digantikan pengeras suara. Warung berkembang menjadi bar, sedangkan kamar warga menjadi hotel.
Mereka datang ke Kuta untuk menjauh dari dunia yang menjual hampir segala hal. Beberapa dasawarsa kemudian, industri pariwisata menjual kembali kebebasan mereka dalam bentuk kamar, musik, minuman, dan pesta.
Pemberontakan itu tidak berakhir di medan perang.
Ia berhenti di sebuah kursi di depan bar. (*)
Menot Sukadana