Kuta di Balik Lirik
JALAN Poppies di Kuta tetap sempit. Sepeda motor bergerak perlahan di antara wisatawan, pedagang, restoran, penginapan, dan bar. Papan-papan usaha menutup sebagian wajah bangunan. Kabel menggantung di atas gang yang hanya menyediakan sedikit ruang bagi pejalan kaki.
Nama Poppies, bagaimanapun, jauh lebih besar daripada ukuran jalannya. Slank membawanya masuk ke dalam kaset melalui Poppies Lane Memory. Orang yang belum pernah menginjakkan kaki di Kuta pun mengenal gang itu sebagai tempat perjumpaan, petualangan, dan kenangan yang sulit diterangkan secara biasa.
Lagu tersebut dirilis dalam album Tujuh pada 20 Januari 1998. Situs resmi Slank menempatkan Poppies Lane Memory sebagai lagu pertama dalam album itu. Ketika musik Indonesia masih banyak beredar melalui kaset dan cakram padat, sebuah gang di Kuta telah berubah menjadi alamat budaya populer nasional.
Poppies hanyalah satu dari sejumlah nama Kuta yang hidup di dalam lagu. Jauh sebelum Slank, kelompok musik Australia Redgum telah merekam perilaku turis negaranya di Bali. Iwan Fals memilih pantai Kuta sebagai ruang senja. Superman Is Dead kemudian mengubah kota wisata itu menjadi rumah dan identitas musik.
Catatan resmi biasanya mengukur Kuta melalui jumlah wisatawan, kamar hotel, penerbangan, dan pendapatan pariwisata. Lagu bekerja dengan cara berbeda. Ia menyimpan suasana, perasaan, perilaku, dan pandangan sebuah generasi terhadap tempat yang mereka datangi.
Untuk membaca perubahan Kuta, riwayat dalam lirik itu perlu ditempatkan kembali pada gang, pantai, losmen, dan kehidupan warga yang melahirkannya.
Poppies belum dikenal ketika pengelana asing mulai ramai datang pada penghujung 1960-an dan awal 1970-an. Kuta menarik kaum hippie dan peselancar yang mencari pantai, biaya hidup murah, penginapan sederhana, serta perjalanan yang tidak terlalu diatur.
I Nyoman Wijaya dan Sri Lestari, sejarawan Universitas Udayana, menguraikan masa tersebut dalam penelitian Kuta, Bali: From Port City to Surf City yang diterbitkan Journal of Maritime Studies and National Integration pada 2025. Mereka mencatat wisatawan hippie asal Amerika Serikat ikut menghidupkan kembali selancar Kuta pada akhir 1960-an. Peselancar Australia menyusul pada 1973. Kedatangan itu secara perlahan meletakkan dasar pariwisata pantai Kuta.
Para pengelana membutuhkan tempat tidur, makanan murah, kendaraan, dan ruang untuk bertemu. Warga merespons kebutuhan itu dengan menyewakan kamar, membuka warung, serta menyediakan berbagai jasa. Rumah dan halaman menjadi bagian dari ekonomi wisata yang tumbuh tanpa satu rancangan besar.
Zenik Sukenny termasuk warga yang melihat peluang tersebut. Ia mengelola Jenik’s Warung, tempat makan sederhana bagi pengelana darat dan wisatawan yang singgah di Kuta. Warung itu kemudian dikembangkan bersama beberapa pelanggan asing dengan menambah dapur, taman, serta bar kecil.
Poppies Restaurant dibuka pada 12 Januari 1973. Jalan menuju tempat tersebut masih berupa jalur tanah ke Pantai Kuta. Seiring berkembangnya restoran, ruas itu dikenal sebagai Poppies Lane 1. Empat pondok pertama di jalan sejajar yang kelak bernama Poppies Lane 2 dibangun sekitar 1974-1975.
Gang tersebut mula-mula menyediakan kebutuhan dasar. Pengelana dapat menginap, makan, minum, menyewa kendaraan, dan bertukar informasi dalam jarak berjalan kaki. Siang hari berlangsung di pantai. Sesudah matahari turun, pertemuan berlanjut di warung, halaman penginapan, atau tempat minum sederhana.
Kebiasaan itu perlahan melahirkan kehidupan malam. Warung diperbesar, kamar ditambah, bar tumbuh, dan musik memperoleh tempat. Poppies berkembang sebagai kampung wisatawan beranggaran terbatas sebelum berubah menjadi koridor komersial yang padat.
Perubahan tersebut lebih dahulu terdengar dari Australia.
Redgum merilis I’ve Been to Bali Too dalam album Frontline pada 1984. Lagu itu menghadirkan turis Australia yang datang melalui paket perjalanan, berjemur, berbelanja, berkeliaran di Legian, lalu pulang dengan kebanggaan karena pernah berlibur di Bali. Nadanya ringan, tetapi menyimpan sindiran terhadap pengalaman wisata yang dangkal dan seragam.
Kuta pada lagu Redgum telah menjadi bagian dari kebiasaan berlibur warga Australia. Bali tidak lagi hanya dibayangkan sebagai pulau jauh yang eksotis. Ia telah masuk ke dalam jalur penerbangan, paket perjalanan, dan percakapan sehari-hari masyarakat negeri tetangga.
Wisatawan datang membawa harapan yang hampir sama. Mereka ingin matahari, tubuh yang lebih cokelat, harga murah, serta cerita untuk dibawa pulang. Lagu tersebut merekam masa ketika pengalaman Bali mulai diproduksi secara massal, sementara Kuta menjadi salah satu panggung utamanya.
Lima tahun kemudian, Iwan Fals memperlihatkan wajah berbeda.
Album Mata Dewa dirilis pada 1989. Dalam lagu berjudul sama, Pantai Kuta hadir melalui pasir, senja, ombak, dan hubungan manusia yang bergerak di antara harapan serta kehilangan. Iwan tidak menempatkan kawasan itu sebagai pusat pesta. Ia memilih momen ketika matahari turun dan pantai membuka ruang bagi perenungan.
Pilihan tersebut menarik karena kehidupan malam Kuta sebenarnya sudah berkembang. Bar, restoran, penginapan, dan arus wisatawan terus bertambah. Namun, lagu tidak berkewajiban memotret sebuah tempat secara lengkap. Iwan mengambil satu wajah Kuta yang paling sesuai dengan cerita yang hendak dibawanya: pantai saat senja.
Kuta dalam Mata Dewa masih terdengar dekat dengan laut. Suara ombak berada di depan, sedangkan keramaian kota wisata seolah disimpan di belakang lagu.
Slank memasuki Kuta melalui pintu lain.
Dalam Bali Bagus, yang terdapat dalam album Kampungan pada 1991, Bali menjadi tempat melepaskan diri dari tekanan Jakarta. Suasana santai, pantai, pergaulan, minuman, dan kehidupan malam muncul sebagai penawar bagi kota yang penuh aturan serta penilaian sosial. Album kedua Slank itu dirilis pada 26 Desember 1991.
Bagi Slank, Kuta bukan terutama ruang untuk merenung. Kawasan itu menjadi tempat mengambil jarak dari kehidupan lama. Kebebasan tidak hadir sebagai gagasan politik besar, melainkan pengalaman yang bisa dirasakan melalui musik, pertemanan, pantai, dan malam yang panjang.
Perubahan cara melihat Kuta tampak jelas. Iwan Fals menemukan senja. Slank menemukan pelarian.
Pandangan itu kemudian mengerucut pada satu gang ketika Poppies Lane Memory lahir tujuh tahun berikutnya. Slank tidak lagi menyebut Bali sebagai latar yang luas. Poppies menjadi ruang yang sangat khusus, dipenuhi nama, perjumpaan, khayalan, dan ingatan personal.
Lagu tersebut tidak menjelaskan bentuk gang, sejarah restoran, atau kehidupan warga. Kekuatan utamanya justru terletak pada kemampuan mengubah tempat menjadi pengalaman. Poppies tidak perlu digambarkan panjang. Namanya sudah membawa kesan tentang kebebasan, kedekatan, dan kehidupan yang berlangsung di luar rutinitas.
Menjelang akhir 1990-an, gang kecil itu memang telah jauh berubah. Penginapan murah, restoran, toko, tempat minum, jasa perjalanan, dan berbagai usaha wisata berdiri rapat. Poppies menjadi salah satu ruang yang mempertemukan turis asing, pelancong Indonesia, pekerja wisata, musisi, pedagang, serta anak muda Bali.
Slank memindahkan pertemuan itu dari Kuta ke dalam ingatan pendengarnya.
Mereka yang datang setelah mengenal lagu tersebut mungkin melihat Poppies melalui bayangan yang telah dibentuk musik. Gang itu tidak lagi sekadar tujuan perjalanan. Ia menjadi tempat yang ingin dibuktikan keberadaannya.
Empat tahun sesudah Poppies Lane Memory, sejarah Kuta mengalami patahan besar.
Dua bom meledak di Paddy’s Bar dan Sari Club, Jalan Legian, pada malam 12 Oktober 2002. Serangan itu menewaskan 202 orang dari lebih dari 20 negara. Sebanyak 39 korban merupakan warga Indonesia, termasuk pekerja industri pariwisata. Kawasan yang dikenal melalui musik, pergaulan, dan kesenangan berubah menjadi lokasi kematian serta trauma internasional.
Bom Bali mengubah makna malam Kuta. Bar tidak lagi hanya mengingatkan orang pada pesta. Jalan Legian menyimpan nama korban, kisah pertolongan, dan keluarga yang kehilangan anggota mereka. Monumen kemudian berdiri berdekatan dengan tempat hiburan yang kembali beroperasi.
Kuta harus menjalani dua kehidupan sekaligus. Ia menjadi ruang duka, tetapi ekonomi warganya bergantung pada kembalinya wisatawan. Musik perlu berbunyi lagi, restoran harus membuka pintu, dan pekerja kembali mencari penghasilan.
Di tengah suasana itulah Superman Is Dead membawa nama Kuta Rock City ke panggung nasional.
Album tersebut dirilis Sony Music Entertainment Indonesia pada 13 Mei 2003, tujuh bulan setelah Bom Bali. Album itu tidak disusun sebagai catatan langsung mengenai ledakan. Meski demikian, waktu kemunculannya memberi lapisan makna yang sulit dipisahkan dari keadaan Kuta ketika itu.
Superman Is Dead dibentuk di Kuta pada 1995. Berbeda dari musisi yang datang sebagai wisatawan, trio tersebut tumbuh di tengah pergaulan lokal, industri pariwisata, bar, papan selancar, dan arus musik internasional yang masuk melalui Kuta.
Kuta Rock City merupakan pernyataan tentang tempat asal. Kuta tidak hanya dimiliki oleh wisatawan yang datang untuk menikmati pantai atau kehidupan malam. Kawasan itu juga merupakan rumah bagi anak muda yang membentuk persahabatan, memainkan musik, dan membangun identitas di tengah kota wisata.
Perbedaan posisi tersebut penting. Slank datang ke Kuta dan membawa pulang kenangan. Superman Is Dead tumbuh di sana, lalu membawa nama kotanya keluar dari Bali.
Melalui SID, Kuta mulai bercerita dengan suara anak mudanya sendiri. Punk memberi ruang untuk membicarakan persahabatan, kemarahan, kesetiaan, kegagalan, dan kehidupan jalanan. Kota yang selama puluhan tahun dipandang melalui mata pelancong memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan dirinya dari dalam.
Namun, lagu selalu memilih bagian tertentu dari kenyataan.
Senja Iwan Fals tidak memperlihatkan pekerja penginapan yang menyiapkan kamar. Kebebasan Slank jarang mencatat pelayan yang berdiri sampai dini hari. Romantika Poppies tidak banyak berbicara tentang keluarga yang rumahnya berhadapan dengan bar. Kebanggaan Kuta Rock City pun tumbuh di tengah kawasan yang menghadapi kemacetan, sampah, kebisingan, dan tekanan komersial.
Kota dapat terus bernyanyi karena banyak orang bekerja setelah wisatawan mulai bersenang-senang. Pelayan membawa pesanan. Musisi memainkan lagu yang sama beberapa kali dalam semalam. Pengemudi menunggu penumpang. Petugas keamanan berjaga. Menjelang pagi, pekerja kebersihan mengurus sisa pesta.
Mereka mungkin jarang masuk ke dalam lirik, tetapi ikut membangun sejarah Kuta.
Lagu bukan dokumen yang lengkap. Ia dapat membesar-besarkan pengalaman, menghapus bagian yang rumit, atau memandang sebuah tempat hanya dari kepentingan penciptanya. Justru melalui keterbatasan tersebut, cara setiap generasi melihat Kuta menjadi terbaca.
Redgum melihat wisatawan Australia. Iwan Fals menangkap pantai dan senja. Slank menemukan pelarian, lalu mengubah Poppies menjadi kenangan. Superman Is Dead menyatakan Kuta sebagai rumah. Bom Bali menyisipkan duka yang membuat seluruh lagu tentang kesenangan terdengar berbeda.
Kini, pusat hiburan Bali telah menyebar ke Seminyak, Petitenget, Berawa, dan Canggu. Sejumlah tempat lama di Kuta tutup, berganti nama, atau kehilangan keramaian. Poppies tetap berdiri, tetapi zaman yang melahirkannya tidak mungkin dipulangkan secara utuh.
Musik mempertahankan fragmen-fragmennya.
Data dapat menjelaskan kapan jumlah penginapan bertambah. Peta menunjukkan perubahan jalan dan bangunan. Lagu menyimpan alasan orang datang, perasaan yang mereka bawa pulang, dan wajah Kuta yang menempel dalam ingatan.
Ketika sebuah bar tutup atau hotel dibongkar, lagunya masih dapat diputar. Dari sana, pantai senja, gang sempit, malam yang bebas, kota rock, dan luka Kuta hadir kembali.
Kuta terus berubah di depan mata. Di balik lirik, wajah-wajah lamanya belum sepenuhnya pergi. (*)
Menot Sukadana